Keysa Histeris Memanggil Ayahnya, Jutaan Orang Ikut Menangis

Kisah Pilu Anak Korban Keroyokan

Namanya Keysa, usianya sembilan tahun. Nama dan fotonya hampir setiap hari mewarnai media sosial.

Hampir seluruh rakyat Indonesia simpati padanya, mulai dari kalangan masyarakat biasa, artis hingga pejabat berdatangan ke rumahnya.

Tangisan Keysa viral saat jenazah sang ayah akan disemayamkan, anak kedua dari tiga bersaudara itu berkali-kali memanggil ayahnya dengan histeris disertai air mata.

Para pelayat tersayat, suara Keysa pun membuat luka seluruh rakyat saat vidionya viral di media sosial. Suaranya menggema menyayat hati menghadirkan rasa luka dihati masyarakat.

Keysa Belum Mengerti Apa-Apa, tapi harus menjalani hari tanpa ayah. Ia masih terlalu kecil untuk memahami mengapa orang-orang membawa ayahnya pergi. Ia mungkin belum mengerti apa arti sebuah kematian, apalagi mengapa seseorang yang kemarin masih ada di sisinya, kini tak akan pernah kembali memeluknya.

Yang tersisa bagi Keysa hanyalah kenyataan pahit yang terlalu berat untuk dipikul seorang anak seusianya. Ayah yang menjadi tempatnya mencari kasih sayang, kini telah pergi untuk selamanya setelah menjadi korban amukan massa, Jumat (24/07/2026).

Di tengah duka yang belum sepenuhnya ia pahami, Keysa hanya bisa menatap pusara ayahnya dengan dunia kecil yang mendadak berubah. Ia kehilangan sosok yang selama ini mungkin menjadi bagian sederhana dari hari-harinya, seorang ayah yang pulang, memanggil namanya, dan menjadi tempatnya merasa aman.

Jumat malam, di akhir bulan Juli, ayahnya berinisial KD tewas di keroyok setalah ketahuan mencuri ayam adu yang harganya sangat mahal. Peristiwa tragis ini terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Bagi orang dewasa, kepergian mungkin bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun bagi seorang anak seperti Keysa, kehilangan ayah adalah luka yang mungkin baru akan benar-benar ia pahami ketika ia tumbuh besar.

Dan kelak, ketika Keysa mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu, mungkin akan muncul satu pertanyaan yang sulit dijawab: mengapa ayahnya harus pergi dengan cara seperti itu?

Tidak semua anak mengerti apa itu hukum. Tidak semua anak memahami apa itu tuduhan, pencurian, atau kemarahan massa. Yang Keysa tahu, ayahnya kini telah tiada.

Nama Keysa kemudian menjadi simbol duka. Banyak orang tersentuh, bukan karena ingin membenarkan atau menyalahkan siapa pun, melainkan karena melihat seorang anak yang harus memikul kehilangan pada usia yang seharusnya masih dipenuhi tawa.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *