Ternyata Palestina Masih Terluka 1

Tulisan untuk Gaza I

Sore itu, Selasa 08 Juli 2025, hujan turun pelan-pelan, membawa dingin yang tak mudah kuurai. Di teras rumahku yang sederhana, aku duduk diam sambil memainkan ponsel dan minum secangkir teh hangat..

Rintik hujan jatuh seperti irama pelan dari langit yang murung, tiba-tiba di sela kesunyian itu, mataku menangkap beberapa postingan tentang Palestina di media sosial. Pikiranku melayang kemana-mana. Sudah lama ingin kudengar kabar itu.

Setelah tahun 2023 berlalu, aku kehilangan kabar terbaru tentang Gaza. Padahal aku selalu mencari, hampir setiap hari aku seperti terpanggil untuk mengetahui kabar terbaru dari Palestina.

Biasanya, saat kubuka media sosial khususnya Instagram, selalu update postingan tentang Palestina, tentang anak-anak yang kehilangan orang tua, warga yang bertahan hidup di tengah reruntuhan, dan potongan kabar terbaru dari tanah yang tak pernah benar-benar damai.

Saat itu, serangan udara yang dilakukan oleh Israel menewaskan ribuan warga, banyak wartawan dan bayi yang tewas. Rumah sakit dan masjid jadi sasaran. Kami yang menyaksikan dari jauh, ikut merasakan perih. Luka dan derita saudara-saudara di sana terasa begitu dekat, meski kami tak berada di tengah reruntuhan itu. Hati kami ikut terluka, tetapi kami bingung tak tahu harus berbuat apa selain mendoakan dan menangis dalam diam.

Setahun berikutnya, kabar itu tak pernah muncul lagi. Semua terasa hening, seolah tidak ada yang terjadi di sana. Padahal, serangan demi serangan brutal masih terus menghantam Gaza. Suara jerit dan tangis itu mungkin tak terdengar di sini, tapi di sana mereka tak pernah benar-benar berhenti.

Aku terus mencari searching di google dan mencari di instagram milik para aktivis Palestina, ada beberapa yang posting tetapi tidak sebanyak tahun 2023. Pada tahun 2024 hanya ada beberapa postingan yang cukup membuat kami tahu di sana luka masih terus menganga, ada beberapa postingan foto dan vidieo yang sungguh memilukan.

Waktu itu, aku ingin menulis tentang Palestina, tentang perasaan yang berkecamuk setiap kali mendengar kekejian pemerintah Israel terhadap rakyat Gaza, tapi aku tak tahu harus menuangkannya di mana. Sampai aku teringat, aku punya blog kecil ini. Mungkin tidak banyak yang membaca, tapi setidaknya di sinilah aku bisa menulis sedikit tentang luka Palestina dan suaraku yang ingin turut bersaksi.

Di blog yang ku ciptakan ini, aku ingin mengungkapkan isi hati tentang Palestina, tentang anak-anak yang tidak pernah mengenal ketenangan.

Tahun ini, 2025, ketika perang antara Iran dan Israel pecah, kabar tentang Palestina kembali memenuhi linimasa media sosial. Ada rasa lega meski getir melihatnya. Senang rasanya bisa kembali mengetahui kabar dari Gaza, tapi di balik itu, hati ini kembali sesak. Ternyata, penderitaan mereka belum juga berubah bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Salah satu kabar yang paling menghantam adalah syahidnya dr. Marwan Al Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ia wafat bersama istri dan lima anaknya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka. Kekejaman seperti ini bukan lagi hal baru. Dunia melihat, tapi banyak yang tetap memilih bungkam.

Aku selalu bangga melihat postingan tentang situasi di Gaza, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat, aku melihat keberanian mereka bahkan ketika suara tembakan begitu dekat dari tempatnya berpijak dia masih bisa tersenyum dengan ikhlas.

Mereka terlihat tabah padahal tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa suara ledakan. Anak yang luar biasa masih bisa tetap bermain tanpa rasa was-was.

Aku merasa sangat sedih, saat melihat postingan anak-anak Gaza makan di atas tanah yang retak dan di tengah bangunan yang runtuh. Sungguh memilukan melihatnya, apalagi saat melihat postingan ada yang meninggal karena kelaparan, kekurangan air bersih, Astagfirullah. Tanganku belum bisa membantu, tetapi aku ikut mendoakan. Aku berharap kelak tulisanku bisa menjadi jembatan dari hati ke hati.

Sungguh kejam pemerintah Israel yang menyerang tanpa titik, dokter Marwan Al Sultan satu-satunya dokter spesialis jantung yang masih bertahan di Gaza juga menjadi sasaran. Dia dan keluarganya tewas di ruang yang paling aman, sebagai bukti bahwa Israel tidak mengenal batas kemanusiaan.

Kepergian sang dokter menjadi catatan kelam dalam sejarah, dokter yang ke 70 yang tewas akibat serangan udara dalam dua bulan terakhir ini. Serangan yang tak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga harapan, dan nyawa mereka yang setiap hari berjuang menyelamatkan orang lain.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *