31 Desember 2023, malam tahun baru 2024 tiba-tiba mengajak aku merenung. Ada cerita penting di tanggal yang sama, saat malam pergantian tahun 2022. Tepatnya satu tahun yang lalu.
Cerita tentang kak Meli sang kakak ipar. Saat sibuk-sibuknya saya menyelesaikan tugas akhir tahun. Tiba-tiba dikejutkan dengan kabar bahwa ibu dari enam orang anak ini, terbaring di rumah sakit.
Yang lebih mengejutkan lagi saat diberitahu kalau dia sakit ginjal. Seakan tidak percaya, sangat tidak percaya. Seminggu sebelumnya tepatnya tanggal 21 Desember, kami sama-sama ikut seminar. Dia mengajakku, acaranya diadakan di Makassar, di sebuah hotel bintang lima. Selama acara, kami bertiga tidak pernah cerita tentang penyakit.
Pembahasan kami lebih ke bisnis, ya dia banyak cerita tentang usaha baru yang di rintisnya di kampung. Menjual makanan khas kota Bandung. Jualannya sangat ramai dan katanya banyak yang suka. Saya pun senang mendengarnya, apalagi bahan-bahannya dia beli sebagian di tokoku. Kami pun jadi rekan bisnis dan sangat sering komunikasi.
Saat itu dia bahkan cerita ingin berangkat umroh bersama suami. “Alhamdulillah” kataku saat itu. Niat baik pun segera ku Aminkan. Bahkan katanya dia akan mengajak ibu sekalian.
Setelah seminar, kami jalan-jalan ke Mal Panakkukang, ke Gramedia membeli buku. Dia membeli buku religi, buku tentang renungan kepada sang pencipta.

Bukan hanya itu, perempuan asal kota Bandung yang sudah 22 tahun menjadi kakak ipar ku itu bahkan menitipkan dua anak-anaknya untuk liburan di rumah tanggal 22 Desember 2022. Dua minggu sebelum dia benar-benar pergi menghadap-Nya.
Ini pun ku anggap biasa saja bukan sesuatu yang aneh. Sudah biasa ponakan-ponakanku liburan di rumah. Aku bahkan mengajak mereka jalan-jalan ke Mal sambil nonton. Tidak pernah membayangkan yang tidak-tidak. Apalagi berfikir kalau itu adalah sebuah kenangan.
Malam tahun baru 2023, kondisi K Meli sedang tidak baik-baik saja. Saya menjenguknya dan sejuta pertanyaan merasuki ku. Melihat kondisinya drop, saya hanya berfikir kalau dia terlalu lelah.
Lalu, saya pun mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan menuju kampung yang jaraknya sekitar 50 kilo dari kota Makassar, kami tidak banyak bicara. Dia hanya diam. Sesekali ku perhatikan dia ngemil.
Di tengah perjalanan tiba-tiba minta brownis. Lalu, minta makan nasi, makan buah dan mampir lagi beli pepaya.
Bagiku ini, sesuatu yang tidak biasa. Dia biasanya tidak terlalu banyak makan apalagi dalam perjalanan. Tetapi, aku berfikir positif mengingat kondisinya baru keluar dari rumah sakit. Ada rasa heran berkecamuk di dada. Tetapi, saya hanya diam saja. Melihat dia duduk di sebelahku menyentak nasi goreng Yumki, yang kami beli di Indomaret.
Saya tidak pernah menyangka di malam tahun baru 2023, merupakan hari terakhir bertemu kak Meli. Setelahnya kami hanya berbalas chat via whatshap. Dia mengabarkan kondisinya yang masih merasa sakit.
Lima hari kemudian aku bertemu kak Meli lagi tetapi dalam kondisi yang berbeda. Dia sudah tidak bisa bicara seperti biasa lagi.
Kondisinya memburuk, hingga menghembuskan nafas terakhir tepat di tanggal 5 Januari 2023 di rumah sakit Syekh Yusuf Gowa.
Tiba-tiba sakit dan tiba-tiba pergi untuk selamanya. Alfatiha untukmu K Mel.
