Pernikahan Bahagia tapi Menangis

Selamat Berbahagia Husain Fadhullah, Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Husain Fadhullah Al Makassary, nama yang indah titipan penuh makna yang diberikan oleh almarhum kedua orang tuanya. Dari rangkaian namanya kita bisa meraba jejak asal usulnya, darah Makassar mengalir dari sang ayah dan Sunda dari ibunya. Dua budaya yang berpadu dalam satu identitas.

Pada tanggal 25 Januari 2026 , lelaki kelahiran Bandung 30 Maret 2001 ini, telah mengucapkan kalimat yang sakral dengan suara yang lantang, “Saya terima nikahnya Rahmawati Kahar Binti Haji Kahar Daeng Nippi dengan Mahar tersebut tunai karena Allah,”  dan setelah itu, dalam isak tangis, semua keluarga teriak SAH. Seisi gedung turut berbahagia.

Pernikahan anak pertama dari Almarhum Andi Amran Mansyur dan Mely Kristalina ini, merupakan sebuah pernikahan yang tidak biasa, bukan karena kemeriahannya tetapi, ada perjalanan emosional yang mengiringinya.

Semua rangkaian acara dikemas sangat luar biasa penuh makna dan kekhidmatan, namun dibalik senyum dan doa-doa, ada air mata yang setia menemani setiap langkahnya.

Sejak prosesi siraman atau Mappasili (adat Makassar) kami merasakan suasana sangat berbeda. Air yang mengalir tidak hanya membersihkan raga, seolah membawa serta kenangan, rindu dan harap yang lama disimpan.

Tangis tertahan, bukan sebagai tanda kesedihan semata, tetapi sebuah bahasa hati yang sedang belajar untuk ikhlas sebab dia melangkah ke pelaminan di hari ke-35 ayahnya meninggal. Hari yang seharusnya masih diselimuti duka, justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru dan disitulah air mata menemukan jalannya sendiri.

Malam Mapacci berlangsung sederhana, tetapi syarat makna. Daun pacci ditempatkan dengan penuh penghormatan, menjadi saksi bahwa perjalanan menuju pelaminan tidak selalu dilalui dengan tawa.

Kami menangis, sebab kedua orang tua pengantin lelaki ini, tidak sempat melihat anaknya menikah. Ibunya meninggal tiga tahun yang lalu, sedangkan sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga menyusul istrinya 35 hari sebelum pernikahan anaknya.

Malam Pacci adalah malam berkumpulnya keluarga, malam ketika ikatan darah dan kenangan bertemu dalam satu ruangan yang sama. Pada malam itu, saudara almarhumah ibunya dari Bandung menyempatkan diri untuk hadir, menempuh jarak dan waktu demi membersamai langkah Husain menuju hari besarnya.

Tidak hanya itu, Attaenek yang merupakan nenek sang pengantin yang sudah berusia 74 tahun berusaha menguatkan diri untuk bisa memeluk cucu pertamanya di hari pernikahannya padahal lukanya belum benar-benar sembuh, dia baru saja kehilangan anak pertamanya karena itu, sesekali air matanya tidak bisa dibendung.

Kehadiran Wa Mami (Hajja Evi)  dan Wa Papi (Haji UUS) dari Bandung, bagi kami bukan sekadar melengkapi acara tetapi sebagai pengikat rindu yang lama terjaga. Di tengah kesederhanaan prosesi, ada pelukan, ada doa dan tatapan yang menyimpan banyak cerita. Tentang kehilangan, tentang cerita dan tentang restu yang disampaikan lewat kebersamaan.

Hari pernikahan pun tiba, kami keluarga besar ikut mengantar Ananda ke gedung untuk menyampaikan ijab kabul dan bertemu dengan sang istri. Jodoh yang hanya Allah yang tahu mungkin sebelumnya mereka tidak saling mengetahui kisahnya akan berakhir di pelaminan.

Dengan menggunakan pakaian pengantin adat Makassar warna burgundy, Husain turun dari Alpard hitam. Ia terlihat sangat gagah, melangkah mantap masuk ke gedung tempat akad nikah akan dilangsungkan. Bahagia terlihat sangat jelas, namun air mata kembali mengalir bukan  untuk meratapi tetapi untuk mensyukuri.

Sebab tidak semua kebahagiaan datang tanpa luka dan tidak semua air mata lahir dari duka. Pernikahan Husain mengajarkan kita tentang  satu kesederhanaan tetapi sangat mendalam.

Bahagia dan menangis bukan dua hal yang harus dipisahkan, keduanya bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan dan saling melengkapi.

Saya menulisnya Bahagia tetapi Menangis, sebab cinta, doa dan perjalanan hidup tidak selamanya hadir dalam bentuk yang utuh. Namun, selalu cukup untuk disyukuri.  

Happy Wedding Husain dan Rahma, SAMAWA Rumah tangganya. Aku-akur sampai maut memisahkan. Jika ingin bertengkar, bertengkarlah agar kamu bisa merasakan indahnya berumah tangga, tetapi bertengkarnya jangan lama-lama Ya.  (Hehehehe)

Continue Reading

16 Tahun Perjalanan Kita, dari Ruang Redaksi ke Ruang Hati

Kisah kita dimulai bukan dengan kalimat puitis, tapi dengan suara ketikan komputer dan deadline yang selalu minta perhatian lebih dari kita.

Kala itu, aku dan kamu adalah dua orang jurnalis yang bekerja pada sebuah media cetak populer. Dunia kerja kita diwarnai kopi dingin, berita hangat dan editor yang hobi marah-marah. Perkenalan yang singkat di sebuah kantor yang berlokasi di Jl. H.Bau Makassar, tempat aku dan kamu mengais rezeki.

Tidak ada yang bisa menduga, dua orang yang sehari-hari meliput suka duka orang lain, akhirnya menulis bab-bab baru dalam kehidupannya sendiri. Tanggal 21 November 2009, tiga bulan setelah kita kenalan kita lanjutkan ke pelaminan.

Perjalanan rumah tangga yang kita bangun kini sudah 16 tahun, ada tiga orang anak yang dititipkan untuk kita jaga, dan besarkan serta kita didik sesuai kemampuan yang kita miliki. (Jangan didik mereka jadi wartawan, berat. Cukup kita saja).

Selama 16 tahun, kami belajar satu hal bahagia itu tidak selalu datang dari waktu luang, tapi dari niat untuk saling menjaga.

Pekerjaan kami sering kali menyita hampir seluruh tenaga dan waktu, nyaris tak memberi ruang untuk benar-benar beristirahat.

Namun entah bagaimana, kami selalu menemukan cara untuk menyisakan waktu untuk tertawa, untuk berbagi, dan untuk menciptakan kebahagiaan bersama anak-anak.

Dari pekerjaan yang gajinya mungkin terlihat receh di mata dunia, Allah justru menghadirkan keberkahan. 

Dari situlah kita bisa menyekolahkan tiga buah hati kami di sekolah Islam, menanamkan nilai, adab, dan harapan untuk masa depan mereka.

Terima kasih ya Allah atas 16 tahun pernikahan kami. Kami bisa bertahan sejauh ini karena Engkau selalu ada dalam setiap langkah. 

Aku akui, ini bukan waktu yang singkat, dan jalan yang kami lalui pun tidak mudah.
Namun sampai di titik ini, kami masih berdiribersama, saling menguatkan, dan terus belajar bersyukur.

Continue Reading