Anakku di Sunat, Aku yang Kesakitan

Pagi itu, udara rasanya berbeda. Sejak membuka mata, jantungku sudah berdebar lebih cepat dari biasanya bukan karena aku yang akan menjalani operasi, bukan pula karena mendengar kabar buruk, tapi karena hari itu adalah hari di mana kedua anak lelakiku akan di sunat.

Sebagian orang mungkin menganggap sunat itu biasa bahkan kadang dirayakan dengan penuh suka cita, tapi bagiku, ini lebih dari sekadar tradisi. Ini adalah langkah besar dalam perjalanan hidup anakku dan secara tak langsung, dalam perjalanan emosiku sebagai seorang ibu sebab mereka yang disunat, aku yang merasa sakit. Sakitnya bukan di tubuh, tapi di hati.

Perjalanan menuju hari ini, bukanlah sesuatu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun, diselingi diskusi panjang, rayuan, tangisan, bahkan perundingan keluarga yang berulang-ulang.

Kami sudah membicarakan soal sunat sejak Nawaf duduk di kelas tiga SD. Awalnya aku pikir, “Ah, nanti juga mau.” Tapi rupanya tidak semudah itu. Setiap kali kami mulai menyusun rencana, ia menolak takut, menangis bahkan dia menutup telinganya saat kami mulai membahasnya.

Tahun berikutnya pun begitu bahkan setelah teman-temannya satu per satu menjalani sunat, anakku tetap bergeming. Tak ada yang bisa memaksanya. Tak juga dengan bujukan, hadiah, atau cerita indah setelah sunat. Ia belum memang belum siap dan kami pun memutuskan untuk menunggu.

Daaaan, ketika diabmeminta di sunat usianya sudah 12 tahun, siap memasuki sekolah menengah pertama. “Ayah saya sudah siap di sunat”, katanya dengan nada senang.

Mendengarnya, gantian aku yang ketakutan, kubayangkan sakit yang dia rasakan, melebih rasa sakit gigi, atau mungkin tak kalah hebatnya dengan sakit hati.

Ku searching google, barangkali ada jalan lain selain sunat, tetapi keluarga malah menertawai.

Saya sangat panik mungkin karena tidak pernah piknik lagi (hehehe) karena sudah di suntik Nawaf terlihat mulai santai sambil memainkan handphone nya dan membiarkan dokter sunatnya bekerja dengan tenang.

Sementara Naufal, terlihat lebih tenang, kuat. Selama proses sunat berlangsung. Dia fokus berzikir, sesekali teriak mengucapkan kalimat “Lailaha Illallah,” suaranya sangat nyaring. Kami yang berada di luar ruangan kaget, dan berlari melihatnya. Dokter sunat senyum-senyum, dia bahkan terkagum-kagum.

Namun, setelah obat bius itu berpamitan pada Nawaf (hehehe). Dia mulai kesakitan, teriak sekencang-kencangnya. Nawaf bahkan berkali-kali berucap, “serasa mauma mati,”

Mengingatkan Ketika Mereka Bayi

Hari sunatnya anak-anak, hari libur kita berkegiatan. Tidak ada urusan kerjaan yang bisa menghalangi kita untuk tidak mendampingi mereka.

Kita seperti kembali ke masa-masa mereka bayi. Begadang. Mengompres, menyuapi, menenangkan.

Malam-malam panjang yang dulu kita lalui saat mereka demam di masa kecil, kini kita jalani lagi dengan ketabahan yang sama, tapi dengan rasa haru yang lebih besar.

Saat melihat mereka bisa tersenyum walau masih sedikit meringis, rasa sakitku tidak sia-sia. Aku tahu bahwa ini adalah bagian dari tumbuhnya mereka sebagai laki-laki dan bahagiaku sebagai seorang ibu.

Nah, buat para ibu yang sedang melalui masa sunat anak, entah anak pertama, kedua, atau kesekian, ku ucapkan peluk hangat. Kita memang bukan yang disunat, tapi sering kali kitalah yang lebih sakit.

Ketika semua telah selesai, saat anak kita tertawa kembali seperti biasa, saat ia bisa berlari-lari lagi tanpa takut, di sanalah kita tahu bahwa semua luka itu terbayar lunas oleh senyum kecilnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *