Dari tahun ke tahun selama Ramadan, jalangkote merupakan penganan populer saat berbuka puasa. Kue yang berbahan dasar terigu dengan isian sayuran dan bihun ini, selalu saja menjadi incaran masyarakat yang sedang berpuasa. Tidak heran, hampir semua pedagang takjil ditepi jalan menjual jalangkote dan selalu saja laris manis. Jalangkote rasanya gurih, asin dan kriuk menjadi menu primadona apalagi dipadukan dengan saus lombok yang rasanya pedis, asam dan manis.
Isian jalangkote bermacam macam, ada yang menggunakan bihun, mie, dan sayuran tergantung yang membuatnya. Jalangkote isian sayuran dan bihun yang paling sering kita jumpai di zaman sekarang ini. Tetapi, dulu ada jalangkote yang isinya mie, sekarang kebanyakan orang menyebutnya jalangkote jadul. Jalangkote ini, ada sejak saya masih SD dan dulu sangat digemari banyak orang, isiannya tidak banyak hanya mie dan ubi jalar yang sudah diberi rempah. Dulu harga jalangkote jadul Rp1000 per biji, sekarang dijualnya Rp5000 empat. Tetapi, jalangkote jadul ini, cukup langka tidak banyak kita jumpai.
Terkait jalangkote jadul ini, saya mau bercerita sedikit tentang anak anak kedua kami, namanya Nawaf. Tidak banyak jenis kue yang dia suka, bisa dihitung jari kue favoritnya. Nawaf sangat suka dengan jalangkote jadul dan lapis legit.
Sejak awal puasa kami membeli jalangkote untuk menu berbuka, yang dicari hanya jalangkote jadul. Saya sempat keliling beberapa penjual takjil tetapi tidak menemukan jalangkote yang isiannya hanya mie dan ubi jalar. Saya sendiri sudah putus asa dan menganggap jalangkote jadul sudah tidak dijual di zaman moderen ini (hehehe). Tetapi, Nawaf masih tetap berharap ada jalangkote jadul di atas meja.
Suatu hari saya melintas di depan Indomaret Jl.Talasalapang, disana banyak berjejer etalase yang isinya takjil beraneka macam. Saya melihat banyak jalangkote tertata dalam etalase, namun tempatnya terpisah-pisah. Tiba-tiba teringat Nawaf, anak kedua kami yang sangat menginginkan jalangkote jadul hampir tiap hari dia mengungkapkan keinginannya seperti sedang mengidam.
Ketika saya bertanya ke pedagang kue, “Bu, diantara jalangkote yang ibu jual, adakah yang isiannya mie dan ubi jalar,” sang penjual dengan sikap menjawab “Iya, ada,” mendengarnya saya pun tidak bisa mengungkapkan rasa senangku. Bukan saya yang mau jalangkote jadul tetapi, saya yang merasa senang menemukan jalangkote dan senang bisa menghadiahkan untuk Nawaf.
Setelah mendapat jalangkote jadul, tiap hari Nawaf buka puasa dengan jalangkote jadulnya dan tidak pernah merasa bosan. menemukan jalangkote jadul seperti sedang mendapatkan harta berlimpah,terlihat sangat bahagia sekali. Selain jalangkote jadul, bocah yang sebentar lagi menginjak remaja ini, pun mempatenkan ikan asap suir-suir sebagai lauk pendamping nasi saat berbuka dan ketika sahur. Selera Nawaf memang sedikit aneh, tidak suka makan buah, tidak suka ikan, tidak suka sayur. Tetapi, saat ketemu ikan asap susir-suir lupa berhenti makan.
Oh, iya, ikan asap kesukaan Nawaf, dari kabupaten Bone, jenis ikan tuna besar, diiris-iris kecil. Kemudian kami olah manjadi ikan suir-suir, dengan memberikan rempah-rempah dan bumbu penyedap, enak dan lezat menambah selera makan.
