Back to School, Ada yang Semangat, Ada yang Masih Mencari Sisa Liburan

Pagi itu, Senin 20 Juli 2026, suasana terasa berbeda. Jalanan yang beberapa minggu terakhir relatif lengang kini kembali dipenuhi kendaraan.

Klakson bersahutan, gerbang sekolah ramai oleh siswa dan orang tua, sementara pedagang di sekitar sekolah kembali tersenyum menyambut ramainya aktivitas.

Tahun ajaran baru telah dimulai. Bagi para siswa, hari pertama sekolah adalah momen yang penuh cerita.

Ada yang datang dengan wajah ceria karena bisa bertemu kembali dengan teman-temannya. Ada pula yang masih terlihat mengantuk, seolah belum sepenuhnya berdamai dengan berakhirnya masa liburan.

Di dalam kelas, pemandangan yang sama kembali terlihat. Bangku-bangku yang sempat kosong kini terisi. Tawa dan canda mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan. Sebagian siswa sibuk bercerita tentang pengalaman liburan mereka, sementara yang lain masih menyesuaikan diri dengan rutinitas yang kembali berjalan.

Namun, bukan hanya anak-anak yang kembali sibuk. Para orang tua pun mulai disibukkan dengan rutinitasnya, bangun lebih awal menyiapkan bekal dan kebutuhan anak-anak.

Jika selama liburan terbiasa dengan kebiasaan yang santai, di rumah. Kali ini, kembali sibuk antar jemput anak sekolah.

Hari pertama sekolah juga sering kali menjadi pengingat bahwa waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin kita mengantar mereka dengan langkah kecil dan seragam yang kebesaran. Kini mereka tumbuh lebih tinggi, lebih mandiri, dan mulai memiliki mimpi-mimpi yang ingin mereka kejar.

Tahun ajaran kali ini, di keluarga kami berbeda dari tahun sebelumnya. Dulu, setiap hari kami mengantar empat orang anak di sekolah yang sama hanya beda tingkatan. Dua di SMP Cobig Akhwan dan Ikhwa, satu di SMA Cobig dan satunya lagi SD Cobig.

Tahun ini, yang tadinya mengenyam pendidikan di SMA Akhwat, sudah tamat dan masuk perguruan tinggi. Anak tertua kami, Safwa yang tamat SMP, memilih melanjutkan ke sekolah MAN 1.

Bagi sebagian orang tua, momen ini bahkan menghadirkan perasaan haru. Mereka menyadari bahwa setiap tahun ajaran baru adalah tanda bahwa anak-anak mereka sedang bertumbuh.

Sedikit demi sedikit, mereka melangkah menuju masa depan yang telah Allah siapkan.

Continue Reading

Liburan yang Berbeda, Belajar Mandiri di English Super Camp

Liburan sekolah tahun ini terasa berbeda bagi keluarga kami. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masa liburan identik dengan beristirahat di rumah atau mengunjungi tempat wisata, kali ini anak-anak memilih mengisi waktunya dengan sesuatu yang lebih menantang dan bermanfaat.

Mereka mengikuti program di Britania English Camp, sebuah perkampungan bahasa Inggris yang menjadi tempat belajar sekaligus melatih kemandirian.

Melihat semangat mereka, kami tentu memberikan dukungan penuh. Ada rasa haru sekaligus bangga ketika menyaksikan bagaimana mereka berani keluar dari zona nyaman untuk mencari pengalaman baru.

Hari keberangkatan menjadi momen yang tak terlupakan. Kami mengantar mereka ke lokasi camp dengan berbagai perasaan yang bercampur.

Namun semua kekhawatiran perlahan sirna ketika melihat wajah-wajah ceria yang penuh antusiasme. Tidak ada kesedihan atau keraguan. Sebaliknya, mereka tampak begitu bahagia bertemu teman-teman baru dan memasuki lingkungan belajar yang selama ini hanya mereka lihat melalui cerita dan media sosial.

Bagi kami, kebahagiaan ketiga anak-anakku menjadi pertanda bahwa mereka siap bertumbuh. Belajar bahasa Inggris memang menjadi tujuan utama, tetapi lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan baru tanpa selalu bergantung pada orang tua.

Liburan kali ini bukan sekadar tentang mengisi waktu luang. Ini adalah perjalanan belajar yang akan meninggalkan jejak berharga dalam kehidupan mereka.

Melihat anak-anak tumbuh dengan penuh semangat dan keberanian adalah hadiah terindah dari sebuah liburan yang berbeda.

Continue Reading

Najwa dan Perjalanan Menyelesaikan Pendidikan di Tengah Duka

Hari ini, Najwa resmi menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di SD Nur Alifah Rancaekek, Bandung, Kamis (18/06/2026).

Di balik momen sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup yang panjang penuh kehilangan, perpindahan, dan keteguhan yang tumbuh perlahan sejak usia sangat muda.

Najwa, yang akrab disapa Wawa, bukan hanya seorang siswi yang menyelesaikan pendidikan dasar. Ia adalah seorang anak yang tumbuh dalam situasi hidup yang tidak mudah, namun tetap melangkah hingga sampai di titik ini.

Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Dalam perjalanan hidupnya, Wawa harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tua di usia yang sangat muda. Sebuah keadaan yang mengubah arah hidupnya secara total.

Setelah kehilangan ibunya pada Januari 2023, Wawa bersama adiknya, Keke, dibawa ke Bandung oleh tantenya kakak dari almarhumah ibunya. Dalam keseharian, ia memanggil tantenya dengan sebutan “Wa’mami”.

Dengan penuh keikhlasan, Wa’mami merawat, mendidik, dan membiayai pendidikan Wawa serta adiknya. Ia tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi sosok yang menjaga keberlanjutan masa depan mereka.

Perpindahan ke Bandung bukan hanya soal tempat tinggal baru, tetapi juga tentang memulai kehidupan baru di tengah luka yang belum selesai.

Namun di rumah yang baru itu, Wawa menemukan ruang untuk tetap melanjutkan pendidikan dan tumbuh perlahan.

Keteguhan di Tengah Kehilangan

Tahun 2025 kembali menjadi masa yang berat ketika ayah Wawa wafat setelah lama sakit. Kehilangan itu melengkapi duka yang sebelumnya sudah ia alami.

Namun di tengah kondisi tersebut, Wawa tetap melanjutkan pendidikannya. Dengan dukungan keluarga yang merawatnya, ia terus berusaha menyelesaikan sekolah dasar hingga tuntas.

Sebuah Awal Baru Setelah Kelulusan

Kelulusan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupan Wawa.

Wa’mami bahkan telah merencanakan langkah berikutnya. Ia telah mendaftarkan Wawa ke salah satu pesantren di Bandung, sebagai kelanjutan pendidikan dan pembinaan karakter untuk masa depannya.

Di tengah segala kehilangan yang ia alami, Wawa tetap memiliki arah yang jelas untuk melanjutkan hidupnya. Dan di balik itu semua, ada sosok keluarga yang terus menjaga agar ia tidak berjalan sendirian.

Dari Saya untuk Wawa

Hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah, tetapi selalu memberi kesempatan bagi hati yang tetap bertahan.

Kamu telah melewati masa yang tidak seharusnya ditanggung oleh anak seusiamu, namun tetap berdiri, melangkah, dan menyelesaikan apa yang telah kamu mulai.

Semoga setiap langkah ke depan menjadi lebih ringan, setiap luka berubah menjadi kekuatan, dan setiap kehilangan digantikan dengan keberkahan yang lebih besar.

Teruslah belajar, ya. Dunia mungkin pernah mengambil banyak hal darimu, tetapi ia juga sedang membuka banyak jalan baru untukmu.

Sukses selalu dalam menggapai cita-cita

Continue Reading

Wisuda Hubaib, Hadiah untuk Dua Nama yang Dirindukan

Di antara deretan santri yang mengenakan pakaian jubah berwarna putih, berjalan ke atas panggung.

Ada seorang remaja bernama Andi Hubaib Dzaki Al Assrof. Ia merupakan Santri Pesantren Tahfizh Qur’an, yayasan Al-Munir Wahdah Islamiyah.

Dari vidio wisuda yang dikirimkan ke saya, kulihat Wajahnya tampak tenang. Sesekali ia tersenyum ketika namanya dipanggil.

Namun di balik momen bahagia itu, ada ruang kosong yang tak dapat diisi oleh siapa pun.

Hari wisuda santri, biasanya menjadi saat yang dinanti setiap orang tua. Mereka datang dengan mata berbinar, mengabadikan setiap langkah anaknya menuju panggung.

Namun hari itu, Hubaib harus menerima kenyataan bahwa dua orang yang paling ingin melihat keberhasilannya telah lebih dulu pergi.

Hubaib, anak ketiga dari pasangan almarhum Andi Amran Mansyur dan almarhumah Mely Kristalina. Perjalanan hidupnya berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Pada tahun 2023, enam bulan setelah kepergian sang ibu, ia memulai kehidupan baru sebagai santri di Pesantren Tahfizh Qur”an An Nail, Yayasan Al Munir, Wahdah Islamiyah, Kabupaten Gowa.

Keputusan memasuki pesantren bukanlah langkah yang mudah. Saat sebagian anak seusianya masih berusaha menerima kehilangan, Hubaib harus belajar berdiri lebih kuat.

Ia meninggalkan rumah, lingkungan yang akrab, dan membawa luka yang masih terasa segar. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan harapan bahwa ilmu dan pendidikan agama akan menjadi bekal untuk masa depannya.

Hari-hari di pesantren mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya tentang pelajaran dan hafalan, tetapi juga tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati.

Setiap kali rasa rindu kepada ibunya datang, ia belajar menenangkannya dengan doa. Setiap kali merasa lelah, ia mengingat pesan-pesan baik yang pernah diberikan keluarganya.

Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Hubaib tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Namun ujian hidup kembali menghampirinya.

Delapan bulan sebelum hari wisudanya, sang ayah menyusul ibunya untuk selama-lamanya.

Kehilangan kedua orang tua tentu bukan hal yang mudah diterima oleh siapa pun, terlebih bagi seorang remaja yang masih membutuhkan tempat bersandar.

Akan tetapi, kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan dapat ditempuh dengan lengkap. Ada langkah-langkah yang harus diteruskan meski orang-orang tercinta tak lagi berjalan di samping kita.

Di hari penamatan, ketika namanya dipanggil, yang terlihat oleh banyak orang mungkin hanyalah seorang santri yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Namun sesungguhnya, ada cerita panjang tentang kehilangan, ketabahan, dan perjuangan yang turut berjalan bersamanya menuju panggung.

Mungkin tidak ada tepuk tangan dari ayah dan ibunya di ruangan itu. Tidak ada pelukan yang menunggu setelah acara selesai. Tetapi ada sesuatu yang tetap hadir, cinta yang telah mereka tanamkan sejak dulu.

Wisuda ini bukan sekadar tanda berakhirnya masa belajar di pesantren. Ia menjadi bukti bahwa seorang anak dapat tetap melangkah meski berkali-kali diuji oleh kehilangan.

Duka tidak selalu menghentikan perjalanan seseorang. Kadang, duka justru menjadi alasan untuk terus melanjutkan mimpi.

Bagi Hubaib, hari itu mungkin adalah pertemuan antara bahagia dan rindu dalam waktu yang bersamaan.

Bahagia karena berhasil sampai di garis pencapaian. Rindu karena dua orang yang paling pantas menyaksikan momen itu tidak lagi berada di dunia yang sama.

Namun satu hal yang pasti, setiap ayat yang dipelajari, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap kebaikan yang dilakukan kelak akan menjadi hadiah yang tak pernah putus untuk kedua orang tuanya.

Dan mungkin, dari tempat terbaik di sisi Allah, Ayah dan Ibu sedang tersenyum bangga melihat putra mereka berdiri tegak, melanjutkan hidup dengan penuh keberanian.

Banyak selamat untukmu, Nak. Sukses hari ini dan sukses dimasa-masa mendatang.

Continue Reading

Bahasa Arab dan Mimpi Besar Khumaerah

Dari SMAIT Cobig untuk Mimpi yang Jauh

Di saat banyak pelajar berlomba menembus gerbang perguruan tinggi negeri ternama, Khumaerah justru melangkah ke arah yang berbeda. Bukan karena ia tak mampu bersaing, tetapi karena hatinya telah lama tertambat pada satu mimpi yang sederhana namun penuh makna, ingin mendalami pendidikan Bahasa Arab.

Kami baru benar-benar memahami arah langkahnya justru di waktu yang tak kami duga. Sekitar sebulan sebelum ujian akhir sekolah, tepat di penghujung Ramadan, ia menyampaikan rencananya untuk mendaftar Ma’had di Al-Birr.

Padahal sebelumnya, kami sekeluarga yakin bahwa remaja yang akrab kami panggil Cime, akan memilih salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Makassar, keyakinan itu bukan tanpa alasan.

Sejak duduk di bangku kelas XII, perempuan kelahiran Juni 2008 ini. begitu tekun mempersiapkan diri. Tiga kali dalam seminggu, sepulang sekolah, tanpa banyak keluh, ia melangkah ke tempat bimbingan belajar. Tentu saja, bimbingan untuk ujian masuk PTN.

Lelah seakan tak pernah menjadi alasan. Semangatnya terlihat jelas, seolah ia sedang mengejar satu tujuan besar yang sudah pasti arahnya.

Saat itu, saya bahkan sempat menyarankan agar ia mendaftar di Universitas Hasanuddin, kampus merah tempat saya dulu menimba ilmu.

Melihat kesungguhannya mengikuti bimbingan, saya berpikir pilihannya tak akan jauh, jika bukan Unhas, mungkin Universitas Negeri Makassar, atau bahkan perguruan tinggi negeri lain di luar kota.

Namun, seminggu sebelum ujian sekolah, remaja yang kehilangan ayahnya sejak berusia tiga bulan ini,  menyampaikan keputusan yang tak kami sangka. Dengan tenang, ia mengatakan tidak akan mengikuti seleksi PTN mana pun.

Alasannya sederhana, ia ingin mendalami Bahasa Arab. Saya sempat menimpali, bahwa di perguruan tinggi negeri juga tersedia jurusan Bahasa Arab. Tapi ia menjawab dengan keyakinan yang sulit dibantah,

“Saya ingin yang seratus persen fokus pada Bahasa Arab di kampus yang Islamnya terasa kuat.” katanya.

Saat itu, kami terdiam. Bukan karena tak setuju, tapi karena baru menyadari ia telah melangkah lebih jauh dalam keyakinannya bahkan sebelum kami benar-benar memahaminya.

Tidak banyak pertimbangan yang ia tunjukkan kepada kami, tidak juga daftar panjang universitas impian, ia hanya memilih satu tempat, satu jalan, dan satu tujuan.

Ia ingin kuliah si Al-Birr, ingin mendalami bahasa Arab, dan lebih dari itu, ia ingin suatu hari bisa melanjutkan pendidikannya ke tanah Arab.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu besar. Sebab tidak semua anak seusianya memiliki arah hidup yang jelas. Tidak semua berani memilih jalan yang dianggap biasa oleh orang lain, tetapi justru bermakna besar bagi dirinya sendiri.

Pendidikan yang Luar Biasa di SMAIT Cobig Islamic School

Sebelum melangkah ke bangku kuliah, Khumaerah Dwi Putri Yudifa, menempuh pendidikan di SMAIT Cobig Islamic School. Salah satu sekolah Islam di kota Makassar, yang sangat kuat menanamkan nilai-nilai agama kepada siswanya.

Di sekolah itu, siswa dan siswi tidak hanya belajar Bahasa Arab, tetapi juga dibimbing untuk memahami fiqih, adab dan akhlak, Tahfiz Alqur’an, dan pendidikan Islam yang membentuk karakter.

Dari lingkungan sekolah Cobig, mungkin tumbuh kecintaannya terhadap Bahasa Arab, bahasa yang bukan hanya sekadar pelajaran, tetapi juga pintu untuk lebih dekat dalam memahami Al-Qur’an dan ilmu agama.

Di saat banyak pelajar yang memilih jurusan karena ikut teman, atau sekadar mengejar tren, Khumaerah justru memilih sesuatu yang sangat ia cintai. Ia ingin fasih berbahasa Arab, bahasa para ulama, bahasa Alqur’an, bahasa yang selama ini ia impikan untuk dipelajari.

Hari ini, langkah kecil itu, akhirnya dimulai. Khumaerah Dwi Putri Yudifa, resmi lolos di Al-Birr, jurusan Bahasa Arab.

Semoga langkahmu dimudahkan, ilmunya berkah dan semoga suatu saat nanti Allah mengabulkan doanya menuntut ilmu hingga ke tanah Arab.

Selamat untuk Khumaerah

Dan terima kasih untuk SMAIT Cobig yang banyak membantu dan memberikan pendidikan kepada anak kami selama tiga tahun.

Terima kasih tak terhingga kepada ustazah yang dengan ikhlas berbagi ilmu pada anak kami, terima kasih banyak buat ustazah Haslinda, ustazah Faniah dan ustazah Ananda Reskita.

Continue Reading

Marsya dan Enam Bulan yang Hangat

Tak Lagi Sekadar Tamu, Marsya Sudah Menjadi Keluarga

Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan. Enam bulan yang lalu, seorang mahasiswi
Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung, Sulawesi Utara, datang ke rumah kami.

Namanya Marsya, kadang kami memanggilnya Acaa. Dia datang ke Makassar, untuk menjalani Praktek Kerja Lapangan, di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang produksi perikanan. Kami menyambutnya hangat dan penuh kasih.

Awalnya kami mengira kehadirannya hanya akan menjadi singgah sementara, sebatas tamu yang datang dan pergi setelah tugasnya selesai.

Namun, hari demi hari berjalan dan tanpa disadari, Marsya bukan lagi mahasiswi PKL yang menumpang tinggal, dia sudah menjadi bagian dari rumah ini.

Dia sudah menjadi seseorang yang kehadirannya terasa sangat dekat, seperti saudara sendiri.

Marsya, sosok yang sederhana, pemalu dan murah senyum. Saya senang mengajaknya jalan, kemana saja saya mau pergi, dan dia juga senang ikut tanpa mengeluh.

Banyak cerita tentang kehidupan bersama keluarganya yang aku tangkap dari ceritanya ketika kami jalan berdua.

Hari ini, aktivitasnya d Makassar telah selesai. Perempuan berusia 21 tahun ini, akan kembali ke kampusnya di Bitung, dan tinggal d Asrama.

Rumah kami ini, tentu saja sama seperti dulu, tapi rasanya akan berbeda, lebih sunyi dari biasanya.

Ada banyak kebiasaan kecil yang pasti akan kami rindukan, dari teriakan memanggil namanya, hingga ketuk-ketuk pintu kamarnya untuk mengajaknya makan.

Meski kami teriak Marsya tetap menjawab dengan suara yang lembut, dan senyum yang selalu terlihat manis. Semua itu akan menjadi kenangan yang diam-diam menitikkan air mata saat mengingatnya.

Marsya di Antara Alea dan Eldar

Sejak kabar kepulangan Marsya terdengar di rumah kami, suasana perlahan berubah yang paling merasa sedih kedua bocah kami Alea dan Eldar.

Mereka yang selama ini sangat dekat dengan Marsya, sepertinya belum siap menerima perpisahan itu.

Ada kesedihan kecil yang mereka simpan diwajahnya, ketika mereka sadar bahwa sosok yang setiap hari menemaninya bermain, bercanda dan mendengar cerita mereka sebentar lagi akan pulang.

Eldar bahkan seringkali ingin ikut ke Bitung. Kalimat sederhana yang begitu polos tapi sangat menyentuh hati. Salah satu tanda berapa besar kasih sayangnya terhadap Marsya.

Sementara Alea sering diam ketika nama Marsya disebut akan pulang. Seolah dia memahami kenapa seseorang yang sudah seperti keluarga haruss pergi.

Enam bulan bagi sebagian orang adalah waktu yang sangat singkat, tetapi bagi anak-anak, kedekatan tidak pernah dihitung dari lamanya waktu.

Mereka mengingat siapa yang membuat mereka merasa disayang, dan Marsya sudah menjadi bagian dari masa kecil yang akan mereka kenang nanti.

Perpisahan selalu menyisahkan haru, tetapi setiap pertemuan yang tulus tidak akan pernah benar-benar berakhir sebab orang yang baik akan meninggalkan jejak bagi orang yang mengenalnya.

Terima kasih Marsya untuk enam bulan yang penuh cerita. Terima kasih sebab pernah menjadi bagian dari keluarga kecil ini.

Doaku, semoga dimudahkan cita-citamu tercapai dan semua kebaikan akan mengiringi perjalanan hidupmu.

Pulanglah ke kampungmu dengan bangga sebab di tempat kami ini, kamu bukan hanya pernah tinggal tapi pernah kami anggap rumah.

Continue Reading

Naufal, si Bungsu yang Tumbuh Bersama Doa dan Harapan

16 Maret 2016 – 16 Maret 2026. Tanggal yang sama, bulan yang sama 10 tahun yang lalu, saat itu, saya di antar Ibu, bapak ke rumah sakit untuk menjalani operasi Caesar.

Bapak dan Ibu menemaniku di ruang Instalasi Gawat Darirat (IGD) hingga masuk ke ruang operasi Rumah Sakit Siti Halijah, Jl. kartini Makassar. Rumah sakit yang sama saat ibu melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain.

Saat itu, saya tengah menanti dengan perasaan yang bercampur antara harap dan cemas. Dokter mengatakan bayi yang akan lahir diperkirakan memiliki berat sekitar 3,8 kilogram.

Bayi itu, bernama Naufal Said Al Fatih. Anak ketiga kami, sekaligus si bungsu yang melengkapi cerita kecil dalam rumah kami.

Sejak hari pertama hadir di dunia, Naufal sudah membawa warna tersendiri. Sebagai anak bungsu, tentu saja ia tumbuh dengan sedikit manja.

Ia sering ingin dipeluk lebih lama, ingin ditemani lebih dekat, dan selalu mencari kehangatan dari orang-orang yang ia cintai.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Manjanya Naufal bukan sekadar ingin dimanja, tetapi juga tanda betapa hangatnya hatinya.

Hari demi hari berlalu, Naufal tumbuh bersama waktu. Tawa kecilnya sering memenuhi rumah, langkah-langkah kecilnya menjadi bagian dari cerita yang tak tergantikan. Kadang ia membuat kami tersenyum, kadang juga membuat kami terharu dengan kepolosannya.

Memasuki usia sekolah, kami mulai mempercayakan pendidikannya pada sekolah yang juga mengajarkan nilai-nilai agama.

Naufal pertama kali bersekolah di TK Islam Al Ikhlas. Di sanalah ia mulai mengenal huruf-huruf, belajar bersosialisasi, dan perlahan memahami arti disiplin serta tanggung jawab.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SDIT Cobig Islamic School. Di sekolah inilah Naufal semakin banyak menimba ilmu agama.

Ia belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang bagaimana menjadi anak yang baik, menghormati orang tua, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kami sering merasa terharu terhadap sikapnya terhadap apa yang diajarkan oleh para ustadz di sekolah.

Naufal termasuk anak yang sangat patuh pada nasihat guru. Apa yang disampaikan oleh ustadznya seolah tertanam kuat di hatinya.

Setelah pulang sekolah, Naufal sering mengulang kembali pelajaran yang ia dapatkan dengan caranya sendiri, ia mencoba mengingat dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan.

Hal-hal sederhana seperti itu membuat kami diam-diam merasa bangga dan bersyukur.

Di balik sifat manjanya, ternyata Naufal memiliki hati yang lembut dan keinginan untuk belajar menjadi lebih baik.

Kami sadar, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Namun melihat langkah kecilnya hari ini sudah cukup membuat hati kami penuh harapan.

Setiap kali kami bertemu tanggal 16 Maret, tanggal ananda, seakan kami diajak untuk mengenang perjalanan hidupnya.

Dari bayi mungil yang selalu kami gendong dengan penuh kehati- hatian, hingga Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, manja, tetapi memiliki hati yang sangat baik.

Selamat bertemu tanggal lahir kesayangan, doa kami selalu sama. Semoga kamu selalu dijaga Allah SWT.

Semoga hatimu senatiasa dekat kebaikan.
Dan semoga kelak, ketika kamu tumbuh besar, kamu tetap menjadi anak yang sederhana, patuh, dan penuh kasih seperti hari ini.

Continue Reading

Buka Puasa Bersama Keluarga, Momen Sederhana Penuh Makna

Ramadan selalu membawa suasana berbeda, bulan yang spesial, penuh berkah dan memiliki makna yang dalam.

Kita tidak hanya menahan lapar, tapi juga menahan dahaga. Selain itu, ada momen yang indah yang sering dinanti banyak orang yakni saat berbuka puasa bareng keluarga.

Berkumpul bersama dan menikmati makanan yang sederhana, tapi semuanya terasa sangat istimewa.

Menjelang magrib, dapur sudah mulai ramai, aroma masakan memenuhi ruangan dalam rumah. Setiap hari kegiatan selama sebulan seperti itu.

Namun, hari ini. Kita memilih suasana baru, berbuka puasa bersama keluarga dalam suasana yang berbeda. Seperti halnya keluarga yang lain, kita mencari restoran kecil yang cukup menampung keluarga besar kita (hehehe).

Sekadar menciptakan kenangan, agar kelak di Ramadan berikutnya kita bisa tersenyum mengingat bahwa kita pernah duduk bersama, menikmati hangatnya kebersamaan sambil mencicipi Ayam Kremes Haji Slamet.

Momen seperti ini sering kali menjadi waktu terbaik untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing, Ramadan seakan mengingatkan bahwa kebersamaan adalah hal yang sangat berharga.

Duduk bersama, berbagi makanan, dan mendengarkan cerita satu sama lain menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Bagi sebagian orang, momen buka puasa bersama keluarga juga menghadirkan rasa haru. Terlebih jika mengingat bahwa tidak semua kebersamaan bisa berlangsung selamanya.

Ada saatnya seseorang harus menjalani Ramadan tanpa sosok yang dulu selalu ada di meja makan. Karena itulah, setiap momen kebersamaan yang masih bisa dirasakan seharusnya disyukuri sepenuh hati.

Seperti tahun lalu, kami kembali menikmati momen buka puasa bersama dengan kehadiran anggota baru. Seorang teman bernama Fitri, yang turut berjalan bersama dalam usaha yang kami rintis.

Fitri bukan sekadar teman. Kehadirannya perlahan terasa seperti keluarga, ia membawa warna baru, kehangatan, dan cerita yang melengkapi kebersamaan kami.

Ramadan tahun ini terasa sedikit berbeda. Kami kedatangan tamu dari Bitung, seorang mahasiswi Politeknik Kelautan dan Perikanan kota Bitung, namanya Marsya.

Ia tengah menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kota Makassar, selama enam bulan, dan untuk sementara waktu, rumah kami menjadi tempatnya pulang, ia bukan lagi sekadar tamu, melainkan menjadi bagian dari keluarga. Hari-hari di Makassar kami lalui bersama, penuh cerita, ada tawa, ada lelah, ada juga momen-momen sederhana yang terasa hangat.

Meski kami berbeda keyakinan, hal itu tak pernah menjadi jarak. Justru sebaliknya, kami belajar saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Marsya pun sering ikut membantu menyiapkan menu berbuka, menghadirkan kebersamaan yang terasa tulus dan apa adanya.

Dari Ramadan ini, kami belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tetapi tentang siapa yang hadir, bertahan, dan ikut mengisi hari-hari dengan ketulusan.

Pada akhirnya, buka puasa bersama keluarga bukan hanya menjadi rutinitas selama Ramadan, tetapi juga menjadi kenangan indah yang akan selalu tersimpan dalam hati.

Kenangan tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang membuat Ramadan terasa begitu istimewa.

Sampai jumpa di Ramadan berikutnya, semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali.

Continue Reading

Pernikahan Bahagia tapi Menangis

Selamat Berbahagia Husain Fadhullah, Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Husain Fadhullah Al Makassary, nama yang indah titipan penuh makna yang diberikan oleh almarhum kedua orang tuanya. Dari rangkaian namanya kita bisa meraba jejak asal usulnya, darah Makassar mengalir dari sang ayah dan Sunda dari ibunya. Dua budaya yang berpadu dalam satu identitas.

Pada tanggal 25 Januari 2026 , lelaki kelahiran Bandung 30 Maret 2001 ini, telah mengucapkan kalimat yang sakral dengan suara yang lantang, “Saya terima nikahnya Rahmawati Kahar Binti Haji Kahar Daeng Nippi dengan Mahar tersebut tunai karena Allah,”  dan setelah itu, dalam isak tangis, semua keluarga teriak SAH. Seisi gedung turut berbahagia.

Pernikahan anak pertama dari Almarhum Andi Amran Mansyur dan Mely Kristalina ini, merupakan sebuah pernikahan yang tidak biasa, bukan karena kemeriahannya tetapi, ada perjalanan emosional yang mengiringinya.

Semua rangkaian acara dikemas sangat luar biasa penuh makna dan kekhidmatan, namun dibalik senyum dan doa-doa, ada air mata yang setia menemani setiap langkahnya.

Sejak prosesi siraman atau Mappasili (adat Makassar) kami merasakan suasana sangat berbeda. Air yang mengalir tidak hanya membersihkan raga, seolah membawa serta kenangan, rindu dan harap yang lama disimpan.

Tangis tertahan, bukan sebagai tanda kesedihan semata, tetapi sebuah bahasa hati yang sedang belajar untuk ikhlas sebab dia melangkah ke pelaminan di hari ke-35 ayahnya meninggal. Hari yang seharusnya masih diselimuti duka, justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru dan disitulah air mata menemukan jalannya sendiri.

Malam Mapacci berlangsung sederhana, tetapi syarat makna. Daun pacci ditempatkan dengan penuh penghormatan, menjadi saksi bahwa perjalanan menuju pelaminan tidak selalu dilalui dengan tawa.

Kami menangis, sebab kedua orang tua pengantin lelaki ini, tidak sempat melihat anaknya menikah. Ibunya meninggal tiga tahun yang lalu, sedangkan sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga menyusul istrinya 35 hari sebelum pernikahan anaknya.

Malam Pacci adalah malam berkumpulnya keluarga, malam ketika ikatan darah dan kenangan bertemu dalam satu ruangan yang sama. Pada malam itu, saudara almarhumah ibunya dari Bandung menyempatkan diri untuk hadir, menempuh jarak dan waktu demi membersamai langkah Husain menuju hari besarnya.

Tidak hanya itu, Attaenek yang merupakan nenek sang pengantin yang sudah berusia 74 tahun berusaha menguatkan diri untuk bisa memeluk cucu pertamanya di hari pernikahannya padahal lukanya belum benar-benar sembuh, dia baru saja kehilangan anak pertamanya karena itu, sesekali air matanya tidak bisa dibendung.

Kehadiran Wa Mami (Hajja Evi)  dan Wa Papi (Haji UUS) dari Bandung, bagi kami bukan sekadar melengkapi acara tetapi sebagai pengikat rindu yang lama terjaga. Di tengah kesederhanaan prosesi, ada pelukan, ada doa dan tatapan yang menyimpan banyak cerita. Tentang kehilangan, tentang cerita dan tentang restu yang disampaikan lewat kebersamaan.

Hari pernikahan pun tiba, kami keluarga besar ikut mengantar Ananda ke gedung untuk menyampaikan ijab kabul dan bertemu dengan sang istri. Jodoh yang hanya Allah yang tahu mungkin sebelumnya mereka tidak saling mengetahui kisahnya akan berakhir di pelaminan.

Dengan menggunakan pakaian pengantin adat Makassar warna burgundy, Husain turun dari Alpard hitam. Ia terlihat sangat gagah, melangkah mantap masuk ke gedung tempat akad nikah akan dilangsungkan. Bahagia terlihat sangat jelas, namun air mata kembali mengalir bukan  untuk meratapi tetapi untuk mensyukuri.

Sebab tidak semua kebahagiaan datang tanpa luka dan tidak semua air mata lahir dari duka. Pernikahan Husain mengajarkan kita tentang  satu kesederhanaan tetapi sangat mendalam.

Bahagia dan menangis bukan dua hal yang harus dipisahkan, keduanya bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan dan saling melengkapi.

Saya menulisnya Bahagia tetapi Menangis, sebab cinta, doa dan perjalanan hidup tidak selamanya hadir dalam bentuk yang utuh. Namun, selalu cukup untuk disyukuri.  

Happy Wedding Husain dan Rahma, SAMAWA Rumah tangganya. Aku-akur sampai maut memisahkan. Jika ingin bertengkar, bertengkarlah agar kamu bisa merasakan indahnya berumah tangga, tetapi bertengkarnya jangan lama-lama Ya.  (Hehehehe)

Continue Reading

Tanda Perpisahan yang Menyayat

Tentang enam hari yang kami kira akan berakhir dengan kepulangan

15 Desember 2025,

Pagi itu terasa begitu indah. Indah yang bahkan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seingatku saat itu, aku sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk anak-anak.

Ada aroma pagi, ada tawa kecil, ada rencana sederhana yang membuat hati terasa penuh.Sebab setelahnya, kami berencana berangkat menuju rumah kakak pertama di Kabupaten Gowa, jaraknya lumayan jauh dari kota Makassar, tempat tinggal ku.

Perjalanan yang tak sebentar, jaraknya lumayan jauh, namun entah mengapa pagi itu terasa sangat ringan. Seolah hari sedang mengantar kami dengan doa-doa yang tenang.

Berkunjung ke sana sebenarnya sudah lama ku rencanakan. Seminggu sebelumnya, niat itu telah kusimpan rapi di hati. Kebetulan, anak pertamanya akan menikah di pertengahan Januari.

Aku ingin berkunjung, sekadar melihat persiapan, berbagi cerita, dan menjenguk kakak pertamaku yang telah lama sakit.

Tiba-tiba telepon genggam ku berdering. Dia yang akan ku kunjungi rumahnya meneleponku. “Kamu di mana?” Katanya singkat.

“Di Aroepala, jawabku lebih singkat.

“Kalau ibu?” Tanyanya lagi.

“Lagi mandi,” jawabku semakin singkat.

“Saya mau ke rumah sakit, rencana mau operasi, mau singgah di rumahmu pamit sama ibu.” Terdengar cukup jelas kalimatnya.

Pamit? Tanyaku dalam hati, kata itu sungguh membuatku heran. Seperti tidak biasa mendengarnya.

Satu kata itu bergema lama di kepalaku. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup di dada. Entah mengapa terdengar berbeda.Terasa sangat berat di pikiranku, seperti mengandung sesuatu yang tak terucap.

Selama ini, ia selalu menelepon setelah tiba di rumah sakit. Tak pernah sebelumnya ia berpamitan terlebih dahulu, tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata pamit seolah sedang menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang lebih jauh dari sekadar ruang operasi.

Lima menit setelah menelepon, dia pun datang bersama istrinya. Tanpa menunggu di ruang tamu, aku melihat dia langsung masuk ke kamar menemui Ibu yang sedang memakai pakaian, baru saja selesai mandi.

Dia meraih tangan ibu dan menciumnya. “Doakan ibu, saya mau di operasi.” Katanya, lalu beranjak meninggalkan rumah sebab pukul 10.00 Wita, katanya dia sudah harus berada di rumah sakit.

Dan aku berdiri di ambang pintu, menyaksikan punggungnya menjauh, dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan antara cemas, harap, dan firasat yang samar namun menggetarkan.

Di ruang tamu aku duduk diam, ibu berdiri di dekatku. Aku mulai bicara, kukatakan pada ibu bahwa ini bukan hal yang biasa dia lakukan. Sikapnya sungguh aneh, ibu pun heran. Ternyata dia ingin menyampaikan hal yang sama, cukup lama kami berbincang di ruang tamu, suamiku pun merasa heran.

Tanpa pikir panjang, aku dan ibu menyusulnya ke rumah sakit, menuju ruang IGD.
Di sana aku melihatnya terbaring, namun bukan seperti seseorang yang sedang berada di ambang kepergian.

Wajahnya tampak biasa saja, dia tenang. Hampir tanpa tanda-tanda bahwa waktu sedang bersiap menutup pintunya bahkan ketika memasuki waktu Salat Duhur,
ia bangkit perlahan dari pembaringan, melangkah menuju Musolah.

Setelah menunaikan salat duhur, ia menoleh kepadaku dan berkata pelan,
“Belikan saya bubur ayam. Sudah sangat lapar.”

Aku terdiam. Kalimat itu seperti membuka satu pintu lama di kepalaku.Tiba-tiba ingatanku melayang jauh ke tiga tahun sebelumnya.

Saat itu, istri pertamanya juga terbaring di rumah sakit. Ruang yang berbeda, bau obat yang sama,dan rasa cemas yang serupa. Ia pernah berkata kalimat yang hampir sama waktu itu, tentang lapar. Tentang ingin makan bubur ayam.

Tak lama kemudian, suaminya meneleponku. Ia memintaku kembali ke rumah sakit membawa bubur ayam. “Dua porsi ya. Untuk saya dan istriku.” katanya.

Aku menurut, namun ketika bubur itu tiba, justru semuanya dimakan oleh kakak iparku.Ia makan dengan sangat lahap, aku tidak pernah melihatnya makan sebanyak itu, bahkan berkali-kali bertanya,

“Kamu beli di mana bubur ini?”

Aku hanya tersenyum kecil, tanpa tahu bahwa aku sedang menyaksikan satu kenangan terakhir yang kelak akan kupeluk seumur hidup. Lima hari kemudian, kakak iparku pergi untuk selamanya.

Kondisi kakakku saat itu. sungguh mengingatkan pada kondisi istri pertamanya. Dia juga banyak makan menjelang kepergiannya.

Di ruang IGD, kami yang mengantarnya mulai gelisah memikirkan dokter yang tak kunjung datang. Waktu terus berjalan, sore mulai merambat ke malam, namun kakakku terlihat biasa-biasa saja.

Ia bahkan sempat bercanda kecil seolah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Justru kami yang mondar-mandir saling bertukar pandang, merasa ada sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya.

Malam mulai menyapa, kebahagiaan mulai terasa saat perawat menyampaikan bahwa kamar sudah tersedia. Kami yang sudah sejak tadi menunggu pun langsung menuju ruang perawatan.

Ruang di mana kakak pertamaku menjalani perawatan selama enam hari, ruang yang cukup luas terdiri atas dua ranjang. Di atas ranjang itulah, dia gelisah hingga menghembuskan nafas terakhir.

Selama enam hari di rumah sakit, hampir setiap hari aku dan ibu menemuinya, sekadar datang menanyakan kabarnya dan melihat kondisi terahir. Setiap kami datang, dia tampak baik-baik saja. Dia aktif bicara seperti orang sehat, sesekali ceritanya membuat kami tertawa sesekali pula kami dibuat sedih.

Hari kelima dia berada di rumah sakit, kami kembali menanyakan jadwal operasinya. Namun, jawabannya singkat tapi sungguh membuatku merasa tidak nyaman mulai merasa khawatir. ” Katanya operasi belum dilakukan karena kondisinya belum stabil.” Sejak saat itu perasaanku mulai tidak nyaman.

Hari Jumat 19 Desember 2025, di teras ruang perawatan,ia duduk di kursi mengenakan celana panjang hitam dan kaos abu-abu.

Suamiku duduk di sampingnya. Ibu dan sepupuku duduk berhadapan dengannya.
Sementara aku berdiri dekat pintu, memandanginya diam-diam.

Ia sedang menyantap jalangkote, dengan lahapnya. Penganan khas Makassar kesukaannya. Ia terlihat sangat menikmati setiap suapannya.

Dan saat itulah, dari posisiku berdiri tepat di hadapannya, aku benar-benar memperhatikan wajahnya, wajah yang menurutku sangat berbeda.

Kulitnya pucat, tubuhnya tampak semakin kurus, meskipun perutnya terlihat membuncit. Sementara giginya terlihat lebih menonjol.

Cara pandangnya pun tak lagi sama ada sesuatu yang asing, jauh, dan sulit ku jelaskan. Sesekali, aku melihat wajah Ayah di sana.

Sore harinya, aku berpamitan pulang. Dia memandang kami dengan senyum yang lagi-lagi menurutku berbeda. Di atas mobil, ada aku di depan sedang menyetir. Ibu duduk di samping kiriku.

Di belakang ada sepupuku, Puang Nannu dan Mamak Cawang, perempuan hebat yang telah membersamai kami sejak kecil. Lebih tepatnya dialah yang menjaga kakakku.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami tak henti-hentinya membahas tentang dia, perubahannya dan sikapnya. Paling aneh karena dia makan jalangkote sebanyak 10 biji. Saya pun ikut memberikan pendapat bahwa wajahnya tak lagi sama, bahkan saya sempat mengatakan pada ibu bahwa mirip temanku yang meninggal karena lever.

Kulihat ibu terdiam, ada kesedihan di wajah perempuan berusia 75 tahun itu. Meski ibu tidak berkata-kata, tapi aku tahu kalau ibu sedang sedih. Lalu aku diam, tidak melanjutkan kalimatku.

Malamnya, kami tidak bisa tidur. Aku menyimpan handphone ku di dalam tas. Lalu mengetik cerita di Tabletku. Aku tidak mendengar telepon dari rumah sakit, yang mengabarkan bahwa kondisi kakakku drop.

Aku melihat penggilan tak terjawab cukup banyak dari saudaraku,saat ingin melaksanakan Salat Subuh. Berkali-kali keponakanku dan sepupuku menelepon. Tubuhku seketika lemas, pikiranku mulai melayang kemana-mana.

Aku tak mendengar satu pun panggilan dari rumah sakit. Tak tahu bahwa kondisi kakakku sedang drop. Hingga akhirnya aku membuka ponsel itu.

Di layar, terdapat begitu banyak panggilan tak terjawab dari saudara-saudaraku,
dari keponakanku,dan dari sepupuku.

Tubuhku seketika terasa lemas, tanganku dingin, dadaku kosong. Pikiranku melayang ke mana-mana,tak mampu menangkap satu pun arah dengan jelas.

Dan di antara detik yang terhenti itu, aku mengerti satu hal, ada kabar yang sedang menunggu namun hatiku belum siap menerimanya.

Saat tiba di rumah sakit, aku masuk bersama ibu, dan kakak sepupu. Di dalam ruangan ada istri dan dua adikku.

Kondisinya berubah drastis dari hari-hari sebelumnya. Dia memanggil ibu, meraih tangannya lalu menciumnya. Berkali-kali dia mengucapkan kata maaf. “Maaafkan saya ibu, banyak dosaku, banyak utangku dan sepertinya saya mendahului.”

Katanya dengan kalimat yang sangat jelas. Dia bahkan meminta agar anaknya diperhatikan, itu kalimat yang aku tangkap.

Mendengar itu, aku yang berada di belakang ibu, tidak mampu menahan tangis. Kubiarkan air mataku tumpah, aku terisak sangat keras. Lalu, ibu ke belakang. Ibu yang selama ini, selalu kuat. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis bahkan waktu ibunya meninggal (nenek saya) aku tak pernah melihat air menetes dari mata ibu.

Sabtu pagi, 20 Desember 2025. Aku melihat Ibu benar-benar rapuh, dari balik kacamatanya, aku melihat air mata mengalir tanpa suara.

Tak ada isak, tak ada keluhan hanya diam yang penuh luka. Itulah perpisahan antara seorang ibu dan anak pertamanya.

Mereka berpelukan cukup lama,seakan dunia sedang memberi mereka satu waktu terakhir untuk saling menggenggam dan setelah pelukan itu terlepas, Ibu tak akan pernah lagi bisa melihat anak pertamanya di dunia ini.

Setelah ibu mundur ke belakang, duduk di ranjang tepat di samping kakakku. Aku melangkah mendekat, dia menyodorkan tangannya, mengucapkan kata maaf. Aku terisak, suaraku agak keras hingga tetangga sebelah melihat ke arahku. Mereka mungkin mengira kakakku sudah tidak ada.

Satu jam kemudian, perawat datang dan menyampaikan akan mengeluarkan cairan dari perutnya melalui mulut tentu menggunakan alat. Ku pandangi satu-satu keluargaku, mereka semua setuju termasuk anak-anaknya. Hanya aku sendiri yang menolak dan merasa sangat berat jika alat tersebut di pasang.

Saat itu, aku merasa semuanya akan berakhir, sebab sudah banyak orang yang dibantu alat untuk mengeluarkan cairan, namun dia menutup mata untuk selamanya.

Saat itulah, aku semakin yakin bahwa usianya sudah tidak lama lagi. Apalagi saat berada di samping nya, kakakku mengatakan sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan yang dia rasakan.

Saat itu, aku pun berinisiatif untuk menelepon anaknya di Bandung, harapanku agar mereka masih bisa bertemu Kaengnya. Setidaknya bisa mencium tangan dan memeluknya erat sebelum dia benar-benar pergi. Malamnya, aku pamit, aku mengajak ibu agar dia bisa istirahat di rumah.

Hanya dua jam di rumah. Aku kembali lagi ke rumah sakit, bertemu kakak yang sedang tak baik-baik saja. Di rumah sakit sudah tidak banyak orang, hanya ada keponakanku dan beberapa orang yang ikut menjaga.

Cukup lama kami berada di sana. Aku memperhatikan kakakku yang semakin gelisah.

Ia sangat gelisah di atas ranjang. Sesekali menanyakan waktu, sesekali menatap kami dengan pandangan tajam.

Lalu menoleh kepadaku dan bertanya, “Pesimisko?” dengan dialek Makassar yang masih kental. Pada saat itu, Aku memang pesimis melihat kondisinya, perasaanku sudah tak karuan, hatiku bergetar tanpa bisa ku tenangkan. Tapi, dihadapannya aku mengaku tidak pernah pesimis.

Ketika ia memintaku menambah volume oksigen, katanya napasnya sangat pendek, pertahananku runtuh.

Malam itu, anak pertamanya sedang keluar ruangan, istrinya sedang Salat dan aku berdiri di sana, sendirian menahan ketakutan, merasa tak sanggup, tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa selain menatapnya dan memohon dalam hati agar Tuhan tidak mengambilnya malam itu.

Setelah itu, masih banyak lagi yang ia minta. Katanya tenggorokannya sangat kering. Ia haus,dan minta yang manis-manis. Aku menjadi serba salah.

Pihak rumah sakit melarang kami memberi terlalu banyak minum dan makanan manis. Aku berdiri di hadapannya,tak tahu harus menuruti hatinya atau menaati peraturan yang terasa begitu kejam di saat seperti ini.

Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan sedih, sangat sedih karena di hadapanku bukan sekadar pasien,melainkan kakakku yang sedang berjuang menarik napas dan memohon sesuatu yang begitu sederhana.

Tidak ada satu pun pelajaran hidup yang mengajarkan bagaimana caranya
menghadapi permintaan terakhir. Sudah banyak yang aku lihat seperti itu, sebelum kakak iparku meninggal tiga tahun yang lalu.

Aku juga berada di sampingnya, dia meminta agar aku memberinya air. Dia hangus, tenggorokannya kering. Aku memberinya sedikit sebab perawat tidak mengizinkannya minum.


Pukul 01.00 dini hari, aku pamit pulang. Kami meninggalkan rumah sakit dengan langkah yang terasa berat, penuh kecemasan, dengan hati yang terus berdebar tanpa henti.

Namun aku harus pulang sebab pukul 05.00 pagi, aku akan berangkat ke Bandara, menjemput kedua anak gadisnya yang akan tiba dari Bandung.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menoleh ke belakang dalam hati seolah ada sesuatu yang belum selesai kutinggalkan di ruangan itu.

Dan di dalam mobil yang melaju menembus gelap, aku memeluk rasa takut yang tak sanggup ku ucapkan pada siapa pun, sambil terus berdoa agar subuh nanti masih sempat membawa kabar baik.

Kami hanya sempat beristirahat satu jam di rumah. Tubuh terlelap sebentar,
namun hati tak pernah benar-benar tidur. Telepon genggamku berdering.
Di layar tertera nama keponakanku, anak kedua dari kakakku sekitar pukul 03.30 subuh.

Suaranya gemetar saat memberi kabar bahwa Kaengnya (ayahnya) drop. Saat itu, pertahananku seakan roboh. Dadaku terasa sesak, napas menjadi berat. Ada rasa malas untuk bergerak,seolah tubuhku menolak menerima kenyataan yang sedang mengetuk begitu keras.

Namun aku memaksa diriku bangun. Ku bangunkan suamiku dan ku ceritakan kabar yang baru saja kuterima dan di antara kantuk, gelap, dan kecemasan yang menyesakkan, aku tahu kami sedang berlari menuju sesuatu yang tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun.

Kami tidak mandi, tidak sempat berpamitan pada anak-anak, sebab mereka masih tidur. Dalam perjalanan aku berharap masih bisa melihat kakakku bernafas, setidaknya mengucapkan perpisahan jika memang dia akan pergi.

Tetapi, semuanya hanya harapan. Ketika menuju rumah ibu, aku mendapat kabar buruk dia sudah meninggal.

Innalillahi Wa inalilahi rojiun. Kakakku meninggal Ahad 21.Desember 2025. Meninggalkan enam orang anak, tiga masih kecil, satu remaja dan dua usia yang sebentar lagi akan menikah.

Continue Reading