Najwa dan Perjalanan Menyelesaikan Pendidikan di Tengah Duka

Hari ini, Najwa resmi menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di SD Nur Alifah Rancaekek, Bandung, Kamis (18/06/2026).

Di balik momen sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup yang panjang penuh kehilangan, perpindahan, dan keteguhan yang tumbuh perlahan sejak usia sangat muda.

Najwa, yang akrab disapa Wawa, bukan hanya seorang siswi yang menyelesaikan pendidikan dasar. Ia adalah seorang anak yang tumbuh dalam situasi hidup yang tidak mudah, namun tetap melangkah hingga sampai di titik ini.

Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Dalam perjalanan hidupnya, Wawa harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tua di usia yang sangat muda. Sebuah keadaan yang mengubah arah hidupnya secara total.

Setelah kehilangan ibunya pada Januari 2023, Wawa bersama adiknya, Keke, dibawa ke Bandung oleh tantenya kakak dari almarhumah ibunya. Dalam keseharian, ia memanggil tantenya dengan sebutan “Wa’mami”.

Dengan penuh keikhlasan, Wa’mami merawat, mendidik, dan membiayai pendidikan Wawa serta adiknya. Ia tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi sosok yang menjaga keberlanjutan masa depan mereka.

Perpindahan ke Bandung bukan hanya soal tempat tinggal baru, tetapi juga tentang memulai kehidupan baru di tengah luka yang belum selesai.

Namun di rumah yang baru itu, Wawa menemukan ruang untuk tetap melanjutkan pendidikan dan tumbuh perlahan.

Keteguhan di Tengah Kehilangan

Tahun 2025 kembali menjadi masa yang berat ketika ayah Wawa wafat setelah lama sakit. Kehilangan itu melengkapi duka yang sebelumnya sudah ia alami.

Namun di tengah kondisi tersebut, Wawa tetap melanjutkan pendidikannya. Dengan dukungan keluarga yang merawatnya, ia terus berusaha menyelesaikan sekolah dasar hingga tuntas.

Sebuah Awal Baru Setelah Kelulusan

Kelulusan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupan Wawa.

Wa’mami bahkan telah merencanakan langkah berikutnya. Ia telah mendaftarkan Wawa ke salah satu pesantren di Bandung, sebagai kelanjutan pendidikan dan pembinaan karakter untuk masa depannya.

Di tengah segala kehilangan yang ia alami, Wawa tetap memiliki arah yang jelas untuk melanjutkan hidupnya. Dan di balik itu semua, ada sosok keluarga yang terus menjaga agar ia tidak berjalan sendirian.

Dari Saya untuk Wawa

Hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah, tetapi selalu memberi kesempatan bagi hati yang tetap bertahan.

Kamu telah melewati masa yang tidak seharusnya ditanggung oleh anak seusiamu, namun tetap berdiri, melangkah, dan menyelesaikan apa yang telah kamu mulai.

Semoga setiap langkah ke depan menjadi lebih ringan, setiap luka berubah menjadi kekuatan, dan setiap kehilangan digantikan dengan keberkahan yang lebih besar.

Teruslah belajar, ya. Dunia mungkin pernah mengambil banyak hal darimu, tetapi ia juga sedang membuka banyak jalan baru untukmu.

Sukses selalu dalam menggapai cita-cita

Continue Reading

Cerita Terakhir Elmi Febrianti di Apparalang Bulukumba

Suasana objek wisata Apparalang, kabupaten Bulukumba selalu ramai di akhir pekan. Penikmat wisata berdatangan dari berbagai daerah, dan wilayah sekitar. Mereka datang menikmati pemandangan laut dan karang-karang yang indah.

Beberapa tahun terakhir Apparalang viral media sosial dan membuat sejumlah orang penasaran. Para pelancong tertarik datang sebab tempat ini punya kombinasi keindahan alam dan sensasi yang sulit ditemukan di pantai biasa.

Jembatan kayu yang menjorok ke arah laut jadi favorit banyak orang. Dari sana, foto terlihat lebih ekstrem dan estetik, seolah berdiri di atas samudera. Ini yang bikin Apparalang sering viral di media sosial.

Namun, jika tidak hati-hati. Tempat wisata Apparalang cukup berbahaya, bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa. Seperti yang terjadi pada Ahad, 7 Juni 2026. Seorang siswa SMK Bulukumba, Elmi Febrianti, diterpa ombak saat berswaforo di atas papan yang menjadi ikon Apparalang.

Banyak pengunjung yang mengabadikan pemandangan di tempat itu, ada yang berani dan sudah memimpikan sejak lama berdiri atau dengan gaya duduk, tidak pernah memikirkan bahaya yang akan datang.

Elmi yang saat itu, datang dengan keluarganya memanfaatkan kesempatan untuk foto di beberapa lokasi yang sangat indah. Di atas papan ia dengan gayanya yang cantik, difoto oleh temannya.

Saat itu, ombak kencang menerpanya. Ia jatuh ke laut, dan saat itu hanya bisa teriak minta tolong sambil melambaikan tangannya. Banyak pengunjung, tapi resikonya sangat besar. Tidak ada alat untuk menolong, mereka hanya bisa menonton dari atas, melihat Elmi melambaikan tangan.

Teriakan pecah, memecah suara ombak yang selama ini terdengar menenangkan. Beberapa orang berlari, sebagian lainnya hanya bisa terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Laut yang tadi menjadi latar keindahan, kini menjadi pusat kecemasan.

Hari itu, Apparalang tidak lagi sekadar tempat wisata. Ia berubah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menyisakan duka.

Perempuan berusia 17 tahun itu, semakin jauh terseret sampai sosoknya hilang. Sore hari, warga bersama Tim Sar, melakukan pencarian, dan Elmi ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.

Kisah Emil menjadi pengingat bahwa keindahan alam selalu berjalan berdampingan dengan resiko yang tak terlihat. Tebing karang yang memukau, ombak yang memesona, semuanya menyimpan kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Sore itu, tawa yang seharusnya pulang bersama kenangan, justru berganti dengan doa dan harap yang tak henti dipanjatkan.

Appalarang tetap berdiri megah, ombaknya tetap datang dan pergi. Namun bagi sebagian orang, Minggu itu akan selalu diingat sebagai hari ketika sebuah cerita berubah arah, dari bahagia menjadi duka yang tak terucap.

Continue Reading

Wisuda Hubaib, Hadiah untuk Dua Nama yang Dirindukan

Di antara deretan santri yang mengenakan pakaian jubah berwarna putih, berjalan ke atas panggung.

Ada seorang remaja bernama Andi Hubaib Dzaki Al Assrof. Ia merupakan Santri Pesantren Tahfizh Qur’an, yayasan Al-Munir Wahdah Islamiyah.

Dari vidio wisuda yang dikirimkan ke saya, kulihat Wajahnya tampak tenang. Sesekali ia tersenyum ketika namanya dipanggil.

Namun di balik momen bahagia itu, ada ruang kosong yang tak dapat diisi oleh siapa pun.

Hari wisuda santri, biasanya menjadi saat yang dinanti setiap orang tua. Mereka datang dengan mata berbinar, mengabadikan setiap langkah anaknya menuju panggung.

Namun hari itu, Hubaib harus menerima kenyataan bahwa dua orang yang paling ingin melihat keberhasilannya telah lebih dulu pergi.

Hubaib, anak ketiga dari pasangan almarhum Andi Amran Mansyur dan almarhumah Mely Kristalina. Perjalanan hidupnya berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Pada tahun 2023, enam bulan setelah kepergian sang ibu, ia memulai kehidupan baru sebagai santri di Pesantren Tahfizh Qur”an An Nail, Yayasan Al Munir, Wahdah Islamiyah, Kabupaten Gowa.

Keputusan memasuki pesantren bukanlah langkah yang mudah. Saat sebagian anak seusianya masih berusaha menerima kehilangan, Hubaib harus belajar berdiri lebih kuat.

Ia meninggalkan rumah, lingkungan yang akrab, dan membawa luka yang masih terasa segar. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan harapan bahwa ilmu dan pendidikan agama akan menjadi bekal untuk masa depannya.

Hari-hari di pesantren mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya tentang pelajaran dan hafalan, tetapi juga tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati.

Setiap kali rasa rindu kepada ibunya datang, ia belajar menenangkannya dengan doa. Setiap kali merasa lelah, ia mengingat pesan-pesan baik yang pernah diberikan keluarganya.

Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Hubaib tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Namun ujian hidup kembali menghampirinya.

Delapan bulan sebelum hari wisudanya, sang ayah menyusul ibunya untuk selama-lamanya.

Kehilangan kedua orang tua tentu bukan hal yang mudah diterima oleh siapa pun, terlebih bagi seorang remaja yang masih membutuhkan tempat bersandar.

Akan tetapi, kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan dapat ditempuh dengan lengkap. Ada langkah-langkah yang harus diteruskan meski orang-orang tercinta tak lagi berjalan di samping kita.

Di hari penamatan, ketika namanya dipanggil, yang terlihat oleh banyak orang mungkin hanyalah seorang santri yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Namun sesungguhnya, ada cerita panjang tentang kehilangan, ketabahan, dan perjuangan yang turut berjalan bersamanya menuju panggung.

Mungkin tidak ada tepuk tangan dari ayah dan ibunya di ruangan itu. Tidak ada pelukan yang menunggu setelah acara selesai. Tetapi ada sesuatu yang tetap hadir, cinta yang telah mereka tanamkan sejak dulu.

Wisuda ini bukan sekadar tanda berakhirnya masa belajar di pesantren. Ia menjadi bukti bahwa seorang anak dapat tetap melangkah meski berkali-kali diuji oleh kehilangan.

Duka tidak selalu menghentikan perjalanan seseorang. Kadang, duka justru menjadi alasan untuk terus melanjutkan mimpi.

Bagi Hubaib, hari itu mungkin adalah pertemuan antara bahagia dan rindu dalam waktu yang bersamaan.

Bahagia karena berhasil sampai di garis pencapaian. Rindu karena dua orang yang paling pantas menyaksikan momen itu tidak lagi berada di dunia yang sama.

Namun satu hal yang pasti, setiap ayat yang dipelajari, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap kebaikan yang dilakukan kelak akan menjadi hadiah yang tak pernah putus untuk kedua orang tuanya.

Dan mungkin, dari tempat terbaik di sisi Allah, Ayah dan Ibu sedang tersenyum bangga melihat putra mereka berdiri tegak, melanjutkan hidup dengan penuh keberanian.

Banyak selamat untukmu, Nak. Sukses hari ini dan sukses dimasa-masa mendatang.

Continue Reading

Kisah Sarah, Bocah 9 Tahun Syahid Menyusul Ayah, Ibu dan Dua Adiknya

Dua hari menjelang Idul Adha tahun 2026, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, berdiri di atas tumpukan puing-puing runtuhan bangunan di Gaza.

Sarah rindu pada ayahnya, ia pun menyiram air di atas makamnya yang syahid enam bulan yang lalu. Ia berdiri di atas batu besar yang berserakan, memegang wadah berisi air dan menyiram di atas gundukan tanah, tempat ayahnya beristirahat untuk selama-lamanya.

Momen itu, sederhana namun sangat mengharukan. Bagi Sarah, makam itu merupakan tempat terakhir ia bisa merasa dekat dengan sosok yang paling ia cintai.

Sarah mengenang enam bulan yang lalu, takdir kejam telah memisahkan mereka. Ayah Sarah syahid menyusul ibu dan dua adiknya saat lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT, saat pertemuan berkecamuk November 2023.

Sejak saat itu, Sarah kecil merasa dunianya telah runtuh. Ia merasa satu-satunya dalam keluarga kecilnya yang tersisa yang akan hidup untuk mengenang nama-nama keluarganya.  Di usia yang seharusnya penuh tawa, dan bermain, Sarah sudah harus

Namun, kehidupan di Gaza, tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti bernapas lega, kesedihan belum sempat kering bahaya sudah datang menyapa.

Sarah masih sempat merasakan Idul Adha mungkin bukan perayaan yang riuh dan penuh hadiah. Setidaknya hari itu, ia masih bersama kakek dan bibinya. Dua orang kerabat yang menjadi penopang dalam hidupnya.

Ia berharap mungkin sisa hidupnya bisa berlalu aman bersama mereka. Namun, harapan itu bertahan hanya sebentar. Tak lama setelah hari raya berlalu, suara ledakan memecah keheningan. Sebuah rudal menghantam gedung tempat mereka tinggal.

Di detik itu juga, napas kecil Sarah berhenti, ia pergi tidak sendirian tapi bersama kakek dan bibinya. Sejak hari itu, tidak ada lagi keluarga dari marga mereka yang tersisa.

Kantor catatan sipil pun mencoret nama keluarganya. Tidak ada lagi baris nama mereka yang tertulis di daftar penduduk Gaza.

 

Continue Reading

Dokter Hussam Ditangkap Setelah Menyelamatkan Ratusan Anak Gaza”

Kisah Hussam Abu Safiya, dokter yang bertahan di tengah serangan demi pasien kecilnya hingga akhirnya ia ikut ditangkap saat rumah sakit dikepung.

Langit Gaza hari itu, tidak lagi menyisakan warna selain kelabu dan api. Suara ledakan bersahut-sahutan, memecah sunyi yang seharusnya menjadi milik anak-anak yang terlelap. Di sebuah sudut yang nyaris runtuh di dalam Kamal Adwan Hospital, seorang dokter masih berdiri.

Ia masih sibuk menjalankan tugasnya, menyelamatkan nyawa anak-anak yang ke a ledakan Bom, anak-anak yang tubuhnya sakit, anak-anak yang hampir saja pergi.

Namanya Hussam, disaat semua berlari menyelamatkan diri. Ia memilih diam, bukan karena tidak takut, tapi saat itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Ia menemani mereka hingga akhirnya Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, ditangkap tentara Israel akhir tahun 2024.

Hari itu, suara ledakan terdengar lebih dekat dari biasanya. Rumah sakit dikepung. Kepanikan merayap cepat seperti api. Pasien dan tenaga medis tak lagi tahu ke mana harus berlindung.

Ia bukan tentara, tidak membawa senjata. Tangannya hanya terbiasa memegang stetoskop, meraba denyut nadi kecil, dan menenangkan tangis anak-anak.

Serangan demi serangan terus mengguncang rumah sakit. Dinding retak, kaca pecah, listrik padam. Namun Hussam tetap memilih tinggal. Ketika sebagian orang mengungsi untuk menyelamatkan diri, ia justru melangkah lebih dalam ke pusat bahaya.

Bagi Husam, meninggalkan rumah sakit berarti meninggalkan ratusan anak yang tidak punya pilihan lain.

Di lorong-lorong yang gelap dengan peralatan seadanya, ia dan timnya tetap bekerja. Mereka mengubah keterbatasan menjadi keberanian setiap tindakan medis dilakukan dengan risiko yang sama besarnya dengan harapan yang dibawanya.

Di tengah semua itu, ia berhasil menyelamatkan ratusan anak, nyawa kecil yang mungkin akan hilang jika ia memilih pergi.

Sebagai direktur, Hussam tahu betul bahwa setiap hari yang ia jalani bukan lagi sekadar tugas medis melainkan pertaruhan hidup dan mati.

Rumah sakit itu bukan hanya bangunan, melainkan tempat terakhir bagi harapan yang hampir padam.

Satu tahun lebih ia di tahan, tidak ada tanda-tanda kapan ia dibebaskan. Keluarganya menunggu dengan cemas, penuh ketakutan dan rasa khawatir yang sangat dalam.

Saat pengacara Hussam berusaha mengajukan banding, ia justru dipindahkan ke sel tikus, sel tahanan pengasingan di penjara Nafha. Pemindahan tersebut terjadi di tengah kondisi penahanan yang sangat buruk dan penolakan layanan medis.

Continue Reading

Bahasa Arab dan Mimpi Besar Khumaerah

Dari SMAIT Cobig untuk Mimpi yang Jauh

Di saat banyak pelajar berlomba menembus gerbang perguruan tinggi negeri ternama, Khumaerah justru melangkah ke arah yang berbeda. Bukan karena ia tak mampu bersaing, tetapi karena hatinya telah lama tertambat pada satu mimpi yang sederhana namun penuh makna, ingin mendalami pendidikan Bahasa Arab.

Kami baru benar-benar memahami arah langkahnya justru di waktu yang tak kami duga. Sekitar sebulan sebelum ujian akhir sekolah, tepat di penghujung Ramadan, ia menyampaikan rencananya untuk mendaftar Ma’had di Al-Birr.

Padahal sebelumnya, kami sekeluarga yakin bahwa remaja yang akrab kami panggil Cime, akan memilih salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Makassar, keyakinan itu bukan tanpa alasan.

Sejak duduk di bangku kelas XII, perempuan kelahiran Juni 2008 ini. begitu tekun mempersiapkan diri. Tiga kali dalam seminggu, sepulang sekolah, tanpa banyak keluh, ia melangkah ke tempat bimbingan belajar. Tentu saja, bimbingan untuk ujian masuk PTN.

Lelah seakan tak pernah menjadi alasan. Semangatnya terlihat jelas, seolah ia sedang mengejar satu tujuan besar yang sudah pasti arahnya.

Saat itu, saya bahkan sempat menyarankan agar ia mendaftar di Universitas Hasanuddin, kampus merah tempat saya dulu menimba ilmu.

Melihat kesungguhannya mengikuti bimbingan, saya berpikir pilihannya tak akan jauh, jika bukan Unhas, mungkin Universitas Negeri Makassar, atau bahkan perguruan tinggi negeri lain di luar kota.

Namun, seminggu sebelum ujian sekolah, remaja yang kehilangan ayahnya sejak berusia tiga bulan ini,  menyampaikan keputusan yang tak kami sangka. Dengan tenang, ia mengatakan tidak akan mengikuti seleksi PTN mana pun.

Alasannya sederhana, ia ingin mendalami Bahasa Arab. Saya sempat menimpali, bahwa di perguruan tinggi negeri juga tersedia jurusan Bahasa Arab. Tapi ia menjawab dengan keyakinan yang sulit dibantah,

“Saya ingin yang seratus persen fokus pada Bahasa Arab di kampus yang Islamnya terasa kuat.” katanya.

Saat itu, kami terdiam. Bukan karena tak setuju, tapi karena baru menyadari ia telah melangkah lebih jauh dalam keyakinannya bahkan sebelum kami benar-benar memahaminya.

Tidak banyak pertimbangan yang ia tunjukkan kepada kami, tidak juga daftar panjang universitas impian, ia hanya memilih satu tempat, satu jalan, dan satu tujuan.

Ia ingin kuliah si Al-Birr, ingin mendalami bahasa Arab, dan lebih dari itu, ia ingin suatu hari bisa melanjutkan pendidikannya ke tanah Arab.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu besar. Sebab tidak semua anak seusianya memiliki arah hidup yang jelas. Tidak semua berani memilih jalan yang dianggap biasa oleh orang lain, tetapi justru bermakna besar bagi dirinya sendiri.

Pendidikan yang Luar Biasa di SMAIT Cobig Islamic School

Sebelum melangkah ke bangku kuliah, Khumaerah Dwi Putri Yudifa, menempuh pendidikan di SMAIT Cobig Islamic School. Salah satu sekolah Islam di kota Makassar, yang sangat kuat menanamkan nilai-nilai agama kepada siswanya.

Di sekolah itu, siswa dan siswi tidak hanya belajar Bahasa Arab, tetapi juga dibimbing untuk memahami fiqih, adab dan akhlak, Tahfiz Alqur’an, dan pendidikan Islam yang membentuk karakter.

Dari lingkungan sekolah Cobig, mungkin tumbuh kecintaannya terhadap Bahasa Arab, bahasa yang bukan hanya sekadar pelajaran, tetapi juga pintu untuk lebih dekat dalam memahami Al-Qur’an dan ilmu agama.

Di saat banyak pelajar yang memilih jurusan karena ikut teman, atau sekadar mengejar tren, Khumaerah justru memilih sesuatu yang sangat ia cintai. Ia ingin fasih berbahasa Arab, bahasa para ulama, bahasa Alqur’an, bahasa yang selama ini ia impikan untuk dipelajari.

Hari ini, langkah kecil itu, akhirnya dimulai. Khumaerah Dwi Putri Yudifa, resmi lolos di Al-Birr, jurusan Bahasa Arab.

Semoga langkahmu dimudahkan, ilmunya berkah dan semoga suatu saat nanti Allah mengabulkan doanya menuntut ilmu hingga ke tanah Arab.

Selamat untuk Khumaerah

Dan terima kasih untuk SMAIT Cobig yang banyak membantu dan memberikan pendidikan kepada anak kami selama tiga tahun.

Terima kasih tak terhingga kepada ustazah yang dengan ikhlas berbagi ilmu pada anak kami, terima kasih banyak buat ustazah Haslinda, ustazah Faniah dan ustazah Ananda Reskita.

Continue Reading

Marsya dan Enam Bulan yang Hangat

Tak Lagi Sekadar Tamu, Marsya Sudah Menjadi Keluarga

Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan. Enam bulan yang lalu, seorang mahasiswi
Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung, Sulawesi Utara, datang ke rumah kami.

Namanya Marsya, kadang kami memanggilnya Acaa. Dia datang ke Makassar, untuk menjalani Praktek Kerja Lapangan, di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang produksi perikanan. Kami menyambutnya hangat dan penuh kasih.

Awalnya kami mengira kehadirannya hanya akan menjadi singgah sementara, sebatas tamu yang datang dan pergi setelah tugasnya selesai.

Namun, hari demi hari berjalan dan tanpa disadari, Marsya bukan lagi mahasiswi PKL yang menumpang tinggal, dia sudah menjadi bagian dari rumah ini.

Dia sudah menjadi seseorang yang kehadirannya terasa sangat dekat, seperti saudara sendiri.

Marsya, sosok yang sederhana, pemalu dan murah senyum. Saya senang mengajaknya jalan, kemana saja saya mau pergi, dan dia juga senang ikut tanpa mengeluh.

Banyak cerita tentang kehidupan bersama keluarganya yang aku tangkap dari ceritanya ketika kami jalan berdua.

Hari ini, aktivitasnya d Makassar telah selesai. Perempuan berusia 21 tahun ini, akan kembali ke kampusnya di Bitung, dan tinggal d Asrama.

Rumah kami ini, tentu saja sama seperti dulu, tapi rasanya akan berbeda, lebih sunyi dari biasanya.

Ada banyak kebiasaan kecil yang pasti akan kami rindukan, dari teriakan memanggil namanya, hingga ketuk-ketuk pintu kamarnya untuk mengajaknya makan.

Meski kami teriak Marsya tetap menjawab dengan suara yang lembut, dan senyum yang selalu terlihat manis. Semua itu akan menjadi kenangan yang diam-diam menitikkan air mata saat mengingatnya.

Marsya di Antara Alea dan Eldar

Sejak kabar kepulangan Marsya terdengar di rumah kami, suasana perlahan berubah yang paling merasa sedih kedua bocah kami Alea dan Eldar.

Mereka yang selama ini sangat dekat dengan Marsya, sepertinya belum siap menerima perpisahan itu.

Ada kesedihan kecil yang mereka simpan diwajahnya, ketika mereka sadar bahwa sosok yang setiap hari menemaninya bermain, bercanda dan mendengar cerita mereka sebentar lagi akan pulang.

Eldar bahkan seringkali ingin ikut ke Bitung. Kalimat sederhana yang begitu polos tapi sangat menyentuh hati. Salah satu tanda berapa besar kasih sayangnya terhadap Marsya.

Sementara Alea sering diam ketika nama Marsya disebut akan pulang. Seolah dia memahami kenapa seseorang yang sudah seperti keluarga haruss pergi.

Enam bulan bagi sebagian orang adalah waktu yang sangat singkat, tetapi bagi anak-anak, kedekatan tidak pernah dihitung dari lamanya waktu.

Mereka mengingat siapa yang membuat mereka merasa disayang, dan Marsya sudah menjadi bagian dari masa kecil yang akan mereka kenang nanti.

Perpisahan selalu menyisahkan haru, tetapi setiap pertemuan yang tulus tidak akan pernah benar-benar berakhir sebab orang yang baik akan meninggalkan jejak bagi orang yang mengenalnya.

Terima kasih Marsya untuk enam bulan yang penuh cerita. Terima kasih sebab pernah menjadi bagian dari keluarga kecil ini.

Doaku, semoga dimudahkan cita-citamu tercapai dan semua kebaikan akan mengiringi perjalanan hidupmu.

Pulanglah ke kampungmu dengan bangga sebab di tempat kami ini, kamu bukan hanya pernah tinggal tapi pernah kami anggap rumah.

Continue Reading

Saat Rindu Menunggu di Bulan Mei, Takdir Menjemput di Lebanon

Kisah Tiga Prajurit TNI Penjaga Perdamaian Yang Gugur di Lebanon

Bulan Mei seharusnya menjadi bulan kepulangan tiga prajurit terbaik bangsa. Setahun lalu mereka dikirim ke Lebanon, bertugas menjaga perdamaian PBB.

Tahun ini, kedatangan Mereka sudah dinantikan keluarga. Hari-hari telah dihitung, doa-doa tak pernah putus, dan harapan sederhana terus dijaga agar pelukan segera nyata.

Namun di saat segalanya terasa semakin dekat, takdir justru datang lebih dulu menjemput mereka di tanah yang jauh, dan meninggalkan duka yang tak pernah direncanakan.

Tiga prajurit terbaik bangsa, Prada Anumerta Fahrizal Rhomadhon, Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, dan Serda Anumerta Muh, Ichwan. Satu tahun yang lalu, mereka pergi membawa nama Indonesia dengan bangga, berani dan gagah.

Di sudut negeri yang jauh dari tanah air, di tengah panasnya konflik, mereka menunaikan tugasnya dengan penuh keikhlasan. Menjaga perdamaian di Lebanon, sebuah amanah besar yang tidak semua orang mampu memikulnya.

Tahun ini, dunia seakan terguncang, pada Ahad (29/3/2026), Kopda Farizal Rhomadhon mengembuskan napas terakhirnya akibat ledakan proyektil yang jatuh di dekat posisi pasukan di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan. Saat itu, ayah dari seorang putri berusia dua tahun ini, sedang menunaikan Salat Isya di masjid yang tidak jauh dari posko UNIFIL.

Dalam sunyi nya malam, Praka Fahrizal sempat menghubungi keluarganya. Dia bahkan menyampaikan dirinya sudah berada di dalam Banker, namun belum melaksanakan Salat Isya. Prajurit kelahiran 1998 ini, pun berangkat ke masjid.

Sebelum ajal menjemput, Fahrizal sedang salat. Dia berdoa menyerahkan segala lelah
dan rindu yang dia pendam selama jauh dari keluarga. Lalu, takdir menjemputnya ia gugur bukan di medan tempur dengan senjata di tangan,tapi dalam keadaan yang sangat mulia, bersujud kepada Allah.


Kepergian Praka Fahrizal bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi luka bangsa. Ia merupakan salah satu prajurit terbaik yang mengabdikan hidupnya demi kedamaian.

Duka belum sempat reda, sehari kemudian dunia kembali dikejutkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi insiden lanjutan yang menimpa pasukan TNI dalam misi UNIFIL.

Dua prajurit kembali gugur yakni Mayor Zulmi Aditya dan Serda Muh.Ichwan. mereka dilaporkan meninggal setelah ledakan menghantam konvoi logistik di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan, pada Senin (30/3/2026), sementara dua prajurit lainnya harus bertahan dengan luka-luka.

Para prajurit berprestasi itu berada di Lebanon, membawa nama Indonesia dengan penuh kebanggaan. Mereka pergi dengan kehormatan, menjaga damai di negeri orang.

Namun kepulangan mereka harus terjadi dengan cara yang tak pernah dibayangkan bukan dengan langkah kaki yang disambut pelukan, melainkan dalam diam, dibalut merah putih.

Rindu keluarga telah lama menunggu di bulan Mei, menyiapkan hangatnya pertemuan. Namun takdir lebih dulu menjemput di Lebanonan pada hari itu, yang pulang bukan lagi sosok yang bisa dipeluk, melainkan kenangan yang harus belajar diikhlaskan.

Continue Reading

Naufal, si Bungsu yang Tumbuh Bersama Doa dan Harapan

16 Maret 2016 – 16 Maret 2026. Tanggal yang sama, bulan yang sama 10 tahun yang lalu, saat itu, saya di antar Ibu, bapak ke rumah sakit untuk menjalani operasi Caesar.

Bapak dan Ibu menemaniku di ruang Instalasi Gawat Darirat (IGD) hingga masuk ke ruang operasi Rumah Sakit Siti Halijah, Jl. kartini Makassar. Rumah sakit yang sama saat ibu melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain.

Saat itu, saya tengah menanti dengan perasaan yang bercampur antara harap dan cemas. Dokter mengatakan bayi yang akan lahir diperkirakan memiliki berat sekitar 3,8 kilogram.

Bayi itu, bernama Naufal Said Al Fatih. Anak ketiga kami, sekaligus si bungsu yang melengkapi cerita kecil dalam rumah kami.

Sejak hari pertama hadir di dunia, Naufal sudah membawa warna tersendiri. Sebagai anak bungsu, tentu saja ia tumbuh dengan sedikit manja.

Ia sering ingin dipeluk lebih lama, ingin ditemani lebih dekat, dan selalu mencari kehangatan dari orang-orang yang ia cintai.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Manjanya Naufal bukan sekadar ingin dimanja, tetapi juga tanda betapa hangatnya hatinya.

Hari demi hari berlalu, Naufal tumbuh bersama waktu. Tawa kecilnya sering memenuhi rumah, langkah-langkah kecilnya menjadi bagian dari cerita yang tak tergantikan. Kadang ia membuat kami tersenyum, kadang juga membuat kami terharu dengan kepolosannya.

Memasuki usia sekolah, kami mulai mempercayakan pendidikannya pada sekolah yang juga mengajarkan nilai-nilai agama.

Naufal pertama kali bersekolah di TK Islam Al Ikhlas. Di sanalah ia mulai mengenal huruf-huruf, belajar bersosialisasi, dan perlahan memahami arti disiplin serta tanggung jawab.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SDIT Cobig Islamic School. Di sekolah inilah Naufal semakin banyak menimba ilmu agama.

Ia belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang bagaimana menjadi anak yang baik, menghormati orang tua, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kami sering merasa terharu terhadap sikapnya terhadap apa yang diajarkan oleh para ustadz di sekolah.

Naufal termasuk anak yang sangat patuh pada nasihat guru. Apa yang disampaikan oleh ustadznya seolah tertanam kuat di hatinya.

Setelah pulang sekolah, Naufal sering mengulang kembali pelajaran yang ia dapatkan dengan caranya sendiri, ia mencoba mengingat dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan.

Hal-hal sederhana seperti itu membuat kami diam-diam merasa bangga dan bersyukur.

Di balik sifat manjanya, ternyata Naufal memiliki hati yang lembut dan keinginan untuk belajar menjadi lebih baik.

Kami sadar, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Namun melihat langkah kecilnya hari ini sudah cukup membuat hati kami penuh harapan.

Setiap kali kami bertemu tanggal 16 Maret, tanggal ananda, seakan kami diajak untuk mengenang perjalanan hidupnya.

Dari bayi mungil yang selalu kami gendong dengan penuh kehati- hatian, hingga Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, manja, tetapi memiliki hati yang sangat baik.

Selamat bertemu tanggal lahir kesayangan, doa kami selalu sama. Semoga kamu selalu dijaga Allah SWT.

Semoga hatimu senatiasa dekat kebaikan.
Dan semoga kelak, ketika kamu tumbuh besar, kamu tetap menjadi anak yang sederhana, patuh, dan penuh kasih seperti hari ini.

Continue Reading

Buka Puasa Bersama Keluarga, Momen Sederhana Penuh Makna

Ramadan selalu membawa suasana berbeda, bulan yang spesial, penuh berkah dan memiliki makna yang dalam.

Kita tidak hanya menahan lapar, tapi juga menahan dahaga. Selain itu, ada momen yang indah yang sering dinanti banyak orang yakni saat berbuka puasa bareng keluarga.

Berkumpul bersama dan menikmati makanan yang sederhana, tapi semuanya terasa sangat istimewa.

Menjelang magrib, dapur sudah mulai ramai, aroma masakan memenuhi ruangan dalam rumah. Setiap hari kegiatan selama sebulan seperti itu.

Namun, hari ini. Kita memilih suasana baru, berbuka puasa bersama keluarga dalam suasana yang berbeda. Seperti halnya keluarga yang lain, kita mencari restoran kecil yang cukup menampung keluarga besar kita (hehehe).

Sekadar menciptakan kenangan, agar kelak di Ramadan berikutnya kita bisa tersenyum mengingat bahwa kita pernah duduk bersama, menikmati hangatnya kebersamaan sambil mencicipi Ayam Kremes Haji Slamet.

Momen seperti ini sering kali menjadi waktu terbaik untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing, Ramadan seakan mengingatkan bahwa kebersamaan adalah hal yang sangat berharga.

Duduk bersama, berbagi makanan, dan mendengarkan cerita satu sama lain menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Bagi sebagian orang, momen buka puasa bersama keluarga juga menghadirkan rasa haru. Terlebih jika mengingat bahwa tidak semua kebersamaan bisa berlangsung selamanya.

Ada saatnya seseorang harus menjalani Ramadan tanpa sosok yang dulu selalu ada di meja makan. Karena itulah, setiap momen kebersamaan yang masih bisa dirasakan seharusnya disyukuri sepenuh hati.

Seperti tahun lalu, kami kembali menikmati momen buka puasa bersama dengan kehadiran anggota baru. Seorang teman bernama Fitri, yang turut berjalan bersama dalam usaha yang kami rintis.

Fitri bukan sekadar teman. Kehadirannya perlahan terasa seperti keluarga, ia membawa warna baru, kehangatan, dan cerita yang melengkapi kebersamaan kami.

Ramadan tahun ini terasa sedikit berbeda. Kami kedatangan tamu dari Bitung, seorang mahasiswi Politeknik Kelautan dan Perikanan kota Bitung, namanya Marsya.

Ia tengah menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kota Makassar, selama enam bulan, dan untuk sementara waktu, rumah kami menjadi tempatnya pulang, ia bukan lagi sekadar tamu, melainkan menjadi bagian dari keluarga. Hari-hari di Makassar kami lalui bersama, penuh cerita, ada tawa, ada lelah, ada juga momen-momen sederhana yang terasa hangat.

Meski kami berbeda keyakinan, hal itu tak pernah menjadi jarak. Justru sebaliknya, kami belajar saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Marsya pun sering ikut membantu menyiapkan menu berbuka, menghadirkan kebersamaan yang terasa tulus dan apa adanya.

Dari Ramadan ini, kami belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tetapi tentang siapa yang hadir, bertahan, dan ikut mengisi hari-hari dengan ketulusan.

Pada akhirnya, buka puasa bersama keluarga bukan hanya menjadi rutinitas selama Ramadan, tetapi juga menjadi kenangan indah yang akan selalu tersimpan dalam hati.

Kenangan tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang membuat Ramadan terasa begitu istimewa.

Sampai jumpa di Ramadan berikutnya, semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali.

Continue Reading