Kisah kita dimulai bukan dengan kalimat puitis, tapi dengan suara ketikan komputer dan deadline yang selalu minta perhatian lebih dari kita.
Kala itu, aku dan kamu adalah dua orang jurnalis yang bekerja pada sebuah media cetak populer. Dunia kerja kita diwarnai kopi dingin, berita hangat dan editor yang hobi marah-marah. Perkenalan yang singkat di sebuah kantor yang berlokasi di Jl. H.Bau Makassar, tempat aku dan kamu mengais rezeki.
Tidak ada yang bisa menduga, dua orang yang sehari-hari meliput suka duka orang lain, akhirnya menulis bab-bab baru dalam kehidupannya sendiri. Tanggal 21 November 2009, tiga bulan setelah kita kenalan kita lanjutkan ke pelaminan.
Perjalanan rumah tangga yang kita bangun kini sudah 16 tahun, ada tiga orang anak yang dititipkan untuk kita jaga, dan besarkan serta kita didik sesuai kemampuan yang kita miliki. (Jangan didik mereka jadi wartawan, berat. Cukup kita saja).
Selama 16 tahun, kami belajar satu hal bahagia itu tidak selalu datang dari waktu luang, tapi dari niat untuk saling menjaga.
Pekerjaan kami sering kali menyita hampir seluruh tenaga dan waktu, nyaris tak memberi ruang untuk benar-benar beristirahat.
Namun entah bagaimana, kami selalu menemukan cara untuk menyisakan waktu untuk tertawa, untuk berbagi, dan untuk menciptakan kebahagiaan bersama anak-anak.
Dari pekerjaan yang gajinya mungkin terlihat receh di mata dunia, Allah justru menghadirkan keberkahan.
Dari situlah kita bisa menyekolahkan tiga buah hati kami di sekolah Islam, menanamkan nilai, adab, dan harapan untuk masa depan mereka.
Terima kasih ya Allah atas 16 tahun pernikahan kami. Kami bisa bertahan sejauh ini karena Engkau selalu ada dalam setiap langkah.
Aku akui, ini bukan waktu yang singkat, dan jalan yang kami lalui pun tidak mudah.
Namun sampai di titik ini, kami masih berdiribersama, saling menguatkan, dan terus belajar bersyukur.
