Di sebuah rumah kayu yang catnya mulai pudar dimakan waktu, aroma santan dan gula aren perlahan menguar dari dapur. Rumah itu milik nenek kami, tempat di mana kenangan, rasa, dan cinta selalu disajikan dalam bentuk paling hangat yakni bubur Syura.
Setiap 10 Muharram, kami anak cucu dan keponakan berbondong-bondong ke rumahnya. Tak peduli seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa lama tak berjumpa, bubur Syura selalu jadi alasan untuk bertemu (hahaha).
Kedatangan Saya, ibu dan sepupuku di sambut senyum dan tawa manis oleh tante-tante yang cantik. Anak dari nenekku, yang usianya jauh lebih muda dari aku dan sepupuku.
Entahlah, terkadang aku juga ingin berontak kenapa sih, kami yang lebih tua padahal mereka Tante kami. Sedikit lucu kedengarannya saat mereka memanggil kami kakak dan kami menyebutnya Tante.
Ini mungkin kesalahan nenek yang terlalu lama melahirkan anak-anaknya, atau salah ibu yang terlalu cepat melahirkan kami, Entahlah. Lupakan soal Tante yang usianya lebih muda. Kembali ke fokus utama bubur Asyura.

Di antara suara rebusan bubur dan tawa yang bersahutan, cerita demi cerita tumpah. Tangan kami sibuk menghias bubur dengan potongan labu kuning, aneka buah-buahan, kacang, bawang goreng dan telur warna-warni, tapi hati kami sibuk menata rindu yang selama ini disimpan diam-diam.
Rumah nenek memang sederhana, tapi di sanalah kami merasa paling kaya oleh kasih sayang, oleh tradisi, dan oleh suara tawa yang tak pernah usang.
Meski tangan ini tak langsung mencicipi bubur yang terhidang, karena kami sedang berpuasa sunnah 10 Muharram, tapi justru di sanalah letak kenikmatannya.
Kami menahan diri sambil menanti waktu berbuka, dengan menatap piring-piring bubur Asyura yang sudah tertata rapi.
Kami sungguh bahagia, tahun ini, di hari yang penuh keberkahan itu, kami masih diberi kesempatan melihat nenek tercinta, menyiapkan 100 piring bubur Asyura.
Lima puluh piring bubur putih, lima puluh piring bubur merah semuanya dibuat dengan tangannya sendiri, dibumbui cinta, dan disajikan dengan niat berbagi.
Padahal, usianya sudah menginjak kepala enam, tapi entah bagaimana, nenek tetap lebih kuat dari kami, para cucunya.
Ketangguhannya tak pernah lekang. Di balik tubuhnya yang mulai membungkuk, semangatnya tetap tegak dan dari tangannya, tradisi ini terus hidup, terus menghangatkan rumahnya setiap Muharram tiba.
Tradisi ini sudah berusia setengah abad
Konon kabarnya, nenek kami sudah memasak bubur ini selama lebih dari 50 tahun. Ternyata, ini bukan kebiasaan yang ia mulai sendiri. Neneknya dulu juga melakukannya, lalu mewariskannya kepada anak-anaknya. Kini, giliran kami generasi ketiga atau keempat yang ikut meramaikan. Bagi kami, tradisi ini bukan sekadar makanan, melainkan ikatan batin antar generasi.
Setelah bubur Asyura selesai dihias dan doa-doa dipanjatkan, rumah nenek belum juga sepi. Justru suasana makin riuh karena tibalah saatnya bagi-bagi bubur.
Sebagian kami antar ke tetangga nenek, sebagian lagi kami bungkus untuk dibawa pulang. Seperti biasa, nenek sudah menyiapkan semuanya dengan teliti, wadah-wadah plastik bersih, sendok-sendok kecil, bahkan plastik tambahan agar bubur tetap rapi dan tak tumpah.
Tapi, kami cucu-cucunya yang selalu tergesa-gesa tak sabar ingin segera membawa pulang rasa itu. Bubur kami tumpuk begitu saja dalam satu wadah, tak peduli hiasan buah yang sudah tertata manis sebelumnya.
Dan hasilnya? Bubur yang semula indah berubah jadi campuran warna-warni yang ajaib hiasannya kacau, bentuknya berantakan, tapi tawa kami pecah tak tertahankan.
Karena mungkin memang begitulah bubur Asyura di rumah nenek kami, bukan hanya soal rasa dan rupa, tapi tentang kenangan yang diciptakan di tengah kehebohan. Kami pulang dengan harapan tahun depan masih berkumpul di rumah nenek dengan jumlah yang sama belum berkurang atau berpindah alam.
Bagi Anda yang mempunyai cerita seru atau tradisi menyambut 10 Muharram bisa isi di kolom komentar.
