Matahari sore masih menggantung di langit Gaza ketika Bahaa Abu al-Ajeen menggendong putranya yang berusia tiga tahun. Saat itu, mereka menuju lahan pertanian keluarga di Wadi al-Salqa, wilayah timur Deir al-Balah, Gaza tengah.
Baha menggendong putranya memeriksa kebun pertanian, salah satu sumber pencaharian keluarganya. Namun, tidak ada yang menyangka perjalanan singkat Rayan bersama ayahnya menjadi perjalanan terakhir.
Tembakan militer Israel memecah kesunyian, sebuah peluru menghantam kepala Rayan.Tubuh mungil yang beberapa saat sebelumnya masih hidup dan ketakutan itu mendadak terkulai di lengan sang ayah. Ayahnya sendiri juga tertembak di bagian kaki dan mengalami luka serius.
Bagi seorang ayah, mungkin tidak ada mimpi buruk yang lebih mengerikan daripada menyaksikan anaknya meregang nyawa di depan mata tanpa mampu berbuat apa-apa.
Dilansir dari berbagai sumber, kakek Rayan, Abu al-Ajeen mengatakan bahwa lokasi kejadian berada di kawasan yang biasa digunakan warga sipil dan tidak berada di bawah kendali langsung militer Israel.
Mereka sedang menuju area pertanian keluarga ketika penembakan terjadi. Tidak ada peringatan, tidak ada perintah untuk berhenti, hanya dentuman senjata yang mengubah hidup mereka selamanya.
Kakek Rayan mengisahkan, kabar meninggalnya sang cucu bagaikan petir di siang bolong. Ia mendengar suara tembakan dari dekat lahan pertanian, tak lama kemudian, kabar yang paling ditakutkan setiap keluarga Palestina tiba: cucunya telah terbunuh.
Peluru yang menembus kepala Rayan tidak hanya merenggut nyawanya. Peluru itu juga menghancurkan dunia kecil yang selama tiga tahun dibangun oleh kedua orang tuanya.
Tidak Ada Pertolongan
Kakek Rayan kembali menjelaskan, Pada Ahad sore (14/06), Baha Abu al-Ajeen (32) berangkat memeriksa lahannya. Ia membawa putranya, Rayan yang baru berusia tiga tahun, bersama saudara iparnya, Khaled Abu Gharaba.
Perjalanan singkat itu adalah hal yang biasa bagi keluarga yang hidup dari tanah pertanian.Namun hari itu, tidak berjalan seperti biasa.
Setibanya di lokasi, keluarga melihat keberadaan tentara Israel di sebuah rumah di dekat area tersebut. Dalam sekejap, situasi berubah menjadi kepanikan.
Menurut keterangan keluarga, tanpa adanya peringatan, tembakan dilepaskan ke arah mereka.Peluru menghantam tubuh kecil Rayan, mengenai bagian mata dan kepala. Ia tewas seketika di dalam gendongan ayahnya.
Dalam kondisi terluka dan kehilangan, mereka dibiarkan berjam-jam tanpa penanganan medis yang memadai.
