Incar SDIT, Jatuh Hati pada Cobig, Lagi dan Lagi

Memasuki musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2023, teringat lima tahun lalu pada musim yang sama. Kala itu, anak kedua kami akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar (SD).

Seperti orang tua pada umumnya, sejak kesayangan masih belajar di Taman Kanak Kanak(TK), kami sudah sibuk mencari sekolah lanjutan. Waktu itu, kami sepakat mencari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Melihat karakter dan sifat ketiga buah hati kami, yang sedikit keras, cepat emosi dan sangat manja. Kami menganggap mereka cocoknya di sekolah berlandaskan Alqur’an.

Anak pertama kami pada waktu itu, sekolah di salah satu SDIT kabupaten Bone. Tinggal di rumah neneknya. Dua tahun tinggal berjauhan rasa rindu pasti ada, apalagi anak perempuan satu-satunya. Akhirnya kami pun membawanya kembali ke Makassar, berkumpul seperti dulu.

Mencari sekolah setingkat SDIT di kota Makassar, tidaklah sulit dan juga tidak begitu mudah. Ibaratnya seperti virus, sekolah islam sudah tersebar di sejumlah wilayah. Hanya saja biaya masuknya yang variatif dan relatif mahal. Untuk mendapatkan pendidikan di sekolah islam, orang tua harus menyediakan anggaran belasan hingga puluhan juta.

Karena kami memiliki tiga orang anak, tentunya mencari sekolah yang sesuai isi dompenagar tetap aman dan nyaman sampai mereka tamat. Setelah keliling mengambil brosur di sejumlah SDIT, saya tidak langsung menemukan sekolah islam yang cocok antara biaya masuk dengan penghasilan kami. “Ternyata sekolah islam itu mahal-mahal,” gerutuku saat itu.

Lalu, kami searching dan munculah SDIT Nurul Kautsar, di Jl. Andi Mangerangi. Anak pertama Safwa di kelas III dan Nawaf kelas I. Dua tahun belajar di Nurul Kautsar, sekolah tetap muka hanya berjalan satu tahun. Satu tahun berikutnya anak-anak di rumahkan. Corona datang memporak-porandakan kehidupan, tidak sedikit yang terpapar dan jadi korban.

Pemerintah mengambil kebijakan merumahkan anak-anak, sekolah online agar  tidak terdampak virus Corona.  Namun sekolah online tidak memberikan dampak positif bagi orang tua, ada sejumlah kegiatan rutin yang terbengkalai karena harus mendampingi anak-anak belajar.

Setelah aman dari Covid-19, sekolah offline kembali dibuka bertepatan dengan naik kelas anak-anak. Anak pertama kami naik kelas V, adiknya di kelas III. Tiba-tiba pada rapat orang tua siswa, ada hal yang tidak biasa. Kami berkumpul di masjid mendengarkan ceramah dan keluhan pihak sekolah. Intinya kami harus memilih, tetap melanjutkan pendidikan di Nurul Kautsar atau ikut ke sekolah milik ketua yayasan kala itu.

Bukan sekadar ikut-ikutan, kami yakin pada waktu itu. Berada di jalan yang benar dalam memilih sekolah yang tepat untuk buah hati. Sekolah adalah tempat belajar kedua bagi anak-anak. Karenanya kami sangat yakin di tempat yang baru nantinya, anak kami akan di bina oleh para pendidik yang penyayang dan mampu mengajar dengan hati.

 

Ikut pindah ke Cobig, karena kami tertarik dengan kurikulumnya. “Mencetak penghafal Alquran dan penghafal hadits shahih salah satu taqline dari sekolah ini,” kurikulum yang mungkin saja tidak kutemukan lagi pada sekolah sebelumnya jika anak-anak kami tetap lanjut di sekolah itu.

Oh ya. selama menuntut ilmu di sekolah yang dirintis oleh ustadz Sufirman, anak-anak kami banyak berubah. Mereka yang tadinya belum bisa mengaji, sekarang sudah bisa. Mereka bahkan sudah menghafal beberapa hadits. Mereka banyak tahu apa yang kami tidak tahu.

Bukan hanya itu, si bungsu yang tadinya ngotot mau lanjut di sekolah negeri, dengan alasan banyak penjual makanan, pun berubah pikiran lanjut di Cobig. Sekolah yang dekat dengan SMA Negeri 8 ini, memberikan banyak perubahan bagi anak-anak.

Tahun ini, anak pertama kami sudah tamat. Sejak tahun lalu, kami sudah mencari sekolah lanjutan. Sekolah negeri atau MTS. Tetapi, dia maunya tetap di Cobig. Alasannya sederhana, banyak temannya yang lanjut di SMP Cobig.

Lagi dan lagi anak kami lanjut di SMPIT Cobig Islamic School. Lalu seperti apa pendidikan di sana ?

Dulu, kami sempat wawancara dengan ketua yayasan, ustaz Sufirman, pada hari Sabtu tanggal 25 Desember 2021. Di acara  penerimaan rapor. Dia pun dengan senang hati menjelaskan, bahwa Cobig terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Tentunya mengutamakan pendidikan aqidah, akhlak dan hafalan hadist.

Bahkan katanya, untuk memberikan kualitas terbaik, dia terus berusaha memperbaiki kualitas tenaga pengajarnya. Para guru diwajibkan mengikuti taklim sekali sepekan dan wajib belajar bahasa arab.

Wah, keren kan ?

Lanjut kata ustaz Sufirman, jika guru tidak belajar tauhid dan bahasa arab. Bagaimana mungkin mereka memberikan pendidikan pada anak didiknya. Wah sungguh luar biasa, bukan!

Kami juga sempat meminta komentar Kepala SDIT Cobig, Ustadz Syamsul Bahri. Kepada kami, dia mengatakan pendidikan akhlak dan adab itu, sangat penting diberikan pada anak usia dini.

Katanya, guru itu cerminan dari anak didiknya. Sehingga harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang islam, berpendidikan tinggi dan berperilaku baik.

Selain itu, menurut ustadz Syamsul, Cobig menerapkan sistem evaluasi pada guru, menanyakan kekurangan setiap pekan. Sebagai kepala sekolah, dia juga meminta tenaga pendidiknya untuk memantau siswa saat libur. Meskipun libur para ustadz dan ustazah tetap muraja’ah hafalan siswanya.

Jadi, tidak ada yang membuat saya ragu untuk menyekolahkan anak saya di Cobig. SDIT termurah di Makassar tapi tidak murahan.

Yuk yang lagi cari sekolah penghafal Alquran, dengan biaya terjangkau di Cobig Aja, recomended.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *