-
Bubur Asyura dan Suara Tawa di Rumah Nenek
Di sebuah rumah kayu yang catnya mulai pudar dimakan waktu, aroma santan dan gula aren perlahan menguar dari dapur. Rumah itu milik nenek kami, tempat di mana kenangan, rasa, dan cinta selalu disajikan dalam bentuk paling hangat yakni bubur Syura. Setiap 10 Muharram, kami anak cucu dan keponakan berbondong-bondong ke rumahnya. Tak peduli seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa lama tak berjumpa, bubur Syura selalu jadi alasan untuk bertemu (hahaha). Kedatangan Saya, ibu dan sepupuku di sambut senyum dan tawa manis oleh tante-tante yang cantik. Anak dari nenekku, yang usianya jauh lebih muda dari aku dan sepupuku. Entahlah, terkadang aku juga ingin berontak kenapa sih, kami yang lebih tua padahal…


