-
Kisah Sarah, Bocah 9 Tahun Syahid Menyusul Ayah, Ibu dan Dua Adiknya
Dua hari menjelang Idul Adha tahun 2026, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, berdiri di atas tumpukan puing-puing runtuhan bangunan di Gaza. Sarah rindu pada ayahnya, ia pun menyiram air di atas makamnya yang syahid enam bulan yang lalu. Ia berdiri di atas batu besar yang berserakan, memegang wadah berisi air dan menyiram di atas gundukan tanah, tempat ayahnya beristirahat untuk selama-lamanya. Momen itu, sederhana namun sangat mengharukan. Bagi Sarah, makam itu merupakan tempat terakhir ia bisa merasa dekat dengan sosok yang paling ia cintai. Sarah mengenang enam bulan yang lalu, takdir kejam telah memisahkan mereka. Ayah Sarah syahid menyusul ibu dan dua adiknya saat lebih dulu dipanggil oleh Allah…
-
Dokter Hussam Ditangkap Setelah Menyelamatkan Ratusan Anak Gaza”
Kisah Hussam Abu Safiya, dokter yang bertahan di tengah serangan demi pasien kecilnya hingga akhirnya ia ikut ditangkap saat rumah sakit dikepung. Langit Gaza hari itu, tidak lagi menyisakan warna selain kelabu dan api. Suara ledakan bersahut-sahutan, memecah sunyi yang seharusnya menjadi milik anak-anak yang terlelap. Di sebuah sudut yang nyaris runtuh di dalam Kamal Adwan Hospital, seorang dokter masih berdiri. Ia masih sibuk menjalankan tugasnya, menyelamatkan nyawa anak-anak yang ke a ledakan Bom, anak-anak yang tubuhnya sakit, anak-anak yang hampir saja pergi. Namanya Hussam, disaat semua berlari menyelamatkan diri. Ia memilih diam, bukan karena tidak takut, tapi saat itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Ia menemani mereka hingga akhirnya Direktur…
-
Alhamdulillah! PBB Akui Palestina Merdeka, Suara 142 Negara Bergema
Melihat asap membumbung di langit Gaza, gedung-gedung roboh, rumah penduduk hancur rata dengan tanah. Anak-anak banyak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anaknya. Pemandangan memilukan tentu saja mengiris hati kita semua yang menyaksikannya. Peristiwa kejam yang menimpa warga Palestina seolah mengetuk mata hati kita, mengingatkan agar terus menumbuhkan empati. Di Gaza, kehidupan berjalan dalam kepingan-kepingan luka. Genosida 2023 meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus ribuan nyawa melayang, rumah-rumah menjadi puing, dan suara tawa anak-anak berganti tangis pilu. Blokade panjang mencekik setiap pintu masuk kehidupan. Obat-obatan tertahan di perbatasan, pangan langka, dan air bersih menjadi kemewahan yang tak semua bisa nikmati. Kelaparan mengintai, membuat para ibu lebih sering menahan…
-
Langkah Pilu Amir, Berjalan 12 Km Ditembak setelah Terima Bantuan
Cerita Palestina 2 Sejak serangan Israel yang menghancurkan rumah dan gedung di wilayah Gaza, saat itu banyak yang kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal. Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah bantuan dari berbagai negara ditahan. Akibatnya masyarakat Gaza kelaparan dan tidak sedikit yang meninggal akibat kelaparan. Sungguh memilukan melihat kondisi anak-anak Gaza dari kiriman video yang tersebar di media sosial. Dengan tubuh kurus, mata cekung, dan langkah yang gontai, mereka berlari ke arah bantuan yang sesekali dijatuhkan dari udara. Di antara suara ledakan dan ancaman peluru, anak-anak itu tetap maju, hanya untuk mendapatkan sekantong kecil tepung atau sebungkus roti.Ada yang berhasil pulang dengan senyum, meski lelah. Ada juga yang tak pernah kembali, karena…
-
Ternyata Palestina Masih Terluka 1
Tulisan untuk Gaza I Sore itu, Selasa 08 Juli 2025, hujan turun pelan-pelan, membawa dingin yang tak mudah kuurai. Di teras rumahku yang sederhana, aku duduk diam sambil memainkan ponsel dan minum secangkir teh hangat.. Rintik hujan jatuh seperti irama pelan dari langit yang murung, tiba-tiba di sela kesunyian itu, mataku menangkap beberapa postingan tentang Palestina di media sosial. Pikiranku melayang kemana-mana. Sudah lama ingin kudengar kabar itu. Setelah tahun 2023 berlalu, aku kehilangan kabar terbaru tentang Gaza. Padahal aku selalu mencari, hampir setiap hari aku seperti terpanggil untuk mengetahui kabar terbaru dari Palestina. Biasanya, saat kubuka media sosial khususnya Instagram, selalu update postingan tentang Palestina, tentang anak-anak yang kehilangan…
-
Ikut Aksi Solidaritas untuk Jurnalis Gaza
“Kak, besok saya mau ikut aksi solidaritas untuk jurnalis Gaza ya,” izinku pada suami. Anak-anak yang mendengar pun ikut bersorak. ” ikut. Saya juga ikut na,” kata si bungsu dan kakaknya kompak. Saya terdiam sejenak. Ku Pandangi wajah lugu mereka. Kedua anak lelakiku yang masih duduk di bangku SD, sering memantau berita Palestina. Kami memang sering cerita tentang perang antara tentara Israel dan Hamas. Tentang kondisi yang memprihatinkan dialami sebagian besar anak-anak, dan warga sipil. Terkadang anak-anakku pun terbawa emosi. Bahas Palestina bagi keluarga kecilku menjadi hal yang paling seru. Singkat cerita di group organisasi wartawan, kebetulan saya juga gabung sebagai salah satu pengurus Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Pengda Sulsel.…
-
Gencatan Senjata Empat Hari
Akhirnya militer Israel dan Hamas sepakat gencatan senjata selama empat hari. Pemberhentian perang sementara, dalam waktu yang disepakati tentunya melewati proses yang sangat panjang dan rahasia. Di mediasi oleh pihak Turki, tentara Israel dan Hamas pun sepakat menghentikan perang selama empat hari. Empat hari waktu yang sangat singkat, namun sangat berarti bagi warga Palestina. Dari informasi yang beredar di sejumlah media sosial, gencatan senjata dimulai pada Jumat 25 November 2023. Tercatat ada lima poin perjanjian dalam gencatan senjata. Diantaranya, disepakati tidak terjadi saling serang. Kedua, Israel dan Hamas sepakat saling menukar tawanan. Israel meminta sandera yang ditahan Hamas sebanyak 240 dibebaskan 50 orang. Sementara Israel membebaskan 150 warga Palestina yang…
-
Kisah Osama, Hafiz Termuda Palestina yang Dinyatakan Syahid
Senyum manis anak-anak Palestina menarik simpati masyarakat di seluruh dunia. Mereka terlihat sangat tabah menghadapi penjajahan di negerinya. Mereka terlihat tegar menyaksikan satu persatu keluarganya syahid, sabar dan ikhlas melihat rumahnya hancur berantakan. Osama Muhammad al-Lily, hafiz Qur’an termuda tidak hanya di Gaza tetapi, di tingkat Palestina. Dia salah satu dari ribuan anak yang menjadi korban pembantaian penjajah Israel. Sama seperti anak-anak lainnya. Osama masih terlalu kecil untuk mengetahui kondisi yang terjadi di negara tempat dia bermukim bersama keluarganya. Masih terlalu kecil bagi Osama untuk memahami serangan bertubi-tubi oleh tentara Israel yang menewaskan ribuan jiwa di tanah kelahirannya. Begitu keji sehingga anak-anak tidak berdosa pun jadi korban kekejaman Israel. Osama…





















