Tidak terasa, Indonesia telah 81 tahun merdeka, pada Agustus 2026 tahun ini. Usia kemerdekaan itu telah melewati delapan dekade. Namun, sampai pada titik ini tentu bukan perjalanan yang mudah.
Ada kerja keras para pejuang dengan gigih mengusir penjajah dari Indonesia. Ada sejarah panjang yang terukir dan seharusnya tidak boleh kita lupakan. Para pejuang kemerdekaan telah mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan.
Kemerdekaan itulah yang setiap tahun kita rayakan di bulan Agustus. Kita menggelar upacara dengan persiapan matang, mengibarkan Merah Putih, lalu menghidupkan suasana dengan berbagai perlombaan dan kegiatan. Semua dilakukan sebagai bentuk kegembiraan atas kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada sejarah panjang yang semestinya tidak boleh kita lupakan. Ada pengorbanan yang membuat kemerdekaan ini sampai ke tangan kita bahkan dari mereka yang berada jauh di luar Indonesia. Salah satunya adalah seorang saudagar asal Palestina bernama Muhammad Ali Taher.
Namanya mungkin tidak banyak disebut ketika kisah kemerdekaan Indonesia dikenang. Ia bukan proklamator, bukan panglima perang, dan bukan pula pejuang yang bertempur di tanah Nusantara.
Ketika Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya, seorang lelaki dari Palestina itu memilih untuk berdiri di sisi Indonesia. Ia tidak datang membawa senjata, ia datang membawa kepedulian.
Ketika perjuangan membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata, ia bahkan rela membuka hartanya untuk membantu sebuah bangsa yang bukan tanah kelahirannya.
Kisah Muhammad Ali Taher adalah kisah tentang persahabatan yang melampaui batas negara. Tentang seorang manusia yang memahami penderitaan bangsa lain karena tanah airnya sendiri juga mengenal pahitnya perjuangan.
Jauh sebelum Indonesia benar-benar diakui sebagai negara merdeka, dari Palestina telah terdengar suara yang mendukung perjuangan bangsa Indonesia.
Seperti dilansir dari berbagai sumber, pada 6 September 1944, ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang, Muhammad Ali Taher bersama Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini menyuarakan dukungan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia melalui radio dan media berbahasa Arab. Dukungan tersebut kemudian ikut disebarluaskan di dunia Arab.
Saat itu, Indonesia bahkan belum sampai pada hari Proklamasi, tetapi dari Palestina telah datang sebuah pesan: Indonesia berhak merdeka. Dukungan itu tidak berhenti setelah Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Ali Taher kemudian ikut berada dalam gerakan yang mendorong negara-negara Arab dan Islam memberikan dukungan kepada Republik Indonesia. Pada Oktober 1945, ia tercatat bergabung dalam Komite Pembela Indonesia bersama sejumlah tokoh Arab.
Indonesia sedang berjuang agar kemerdekaannya tidak hanya terdengar di dalam negeri, tetapi juga diakui dunia dan dari kejauhan, Ali Taher ikut menyuarakannya.
Hari ini, ketika Indonesia dan Palestina kembali sering disebut dalam satu napas, kisah lama itu terasa menemukan maknanya kembali. Sebab hubungan kedua bangsa bukan hanya dibangun oleh pernyataan politik.
Ia juga pernah dibangun oleh persahabatan, keberanian untuk peduli yang dilakukan seorang lelaki Palestina yang melihat perjuangan Indonesia sebagai sesuatu yang layak dibela.Muhammad Ali Taher mungkin bukan orang Indonesia.
Namun, pada satu masa yang menentukan, ia ikut memberikan sesuatu untuk Indonesia mungkin itulah sebabnya sebuah nama yang datang dari jauh tetap pantas dikenang.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 81 tahun, jaya selamanya Indonesiaku.
