Back to School, Ada yang Semangat, Ada yang Masih Mencari Sisa Liburan

Pagi itu, Senin 20 Juli 2026, suasana terasa berbeda. Jalanan yang beberapa minggu terakhir relatif lengang kini kembali dipenuhi kendaraan.

Klakson bersahutan, gerbang sekolah ramai oleh siswa dan orang tua, sementara pedagang di sekitar sekolah kembali tersenyum menyambut ramainya aktivitas.

Tahun ajaran baru telah dimulai. Bagi para siswa, hari pertama sekolah adalah momen yang penuh cerita.

Ada yang datang dengan wajah ceria karena bisa bertemu kembali dengan teman-temannya. Ada pula yang masih terlihat mengantuk, seolah belum sepenuhnya berdamai dengan berakhirnya masa liburan.

Di dalam kelas, pemandangan yang sama kembali terlihat. Bangku-bangku yang sempat kosong kini terisi. Tawa dan canda mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan. Sebagian siswa sibuk bercerita tentang pengalaman liburan mereka, sementara yang lain masih menyesuaikan diri dengan rutinitas yang kembali berjalan.

Namun, bukan hanya anak-anak yang kembali sibuk. Para orang tua pun mulai disibukkan dengan rutinitasnya, bangun lebih awal menyiapkan bekal dan kebutuhan anak-anak.

Jika selama liburan terbiasa dengan kebiasaan yang santai, di rumah. Kali ini, kembali sibuk antar jemput anak sekolah.

Hari pertama sekolah juga sering kali menjadi pengingat bahwa waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin kita mengantar mereka dengan langkah kecil dan seragam yang kebesaran. Kini mereka tumbuh lebih tinggi, lebih mandiri, dan mulai memiliki mimpi-mimpi yang ingin mereka kejar.

Tahun ajaran kali ini, di keluarga kami berbeda dari tahun sebelumnya. Dulu, setiap hari kami mengantar empat orang anak di sekolah yang sama hanya beda tingkatan. Dua di SMP Cobig Akhwan dan Ikhwa, satu di SMA Cobig dan satunya lagi SD Cobig.

Tahun ini, yang tadinya mengenyam pendidikan di SMA Akhwat, sudah tamat dan masuk perguruan tinggi. Anak tertua kami, Safwa yang tamat SMP, memilih melanjutkan ke sekolah MAN 1.

Bagi sebagian orang tua, momen ini bahkan menghadirkan perasaan haru. Mereka menyadari bahwa setiap tahun ajaran baru adalah tanda bahwa anak-anak mereka sedang bertumbuh.

Sedikit demi sedikit, mereka melangkah menuju masa depan yang telah Allah siapkan.

Continue Reading

Liburan yang Berbeda, Belajar Mandiri di English Super Camp

Liburan sekolah tahun ini terasa berbeda bagi keluarga kami. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masa liburan identik dengan beristirahat di rumah atau mengunjungi tempat wisata, kali ini anak-anak memilih mengisi waktunya dengan sesuatu yang lebih menantang dan bermanfaat.

Mereka mengikuti program di Britania English Camp, sebuah perkampungan bahasa Inggris yang menjadi tempat belajar sekaligus melatih kemandirian.

Melihat semangat mereka, kami tentu memberikan dukungan penuh. Ada rasa haru sekaligus bangga ketika menyaksikan bagaimana mereka berani keluar dari zona nyaman untuk mencari pengalaman baru.

Hari keberangkatan menjadi momen yang tak terlupakan. Kami mengantar mereka ke lokasi camp dengan berbagai perasaan yang bercampur.

Namun semua kekhawatiran perlahan sirna ketika melihat wajah-wajah ceria yang penuh antusiasme. Tidak ada kesedihan atau keraguan. Sebaliknya, mereka tampak begitu bahagia bertemu teman-teman baru dan memasuki lingkungan belajar yang selama ini hanya mereka lihat melalui cerita dan media sosial.

Bagi kami, kebahagiaan ketiga anak-anakku menjadi pertanda bahwa mereka siap bertumbuh. Belajar bahasa Inggris memang menjadi tujuan utama, tetapi lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan baru tanpa selalu bergantung pada orang tua.

Liburan kali ini bukan sekadar tentang mengisi waktu luang. Ini adalah perjalanan belajar yang akan meninggalkan jejak berharga dalam kehidupan mereka.

Melihat anak-anak tumbuh dengan penuh semangat dan keberanian adalah hadiah terindah dari sebuah liburan yang berbeda.

Continue Reading

Kisah Sarah, Bocah 9 Tahun Syahid Menyusul Ayah, Ibu dan Dua Adiknya

Dua hari menjelang Idul Adha tahun 2026, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, berdiri di atas tumpukan puing-puing runtuhan bangunan di Gaza.

Sarah rindu pada ayahnya, ia pun menyiram air di atas makamnya yang syahid enam bulan yang lalu. Ia berdiri di atas batu besar yang berserakan, memegang wadah berisi air dan menyiram di atas gundukan tanah, tempat ayahnya beristirahat untuk selama-lamanya.

Momen itu, sederhana namun sangat mengharukan. Bagi Sarah, makam itu merupakan tempat terakhir ia bisa merasa dekat dengan sosok yang paling ia cintai.

Sarah mengenang enam bulan yang lalu, takdir kejam telah memisahkan mereka. Ayah Sarah syahid menyusul ibu dan dua adiknya saat lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT, saat pertemuan berkecamuk November 2023.

Sejak saat itu, Sarah kecil merasa dunianya telah runtuh. Ia merasa satu-satunya dalam keluarga kecilnya yang tersisa yang akan hidup untuk mengenang nama-nama keluarganya.  Di usia yang seharusnya penuh tawa, dan bermain, Sarah sudah harus

Namun, kehidupan di Gaza, tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti bernapas lega, kesedihan belum sempat kering bahaya sudah datang menyapa.

Sarah masih sempat merasakan Idul Adha mungkin bukan perayaan yang riuh dan penuh hadiah. Setidaknya hari itu, ia masih bersama kakek dan bibinya. Dua orang kerabat yang menjadi penopang dalam hidupnya.

Ia berharap mungkin sisa hidupnya bisa berlalu aman bersama mereka. Namun, harapan itu bertahan hanya sebentar. Tak lama setelah hari raya berlalu, suara ledakan memecah keheningan. Sebuah rudal menghantam gedung tempat mereka tinggal.

Di detik itu juga, napas kecil Sarah berhenti, ia pergi tidak sendirian tapi bersama kakek dan bibinya. Sejak hari itu, tidak ada lagi keluarga dari marga mereka yang tersisa.

Kantor catatan sipil pun mencoret nama keluarganya. Tidak ada lagi baris nama mereka yang tertulis di daftar penduduk Gaza.

 

Continue Reading

Saat Rindu Menunggu di Bulan Mei, Takdir Menjemput di Lebanon

Kisah Tiga Prajurit TNI Penjaga Perdamaian Yang Gugur di Lebanon

Bulan Mei seharusnya menjadi bulan kepulangan tiga prajurit terbaik bangsa. Setahun lalu mereka dikirim ke Lebanon, bertugas menjaga perdamaian PBB.

Tahun ini, kedatangan Mereka sudah dinantikan keluarga. Hari-hari telah dihitung, doa-doa tak pernah putus, dan harapan sederhana terus dijaga agar pelukan segera nyata.

Namun di saat segalanya terasa semakin dekat, takdir justru datang lebih dulu menjemput mereka di tanah yang jauh, dan meninggalkan duka yang tak pernah direncanakan.

Tiga prajurit terbaik bangsa, Prada Anumerta Fahrizal Rhomadhon, Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, dan Serda Anumerta Muh, Ichwan. Satu tahun yang lalu, mereka pergi membawa nama Indonesia dengan bangga, berani dan gagah.

Di sudut negeri yang jauh dari tanah air, di tengah panasnya konflik, mereka menunaikan tugasnya dengan penuh keikhlasan. Menjaga perdamaian di Lebanon, sebuah amanah besar yang tidak semua orang mampu memikulnya.

Tahun ini, dunia seakan terguncang, pada Ahad (29/3/2026), Kopda Farizal Rhomadhon mengembuskan napas terakhirnya akibat ledakan proyektil yang jatuh di dekat posisi pasukan di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan. Saat itu, ayah dari seorang putri berusia dua tahun ini, sedang menunaikan Salat Isya di masjid yang tidak jauh dari posko UNIFIL.

Dalam sunyi nya malam, Praka Fahrizal sempat menghubungi keluarganya. Dia bahkan menyampaikan dirinya sudah berada di dalam Banker, namun belum melaksanakan Salat Isya. Prajurit kelahiran 1998 ini, pun berangkat ke masjid.

Sebelum ajal menjemput, Fahrizal sedang salat. Dia berdoa menyerahkan segala lelah
dan rindu yang dia pendam selama jauh dari keluarga. Lalu, takdir menjemputnya ia gugur bukan di medan tempur dengan senjata di tangan,tapi dalam keadaan yang sangat mulia, bersujud kepada Allah.


Kepergian Praka Fahrizal bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi luka bangsa. Ia merupakan salah satu prajurit terbaik yang mengabdikan hidupnya demi kedamaian.

Duka belum sempat reda, sehari kemudian dunia kembali dikejutkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi insiden lanjutan yang menimpa pasukan TNI dalam misi UNIFIL.

Dua prajurit kembali gugur yakni Mayor Zulmi Aditya dan Serda Muh.Ichwan. mereka dilaporkan meninggal setelah ledakan menghantam konvoi logistik di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan, pada Senin (30/3/2026), sementara dua prajurit lainnya harus bertahan dengan luka-luka.

Para prajurit berprestasi itu berada di Lebanon, membawa nama Indonesia dengan penuh kebanggaan. Mereka pergi dengan kehormatan, menjaga damai di negeri orang.

Namun kepulangan mereka harus terjadi dengan cara yang tak pernah dibayangkan bukan dengan langkah kaki yang disambut pelukan, melainkan dalam diam, dibalut merah putih.

Rindu keluarga telah lama menunggu di bulan Mei, menyiapkan hangatnya pertemuan. Namun takdir lebih dulu menjemput di Lebanonan pada hari itu, yang pulang bukan lagi sosok yang bisa dipeluk, melainkan kenangan yang harus belajar diikhlaskan.

Continue Reading

Sosok Affan Kurniawan, Pejuang Keluarga Pulang dengan Cara Pilu

Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Beberapa hari terakhir ini, setiap kali membuka ponsel, yang terdengar justru kabar buruk dari negeri kita tercinta. Berita pembunuhan, perampokan, korupsi, hingga tragedi Kamis (28/8/2025) malam.

Sebuah cerita dari kericuhan yang terjadi di depan kantor DPR RI, seorang driver ojek online Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis Brimob, di tengah kericuhan. Rasanya hati ini ikut teriris melihat videonya tersebar di media sosial.

Video itu, sontak membuatku tergerak untuk terus mencari kelanjutan kisahnya. Aku memilih tidur lebih lama untuk mengumpulkan informasi dan menulisnya di dunia ceritaku ini.

Ternyata Affan, seorang Lelaki berusia 21 tahun. Pada malam naas itu, dia sebenarnya tidak ikut dalam aksi, juga bukan bagian dari mahasiswa yang sedang demo. Affan hanyalah seorang driver ojek, yang sedang melaksanakan tugasnya. Seperti biasa hari-harinya penuh semangat untuk mencari nafkah, demi dua orang adik dan untuk membeli kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kedua orang tuanya masih lengkap, ayahnya bekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, kadang sebagai driver ojek online. Kondisi ayahnya yang bekerja keras untuk membiayai kebutuhan rumah, membangkitkan semangat Affan untuk membantu sang ayah.

Lelaki yang tidak sempat tamat SMP ini, memiliki mimpi besar untuk membangun rumahnya di kampung, namun mimpinya tidak menjadi kenyataan. Tubuhnya terlindas kendaraan Barracuda milik Brimob, saat dia sedang menyebrang jalan di tengah kerusuhan. Tujuannya ingin mengantar orderan milik pelanggannya namun takdir berkata lain, orderan tersebut tidak pernah benar-benar sampai ke tangan pemiliknya.

Malam itu, saat aksi mulai ricuh di Jl. Penjernihan I depan Bendungan Hilir, langkah Affan terhenti untuk selamanya. Kerumunan massa yang masih nonton pada malam itu, berusaha menghentikan. Mereka teriak, pengemudi Barracuda tidak menghiraukan. Laju kendaraan semakin kencang, meskipun banyak massa yang mengejar.

Affan yang tersungkur, kemudian dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawa kakak dua orang adik itu, sudah tidak tertolong. Innalillahi Wainnailaihi rojiun.

Kepergian Affan menorehkan duka yang dalam tidak hanya pada keluarga, tapi juga pada seluruh masyarakat Indonesia. Affan hanyalah satu dari jutaan pejuang nafkah yang menggantungkan hidup di jalanan. Namun, cara perginya yang tragis meninggalkan jejak luka yang tak mudah hilang.

Dari informasi yang dihimpun, Affan bekerja sambilan sebagai driver online, untuk membiayai sekolah dua orang adiknya yang masih SMP, dia juga membantu orang tuanya membayar rumah kontrakan yang mereka tempati. Kepergiannya sungguh menggores luka yang dalam bagi ayah dan ibunya.

Ayah kandung Affan, Zulkifli, menyebut Affan tumpuan keluarga, dia sangat perhatian pada adik dan kedua orang tuanya, tidak pelit dan suka membantu adik-adiknya. Meskipun ayahnya juga bekerja sebagai grab, Affan sering memberikan penghasilannya untuk membayar cicilan motor ayahnya. Affan, sekalipun pekerja keras, Affan selalu kembali ke rumah dan tidak menyukai ikut aksi yang bisa mencelakai dirinya.

Sejumlah Pejabat Melayat ke Rumah Affan

Isak tangis dari keluarga terdekat, sahabat dan kerabat terdengar riuh. Sang ibu kandung pun tak kuasa menahan rasa sakit kehilangan anak tercinta. Erlina, perempuan yang melahirkan Affan mengaku sangat terpukul atas kepergian anaknya. Dia bahkan tidak menyangka semuanya terjadi secepat itu, disaat anaknya sedang sehat-sehatnya, dan sangat bersemangat mencari nafkah, Allah memanggilnya pulang.

Di depan jenazah anaknya dia merintih, tangisnya pecah saat sejumlah pejabat pemerintah Jakarta berkunjung, Gubernur DKI Pramono Hanung dan mantan Gubernur DKI Anies Baswedan. Anies yang mengenakan kemeja hitam, berusaha menenangkan Erlina dan memintanya untuk tetap sabar dan ikhlas.

Kapolri RI, Lystio Sigit Prabowo juga datang berkunjung ke rumah ke rumah Affan. Dengan wajah penuh duka, dia memeluk erat tubuh ayah Affan. Saat yang sama tangisan dari keluar tambah riuh.

Ribuan Ojol Antar Jenazah Affan

Jumat siang, Jumat siang, matahari terasa hangat, cuaca bersahabat. Ribuan iring-iringan driver ojek online mengantar jenazah Affan ke pemakaman. Suasana haru menyelimuti jalanan, bendera komunitas ojol berkibar, dan suara doa mengiringi langkah perlahan menuju peristirahatan terakhir.

Air mata pun jatuh dari keluarga, sahabat, dan kerabat saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Isak tangis terdengar di antara doa yang dilantunkan. Affan, seorang anak bangsa yang mencari rezeki halal di jalanan, kini kembali kepada Sang Pencipta dengan cara yang begitu tragis.

Continue Reading

Kisah Pilu Diva Febriani, Anggota Paskibra yang Tak Sempat Kibarkan Bendera

Diva Febriani dan Kekerasan Terhadap Anak

Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-80. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai daerah mempersiapkan beragam kegiatan untuk menyemarakkan perayaan. Salah stau yang paling sakral, di antara semua kemeriahan itu, yakni upacara pengibaran bendera merah putih. Sebuah momen yang berbeda dari upacara pada umumnya.

Mengibarkan sang saka merah putih simbol persatuan, pengorbanan, dan doa yang terpatri dalam kibaran merah putih di langit negeri. Banyak siswa dan siswi yang bermimpi, untuk menjadi pasukan pengibar bendera merah putih, baik di tingkat sekolah, kecamatan, tingkat kabupaten maupun tingkat nasioanl.

Bagi para pelajar, berdiri tegak di lapangan dengan bendera merah putih di tangan adalah sebuah kehormatan meski hanya di lingkungan sekolah mereka. Seperti itupula yang dirasakan Diva Febriani.

Masih ingat dengan Diva Febriani?

Dia seorang siswi kelas X SMA Negeri 1 Natal, kabupaten Mandaling, Sumatera Utara. Pelajar berusia 15 tahun ini, terpilih sebagai salah satu anggita Paskibra yang akan mengibarkan bendera merah putih, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 80 di Lapangan Mandaling.

Ia begitu bersemangat mengikuti latihan, kebahagiaan pun terpancar dari wajahya saat ia menceritakan pada perempuan yang telah melahirkannya, tentang mimpinya mengibarkan bendera merah putih, di tanggal 17 Agustus 2025.

Tanggal 29 Juli 2025, siswi kelas X SMA Negeri Natal itu, pamit kepada orang tuanya. Dengan senyum penuh semangat, ia berangkat menuju Lapangan Merdeka, Natal, untuk mengikuti latihan Paskibraka. Namun siapa sangka, kepergian itu menjadi salam terakhir, Diva tak pernah kembali pulang.

Sebagai orang tua, tentu saja panik jangankan dua hari, sejam saja tanpa kabar dari anak akan membuat hati diliputi resah dan gelisah. Begitu pula yang dialami orang tua Diva. Setelah pencarian yang dilakukan keluarganya tak kunjung membuahkan hasil, mereka akhirnya menempuh jalan terakhir melaporkan kehilangan putri tercinta kepada pihak berwajib.

Motor dan sepasang sandal menjadi petunjuk penting di tengah pencarian yang sempat menemui jalan buntu. Malam itu, warga tak sengaja menemukan Honda Beat milik Diva tergeletak di kebun sawit Desa Sikara-kara I. Temuan tersebut sebagai titik terang awal dari pencarian.

Keesokan harinya, warga kembali menemukan sandal perempuan tak jauh dari lubang bekas galian alat berat. Dari arah lubang itu, warga mencium aroma tak sedap yang membuat bulu kuduk meremang. Rasa curiga pun kian menguat, dengan hati-hati, kepalanya ditutupi ember. Saat warga mengangkat ember tersebut, tubuh Diva terkubur tanpa busana.

Setelah dilakukan evakuasi, jenazah langsung di bawa ke RSUD Husni Thamrin di Natal untuk dilakukan Autopsi. Hasil autopsi terhadap jenazah Diva Febriani dilakukan di RS Bhayangkara Medan. Proses medis ini menjadi bagian penting dari penyidikan lanjutan. Bagi para penyidik, hasil autopsi adalah pijakan utama untuk mengungkap apa yang sebenarnya menimpa Diva.

Siapa Pelaku Pembunuhan Diva?

Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak berwajib, hasilnya mengerucut pada seorang pria berinisial YN (25), yang tak lain adalah tetangga korban. Usai peristiwa itu, YN sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah kerabatnya di Desa Bonda Kase. Namun pelarian itu tak berlangsung lama. Pada Jumat pagi, 1 Agustus 2025, Tim Gabungan TNI dan Polri berhasil meringkusnya tanpa perlawanan.

Berdasarkan penyelidikan awal, polisi menemukan fakta mencengangkan. Pelaku tak hanya menghabisi nyawa Diva, tetapi juga merampas motor milik korban. Dugaan kuat menyebutkan, sebelum mengubur jasadnya dengan cara yang sadis, pelaku sempat melakukan tindak pelecehan seksual. Meski demikian, seluruh dugaan tersebut masih menunggu pembuktian lebih lanjut melalui proses hukum dan keterangan resmi dari penyidik.

Ucapan Pilu Ibu Diva

Sebelum ditemukan, Ibu kandung Diva sempat viral di media sosial, dalam video tersebut dia mengenakan kerudung hitam, wajahnya terlihat sangat sedih. Ucapannya pun mengundang simpati banyak orang. Dengan suara bergetar, dia memanggil nama anaknya dan mengungkapkan perasaan rindunya. “Dimana kamu dek, Mama tunggu di rumah dek. Mama Kangen dek, kalau ada masalah dibicarakan dek,” katanya. Peristiwa tragis yang menimpa Diva Febriani bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga menyuarakan realita pahit.

Continue Reading

Langkah Pilu Amir, Berjalan 12 Km Ditembak setelah Terima Bantuan

Cerita Palestina 2

Sejak serangan Israel yang menghancurkan rumah dan gedung di wilayah Gaza, saat itu banyak yang kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal. Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah bantuan dari berbagai negara ditahan. Akibatnya masyarakat Gaza kelaparan dan tidak sedikit yang meninggal akibat kelaparan.

Sungguh memilukan melihat kondisi anak-anak Gaza dari kiriman video yang tersebar di media sosial. Dengan tubuh kurus, mata cekung, dan langkah yang gontai, mereka berlari ke arah bantuan yang sesekali dijatuhkan dari udara.

Di antara suara ledakan dan ancaman peluru, anak-anak itu tetap maju, hanya untuk mendapatkan sekantong kecil tepung atau sebungkus roti.Ada yang berhasil pulang dengan senyum, meski lelah. Ada juga yang tak pernah kembali, karena peluru lebih cepat dari langkah kecil mereka.

Seperti yang dialami Amir, bocah berusia 10 tahun, tetapi perjuangan hidupnya sangat keras melebihi dari usianya. Untuk mendapatkan makanan, dia dengan penuh semangat berjalan kaki tanpa alas sejauh 12 KM, menuju titik distribusi bantuan yang disalurkan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

Setelah mendapatkan bantuan makanan, Amir tersenyum bahagia. Iya bahkan sempat mengucapkan terima kasih dan mencium telapak tangan orang yang telah memberinya sekantong makanan. Siapa sangka setelah mendapatkan tersebut, belum sempat ia memberikan untuk keluarganya. Tentara Israel menghentikan langkah Amir untuk selamanya. Bukan hanya Amir yang tewas tertembak, tetapi sejumlah penduduk yang juga sedang mencari makan syahid bersama Amir.

Kondisi yang dialami Amir bersama sejumlah penduduk Gaza, diceritakan oleh Anthony Aguilar, salah seorang pensiunan Angkatan Darat Amerika Serikat. Saat itu, dia bertugas sebagai keamanan untuk penyaluran bantuan Gaza Humanitorian Foundation. Dia mengatakan, Amir ditembak setelah mendapatkan bantuan.

Sebelumnya bocah tersebut berkeliling mencari bantuan, dia bahkan tidak peduli berjalan kaki sangat jauh demi mengumpulkan makanan. Setelah menerima paket justru tentara Israel menembaknya sebelum dia sempat menikmati bantuan tersebut.

‘Amir mengulurkan tangannya, saya pun memanggilnya. Saya katakan, kemarilah. Saya memberikan beberapa paket bantuan. Dia sangat senang, lalu mencium tangan Saya, sembari mengucapkan terima kasih, Om.” kata Aguilar, yang membagikan cerita tersebut pada jurnalis AS dan sejumlah anggota parlemen.

Bukan hanya Amir, bocah 12 tahun yang gugur setelah berjalan 12 kilometer demi bantuan. Fakta di lapangan menunjukkan, lebih dari 1.000 warga Palestina telah meninggal dunia saat berdesakan mencari bantuan makanan yang sesekali datang.

Mereka tidak bersenjata. Mereka bukan ancaman. Mereka hanya ingin membawa pulang roti, tepung, atau sekantong susu bubuk untuk keluarga yang kelaparan. Namun, setiap langkah yang seharusnya menuju harapan justru berakhir di ujung peluru.

Dunia tidak boleh diam, sebab setiap kali kita terdiam, akan ada lagi Amir-Amir lain yang gugur saat mencoba membawa pulang makanan.

Continue Reading

Anakku di Sunat, Aku yang Kesakitan

Pagi itu, udara rasanya berbeda. Sejak membuka mata, jantungku sudah berdebar lebih cepat dari biasanya bukan karena aku yang akan menjalani operasi, bukan pula karena mendengar kabar buruk, tapi karena hari itu adalah hari di mana kedua anak lelakiku akan di sunat.

Sebagian orang mungkin menganggap sunat itu biasa bahkan kadang dirayakan dengan penuh suka cita, tapi bagiku, ini lebih dari sekadar tradisi. Ini adalah langkah besar dalam perjalanan hidup anakku dan secara tak langsung, dalam perjalanan emosiku sebagai seorang ibu sebab mereka yang disunat, aku yang merasa sakit. Sakitnya bukan di tubuh, tapi di hati.

Perjalanan menuju hari ini, bukanlah sesuatu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun, diselingi diskusi panjang, rayuan, tangisan, bahkan perundingan keluarga yang berulang-ulang.

Kami sudah membicarakan soal sunat sejak Nawaf duduk di kelas tiga SD. Awalnya aku pikir, “Ah, nanti juga mau.” Tapi rupanya tidak semudah itu. Setiap kali kami mulai menyusun rencana, ia menolak takut, menangis bahkan dia menutup telinganya saat kami mulai membahasnya.

Tahun berikutnya pun begitu bahkan setelah teman-temannya satu per satu menjalani sunat, anakku tetap bergeming. Tak ada yang bisa memaksanya. Tak juga dengan bujukan, hadiah, atau cerita indah setelah sunat. Ia belum memang belum siap dan kami pun memutuskan untuk menunggu.

Daaaan, ketika diabmeminta di sunat usianya sudah 12 tahun, siap memasuki sekolah menengah pertama. “Ayah saya sudah siap di sunat”, katanya dengan nada senang.

Mendengarnya, gantian aku yang ketakutan, kubayangkan sakit yang dia rasakan, melebih rasa sakit gigi, atau mungkin tak kalah hebatnya dengan sakit hati.

Ku searching google, barangkali ada jalan lain selain sunat, tetapi keluarga malah menertawai.

Saya sangat panik mungkin karena tidak pernah piknik lagi (hehehe) karena sudah di suntik Nawaf terlihat mulai santai sambil memainkan handphone nya dan membiarkan dokter sunatnya bekerja dengan tenang.

Sementara Naufal, terlihat lebih tenang, kuat. Selama proses sunat berlangsung. Dia fokus berzikir, sesekali teriak mengucapkan kalimat “Lailaha Illallah,” suaranya sangat nyaring. Kami yang berada di luar ruangan kaget, dan berlari melihatnya. Dokter sunat senyum-senyum, dia bahkan terkagum-kagum.

Namun, setelah obat bius itu berpamitan pada Nawaf (hehehe). Dia mulai kesakitan, teriak sekencang-kencangnya. Nawaf bahkan berkali-kali berucap, “serasa mauma mati,”

Mengingatkan Ketika Mereka Bayi

Hari sunatnya anak-anak, hari libur kita berkegiatan. Tidak ada urusan kerjaan yang bisa menghalangi kita untuk tidak mendampingi mereka.

Kita seperti kembali ke masa-masa mereka bayi. Begadang. Mengompres, menyuapi, menenangkan.

Malam-malam panjang yang dulu kita lalui saat mereka demam di masa kecil, kini kita jalani lagi dengan ketabahan yang sama, tapi dengan rasa haru yang lebih besar.

Saat melihat mereka bisa tersenyum walau masih sedikit meringis, rasa sakitku tidak sia-sia. Aku tahu bahwa ini adalah bagian dari tumbuhnya mereka sebagai laki-laki dan bahagiaku sebagai seorang ibu.

Nah, buat para ibu yang sedang melalui masa sunat anak, entah anak pertama, kedua, atau kesekian, ku ucapkan peluk hangat. Kita memang bukan yang disunat, tapi sering kali kitalah yang lebih sakit.

Ketika semua telah selesai, saat anak kita tertawa kembali seperti biasa, saat ia bisa berlari-lari lagi tanpa takut, di sanalah kita tahu bahwa semua luka itu terbayar lunas oleh senyum kecilnya.

Continue Reading

Mona, Kamu di Antara Doa dan Harapan

Setiap perjuangan pasti akan menemukan titik akhir, dan bagi seorang Mona Putri Yudifa, titik itu tiba bersamaan dengan ujian skripsi yang baru saja ia selesaikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Bitung.

Gadis kelahiran Makassar tahun 2004 ini resmi menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya perjalanan akademik yang dimulai sejak lulus dari SMA pada tahun 2022.

Mona bukanlah gadis biasa. Di balik wajah tenangnya, tersimpan semangat juang yang tak pernah padam. Sejak duduk di bangku SMA, Mona sudah dikenal sebagai pribadi yang tekun dan bertanggung jawab. Banyak aktivitas sekolah yang diikuti salah satunya Seni bela diri Tapak Suci. Beberapa kali mengharumkan nama sekolah saat mendapat juara 1 kejuaraan bela diri tingkat provinsi.

Disela-sela waktu sekolah, dia melatih silat menorehkan ilmu yang didapat oleh pelatihnya ke yuniornya di sekolah. Bukan hanya di sekolah, Mona bahkan sering diajak untuk melatih tapak suci di sekolah lain. Biasanya dari hasil melatih Mona mendapat honor Rp50.000, dalam seminggu dia melatih kadang sampai dua kali.

Dari honor kecil itu, anak pertama dari dua orang bersaudara ini, sering mentraktir kami tahu krispi. Masya Allah, dia begitu senang dan bahagia saat mendapat uang dari hasil keringatnya dan bisa berbagi dengan kami.

Tidak salah selepas SMA, memilih jalur pendidikan yang menantang sekaligus unik, Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung. Lebih tepatnya bukan dia yang memilih, tetapi dipilihkan (cerita kenapa Mona bisa sampai di Poltek Bitung ada cerita khusus nanti) di lembar berikutnya.

Selamat ya, Mona. Kamu baru saja menyelesaikan ujian di sebuah institusi yang dikenal dengan ketegasannya dalam membentuk karakter disiplin, kerja keras, dan cinta laut.

Tahun 2022 menjadi awal petualangan Mona di dunia Poltek KPB. Ia masuk sebagai taruni dengan tekad yang bulat, siap menghadapi dinamika kehidupan kampus yang keras namun penuh makna. Selama tiga tahun, Mona belajar bukan hanya tentang teori perikanan, pengolahan hasil laut, dan konservasi, tetapi juga tentang kerja sama, ketahanan mental, serta cara bertahan dalam berbagai situasi di laut maupun darat.

Skripsi yang baru saja ia pertahankan bukan hanya karya ilmiah semata. Ia adalah simbol dari rangkaian perjuangan panjang, malam-malam penuh lembur, eksperimen yang tak selalu berhasil, dan tentu saja doa dari keluarga yang tak pernah putus.

Dengan mengenakan seragam taruni dan wajah penuh haru, Mona menjalani sidang akhir skripsinya dengan tenang dan percaya diri dan sedikit gugup berdiri di depan dia orang penguji, mungkin dia membayangkan berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.Tetapi, saat penguji mengangguk puas, air mata Mona tak bisa ia bendung lagi bukan air mata kelemahan, tetapi air mata kemenangan.

Apa yang membuat kisah Mona begitu istimewa?

Ia bukan berasal dari keluarga serba ada. Ayahnya telah berpulang saat ia masih kecil, dan sebagian besar masa remajanya ia habiskan bersama sang nenek yang ia panggil Attaenek. Sosok inilah yang menjadi tempat sandaran dan sumber doa di setiap langkah Mona. Semangat Attaennek yang sederhana namun kokoh, menjadi energi tersendiri bagi Mona untuk terus melangkah maju.

Kini, setelah ujian skripsi berhasil ia lewati, Mona tinggal selangkah lagi menuju wisuda. Gelar sarjana terapan bukanlah akhir dari mimpi, tetapi pintu awal untuk masa depan yang lebih besar. Ia ingin mengabdi di sektor yang sesuai dengan pendidikannya, membawa ilmu yang ia pelajari ke masyarakat.

Dari Bitung, suara Mona menggema—bahwa perempuan muda Indonesia juga bisa menaklukkan lautan, berdiri di ruang sidang dengan kepala tegak, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih keberhasilan.

Selamat, Mona Putri Yudifa. Laut telah engkau kenali, badai telah engkau lewati. Kini saatnya mengarungi samudra yang lebih luas, dengan iman, ilmu, dan impian yang tak pernah padam.

Hari ini, sudah genap tiga tahun kamu di Bitung, tiga tahun yang tidak biasa, tiga tahun yang penuh air mata, perjuangan, juga pembuktian bahwa kamu bukan perempuan yang mudah menyerah.

Aku masih ingat hari pertama kamu berangkat dengan pelukan panjang bersama Attaenek, kami mengantarmu ke Bandara Sultan Hasanuddin. Di sana kami bertemu dengan tiga orang calon taruna yang juga akan mengikuti pendidikan.

Drama haru pun di mulai, aku melihat kamu menangis, ternyata air matamu cukup banyak juga ya. Sebelum-sebelumnya kamu juga sudah banyak mengeluarkan air mata, saat menyusun pakaian ke dalam kopermu, dan saat merapikan barang bawaanmu kamu menangis lagi. Kalau dilihat dari luar kamu itu orangnya tomboi, tapi gampang terharu juga (wkwkwkwkwk).

Tiga hari saat kamu tiba di kota Bitung, kota yang begitu asing bagimu. Kota yang menjadi tempat tinggal kamu selama tiga tahun menjalani pendidikan. Aku mendapat kiriman video mu dari seorang senior yang juga masih keluarga terdekat kita, Nak Farhan.

Di Vidieo itu, aku melihat kamu membawa koper besar dan ember, menenteng sapu ijuk dan sapu lidi memakai kemeja putih dan celana kain hitam mirip petugas kebersihan siap membersihkan kamar mandi (hahahaha).

Kamu melangkah masuk ke dunia yang jauh dari rumah, jauh dari zona nyaman. Melihatnya membuat hati ini, sesak. Tiba-tiba kubayangkan bagaimana aku dulu di siksa senior saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Ternyata siksaan yang kau dapatkan lebih dari apa yang aku rasakan dulu.

Tiga bulan masa pembaretan, bukan waktu yang singkat Mona. Tanganmu sempat melepuh yang katanya kamu selalu guling-guling di lapangan, guling-guling di lumpur. Tiada hari tanpa lari keliling lapangan tidak peduli pagi, siang, sore dan malam. Tapi kamu enjoy, meski hati berontak.

Kamu juga pernah cerita kalau seniormu galak-galak ya. Sampai pernah satu kali kamu nyaris berkelahi dengan seorang senior yang katamu tiba-tiba dia memukulmu padahal kamu tidak melakukan kesalahan. Kamu melawan dan dia lebih marah lagi, akhirnya kalian bentrok, tidak lama kemudian damai.

Oh, iya. Kamu juga sudah pernah berniat untuk kabur dan berkali-kali menangis di Mushallah. Kamu dan beberapa teman dari Makassar, kadang tidak terima kalau selalu diperlakukan tidak adil oleh senior. Katamu, lompat lewat belakang kampus, naik ke ke atas gunung, kamu sudah hafal jalannya sebab sering latihan di sana.

Lalu, kamu ketemu Noni (almarhumah), seorang Taruni cantik yang baik dan lebih dewasa. Dia memberi nasehat agar kamu bertahan, dia bilang “Mona kita harus tetap di sini dan selesai sama-sama. Kita tinggalkan kampus setelah wisuda,”katanya. Dia sendiri yang cerita itu, pada saya saat ketemu dulu. Sayang sekali, takdir berkata lain. Noni meninggalkan kampus, meninggalkan kalian semua sebelum wisuda.

Seminggu sebelum ujian kamu mengirim Salempang bertuliskan “Mona Putri Yudifa. AMd.Pi, dengan pesan saya akan sidang tanggal 16 Juni 2025”

Continue Reading

Drama Pagi Kami, Ribut Tapi Penuh Cinta

Ilustrasi Drama Pagi Penuh Cinta

Pagi hari, seperti biasa kami menciptakan drama lagi, sebuah drama pagi penuh cinta dalam kehidupan rumah tangga yang lengkap, ada kedua orang tua dan anak-anak yang sudah sekolah.

Ribut di pagi hari selalu jadi momen paling menegangkan di rumah kami. Detik jam terasa berdentang lebih cepat dari biasanya. Napas saya tidak beraturan, tekanan darah seperti menari-nari tak tentu arah.

Membangunkan anak-anak untuk berangkat sekolah, rasanya seperti sedang memindahkan batu dari lereng gunung, berat sekali. Si sulung, seperti biasa, dibangunkan lebih dulu. Harapanku sederhana agar ia jadi teladan bagi kedua adiknya. Nyatanya, ia baru bangun setelah dua adiknya selesai mandi.

Dan dua adiknya? Tentu punya drama masing-masing.

Si anak tengah bilang ingin mandi tapi menunggu rasa ingin BAB, artinya kamar mandi kosong sementara. Di rumah kami hanya memiliki satu kamar mandi dan itu semua akan menghadirkan cerita seru saat semuanya bersamaan ingin masuk. Akan terdengar perdebatan yang berakhir dengan rasa jengkel dan kesal sebab waktu ke sekolah akan terlambat. Sementara si bungsu, seperti ritual wajib setiap pagi ngambek dulu, entah karena baju yang salah, sendok yang miring, atau cuma karena “gak mood”.

Drama pagi kami di dalam rumah selalu penuh dengan keseruan yang tercipta begitu saja. Saya harus menyiapkan seragam, bekal, dan sarapan, hanya bisa menarik napas panjang. Lalu ke dapur sebentar, berharap ketika kembali ke kamar, semua sudah bergerak, tapi tidak.

Apa yang saya temukan? Anak-anak yang tadi sudah duduk malah kembali rebah, menyatu lagi dengan bantal. Amarah saya pun meledak.Teriakan saya menggema ke seluruh rumah mngkin juga sampai rumah tetangga. Keras, lantang, penuh kekesalan yang menumpuk.Tapi di tengah riuh ribut itu, saya tahu satu hal semua ini terjadi karena cinta, karena saya peduli, karena saya ingin mereka tumbuh. Karena saya tahu tanggung jawab ini besar, tapi saya memilih menjalaninya.Terkadang saya ingin menyerah pada akhirnya, saat mereka pamit sambil mencium tangan saya, hati ini luluh kembali.

Setelah urusan mandi dan memakai seragam sekolah selesai, ternyata drama belum juga usai. Anak pertama, anak kedua, dan keponakan kami yang juga sekolah di tempat yang sama sudah lebih dulu naik ke mobil. Mereka duduk manis meski dengan wajah sedikit manyun karena sudah sempat ribut tadi, menunggu dengan sabar atau tepatnya, pura-pura sabar.

Saya pikir semuanya sudah siap, tinggal berangkat. Tapi ternyata si bungsu masih sibuk mengatur rester pelajaran di dalam tasnya. Saya cek jam di dinding: 07.15 WITA. Duh, padahal perjalanan dari rumah ke sekolah butuh waktu satu jam. Anak-anak harus sudah masuk pukul 08.00 tepat.

“Kakak yang lain sudah nunggu di mobil,” saya ingatkan sambil menahan napas agar tak meledak. Tapi dia tetap tenang menyusun bukunya satu per satu, seolah waktu tak sedang mengejar kami. Satu sisi ingin marah, sisi lain ingin tertawa. Anak bungsu memang paling santai, paling kalem sekaligus paling bikin deg-degan.

Dalam perjalanan menuju sekolah, kami terkena macet parah. Panjang dan lama sekali, suasana di dalam mobil menjadi makin sesak. Anak-anak di belakang mulai gelisah. Ada yang mendesah, ada yang deg-degan.

Saya tetap tenang—meskipun sebenarnya dalam hati deg-degannya minta ampun. Mesin kendaraan tetap melaju perlahan, melewati deretan mobil berhenti. “Tidak ada alasan bagi anak-anak yang terlambat,” saya katakan singkat sambil tetap fokus menepi semampunya untuk menghindari tenaga listrik di rem.

Suasana jadi sunyi. Di sudut hati saya terbersit simpati, betapa beratnya tekanan pagi-pagi untuk anak-anak, tapi saya juga tahu, disiplin adalah bekal penting maka, saya terus maju. Setiap pagi kami selalu ribut, tetapi penuh dengan cinta.

Di dalam mobil, mulai terdengar keluhan-keluhan kecil. “Bunda, kayaknya sudah jam delapan.”
“Nanti kita dihukum, takut dimarahin ustazah dan ustadz,”
“Tidak usah ke sekolah saja, ya?”

Saya tarik napas panjang sambil menoleh sebentar ke kaca spion, melihat wajah-wajah cemas dan panik itu, tapi saya tahu, menyerah bukan pilihan yang ingin saya ajarkan.

Mobil tetap melaju, pelan tapi pasti, menembus lautan kendaraan dengan nada tegas namun tetap tenang, saya berkata,
“Tidak ada alasan bagi anak-anak yang terlambat.”

Sesederhana itu.

Bukan karena saya keras, tapi karena saya ingin mereka belajar bertanggung jawab, tahu arti waktu, tahu bahwa hidup tak selalu sesuai rencana, tapi bukan berarti kita mundur. Kita tetap maju, walau lambat, walau telat karena kadang yang penting bukan sampai jam berapa, tapi bahwa kita tetap memilih datang dan menyelesaikan.

Saat semua anak akhirnya turun di sekolah, meski langkah mereka sedikit tergesa, dan wajahnya masih cemas—saya hanya bisa menatap punggung-punggung kecil mereka yang semakin menjauh. Ada rasa lega karena akhirnya sampai juga, tapi juga rasa bersalah karena pagi mereka diwarnai tegang dan terburu-buru.

Dalam hati saya bertanya, “Apakah mereka bahagia?”

Kadang, sebagai orang tua, kita terlalu fokus pada keteraturan, disiplin, dan jadwal, sampai lupa bahwa anak-anak juga butuh ruang untuk salah, untuk telat, untuk belajar dari kekacauan kecil.

Hari itu, saya belajar satu hal pagi yang ribut bukan berarti rumah yang rusak. Keributan, air mata kecil bahkan protes dari anak-anak adalah tanda bahwa mereka sedang tumbuh bahwa mereka punya suara, mereka juga manusia kecil dengan rasa takut, rasa lelah, dan rasa ingin dimengerti.

Terkadang saya kehilangan kesabaran, saya tetap ingin menjadi rumah pertama yang selalu mereka ingat. Rumah yang kadang ribut, tapi tak pernah kehabisan cinta.

Continue Reading