Nawaf, Sekolah Cobig Jadi Saksi, Doa Kami Jadi Sayapmu

Untuk Anakku yang hari Ini tamat SDIT

Tak terasa, hari ini engkau resmi menamatkan pendidikan sekolah dasar mu di SDIT Cobig Islamic School. Rasanya baru kemarin Bunda menimangmu dalam balutan selimut bayi mungil, mengusap lembut rambutmu, dan mendekap tubuhmu. Kini, kau berdiri gagah berseragam rapi, menerima ijazah, disaksikan langit dan bumi yang ikut berbahagia atas perjuanganmu.

SDIT Cobig adalah saksi enam tahun perjalananmu meniti ilmu, dari hari-hari pertama belajar mengeja huruf hijaiyah, dari tangis saat hafalan pertama, hingga senyummu ketika bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Kau tak hanya belajar menulis dan berhitung, tapi juga belajar tentang sabar, tanggung jawab, dan cinta pada agama.

Ingat enam tahun yang lalu, pertama kali menginjakkan kaki di sekolah Cobig, kamu tidak tahu apa-apa bahkan belum bisa membaca jangankan membaca Alquran, mengenal Alfabet pun tidak. Berkat seorang ustazah, kala itu ustazah Nurhayati di kelas 1, kamu dijari sampai bisa membaca hingga mampu menyusun kalimat. Seteusnya berlanjut hingga akhirnya tahun ini, tamat.

Hari ini bukan hanya tentang kelulusan, tapi sebuah pertanda bahwa masa kecilmu perlahan mulai berpamitan. Masa remaja sedang mengetuk pintu hatimu, membawa banyak tantangan dan pilihan. Akan datang hari-hari yang menuntut lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dewasa. Tapi Ibu percaya, dengan iman yang tertanam, dan akhlak yang diajarkan di Cobig, engkau akan berjalan dalam cahaya.

Malaikat kecilku yang kini menginjak remaja teruslah belajar, tapi jangan hanya dari buku. Belajarlah dari kehidupan. Jangan hanya mengejar nilai, tapi kejar pula makna, jangan hanya ingin jadi pintar, tapi berusahalah menjadi pribadi yang bermanfaat.

Tamat dari Cobig bukan berarti tamat dari doa kami. Doa Ayah dan Bunda akan terus menjadi sayapmu, menuntunmu dalam langkah-langkah yang tak selalu mudah. Semoga ilmu yang kau pelajari menjadi cahaya yang tak pernah padam, dan menjadi amal jariyah bagi semua yang mengajarkanmu.

Terima kasih, Nak telah membuat kami bangga. Terima kasih telah menjadi anak yang penuh semangat dan kesungguhan, terima kasih karena telah melalui masa kecilmu di tempat yang penuh nilai dan iman.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu, memudahkan langkahmu, dan menjadikanmu anak shalih yang menyejukkan mata orang tuanya.Selamat atas penamatan Perjalanan masih panjang, dan kami akan selalu membersamaimu dalam doa.

Ustadz Terima Kasih Telah Menuntun

Anak-anak kami menamatkan pendidikan di SDIT Cobig Islamic School. Namun kami tahu, setiap langkah yang mereka ambil hari ini, tak lepas dari bimbingan sabar dan tulus kalian. Kalian bukan hanya pengajar, tapi penuntun bukan hanya membekali mereka dengan ilmu, tapi juga dengan iman.

Di tangan kalian, anak-anak kami belajar mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan memahami arti akhlak yang baik. Kalian tanamkan adab sebelum ilmu, kalian ajarkan sujud sebelum sukses. Itulah warisan para nabi, dan hari ini kalian menjalaninya dengan cinta dan keikhlasan.

Kalian bukan hanya menuntun pena mereka saat belajar menulis,tapi menuntun hati mereka agar dekat dengan Allah. Tak ada yang lebih indah daripada itu. Karena itu, kembali aku percayakan sekolah Cobig sebagai tempat anak kami melanjutkan pendidikan di tingkat menengah pertama, agar ilmu yang dia dapat di sekolah dasar bisa berlanjut di SMPIT.

Kami percaya, setiap huruf hijaiyah yang kalian ajarkan, setiap nasihat yang kalian ucapkan, dan setiap doa yang kalian panjatkan untuk mereka akan kembali padamu dalam bentuk pahala yang tak terputus.

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari kehidupan anak kami.
Menjadi cahaya di awal perjalanannya menjadi guru dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberkahi hidup kalian, menjaga setiap langkah kalian, dan membalas setiap lelah dengan surga yang tertinggi.

Barakallahu fiikum, ustadz dan ustazah, pendidik akhlak dan aqidah.
Terima kasih telah menuntun.

Continue Reading

Terima Rapor Sambil Berwisata ke Citra Satwa Celebes Bareng Keluarga

Pengenalan satwa oleh guru pendidik kepada para siswa Sekolah Cobig/foto:duniacerita

Ujian semester akhir telah selesai. Anak-anak pun tidak sabar ingin melihat hasil akhir dari kegiatan belajarnya selama semester II. Menurut mereka,  nilainya tidak jelek-jelek amat. Saya sih, tidak terlalu menuntut mereka harus dengan nilai yang bagus. Bisa menerima pelajaran dari ustadz dan ustazah dengan baik lalu mengamalkannya, bagiku itu sudah cukup tidak boleh terlalu dipaksakan.

Penerimaan hasil ujian SDIT Cobig kali ini, berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya diadakan di gedung sekolah, di ruang tertutup  yang pengap dan berdesak desakan. Pernah juga pihak sekolah menyewa salah satu gedung di Jl. sultan Alauddin, Gedung Juang 45.  Ruangannya besar, parkirannya sangat luas bisa menampung ribuan orang tetapi, terasa sangat membosankan. Kami tidak bisa menyimak dengan baik rangkaian acara ceramah dan beberapa sambutan.

Tahun ini dikemas lebih seru, diadakan di ruang terbuka, kebun binatang Citra Satwa Celebes, kabupaten Gowa. Suasananya lebih santai, lebih nyaman dan tentram. Anak-anak bisa bermain sepuasnya. Mereka sangat bahagia.  Para orang tua siswa pun bisa menikmati sejuknya udara alam dan rindangnya pepohonan. Sambil menunggu giliran, kami berkeliling melihat aneka satwa yang terkurung. Bisa berkenalan lebih dekat dengan para orang tua siswa.

Lebih kerennya lagi, kami bisa membawa serta keluarga, bayarannya cukup terjangkau dan memuaskan. Pokoknya siapa pun yang punya ide terima Rapor Sambil Berwisata. Saya hanya mau bilang dia luar biasa. Bisa memberi ide untuk menghibur anak-anak dan orang tua (Masya Allah).

Anak-anak sekolah Cobig dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA pada hari itu pun punya cerita baru, mereka terlihat sangat puas. Selain itu, pengetahuan dan wawasan anak-anak pun bertambah. Senyum bahagia terpancar, sejak mereka naik kendaraan truk TNI. Pengalaman itu, akan menjadi cerita yang tidak terlupakan di usia anak SD.

Begitu tiba di Citra Celebes, mereka berlari mengelilingi taman yang dipenuhi pepohonan rindang. Kegembiraan kembali terlihat dari wajah para siswa, saat melihat burung merak putih, dadanya berwarna kuning. Teriakan siswa-siswi Cobig riuh ketika burung itu mengepakkan sayap.

Aneka satwa lainnya pun menarik perhatian anak-anak. Meskipun hanya setengah hari cukup membuat anak-anak terhibur, dan akan mengenangnya sepanjang masa.

Continue Reading

Incar SDIT, Jatuh Hati pada Cobig, Lagi dan Lagi

Memasuki musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2023, teringat lima tahun lalu pada musim yang sama. Kala itu, anak kedua kami akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar (SD).

Seperti orang tua pada umumnya, sejak kesayangan masih belajar di Taman Kanak Kanak(TK), kami sudah sibuk mencari sekolah lanjutan. Waktu itu, kami sepakat mencari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Melihat karakter dan sifat ketiga buah hati kami, yang sedikit keras, cepat emosi dan sangat manja. Kami menganggap mereka cocoknya di sekolah berlandaskan Alqur’an.

Anak pertama kami pada waktu itu, sekolah di salah satu SDIT kabupaten Bone. Tinggal di rumah neneknya. Dua tahun tinggal berjauhan rasa rindu pasti ada, apalagi anak perempuan satu-satunya. Akhirnya kami pun membawanya kembali ke Makassar, berkumpul seperti dulu.

Mencari sekolah setingkat SDIT di kota Makassar, tidaklah sulit dan juga tidak begitu mudah. Ibaratnya seperti virus, sekolah islam sudah tersebar di sejumlah wilayah. Hanya saja biaya masuknya yang variatif dan relatif mahal. Untuk mendapatkan pendidikan di sekolah islam, orang tua harus menyediakan anggaran belasan hingga puluhan juta.

Karena kami memiliki tiga orang anak, tentunya mencari sekolah yang sesuai isi dompenagar tetap aman dan nyaman sampai mereka tamat. Setelah keliling mengambil brosur di sejumlah SDIT, saya tidak langsung menemukan sekolah islam yang cocok antara biaya masuk dengan penghasilan kami. “Ternyata sekolah islam itu mahal-mahal,” gerutuku saat itu.

Lalu, kami searching dan munculah SDIT Nurul Kautsar, di Jl. Andi Mangerangi. Anak pertama Safwa di kelas III dan Nawaf kelas I. Dua tahun belajar di Nurul Kautsar, sekolah tetap muka hanya berjalan satu tahun. Satu tahun berikutnya anak-anak di rumahkan. Corona datang memporak-porandakan kehidupan, tidak sedikit yang terpapar dan jadi korban.

Pemerintah mengambil kebijakan merumahkan anak-anak, sekolah online agar  tidak terdampak virus Corona.  Namun sekolah online tidak memberikan dampak positif bagi orang tua, ada sejumlah kegiatan rutin yang terbengkalai karena harus mendampingi anak-anak belajar.

Setelah aman dari Covid-19, sekolah offline kembali dibuka bertepatan dengan naik kelas anak-anak. Anak pertama kami naik kelas V, adiknya di kelas III. Tiba-tiba pada rapat orang tua siswa, ada hal yang tidak biasa. Kami berkumpul di masjid mendengarkan ceramah dan keluhan pihak sekolah. Intinya kami harus memilih, tetap melanjutkan pendidikan di Nurul Kautsar atau ikut ke sekolah milik ketua yayasan kala itu.

Bukan sekadar ikut-ikutan, kami yakin pada waktu itu. Berada di jalan yang benar dalam memilih sekolah yang tepat untuk buah hati. Sekolah adalah tempat belajar kedua bagi anak-anak. Karenanya kami sangat yakin di tempat yang baru nantinya, anak kami akan di bina oleh para pendidik yang penyayang dan mampu mengajar dengan hati.

 

Ikut pindah ke Cobig, karena kami tertarik dengan kurikulumnya. “Mencetak penghafal Alquran dan penghafal hadits shahih salah satu taqline dari sekolah ini,” kurikulum yang mungkin saja tidak kutemukan lagi pada sekolah sebelumnya jika anak-anak kami tetap lanjut di sekolah itu.

Oh ya. selama menuntut ilmu di sekolah yang dirintis oleh ustadz Sufirman, anak-anak kami banyak berubah. Mereka yang tadinya belum bisa mengaji, sekarang sudah bisa. Mereka bahkan sudah menghafal beberapa hadits. Mereka banyak tahu apa yang kami tidak tahu.

Bukan hanya itu, si bungsu yang tadinya ngotot mau lanjut di sekolah negeri, dengan alasan banyak penjual makanan, pun berubah pikiran lanjut di Cobig. Sekolah yang dekat dengan SMA Negeri 8 ini, memberikan banyak perubahan bagi anak-anak.

Tahun ini, anak pertama kami sudah tamat. Sejak tahun lalu, kami sudah mencari sekolah lanjutan. Sekolah negeri atau MTS. Tetapi, dia maunya tetap di Cobig. Alasannya sederhana, banyak temannya yang lanjut di SMP Cobig.

Lagi dan lagi anak kami lanjut di SMPIT Cobig Islamic School. Lalu seperti apa pendidikan di sana ?

Dulu, kami sempat wawancara dengan ketua yayasan, ustaz Sufirman, pada hari Sabtu tanggal 25 Desember 2021. Di acara  penerimaan rapor. Dia pun dengan senang hati menjelaskan, bahwa Cobig terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Tentunya mengutamakan pendidikan aqidah, akhlak dan hafalan hadist.

Bahkan katanya, untuk memberikan kualitas terbaik, dia terus berusaha memperbaiki kualitas tenaga pengajarnya. Para guru diwajibkan mengikuti taklim sekali sepekan dan wajib belajar bahasa arab.

Wah, keren kan ?

Lanjut kata ustaz Sufirman, jika guru tidak belajar tauhid dan bahasa arab. Bagaimana mungkin mereka memberikan pendidikan pada anak didiknya. Wah sungguh luar biasa, bukan!

Kami juga sempat meminta komentar Kepala SDIT Cobig, Ustadz Syamsul Bahri. Kepada kami, dia mengatakan pendidikan akhlak dan adab itu, sangat penting diberikan pada anak usia dini.

Katanya, guru itu cerminan dari anak didiknya. Sehingga harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang islam, berpendidikan tinggi dan berperilaku baik.

Selain itu, menurut ustadz Syamsul, Cobig menerapkan sistem evaluasi pada guru, menanyakan kekurangan setiap pekan. Sebagai kepala sekolah, dia juga meminta tenaga pendidiknya untuk memantau siswa saat libur. Meskipun libur para ustadz dan ustazah tetap muraja’ah hafalan siswanya.

Jadi, tidak ada yang membuat saya ragu untuk menyekolahkan anak saya di Cobig. SDIT termurah di Makassar tapi tidak murahan.

Yuk yang lagi cari sekolah penghafal Alquran, dengan biaya terjangkau di Cobig Aja, recomended.

Continue Reading