Ramadan dan Malasnya Anak-anak ke Sekolah

Ramadan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, waktu yang sangat singkat untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Pokoknya bulan bagi umat Islam menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh.

Tahun ini, pada Ramadan 2025 banyak perbedaan dari tahun sebelumnya, harus sih. Namanya juga pemimpin baru harus ada perubahan. Kalau tidak beda, tidak ada perubahan dong. Terkait libur sekolah. Masya Allah pemerintah memberikan banyak libur untuk anak-anak sekolah agar anak-anak bisa fokus melaksanakan ibadah.

Sekolah mulai libur satu Minggu pada awal puasa, sebelumnya anak-anak ujian selama satu Minggu kemudian masuk sekolah satu minggu. Memasuki bulan Ramadan, sekolah diliburkan awal puasa selama sepekan.

Nah, setelah sepekan libur harusnya anak-anak kembali sekolah selama satu Minggu. Khusus di sekolah anak-anak saya yang biasanya pulang sore. Sekolahnya hanya setengah hari, mereka pulang pukul 10.15 WITA, tapi justru sekolah setengah hari itulah yang membuat saya lelah. Meskipun pulangnya cepat, ketiga anak-anakku yang cantik dan gagah perkasa ini (menurut saya) jadi malas-malasan ke sekolah. Mereka sudah merasa nyaman menikmati libur.

Tidur setelah salat subuh dan bangunnya menjelang salat duhur, entahlah susah sekali membangunkan mereka, diwarnai perdebatan kadang membuat saya malas. “Tidak papa Bund, hari ini saja besok ke saya sudah ke sekolah. Lagian di sekolah juga tidak belajar ” katanya dengan nada mengeluh.

Keesokan harinya dengan alasan yang sama, mengantuklah, capeklah karena puasa dan berbagai alasan yang membuat saya luluh begitu saja. Entahlah mungkin karena saya juga merasa lelah seharian, mengurus dagangan dan harus menjemput lagi pukul 10.00 kemudian mengantar ke rumah. Sampai rumah kembali lagi ke sekolah menjemput anak perempuanku yang duduk di bangku SMP, dia pulangnya pukul 12.000 WITA.

Aku berpikir masuk akal juga sih, jika selama seminggu aktivitasku seperti itu, banyak tenaga, waktu dan bensin yang terkuras (hehehe). Akhirnya aku setuju jika mereka tidak usah ke sekolah, seandainya mereka pulang pukul 12.00 bersamaan dengan kakaknya, bisa satu kali menjemput dan daganganku pun bisa diurus dengan baik.

Dan ini, kesalahan besar yang telah saya lakukan. Sebenarnya tidak boleh memberikan dukungan pada anak-anak untuk malas ke sekolah. Apalagi setelah seminggu sekolah, mereka libur lebaran lagi selama dua pekan. Tetapi, disisi lain banyak pekerjaan juga yang harus saya selesaikan dan membutuhkan banyak waktu.

Saya melihat anak-anak tidak ke sekolah, tetapi mereka tetap memanfaatkan momen Ramadan untuk belajar di rumah, morajaah, dan mengaji. Salat lima waktunya pun tetap terjaga, puasanya Alhamdulillah sehari full. Didikan dari sekolah oleh para ustadz membuat sikap anak kami lebih baik. Mereka sangat patuh dan disiplin terhadap apa yang diajarkan oleh ustadz nya di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *