Hampir tiga tahun lamanya, mereka berada di bawah timbunan beton dan reruntuhan rumah yang pernah menjadi tempat berlindung.
Tak ada pemakaman. Tak ada pusara yang bisa dikunjungi keluarga. Bahkan sebagian keluarga mungkin hanya bisa menyimpan nama dan kenangan, tanpa pernah mengetahui di mana orang-orang tercinta mereka berada.
Ratusan warga berkumpul dalam suasana duka ketika jenazah-jenazah tersebut dibawa dalam sebuah prosesi pemakaman di Gaza City pada 4 Agustus 2026. Jenazah dibungkus kain kafan dan sebagian ditutup dengan bendera Palestina sebelum dibawa menuju tempat pemakaman.
Mereka merupakan anggota keluarga besar Al-Hassayna dan Abu Sharia yang menjadi korban serangan di kawasan Sabra, Gaza City, pada November 2023.
Menurut otoritas Palestina, sebanyak 308 anggota keluarga besar tersebut tewas dalam peristiwa itu. Sebagian jenazah telah ditemukan dan dimakamkan sebelumnya, sementara puluhan lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Bertahun-tahun setelah bangunan itu runtuh, harapan untuk menemukan jasad para korban belum sepenuhnya padam.
Tim Pertahanan Sipil Gaza akhirnya melakukan operasi pencarian di kawasan tersebut. Selama sekitar 17 hari, para petugas menyisir reruntuhan untuk mencari jasad yang masih tertimbun.
Keterbatasan alat berat membuat proses evakuasi berlangsung sangat lambat.Petugas bahkan harus bekerja dengan peralatan sederhana di tengah puing-puing bangunan yang telah hancur.
Setelah berhari-hari melakukan pencarian, mereka berhasil menemukan dan mengidentifikasi 112 jenazah.Di antara mereka terdapat puluhan perempuan dan anak-anak.
Dilansir dari berbagai sumber dari media sosial, sebanyak 112 jenazah yang telah tertimbun berhasil dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 44 anak-anak dan 37 perempuan, selain korban laki-laki, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Di sebuah lahan yang telah dibersihkan dari puing-puing, jenazah-jenazah itu diletakkan berjajar. Kain kafan dan bendera Palestina menutupi tubuh mereka.
Keluarga dan warga Gaza kemudian berkumpul untuk melaksanakan salat jenazah.
Mereka mengantarkan orang-orang tercinta yang selama hampir tiga tahun hanya bisa mereka bayangkan keberadaannya di bawah beton.
Prosesi kemudian bergerak melewati jalan-jalan Gaza City. Para pelayat membawa jenazah di atas tandu, sementara warga lainnya berdiri di sepanjang jalan menyaksikan kepergian mereka untuk terakhir kalinya.
Pemakaman massal 112 warga Gaza itu akhirnya menjadi pengingat bahwa di balik angka korban yang setiap hari memenuhi pemberitaan, ada manusia dengan nama, keluarga, dan cerita.
