Kisah Haru Wanda Hamidah Berlayar ke Gaza, Kapal Bocor dan BBM Jatuh

Wanda Hamidah, aktris sekaligus politisi asal Indonesia, menempuh perjalanan panjang bersama aktivis dari berbagai negara untuk menembus blokade Gaza, sebuah misi penuh rintangan dan ujian keteguhan.

Sejak meninggalkan pelabuhan Tunisia, dalam satu misi kemanusiaan Clobal Sumud Flotilla. Sebagai satu-satunya delegasi Indonesia, Wanda Hamidah ikut berlayar menuju Gaza. Namun perjalanan panjang itu penuh ujian. Kapal Kaiseer yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar, sementara cadangan BBM jatuh ke laut. Akhirnya, kapal harus menepi dan berlabuh darurat di Kelibia, Tunisia.

Tak butuh waktu lama setelah masalah BBM teratasi, pelayaran kembali dilanjutkan. Namun di tengah perjalanan, ujian lain datang kapal kembali bermasalah, air laut merembes masuk ke dalam lambung kapal. Sesaat suasana panik, namun akhirnya semua berusaha tenang dan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Akhirnya, kapal berlabuh di Pelabuhan Portopala, Sisilia, Italia pada Sabtu (20/9/2025). Menurut Wanda Hamidah, karena hari itu bertepatan dengan hari libur, para aktivis penumpang kapal Kaiseer terpaksa bermalam sambil menunggu perbaikan dilakukan. Kondisi tersebut tidak mengurungkan semangatnya untuk tetap berlayar ke Gaza, para relawan bertekad bisa menyampaikan misi kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza.

Melalui media sosial instagramnya @wandahamidahbsa, ibu dari empat orang anak ini, mengatakan sehari di Portopala, mekanik yang memperbaiki kapal Kaisser, disarankan untuk diperbaiki di atas laut. Sehingga para penumpang tinggal di Itali. Katanya bukan hanya kapal yang ditumpanginya, masih ada kapal lain seperti kapal Yaman, kapal Nusantara, dan Aladin yang baru mendarat karena kerusakan maupun untuk pengisian BBM.

‘Dengan kondisi ini, kami belum tahu nasib kami, apakah harus berlayar ke Gaza atau perjuangan kami berhenti disini,” katanya.

Diketahui bersama Wanda Hamidah meninggalkan Indonesia, bersama 33 delegasi menuju Tunisia akhir Agustus 2025 kemarin. Di sana mereka bergabung dengan sejumlah aktivis kemanusiaan dari 44 negara, untuk berlayar me

Continue Reading

Alhamdulillah! PBB Akui Palestina Merdeka, Suara 142 Negara Bergema

Melihat asap membumbung di langit Gaza, gedung-gedung roboh, rumah penduduk hancur rata dengan tanah. Anak-anak banyak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anaknya. Pemandangan memilukan tentu saja mengiris hati kita semua yang menyaksikannya. Peristiwa kejam yang menimpa warga Palestina seolah mengetuk mata hati kita, mengingatkan agar terus menumbuhkan empati.

Di Gaza, kehidupan berjalan dalam kepingan-kepingan luka. Genosida 2023 meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus ribuan nyawa melayang, rumah-rumah menjadi puing, dan suara tawa anak-anak berganti tangis pilu. Blokade panjang mencekik setiap pintu masuk kehidupan. Obat-obatan tertahan di perbatasan, pangan langka, dan air bersih menjadi kemewahan yang tak semua bisa nikmati. Kelaparan mengintai, membuat para ibu lebih sering menahan lapar demi memberi sesuap roti kepada anak-anaknya.

Namun, harapan mereka rakyat Gaza dan Palestina tidak pernah padam. Mereka terus yakin dan percaya bahwa dunia akan membantu dan meringankan bebannya. Mereka tidak pernah merasa sendiri, meskipun hidupnya tidak pernah tenang. Setiap jam dihantui Bom dan peluru yang setiap saat bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Pada hari Jumat 12 September 2025, Majelis Umum PBB akhirnya resmi menyebut nama Palestina sebagai negara merdeka, hal itu disampaikan pada Deklarasi New York. Pernyataan itu pun, tentu saja menghadirkan Kebahagiaan pada warga warga Gaza dan seluruh negara yang berharap Palestina segera pulih.

Sebanyak 142 negara, berdiri dan mengakui Palsetina sebagai bangsa merdeka dan sebagai bangsa yang sah. Dalam pemungutan suara tersebut, tercatat 10 negaradan 12 negara di antaranya memilih abstain. Deklarasi New York hadir bukan sekadar teks diplomatik. Ia menjadi payung harapan bagi bangsa yang terlalu lama dipaksa hidup dalam reruntuhan.

Deklarasi New York ibarat jembatan yang dirajut dari serpihan luka Palestina menuju harapan baru. Dari ruang-ruang yang pernah dipenuhi isak tangis Gaza, kini dunia mencoba menghadirkan solusi bagi dua negara sebagai janji dalam damai. Meski luka genosida masih menganga, dokumen ini menjadi penanda bahwa dunia tidak tinggal diam, suara-suara kecil dari reruntuhan akhirnya menggema hingga ke podium tertinggi umat manusia.

Dukungan 142 negara seolah membuat Palestina terlahir kembali bukan dengan pesta melainkan dari air mata yang dipeluk dunia, disitulah kemerdekaan menemukan maknanya. Sebuah bangsa yang berdiri di reruntuhan tetapi, tidak pernah runtuh dari harapan.

Sudah saatnya Palestina hidup merdeka, dari reruntuhan Gaza dari kelaparan dan blokade yang tak pernah berhenti. Harapan tak pernah bisa dibom, dan mimpi tentang negeri yang bebas tak pernah bisa ditembak. Palestina mungkin tak lahir dari pesta meriah, tapi dari air mata yang dipeluk dunia. Sebanyak 142 negara menjadi saksi, bahwa di balik luka panjang, sebuah bangsa tetap bisa berdiri dan “Merdeka.”

10 Negara yang Menolak

1. Amerika Serikat                                                    6.  Paraguay
2. Israel                                                                       7.  Mikronesia
3. Hungaria                                                                8.  Palau
4. Nauru                                                                      9.  Papua Nugini
5. Argentina                                                               10. Nauru

12 Negara yang Abstain

1. Albania                                                                   7. Guatemala
2. Kamerun                                                                8. Moldova
3. Ekuador                                                                  9. Makedonia Utara
4. Kongo                                                                     10. Samoa
5. Ethiopia                                                                  11. Sudan Selatan
6. Fiji                                                                            12. Republik Ceko

Continue Reading

Dari Indonesia ke Gaza, Langkah Nyata Wanda Hamidah Menembus Blokade

Penuh haru, aktris yang juga aktivis asal Indonesia Wanda Hamidah berlayar ke Gaza, dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Dia bersama 33 aktivis meninggalkan tanah air, menuju Tunisia akhir Agustus 2025.

Di negara yang terkenal dengan pasar bukunya, Wanda Hamidah bergabung bersama para aktivis kemanusiaan dari 44 negara. Mereka mengikuti pelatihan intensif selama dua pekan, mempersiapkan diri menghadapi tantangan berat di lautan lepas.

Namun, kabar terbaru menyebutkan bahwa relawan Indonesia pada akhirnya tidak ikut berlayar langsung karena berbagai kendala dan tantangan teknis. Sebagai bentuk kontribusi nyata, mereka menyerahkan lima kapal untuk digunakan para aktivis yang telah berpengalaman dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Keputusan ini menunjukkan bahwa dukungan untuk Palestina tidak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik, tetapi juga dalam kontribusi logistik yang sangat vital. Dengan adanya kapal tambahan, peluang bantuan sampai ke Gaza semakin terbuka.

Tak mudah, namun Wanda Hamidah memilih bertahan. Dua pekan penuh penantian di Tunisia, akhirnya terbayar saat namanya tercatat sebagai penumpang Kapal Kaiser Selasa (16/9), ia berlayar menuju Gaza bersama aktivis dari Tunisia hingga Turki. Dalam perjalanan penuh risiko itu, Wanda menjadi satu-satunya perempuan yang mengibarkan semangat kemanusiaan di atas kapal. Air matanya pun tumpah saat dipeluk rekan-rekannya,

Hari itu, pelabuhan menjadi saksi bisu sebuah perpisahan yang penuh makna. Rekan-rekan sesama aktivis mengiringi langkah Wanda Hamidah menuju kapal yang akan membawanya dalam misi kemanusiaan. Mereka saling berpelukan erat, menetaskan air mata, dan mengucapkan doa-doa penuh harap.

Tangisan yang pecah bukanlah tanda kelemahan, melainkan ungkapan cinta dan kepedulian. Semua berharap agar perjalanan berbahaya itu berjalan lancar agar bantuan bisa sampai ke tangan rakyat Gaza, Wanda bersama rombongan relawan dapat kembali pulang ke tanah air dengan selamat.

Kabar Wanda Hamidah ikut berlayar ke Gaza segera disambut luas oleh masyarakat Indonesia. Dukungan mengalir deras, baik di media sosial maupun lewat doa yang dipanjatkan. Banyak yang bangga karena ada perwakilan dari Indonesia yang hadir langsung menunjukkan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Global Sumud Flotilla merupakan gerakan relawan internasional, yang bertujuan mematahkan blokade di Gaza dan meminta agar genosida di Palestina segera dihentikan. Aktivis kemanusiaan dari berbagai negara mengikuti pelatihan di Tunisia termasuk aktivis dari Indonesia.

Kenapa Wanda Hamidah yang Ikut Berlayar?

Dari 33 delegasi Indonesia yang berada di Tunisia, hanya Wanda Hamidah satu-satunya yang terpilih ikut berlayar menembus blokade Gaza. Kenapa?
Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Muhammad Husain menjelaskan, harusnya 30 delegasi yang ikut berlayar. Namun, hanya Wanda yang ikut berlayar. Sebab dari kesepakatan awal melihat kondisi tidak efektif. Banyak kapal yang rusak di Tunisia akibat cuaca, kapal yang bergerak dari Spanyol melalui badai dan cuaca buruk mengakibatkan kapal rusak.

Sehingga ketika sampai di Tunisia, para delegasi tersebut harus mencari kapal baru.Sementara peserta dari berbagai negara membludak. “Indonesia menarik delegasinya dan menyerahkan kapal, sebab itu dianggap langkah strategis.” katanya.

Menurut Husain, aksi kemanusiaan itu komposisinya 47 negara. Delegasi Indonesia memprioritaskan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk politik begaining, sebagai bentuk tekanan politik.

“Ini bukan perkara kita naik kapal atau tidak, tetapi bagaiaman bisa mensukseskan misi besar yang dilakukan secara bersama-sama. Wanda Hamidah, ikut berlayar sebab dia memiliki politik bergainning, dia mantan anggota DPR dan menurut steering comitte, yang diutamakan ikut berlayar mereka yang memiliki strong figure.” katanya.

Continue Reading

Saat Ibu Telah Berpulang, Levina Berangkat Penuhi Panggilan-Nya

Haji adalah kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap Muslim dan Muslimah yang mampu baik dari segi fisik, mental, maupun finansial tanpa melihat usia. Melaksanakan rukum islam yang ke lima yakni Naik haji bagi orang yang mampu, semua umat islam memiliki mimpi yang indah untuk ke sana.

Namun, tidak semua umat islam juga bisa sampai ke Tanah Suci jika tidak mendapatkan panggilan atau undangan dari Allah SWT. Banyak orang kaya tetapi, tidak mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Sebaliknya banyak yang kurang mampu namun mendapatkan panggilan untuk sampai tanah suci menginjakkan kaki ke tanah haram. Usia tua atau pun muda bukanlah satu jaminan bisa berdiri di depan Baitullah.

Levina Istiazah, salah seorang warga Jawa Tengah, saat ini sudah berada di tanah suci sebagai salah satu Jemaah Calon Haji (JCH) dan tercatat sebagai jemaah temuda berusia 18 tahun. Perempuan kelahiran 2006 ini, menjadi sorotan hingga beritanya viral di sejumlah media sosial, usianya masih belia. Saat teman-temannya sibuk mengeyam pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Pesantren Ar-Rayah, Sukabumi, Jawa Barat. ia justru memegang erat paspor dan tiket menuju Tanah Suci.

Sebagai cintanya pada seorang ibu yang telah berpulang sejak tahun 2021, Levina pun dengan membesarkan niat dan hatinya menuju Baitullah menggantikan posisi ibunya. Levina mengakui bahwa yang seharusnya berangkat menunaikan ibadah haji adalah Mamahnya.

Perempuan yang melahirkannya itu, mendaftar haji tahun 2012 dan mendapatkan porsi keberangkatan tahun 2025 artinya sang Mamah menunggu selama kurang lebih 13 tahun. Namun, belum sampai waktunya Mamahnya meninggal tahun 2022.

Levina tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 15 Embarkasi Solo (SOC 15). Dia terbang ke Tanah Suci pada 5 Mei 2025, pukul 12 siang WIB. Ia dan ayahnya sempat menunggu 24 jam di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, sebelum akhirnya berangkat menunaikan rukun Islam kelima.

Levina sebagai salah satu menunaikan iabadah haji bukan soal usia, tapi soal kesiapan hati dan kemampuan diri. Jika Allah sudah mengizinkanmu berangkat lebih dulu, jangan tunda hanya karena merasa “terlalu muda”. Justru itu karunia besar kesempatan menyucikan diri, memperbaiki hidup, dan menjadi hamba yang lebih dekat kepada-Nya sejak dini.

Continue Reading

Makam Baqi, Keheningan yang Mengajarkan Arti Pulang

Tak jauh dari Masjid Nabawi, berdiri sebuah kompleks pemakaman yang sunyi tapi agung: Jannatul Baqi’ atau lebih dikenal sebagai Makam Baqi’. Tempat ini bukan sekadar lahan pekuburan. Ia adalah taman dari taman-taman surga, dan rumah terakhir para kekasih Allah.

Bagi jemaah umrah dan haji, Maqam Baqi menjadi salah satu lokasi city tour disekitar masjid Nabawi. Biasanya para Muthowif mengarahkan jemaah berkunjung ke sana. Khusus untuk jemaah perempuan hanya diperkenankan ziarah di depan saja sementara jemaah laki-laki biasanya diarahkan masuk ke dalam.

Pemandu jemaah, Muthowif biasanya menjelaskan siapa saja yang ada di makam tersebut. Tentunya sahabat, kerabat dan keluarga Rasulullah.Makam Baqi menjadi tempat peristirahatan lebih dari 10.000 sahabat Nabi ﷺ, termasuk Utsman bin Affan Khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin.

Istri-istri Nabi ﷺ (kecuali Khadijah dan Maimunah). Putra-putri Rasulullah ﷺ, termasuk Fatimah az-Zahra menurut beberapa riwayat.Imam Hasan bin Ali, cucu Nabi ﷺ yang dimuliakan. Banyak ulama, tabi’in, dan syuhada lainnya.

Ziarah ke Baqi’ bukan sekadar kunjungan, tapi perenungan. Tak ada nisan mewah, tak ada nama yang menonjol. Semua yang dimakamkan di sini “disamaratakan” karena yang dilihat Allah bukan nama besar, tapi hati yang berserah.

Rasulullah ﷺ sendiri sering mengunjungi Baqi’ dan mendoakan penghuninya.
“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni kubur dari kaum mukmin dan muslim. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi kami dan kalian.”
(HR. Muslim)

Continue Reading

Ketika Hati Sujud di Tanah Suci

Ada yang berbeda saat pertama kali kaki ini menginjak Makkah bukan karena panasnya, bukan karena keramaian jemaah dari seluruh dunia. Tapi karena jantung ini berdegup lebih cepat—seperti tahu bahwa aku sedang menuju rumah-Nya untuk yang kedua kalinya.

Ya, aku merasakan getaran itu, saat berkunjung ke dua kalinya yakni di bulan Mei 2017. Dua bulan sebelumnya pada bulan Maret 2017, Saya datang bersama 435 jemaah masih dalam tugas yang sama melayani tamu-tamu Allah.

Saat pertama kali melihatnya, Ka’bah tidak bersuara, tapi ia berbicara. Ia menggetarkan sehingga mata tak berkedip, mulut komat-kamit menyebut asma Allah, dan air mata jatuh tanpa perlu alasan. Di hadapannya, dunia seakan hilang yang tersisa hanya aku dan Dia yang Maha Mendengar.

Tawaf mengajarkan kita bahwa hidup ini terus berputarm kadang di bawah, kadang di atas. Tapi selama kita tetap mengelilingi poros yang benar yakni Allah, maka putaran itu tak akan pernah sia-sia.

Makkah bukan kota biasa. Ia keras, ia panas, tapi ia menghidupkan. Ia bukan tempat untuk berfoto saja, tapi untuk melepas dosa, memperbarui niat, dan memperdalam cinta kepada Allah.

Dan seperti Madinah, Makkah pun meninggalkan bekas. Bukan hanya di telapak kaki, tapi jauh lebih dalam di relung hati yang akhirnya mengerti apa arti “pulang”.

Masjidil Haram, tempat di mana segala arah bersatu. Tak peduli dari mana datangnya, setiap Muslim yang ruku dan sujud akan menghadap titik yang sama yakni Ka’bah.

Tidak ada lelah yang kurasakan, sekalipun hariku di sana selalu disibukkan dengan mencari jemaah yang nyasar. Bertanggung jawab dengan ratusan jemaah bukan jumlah yang sedikit, apalagi saya bertugas hanya empat orang. Namun, semua terasa sangat mudah.

Ketika hati telah bersujud di tanah suci kita semua sama, tidak ada kaya atau pun miskin. Tidak ada yang tinggi jabatannya, atau rendah. Tidak ada yang turunan bangsawan atau bukan. Kita semua sama sebagai hamba Allah SWT.

Continue Reading

Quba: Bukan Sekadar Masjid, Tapi Simbol Keteguhan Iman

Ma

Masjid Quba terletak di pinggiran kota Madinah lokasinya tidak jauh dari Nabawi. Setiap hari masjid pertama yang di bangun oleh Rasulullah SWA ini, selalu ramai dikunjungi jemaah umrah dari berbagai dunia. Biasanya jemaah umrah diarahkan berkunjung ke masjid Quba untuk melaksanakan Salat sunnah sebab diyakini bahwa Salat di masjid Quba memiliki keutamaan yang sangat besar setara dengan pahala umrah.

Masjid Quba di bangun pada tahun 1 Hijriah (622 Masehi) saat Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau singgah di daerah Quba dan bersama para sahabat membangun masjid ini di atas tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amru bin Auf.

Jika kita melaksanakan ibadah umrah, Quba salah satu masjid yang menjadi tempat city tour di Madinah bagi jemaah umrah dan haji. Saat tiba di pelataran masjid yang tidak jauh dari Nabawi ini, kita melihat puluhan bus pengantar jemaah terparkir. Entah berapa ratus orang jemaah umraj yang kita jumpai setiap hari di masjid tersebut.

Pada dasarnya, Quba adalah sumur di perkampungan yang dihuni penduduk dari Bani Amr bin Auf, milik Abu Ayyub Al-Ansari. Unta betina Nabi pertama kali berlutut di sana untuk meminum air setelah perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Saat kita berkunjung ke sana, pembimbing jemaah umrah akan menceritaakan sejarah berdirinya masjid Quba kepada jemaah bahwa Rasulullah SAW sendiri batu bata untuk membangunnya, kemudian para sahabat pun mengikutinya. Masjid Quba di bangun dengan menggunakan daun kurma sebagai atapnya dan dindingnya dari batu bata mentah.

Para sahabat Nabi, membawa batu-batu tersebut mengumpulkannya untuk pembangunan masjid Quba. Saat itu, masjid
salah satu masjid terbesar yang ada di kota Madinah.

Masjid Quba bukan hanya bangunan bersejarah tetapi juga sebagai simbol persaudaraan umat islam. Meskipun cuaca terik saat kita berkunjung ke sana terasa sangat sejuk. Dari tahun ke tahun masjid ini mengalami perubahan, tetapi tidak mengubah bentuk aslinya yang menjadi sejarah.

Di sepanjang masjid Qubah pun kita banyak menemui pedagang yang menawarkan berbagai macam jualan khas Arab Saudi kepada jemaah. Harganya relatif murah. Ada berbagai macam kurma, coklat, pakaian gamis, tasbih dan berbagai jenis souvenir.

Continue Reading

Sepotong Cerita di Pelataran Masjid Nabawi

Masjid Nabawi. Foto:duniacerita

Madinah kota yang sangat istimewa yang sejak kecil aku hanya mendengarnya dari cerita guru agama. Ibu guru menceritakan seperti apa itu Madinah kota penuh sejarah. Dari cerita itu, aku mulai berhayal tingkat tinggi untuk bisa sampai ke sana dengan memejamkan mata, meskipun hanya khayalan saat itu, rasanya bahagia sekali.

Pagi itu, di bulan Maret 2017 Madina bukanlah sebuah kota yang kutahu lewat cerita guru agama. Bukan semua video yang ku tonton di televisi saat musim haji. Aku ada dan berdiri di atas tanahnya, semuanya nyata. Aku merasakan kesejukan yang luar biasa suasana subuh menyambutku dengan damai. Aku terdiam sejenak, mengumpulkan semua kekuatanku perjalanan dari kota Jeddah ke Madinah seakan membuat tubuhku lelah.

Tapi, ketika tiba di Madinah. Air mataku pun tumpah sebuah kenyataan seakan menamparku dan meminta membuka mata melihat megahnya masjid Nabawi. Seketika kurasakan ketenangan yang tidak kutemukan di daerah lain.

Madinah kota yang tenang, berada di sana jiwa seakan khusyuk sejenak melupakan kehidupan duniawi. Meskipun aku datang ke Madinah hanya sebagai pelayan tamu Allah, namun aku merasa datang dalam bentuk yang istimewa. Mengurus jemaah adalah tugas utama dari kantor, saat itu bekerja di sebuah travel umrah.

Terlepas dari tugas mengurus jemaah, aku bisa beribadah di masjid yang di dalamnya ada makam Rasulullah SAW, Raudhah yang disebut sebagai taman surga yang selalu dirindukan umat Islam.

Aku gemetar, masjid yang megah ini bukan sekadar tempat beribadah tetapi tempat jatuhnya air mata dari jutaan manusia yang datang. Tempat doa-doa mengalir tanpa jeda. Madinah mengajarkan kita makna kedamaian. Tak ada teriakan, hanya zikir. Tak ada kejar-kejaran dunia, hanya keinginan untuk lebih dekat pada sang Pencipta.

Berada di Madinah, nafas terasa lebih tenang, hidup terasa lebih sederhana. Pagi hari, di pelataran masjid Nabawi pertama kali melihat payung-payung raksasa. Ribuan jemaah yang datang takjub.

Di Madinah, kita seperti saudara meskipun beda provinsi. Kita saling menyapa bahkan saling berbagi bekal. Di sini, tak peduli dari mana asalmu, semua duduk sejajar. Kaya atau miskin, muda atau tua, semua hanyut dalam satu ikatan: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bagi yang pernah ke Madinah, pasti tahu—ia meninggalkan bekas. Bekas rindu, bekas tenang, bekas ketundukan. Dan bagi yang belum ke sana, semoga Allah mudahkan jalannya. Karena tak ada tempat di dunia ini yang mampu menenangkan hati sebaik Madinah. Sebelum meninggalkan Madinah, kupanjatkan doa agar bisa kembali berkunjung.

Continue Reading

Tak Ada Kata Miskin untuk Tamu Allah

Menunaikan ibadah haji semata bukan soal biaya, tetapi niat yang tulus dan usaha yang tidak mengenal lelah. Tidak ada batasan untuk menjadi tamu Allah, asalkan kita memiliki niat yang kuat dan usaha yang sabar.

Seperti halnya Pak Legiman, salah seorang warga Glagah Ombo, kecamatan Ambarawa, Jawa Tengah. Tahun ini, berangkat haji bersama istrinya. Kisahnya sungguh sangat menginspirasi jutaan umat Islam.

Niatnya yang kuat, menguatkan langkahnya untuk terus bekerja sebagai pemulung. Mengumpulkan barang bekas dan menjadikan rupiah. Dari hasil barang rongsokan itulah di menabung untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima.

Menabung seribu rupiah perhari tentu bukan hal yang mudah, apalagi untuk niat berdiri di depan Baitullah. Banyak proses panjang yang harus dilalui. Namun, Legiman tetap menyisihkan penghasilannya sejak 1986.

Laki-laki berusia 66 tahun ini pun menceritakan awal mula menabung haji tahun 1986. Kala itu, dia bekerja pada Dinas Pekerjaan Umum yang gaji perbulannya sebesar Rp18.000 rupiah. Dari hasil kerja tersebut pun dia sisihkan 1000 rupiah untuk dikumpulkan agar bisa menabung haji.

Lambat laun, dia merasa bahwa menabung sebesar Rp1000 perhari tidaklah cukup. Sehingga dia pun mulai menggeluti pekerjaan sebagai pengumpul barang bekas.Daei hasil kerja kerasnya itu, Legiman bisa mendapatkan uang tambahan Rp20-40 ribu perhari. Uang itu pun langsung disimpan di Bank.

Tahun 2012 dia tidak menyangka tabungannya sudah terkumpul sebanyak Rp54 juta cukup untuk tabungan haji dua orang. Iya beranggapan uang sebesar itu sudah mencakup keseluruhan berangkat haji, ternyata masih ada tambahan lagi.

Namun, tidak membuatnya patah semangat. Sebaliknya dia terus bekerja keras agar bisa mencukupkan tabungannya. Saat dia tahu jadwal pemberangkatannya tahun 2026. Ternyata tahun ini, dia dan istrinya telah dipanggil untuk melaksanakan ibadah haji.

Continue Reading

Waduh! Momen Salat Ied, Jemaah dan Panitia Nyaris Bentrok

Momen lebaran seharusnya menjadi sangat indah sebab untuk merayakan kemenangan dengan hati yang ikhlas juga dipersiapkan dengan penuh ketenangan. Semua orang berharap di hari Idul Fitri, dosa kita dibersihkan oleh Allah SWT sehingga kita kembali suci.

Suara takbir bergema, sungguh menggetarkan mendengarnya di hari yang Fitri. Apalagi saat berkumpul dengan ribuan jemaah di satu lapangan di kota Makassar. Seketika hati menjadi damai, tenang pikiran fokus dengan lantunan takbir. Ada yang berzikir, ada yang berdoa dan ada yang menangis mengenang keluarga yang sudah tiada.

Namun, siapa sangka di momen yang sangat indah itu, di Lapangan Karebosi Makassar, seperti tahun sebelumnya jemaah berkumpul untuk melaksanakan Salat Idul Fitri, tiba-tiba terjadi kerusuhan. Panitia nyaris bentrok dengan jemaah, videonya pun viral di media sosial.

Dalam video yang beredar seorang panitia yang memakai kemeja warna putih, kopiah hitam menegur jemaah yang duduk di jalur utama. Sang panitia memintanya untuk pindah ke bagian belakang. Namun, jemaah yang sudah terlanjur duduk tidak peduli dia tetap duduk apalagi tidak lama lagi Salat Idul Fitri akan dilaksanakan.

Panitia yang diduga merupakan pegawai pemerintah bagian Kesra tersebut juga tetap dengan pendiriannya akhirnya terjadilah perdebatan. Jemaah lainnya pun ikut emosi,ada satu jemaah memakai baju pink berusaha melerai. Dia meminta panitia untuk tidak mempermasalahkannya lagi, mengingat sudah hampir masuk waktu pelaksanaan salat Ied. Namun, panitia berbicara dengan nada tinggi dan lantang. Sehingga puluhan jemaah yang berada di barisan belakang ikut terpancing.

Mereka ramai-ramai menghampiri panitia, untung saja beberapa jemaah lainnya, bersama Satpol PP ikut melerai sehingga masalah selesai dan masyarakat bisa melaksanakan salat Ied berjamaah di lapangan Karebosi.

Continue Reading