Buka Puasa Bersama Keluarga, Momen Sederhana Penuh Makna

Ramadan selalu membawa suasana berbeda, bulan yang spesial, penuh berkah dan memiliki makna yang dalam.

Kita tidak hanya menahan lapar, tapi juga menahan dahaga. Selain itu, ada momen yang indah yang sering dinanti banyak orang yakni saat berbuka puasa bareng keluarga.

Berkumpul bersama dan menikmati makanan yang sederhana, tapi semuanya terasa sangat istimewa.

Menjelang magrib, dapur sudah mulai ramai, aroma masakan memenuhi ruangan dalam rumah. Setiap hari kegiatan selama sebulan seperti itu.

Namun, hari ini. Kita memilih suasana baru, berbuka puasa bersama keluarga dalam suasana yang berbeda. Seperti halnya keluarga yang lain, kita mencari restoran kecil yang cukup menampung keluarga besar kita (hehehe).

Sekadar menciptakan kenangan, agar kelak di Ramadan berikutnya kita bisa tersenyum mengingat bahwa kita pernah duduk bersama, menikmati hangatnya kebersamaan sambil mencicipi Ayam Kremes Haji Slamet.

Momen seperti ini sering kali menjadi waktu terbaik untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing, Ramadan seakan mengingatkan bahwa kebersamaan adalah hal yang sangat berharga.

Duduk bersama, berbagi makanan, dan mendengarkan cerita satu sama lain menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Bagi sebagian orang, momen buka puasa bersama keluarga juga menghadirkan rasa haru. Terlebih jika mengingat bahwa tidak semua kebersamaan bisa berlangsung selamanya.

Ada saatnya seseorang harus menjalani Ramadan tanpa sosok yang dulu selalu ada di meja makan. Karena itulah, setiap momen kebersamaan yang masih bisa dirasakan seharusnya disyukuri sepenuh hati.

Seperti tahun lalu, kami kembali menikmati momen buka puasa bersama dengan kehadiran anggota baru. Seorang teman bernama Fitri, yang turut berjalan bersama dalam usaha yang kami rintis.

Fitri bukan sekadar teman. Kehadirannya perlahan terasa seperti keluarga, ia membawa warna baru, kehangatan, dan cerita yang melengkapi kebersamaan kami.

Ramadan tahun ini terasa sedikit berbeda. Kami kedatangan tamu dari Bitung, seorang mahasiswi Politeknik Kelautan dan Perikanan kota Bitung, namanya Marsya.

Ia tengah menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kota Makassar, selama enam bulan, dan untuk sementara waktu, rumah kami menjadi tempatnya pulang, ia bukan lagi sekadar tamu, melainkan menjadi bagian dari keluarga. Hari-hari di Makassar kami lalui bersama, penuh cerita, ada tawa, ada lelah, ada juga momen-momen sederhana yang terasa hangat.

Meski kami berbeda keyakinan, hal itu tak pernah menjadi jarak. Justru sebaliknya, kami belajar saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Marsya pun sering ikut membantu menyiapkan menu berbuka, menghadirkan kebersamaan yang terasa tulus dan apa adanya.

Dari Ramadan ini, kami belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tetapi tentang siapa yang hadir, bertahan, dan ikut mengisi hari-hari dengan ketulusan.

Pada akhirnya, buka puasa bersama keluarga bukan hanya menjadi rutinitas selama Ramadan, tetapi juga menjadi kenangan indah yang akan selalu tersimpan dalam hati.

Kenangan tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang membuat Ramadan terasa begitu istimewa.

Sampai jumpa di Ramadan berikutnya, semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali.

Continue Reading

Ramadan dan Malasnya Anak-anak ke Sekolah

Ramadan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, waktu yang sangat singkat untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Pokoknya bulan bagi umat Islam menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh.

Tahun ini, pada Ramadan 2025 banyak perbedaan dari tahun sebelumnya, harus sih. Namanya juga pemimpin baru harus ada perubahan. Kalau tidak beda, tidak ada perubahan dong. Terkait libur sekolah. Masya Allah pemerintah memberikan banyak libur untuk anak-anak sekolah agar anak-anak bisa fokus melaksanakan ibadah.

Sekolah mulai libur satu Minggu pada awal puasa, sebelumnya anak-anak ujian selama satu Minggu kemudian masuk sekolah satu minggu. Memasuki bulan Ramadan, sekolah diliburkan awal puasa selama sepekan.

Nah, setelah sepekan libur harusnya anak-anak kembali sekolah selama satu Minggu. Khusus di sekolah anak-anak saya yang biasanya pulang sore. Sekolahnya hanya setengah hari, mereka pulang pukul 10.15 WITA, tapi justru sekolah setengah hari itulah yang membuat saya lelah. Meskipun pulangnya cepat, ketiga anak-anakku yang cantik dan gagah perkasa ini (menurut saya) jadi malas-malasan ke sekolah. Mereka sudah merasa nyaman menikmati libur.

Tidur setelah salat subuh dan bangunnya menjelang salat duhur, entahlah susah sekali membangunkan mereka, diwarnai perdebatan kadang membuat saya malas. “Tidak papa Bund, hari ini saja besok ke saya sudah ke sekolah. Lagian di sekolah juga tidak belajar ” katanya dengan nada mengeluh.

Keesokan harinya dengan alasan yang sama, mengantuklah, capeklah karena puasa dan berbagai alasan yang membuat saya luluh begitu saja. Entahlah mungkin karena saya juga merasa lelah seharian, mengurus dagangan dan harus menjemput lagi pukul 10.00 kemudian mengantar ke rumah. Sampai rumah kembali lagi ke sekolah menjemput anak perempuanku yang duduk di bangku SMP, dia pulangnya pukul 12.000 WITA.

Aku berpikir masuk akal juga sih, jika selama seminggu aktivitasku seperti itu, banyak tenaga, waktu dan bensin yang terkuras (hehehe). Akhirnya aku setuju jika mereka tidak usah ke sekolah, seandainya mereka pulang pukul 12.00 bersamaan dengan kakaknya, bisa satu kali menjemput dan daganganku pun bisa diurus dengan baik.

Dan ini, kesalahan besar yang telah saya lakukan. Sebenarnya tidak boleh memberikan dukungan pada anak-anak untuk malas ke sekolah. Apalagi setelah seminggu sekolah, mereka libur lebaran lagi selama dua pekan. Tetapi, disisi lain banyak pekerjaan juga yang harus saya selesaikan dan membutuhkan banyak waktu.

Saya melihat anak-anak tidak ke sekolah, tetapi mereka tetap memanfaatkan momen Ramadan untuk belajar di rumah, morajaah, dan mengaji. Salat lima waktunya pun tetap terjaga, puasanya Alhamdulillah sehari full. Didikan dari sekolah oleh para ustadz membuat sikap anak kami lebih baik. Mereka sangat patuh dan disiplin terhadap apa yang diajarkan oleh ustadz nya di sekolah.

Continue Reading