Pagi hari, seperti biasa kami menciptakan drama lagi, sebuah drama pagi penuh cinta dalam kehidupan rumah tangga yang lengkap, ada kedua orang tua dan anak-anak yang sudah sekolah.
Ribut di pagi hari selalu jadi momen paling menegangkan di rumah kami. Detik jam terasa berdentang lebih cepat dari biasanya. Napas saya tidak beraturan, tekanan darah seperti menari-nari tak tentu arah.
Membangunkan anak-anak untuk berangkat sekolah, rasanya seperti sedang memindahkan batu dari lereng gunung, berat sekali. Si sulung, seperti biasa, dibangunkan lebih dulu. Harapanku sederhana agar ia jadi teladan bagi kedua adiknya. Nyatanya, ia baru bangun setelah dua adiknya selesai mandi.
Dan dua adiknya? Tentu punya drama masing-masing.
Si anak tengah bilang ingin mandi tapi menunggu rasa ingin BAB, artinya kamar mandi kosong sementara. Di rumah kami hanya memiliki satu kamar mandi dan itu semua akan menghadirkan cerita seru saat semuanya bersamaan ingin masuk. Akan terdengar perdebatan yang berakhir dengan rasa jengkel dan kesal sebab waktu ke sekolah akan terlambat. Sementara si bungsu, seperti ritual wajib setiap pagi ngambek dulu, entah karena baju yang salah, sendok yang miring, atau cuma karena “gak mood”.
Drama pagi kami di dalam rumah selalu penuh dengan keseruan yang tercipta begitu saja. Saya harus menyiapkan seragam, bekal, dan sarapan, hanya bisa menarik napas panjang. Lalu ke dapur sebentar, berharap ketika kembali ke kamar, semua sudah bergerak, tapi tidak.
Apa yang saya temukan? Anak-anak yang tadi sudah duduk malah kembali rebah, menyatu lagi dengan bantal. Amarah saya pun meledak.Teriakan saya menggema ke seluruh rumah mngkin juga sampai rumah tetangga. Keras, lantang, penuh kekesalan yang menumpuk.Tapi di tengah riuh ribut itu, saya tahu satu hal semua ini terjadi karena cinta, karena saya peduli, karena saya ingin mereka tumbuh. Karena saya tahu tanggung jawab ini besar, tapi saya memilih menjalaninya.Terkadang saya ingin menyerah pada akhirnya, saat mereka pamit sambil mencium tangan saya, hati ini luluh kembali.
Setelah urusan mandi dan memakai seragam sekolah selesai, ternyata drama belum juga usai. Anak pertama, anak kedua, dan keponakan kami yang juga sekolah di tempat yang sama sudah lebih dulu naik ke mobil. Mereka duduk manis meski dengan wajah sedikit manyun karena sudah sempat ribut tadi, menunggu dengan sabar atau tepatnya, pura-pura sabar.
Saya pikir semuanya sudah siap, tinggal berangkat. Tapi ternyata si bungsu masih sibuk mengatur rester pelajaran di dalam tasnya. Saya cek jam di dinding: 07.15 WITA. Duh, padahal perjalanan dari rumah ke sekolah butuh waktu satu jam. Anak-anak harus sudah masuk pukul 08.00 tepat.
“Kakak yang lain sudah nunggu di mobil,” saya ingatkan sambil menahan napas agar tak meledak. Tapi dia tetap tenang menyusun bukunya satu per satu, seolah waktu tak sedang mengejar kami. Satu sisi ingin marah, sisi lain ingin tertawa. Anak bungsu memang paling santai, paling kalem sekaligus paling bikin deg-degan.
Dalam perjalanan menuju sekolah, kami terkena macet parah. Panjang dan lama sekali, suasana di dalam mobil menjadi makin sesak. Anak-anak di belakang mulai gelisah. Ada yang mendesah, ada yang deg-degan.
Saya tetap tenang—meskipun sebenarnya dalam hati deg-degannya minta ampun. Mesin kendaraan tetap melaju perlahan, melewati deretan mobil berhenti. “Tidak ada alasan bagi anak-anak yang terlambat,” saya katakan singkat sambil tetap fokus menepi semampunya untuk menghindari tenaga listrik di rem.
Suasana jadi sunyi. Di sudut hati saya terbersit simpati, betapa beratnya tekanan pagi-pagi untuk anak-anak, tapi saya juga tahu, disiplin adalah bekal penting maka, saya terus maju. Setiap pagi kami selalu ribut, tetapi penuh dengan cinta.
Di dalam mobil, mulai terdengar keluhan-keluhan kecil. “Bunda, kayaknya sudah jam delapan.”
“Nanti kita dihukum, takut dimarahin ustazah dan ustadz,”
“Tidak usah ke sekolah saja, ya?”
Saya tarik napas panjang sambil menoleh sebentar ke kaca spion, melihat wajah-wajah cemas dan panik itu, tapi saya tahu, menyerah bukan pilihan yang ingin saya ajarkan.
Mobil tetap melaju, pelan tapi pasti, menembus lautan kendaraan dengan nada tegas namun tetap tenang, saya berkata,
“Tidak ada alasan bagi anak-anak yang terlambat.”
Sesederhana itu.
Bukan karena saya keras, tapi karena saya ingin mereka belajar bertanggung jawab, tahu arti waktu, tahu bahwa hidup tak selalu sesuai rencana, tapi bukan berarti kita mundur. Kita tetap maju, walau lambat, walau telat karena kadang yang penting bukan sampai jam berapa, tapi bahwa kita tetap memilih datang dan menyelesaikan.
Saat semua anak akhirnya turun di sekolah, meski langkah mereka sedikit tergesa, dan wajahnya masih cemas—saya hanya bisa menatap punggung-punggung kecil mereka yang semakin menjauh. Ada rasa lega karena akhirnya sampai juga, tapi juga rasa bersalah karena pagi mereka diwarnai tegang dan terburu-buru.
Dalam hati saya bertanya, “Apakah mereka bahagia?”
Kadang, sebagai orang tua, kita terlalu fokus pada keteraturan, disiplin, dan jadwal, sampai lupa bahwa anak-anak juga butuh ruang untuk salah, untuk telat, untuk belajar dari kekacauan kecil.
Hari itu, saya belajar satu hal pagi yang ribut bukan berarti rumah yang rusak. Keributan, air mata kecil bahkan protes dari anak-anak adalah tanda bahwa mereka sedang tumbuh bahwa mereka punya suara, mereka juga manusia kecil dengan rasa takut, rasa lelah, dan rasa ingin dimengerti.
Terkadang saya kehilangan kesabaran, saya tetap ingin menjadi rumah pertama yang selalu mereka ingat. Rumah yang kadang ribut, tapi tak pernah kehabisan cinta.
