Dunia Artikel

Cerita Terakhir Elmi Febrianti di Apparalang Bulukumba

Suasana objek wisata Apparalang, kabupaten Bulukumba selalu ramai di akhir pekan. Penikmat wisata berdatangan dari berbagai daerah, dan wilayah sekitar. Mereka datang menikmati pemandangan laut dan karang-karang yang indah.

Beberapa tahun terakhir Apparalang viral media sosial dan membuat sejumlah orang penasaran. Para pelancong tertarik datang sebab tempat ini punya kombinasi keindahan alam dan sensasi yang sulit ditemukan di pantai biasa.

Jembatan kayu yang menjorok ke arah laut jadi favorit banyak orang. Dari sana, foto terlihat lebih ekstrem dan estetik, seolah berdiri di atas samudera. Ini yang bikin Apparalang sering viral di media sosial.

Namun, jika tidak hati-hati. Tempat wisata Apparalang cukup berbahaya, bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa. Seperti yang terjadi pada Ahad, 7 Juni 2026. Seorang siswa SMK Bulukumba, Elmi Febrianti, diterpa ombak saat berswaforo di atas papan yang menjadi ikon Apparalang.

Banyak pengunjung yang mengabadikan pemandangan di tempat itu, ada yang berani dan sudah memimpikan sejak lama berdiri atau dengan gaya duduk, tidak pernah memikirkan bahaya yang akan datang.

Elmi yang saat itu, datang dengan keluarganya memanfaatkan kesempatan untuk foto di beberapa lokasi yang sangat indah. Di atas papan ia dengan gayanya yang cantik, difoto oleh temannya.

Saat itu, ombak kencang menerpanya. Ia jatuh ke laut, dan saat itu hanya bisa teriak minta tolong sambil melambaikan tangannya. Banyak pengunjung, tapi resikonya sangat besar. Tidak ada alat untuk menolong, mereka hanya bisa menonton dari atas, melihat Elmi melambaikan tangan.

Teriakan pecah, memecah suara ombak yang selama ini terdengar menenangkan. Beberapa orang berlari, sebagian lainnya hanya bisa terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Laut yang tadi menjadi latar keindahan, kini menjadi pusat kecemasan.

Hari itu, Apparalang tidak lagi sekadar tempat wisata. Ia berubah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menyisakan duka.

Perempuan berusia 17 tahun itu, semakin jauh terseret sampai sosoknya hilang. Sore hari, warga bersama Tim Sar, melakukan pencarian, dan Elmi ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.

Kisah Emil menjadi pengingat bahwa keindahan alam selalu berjalan berdampingan dengan resiko yang tak terlihat. Tebing karang yang memukau, ombak yang memesona, semuanya menyimpan kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Sore itu, tawa yang seharusnya pulang bersama kenangan, justru berganti dengan doa dan harap yang tak henti dipanjatkan.

Appalarang tetap berdiri megah, ombaknya tetap datang dan pergi. Namun bagi sebagian orang, Minggu itu akan selalu diingat sebagai hari ketika sebuah cerita berubah arah, dari bahagia menjadi duka yang tak terucap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *