Kisah Sarah, Bocah 9 Tahun Syahid Menyusul Ayah, Ibu dan Dua Adiknya

Dua hari menjelang Idul Adha tahun 2026, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, berdiri di atas tumpukan puing-puing runtuhan bangunan di Gaza.

Sarah rindu pada ayahnya, ia pun menyiram air di atas makamnya yang syahid enam bulan yang lalu. Ia berdiri di atas batu besar yang berserakan, memegang wadah berisi air dan menyiram di atas gundukan tanah, tempat ayahnya beristirahat untuk selama-lamanya.

Momen itu, sederhana namun sangat mengharukan. Bagi Sarah, makam itu merupakan tempat terakhir ia bisa merasa dekat dengan sosok yang paling ia cintai.

Sarah mengenang enam bulan yang lalu, takdir kejam telah memisahkan mereka. Ayah Sarah syahid menyusul ibu dan dua adiknya saat lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT, saat pertemuan berkecamuk November 2023.

Sejak saat itu, Sarah kecil merasa dunianya telah runtuh. Ia merasa satu-satunya dalam keluarga kecilnya yang tersisa yang akan hidup untuk mengenang nama-nama keluarganya.  Di usia yang seharusnya penuh tawa, dan bermain, Sarah sudah harus

Namun, kehidupan di Gaza, tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti bernapas lega, kesedihan belum sempat kering bahaya sudah datang menyapa.

Sarah masih sempat merasakan Idul Adha mungkin bukan perayaan yang riuh dan penuh hadiah. Setidaknya hari itu, ia masih bersama kakek dan bibinya. Dua orang kerabat yang menjadi penopang dalam hidupnya.

Ia berharap mungkin sisa hidupnya bisa berlalu aman bersama mereka. Namun, harapan itu bertahan hanya sebentar. Tak lama setelah hari raya berlalu, suara ledakan memecah keheningan. Sebuah rudal menghantam gedung tempat mereka tinggal.

Di detik itu juga, napas kecil Sarah berhenti, ia pergi tidak sendirian tapi bersama kakek dan bibinya. Sejak hari itu, tidak ada lagi keluarga dari marga mereka yang tersisa.

Kantor catatan sipil pun mencoret nama keluarganya. Tidak ada lagi baris nama mereka yang tertulis di daftar penduduk Gaza.

 

Continue Reading

Dokter Hussam Ditangkap Setelah Menyelamatkan Ratusan Anak Gaza”

Kisah Hussam Abu Safiya, dokter yang bertahan di tengah serangan demi pasien kecilnya hingga akhirnya ia ikut ditangkap saat rumah sakit dikepung.

Langit Gaza hari itu, tidak lagi menyisakan warna selain kelabu dan api. Suara ledakan bersahut-sahutan, memecah sunyi yang seharusnya menjadi milik anak-anak yang terlelap. Di sebuah sudut yang nyaris runtuh di dalam Kamal Adwan Hospital, seorang dokter masih berdiri.

Ia masih sibuk menjalankan tugasnya, menyelamatkan nyawa anak-anak yang ke a ledakan Bom, anak-anak yang tubuhnya sakit, anak-anak yang hampir saja pergi.

Namanya Hussam, disaat semua berlari menyelamatkan diri. Ia memilih diam, bukan karena tidak takut, tapi saat itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Ia menemani mereka hingga akhirnya Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, ditangkap tentara Israel akhir tahun 2024.

Hari itu, suara ledakan terdengar lebih dekat dari biasanya. Rumah sakit dikepung. Kepanikan merayap cepat seperti api. Pasien dan tenaga medis tak lagi tahu ke mana harus berlindung.

Ia bukan tentara, tidak membawa senjata. Tangannya hanya terbiasa memegang stetoskop, meraba denyut nadi kecil, dan menenangkan tangis anak-anak.

Serangan demi serangan terus mengguncang rumah sakit. Dinding retak, kaca pecah, listrik padam. Namun Hussam tetap memilih tinggal. Ketika sebagian orang mengungsi untuk menyelamatkan diri, ia justru melangkah lebih dalam ke pusat bahaya.

Bagi Husam, meninggalkan rumah sakit berarti meninggalkan ratusan anak yang tidak punya pilihan lain.

Di lorong-lorong yang gelap dengan peralatan seadanya, ia dan timnya tetap bekerja. Mereka mengubah keterbatasan menjadi keberanian setiap tindakan medis dilakukan dengan risiko yang sama besarnya dengan harapan yang dibawanya.

Di tengah semua itu, ia berhasil menyelamatkan ratusan anak, nyawa kecil yang mungkin akan hilang jika ia memilih pergi.

Sebagai direktur, Hussam tahu betul bahwa setiap hari yang ia jalani bukan lagi sekadar tugas medis melainkan pertaruhan hidup dan mati.

Rumah sakit itu bukan hanya bangunan, melainkan tempat terakhir bagi harapan yang hampir padam.

Satu tahun lebih ia di tahan, tidak ada tanda-tanda kapan ia dibebaskan. Keluarganya menunggu dengan cemas, penuh ketakutan dan rasa khawatir yang sangat dalam.

Saat pengacara Hussam berusaha mengajukan banding, ia justru dipindahkan ke sel tikus, sel tahanan pengasingan di penjara Nafha. Pemindahan tersebut terjadi di tengah kondisi penahanan yang sangat buruk dan penolakan layanan medis.

Continue Reading

Alhamdulillah! PBB Akui Palestina Merdeka, Suara 142 Negara Bergema

Melihat asap membumbung di langit Gaza, gedung-gedung roboh, rumah penduduk hancur rata dengan tanah. Anak-anak banyak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anaknya. Pemandangan memilukan tentu saja mengiris hati kita semua yang menyaksikannya. Peristiwa kejam yang menimpa warga Palestina seolah mengetuk mata hati kita, mengingatkan agar terus menumbuhkan empati.

Di Gaza, kehidupan berjalan dalam kepingan-kepingan luka. Genosida 2023 meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus ribuan nyawa melayang, rumah-rumah menjadi puing, dan suara tawa anak-anak berganti tangis pilu. Blokade panjang mencekik setiap pintu masuk kehidupan. Obat-obatan tertahan di perbatasan, pangan langka, dan air bersih menjadi kemewahan yang tak semua bisa nikmati. Kelaparan mengintai, membuat para ibu lebih sering menahan lapar demi memberi sesuap roti kepada anak-anaknya.

Namun, harapan mereka rakyat Gaza dan Palestina tidak pernah padam. Mereka terus yakin dan percaya bahwa dunia akan membantu dan meringankan bebannya. Mereka tidak pernah merasa sendiri, meskipun hidupnya tidak pernah tenang. Setiap jam dihantui Bom dan peluru yang setiap saat bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Pada hari Jumat 12 September 2025, Majelis Umum PBB akhirnya resmi menyebut nama Palestina sebagai negara merdeka, hal itu disampaikan pada Deklarasi New York. Pernyataan itu pun, tentu saja menghadirkan Kebahagiaan pada warga warga Gaza dan seluruh negara yang berharap Palestina segera pulih.

Sebanyak 142 negara, berdiri dan mengakui Palsetina sebagai bangsa merdeka dan sebagai bangsa yang sah. Dalam pemungutan suara tersebut, tercatat 10 negaradan 12 negara di antaranya memilih abstain. Deklarasi New York hadir bukan sekadar teks diplomatik. Ia menjadi payung harapan bagi bangsa yang terlalu lama dipaksa hidup dalam reruntuhan.

Deklarasi New York ibarat jembatan yang dirajut dari serpihan luka Palestina menuju harapan baru. Dari ruang-ruang yang pernah dipenuhi isak tangis Gaza, kini dunia mencoba menghadirkan solusi bagi dua negara sebagai janji dalam damai. Meski luka genosida masih menganga, dokumen ini menjadi penanda bahwa dunia tidak tinggal diam, suara-suara kecil dari reruntuhan akhirnya menggema hingga ke podium tertinggi umat manusia.

Dukungan 142 negara seolah membuat Palestina terlahir kembali bukan dengan pesta melainkan dari air mata yang dipeluk dunia, disitulah kemerdekaan menemukan maknanya. Sebuah bangsa yang berdiri di reruntuhan tetapi, tidak pernah runtuh dari harapan.

Sudah saatnya Palestina hidup merdeka, dari reruntuhan Gaza dari kelaparan dan blokade yang tak pernah berhenti. Harapan tak pernah bisa dibom, dan mimpi tentang negeri yang bebas tak pernah bisa ditembak. Palestina mungkin tak lahir dari pesta meriah, tapi dari air mata yang dipeluk dunia. Sebanyak 142 negara menjadi saksi, bahwa di balik luka panjang, sebuah bangsa tetap bisa berdiri dan “Merdeka.”

10 Negara yang Menolak

1. Amerika Serikat                                                    6.  Paraguay
2. Israel                                                                       7.  Mikronesia
3. Hungaria                                                                8.  Palau
4. Nauru                                                                      9.  Papua Nugini
5. Argentina                                                               10. Nauru

12 Negara yang Abstain

1. Albania                                                                   7. Guatemala
2. Kamerun                                                                8. Moldova
3. Ekuador                                                                  9. Makedonia Utara
4. Kongo                                                                     10. Samoa
5. Ethiopia                                                                  11. Sudan Selatan
6. Fiji                                                                            12. Republik Ceko

Continue Reading

Langkah Pilu Amir, Berjalan 12 Km Ditembak setelah Terima Bantuan

Cerita Palestina 2

Sejak serangan Israel yang menghancurkan rumah dan gedung di wilayah Gaza, saat itu banyak yang kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal. Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah bantuan dari berbagai negara ditahan. Akibatnya masyarakat Gaza kelaparan dan tidak sedikit yang meninggal akibat kelaparan.

Sungguh memilukan melihat kondisi anak-anak Gaza dari kiriman video yang tersebar di media sosial. Dengan tubuh kurus, mata cekung, dan langkah yang gontai, mereka berlari ke arah bantuan yang sesekali dijatuhkan dari udara.

Di antara suara ledakan dan ancaman peluru, anak-anak itu tetap maju, hanya untuk mendapatkan sekantong kecil tepung atau sebungkus roti.Ada yang berhasil pulang dengan senyum, meski lelah. Ada juga yang tak pernah kembali, karena peluru lebih cepat dari langkah kecil mereka.

Seperti yang dialami Amir, bocah berusia 10 tahun, tetapi perjuangan hidupnya sangat keras melebihi dari usianya. Untuk mendapatkan makanan, dia dengan penuh semangat berjalan kaki tanpa alas sejauh 12 KM, menuju titik distribusi bantuan yang disalurkan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

Setelah mendapatkan bantuan makanan, Amir tersenyum bahagia. Iya bahkan sempat mengucapkan terima kasih dan mencium telapak tangan orang yang telah memberinya sekantong makanan. Siapa sangka setelah mendapatkan tersebut, belum sempat ia memberikan untuk keluarganya. Tentara Israel menghentikan langkah Amir untuk selamanya. Bukan hanya Amir yang tewas tertembak, tetapi sejumlah penduduk yang juga sedang mencari makan syahid bersama Amir.

Kondisi yang dialami Amir bersama sejumlah penduduk Gaza, diceritakan oleh Anthony Aguilar, salah seorang pensiunan Angkatan Darat Amerika Serikat. Saat itu, dia bertugas sebagai keamanan untuk penyaluran bantuan Gaza Humanitorian Foundation. Dia mengatakan, Amir ditembak setelah mendapatkan bantuan.

Sebelumnya bocah tersebut berkeliling mencari bantuan, dia bahkan tidak peduli berjalan kaki sangat jauh demi mengumpulkan makanan. Setelah menerima paket justru tentara Israel menembaknya sebelum dia sempat menikmati bantuan tersebut.

‘Amir mengulurkan tangannya, saya pun memanggilnya. Saya katakan, kemarilah. Saya memberikan beberapa paket bantuan. Dia sangat senang, lalu mencium tangan Saya, sembari mengucapkan terima kasih, Om.” kata Aguilar, yang membagikan cerita tersebut pada jurnalis AS dan sejumlah anggota parlemen.

Bukan hanya Amir, bocah 12 tahun yang gugur setelah berjalan 12 kilometer demi bantuan. Fakta di lapangan menunjukkan, lebih dari 1.000 warga Palestina telah meninggal dunia saat berdesakan mencari bantuan makanan yang sesekali datang.

Mereka tidak bersenjata. Mereka bukan ancaman. Mereka hanya ingin membawa pulang roti, tepung, atau sekantong susu bubuk untuk keluarga yang kelaparan. Namun, setiap langkah yang seharusnya menuju harapan justru berakhir di ujung peluru.

Dunia tidak boleh diam, sebab setiap kali kita terdiam, akan ada lagi Amir-Amir lain yang gugur saat mencoba membawa pulang makanan.

Continue Reading

Ternyata Palestina Masih Terluka 1

Tulisan untuk Gaza I

Sore itu, Selasa 08 Juli 2025, hujan turun pelan-pelan, membawa dingin yang tak mudah kuurai. Di teras rumahku yang sederhana, aku duduk diam sambil memainkan ponsel dan minum secangkir teh hangat..

Rintik hujan jatuh seperti irama pelan dari langit yang murung, tiba-tiba di sela kesunyian itu, mataku menangkap beberapa postingan tentang Palestina di media sosial. Pikiranku melayang kemana-mana. Sudah lama ingin kudengar kabar itu.

Setelah tahun 2023 berlalu, aku kehilangan kabar terbaru tentang Gaza. Padahal aku selalu mencari, hampir setiap hari aku seperti terpanggil untuk mengetahui kabar terbaru dari Palestina.

Biasanya, saat kubuka media sosial khususnya Instagram, selalu update postingan tentang Palestina, tentang anak-anak yang kehilangan orang tua, warga yang bertahan hidup di tengah reruntuhan, dan potongan kabar terbaru dari tanah yang tak pernah benar-benar damai.

Saat itu, serangan udara yang dilakukan oleh Israel menewaskan ribuan warga, banyak wartawan dan bayi yang tewas. Rumah sakit dan masjid jadi sasaran. Kami yang menyaksikan dari jauh, ikut merasakan perih. Luka dan derita saudara-saudara di sana terasa begitu dekat, meski kami tak berada di tengah reruntuhan itu. Hati kami ikut terluka, tetapi kami bingung tak tahu harus berbuat apa selain mendoakan dan menangis dalam diam.

Setahun berikutnya, kabar itu tak pernah muncul lagi. Semua terasa hening, seolah tidak ada yang terjadi di sana. Padahal, serangan demi serangan brutal masih terus menghantam Gaza. Suara jerit dan tangis itu mungkin tak terdengar di sini, tapi di sana mereka tak pernah benar-benar berhenti.

Aku terus mencari searching di google dan mencari di instagram milik para aktivis Palestina, ada beberapa yang posting tetapi tidak sebanyak tahun 2023. Pada tahun 2024 hanya ada beberapa postingan yang cukup membuat kami tahu di sana luka masih terus menganga, ada beberapa postingan foto dan vidieo yang sungguh memilukan.

Waktu itu, aku ingin menulis tentang Palestina, tentang perasaan yang berkecamuk setiap kali mendengar kekejian pemerintah Israel terhadap rakyat Gaza, tapi aku tak tahu harus menuangkannya di mana. Sampai aku teringat, aku punya blog kecil ini. Mungkin tidak banyak yang membaca, tapi setidaknya di sinilah aku bisa menulis sedikit tentang luka Palestina dan suaraku yang ingin turut bersaksi.

Di blog yang ku ciptakan ini, aku ingin mengungkapkan isi hati tentang Palestina, tentang anak-anak yang tidak pernah mengenal ketenangan.

Tahun ini, 2025, ketika perang antara Iran dan Israel pecah, kabar tentang Palestina kembali memenuhi linimasa media sosial. Ada rasa lega meski getir melihatnya. Senang rasanya bisa kembali mengetahui kabar dari Gaza, tapi di balik itu, hati ini kembali sesak. Ternyata, penderitaan mereka belum juga berubah bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Salah satu kabar yang paling menghantam adalah syahidnya dr. Marwan Al Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ia wafat bersama istri dan lima anaknya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka. Kekejaman seperti ini bukan lagi hal baru. Dunia melihat, tapi banyak yang tetap memilih bungkam.

Aku selalu bangga melihat postingan tentang situasi di Gaza, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat, aku melihat keberanian mereka bahkan ketika suara tembakan begitu dekat dari tempatnya berpijak dia masih bisa tersenyum dengan ikhlas.

Mereka terlihat tabah padahal tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa suara ledakan. Anak yang luar biasa masih bisa tetap bermain tanpa rasa was-was.

Aku merasa sangat sedih, saat melihat postingan anak-anak Gaza makan di atas tanah yang retak dan di tengah bangunan yang runtuh. Sungguh memilukan melihatnya, apalagi saat melihat postingan ada yang meninggal karena kelaparan, kekurangan air bersih, Astagfirullah. Tanganku belum bisa membantu, tetapi aku ikut mendoakan. Aku berharap kelak tulisanku bisa menjadi jembatan dari hati ke hati.

Sungguh kejam pemerintah Israel yang menyerang tanpa titik, dokter Marwan Al Sultan satu-satunya dokter spesialis jantung yang masih bertahan di Gaza juga menjadi sasaran. Dia dan keluarganya tewas di ruang yang paling aman, sebagai bukti bahwa Israel tidak mengenal batas kemanusiaan.

Kepergian sang dokter menjadi catatan kelam dalam sejarah, dokter yang ke 70 yang tewas akibat serangan udara dalam dua bulan terakhir ini. Serangan yang tak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga harapan, dan nyawa mereka yang setiap hari berjuang menyelamatkan orang lain.

bersambung

Continue Reading

Ikut Aksi Solidaritas untuk Jurnalis Gaza

“Kak, besok saya mau ikut aksi solidaritas untuk jurnalis Gaza ya,” izinku pada suami. Anak-anak yang mendengar pun ikut bersorak.

” ikut. Saya juga ikut na,” kata si bungsu dan kakaknya kompak.
Saya terdiam sejenak. Ku Pandangi wajah lugu mereka. Kedua anak lelakiku yang masih duduk di bangku SD, sering memantau berita Palestina.

Kami memang sering cerita tentang perang antara tentara Israel dan Hamas. Tentang kondisi yang memprihatinkan dialami sebagian besar anak-anak, dan warga sipil. Terkadang anak-anakku pun terbawa emosi. Bahas Palestina bagi keluarga kecilku menjadi hal yang paling seru.

Singkat cerita di group organisasi wartawan, kebetulan saya juga gabung sebagai salah satu pengurus Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Pengda Sulsel. Sejumlah organisasi jurnalis yang bergabung dalam Koalisi Jurnalis Sulsel untuk jurnalis jalur Gaza. Menggelar aksi solidaritas peduli bela Palestina tanggal 27 November 2023 malam.

Aksi tersebut digelar di bawah jembatan layang. Kami sebagai jurnalis Sulsel, turut berduka dan merasakan sedih yang mendalam atas apa yang menimpa jurnalis di Palestina beserta keluarganya.

Kami berkumpul membentangkan spanduk, dan membakar lilin. Beberapa jurnalis secara bergantian berorasi, dan membacakan puisi “Berbagi Irisan Semangka”
Dalam aksi solidaritas yang dilakukan pada Senin malam, agar bisa di dengar oleh semua pihak terkait dugaan pembunuhan 57 Jurnalis di Gaza. Bisa didengar hingga ke pengadilan internasional.

Ketua PJI Sulsel Safril Rahmat, berharap kedepannya jurnalis tidak mengalami hal seperti para pekerja media di jalur Gaza. Dimana mereka diperlakukan tidak manusiawi. Mereka tidak mendapatkan perlindungan hingga harus terbunuh.
Laporan Committee to Protect Journalists (CPJ)
Pada tanggal 25 November:

57 jurnalis dan pekerja media dipastikan tewas: 50 warga Palestina, 4 warga Israel, dan 3 warga Lebanon.
11 jurnalis dilaporkan terluka.
3 jurnalis dilaporkan hilang.
19 jurnalis dilaporkan ditangkap .
Berbagai penyerangan, ancaman, serangan siber, sensor, dan pembunuhan anggota keluarga.

Continue Reading

Gencatan Senjata Empat Hari

Akhirnya militer Israel dan Hamas sepakat gencatan senjata selama empat hari. Pemberhentian perang sementara, dalam waktu yang disepakati tentunya melewati proses yang sangat panjang dan rahasia.

Di mediasi oleh pihak Turki, tentara Israel dan Hamas pun sepakat menghentikan perang selama empat hari.

Empat hari waktu yang sangat singkat, namun sangat berarti bagi warga Palestina.
Dari informasi yang beredar di sejumlah media sosial, gencatan senjata dimulai pada Jumat 25 November 2023. Tercatat ada lima poin perjanjian dalam gencatan senjata.

Diantaranya, disepakati tidak terjadi saling serang. Kedua, Israel dan Hamas sepakat saling menukar tawanan. Israel meminta sandera yang ditahan Hamas sebanyak 240 dibebaskan 50 orang. Sementara Israel membebaskan 150 warga Palestina yang sandera.

Poin ketiga, penggunaan drone di Gaza Utara diberhentikan selama enam jam sehari. Keempat, adanya kebebasan bergerak di sepanjang jalan, termasuk memberi izin truk-truk yang mengantar bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Kelima, menteri pertahanan Israel Yoav Gallant, akan memulai kembali perang usai gencatan senjata.

Warga Palestina sedikit bisa bernafas lega, truk bantuan kemanusiaan dari sejumlah negara pendukung Palestina pun diperbolehkan masuk ke jalur Gaza.

Selama gencatan senjata warga Palestina yang menjadi tawanan tentara Israel pun dikembalikan. Sebaliknya tentara Hamas pun membebaskan warga Israel.

Continue Reading

Kisah Osama, Hafiz Termuda Palestina yang Dinyatakan Syahid

Senyum manis anak-anak Palestina menarik simpati masyarakat di seluruh dunia. Mereka terlihat sangat tabah menghadapi penjajahan di negerinya. Mereka terlihat tegar menyaksikan satu persatu keluarganya syahid, sabar dan ikhlas melihat rumahnya hancur berantakan.

Osama Muhammad al-Lily, hafiz Qur’an termuda tidak hanya di Gaza tetapi, di tingkat Palestina. Dia salah satu dari ribuan anak yang menjadi korban pembantaian penjajah Israel.

Sama seperti anak-anak lainnya. Osama masih terlalu kecil untuk mengetahui kondisi yang terjadi di negara tempat dia bermukim bersama keluarganya. Masih terlalu kecil bagi Osama untuk memahami serangan bertubi-tubi oleh tentara Israel yang menewaskan ribuan jiwa di tanah kelahirannya. Begitu keji sehingga anak-anak tidak berdosa pun jadi korban kekejaman Israel.

Osama kecil tidak tahu apa-apa. Dia seorang hafiz Al-Qur’an yang menjadi kebanggaan kedua orang tua dan juga rakyat Palestina. Sejak masih dalam kandungan, ibunya sering perdengarkan bacaan Al-qur’an. Anak cerdas ini, pun menuntaskan hafalan keseluruhan Alquran diusia enam tahun.

Setiap hari, Osama memulai hafalannya usai salat subuh hingga menjelang siang hari. Karena kecintaannya terhadap Alquran, dia melanjutkan hafalannya pada sore hari. Dari kerja kerasnya menghafal, akhirnya dia mengumumkan ayat terakhir yang dihafalnya dari surah Al-Baqarah.

Sebuah momen bahagia bagi orang tua Osama. Ibunya bersujud dan bersyukur kepada Allah, buah hatinya berhasil menghafal keseluruhan Alquran di usia anak-anak. Dilansir dari laman adararelief.com, Osama dinobatkan menjadi hafiz termuda tidak hanya di level jalur Gaza tetapi, di tingkat Palestina.

Perjalanan Osama Hafal Alquran

Diceritakan oleh ibunya, Osama belajar dengan ayahnya. Dia memulai bacaan surah al-Ikhlas. Saat itu, sang ibu melihat dia masih terlalu kecil untuk menghafal sebuah surah secara lengkap. Diusianya tiga tahun, Osama sudah bisa melafalkan surah dengan benar dan menghafal dengan sempurna.

Menurut ibunya, dia bersama suaminya terus berusaha menghafal banyak surah, termasuk Ar-Rahman dan Al-Waqi’ah. Mereka tidak sekadar mengajar hafalan, tetapi juga mengajarkan anak-anaknya belajar membaca. Osama bisa membaca saat usianya lima tahun.

Karena kecerdasan yang diperlihatkan Osama. Kemudian Ayahnya mendaftarkan ke Sekolah Al-Tabi’een al-Syariah.Pihak sekolah kemudian mengujinya dan menegaskan bahwa Osama anak jenius. Jaafar Zeno, seorang guru yang berusaha keras untuk membantu menyelesaikan hafalan Osama hanya dalam waktu 6 setengah bulan.

Bukan hanya itu, sang Ayah juga giat memberikan materi dan pendidikan moral kepada Osama dan tidak diberikan waktu bermain, sejak dia masih sangat kecil.
Namun, tanggal 19 November pasukan zionis datang dan membombardir tempat tinggalnya. Osama dan sejumlah keluarganya pun dinyatakan syahid.

Continue Reading