Latto-latto mainan yang pernah ada di era 1960 an, namun tidak se populer saat ini. Pada zaman itu, mungkin latto-latto juga sempat membuat masyarakat khususnya anak-anak ketagihan. Tetapi, tidak mempengaruhi harga di pasaran. Sebab pada saat itu masyarakat belum tersentuh teknologi. Sehingga latto-latto terdengar biasa-biasa saja.
Akhir tahun 2022, permainan tradisional ini, kembali booming dikalangan anak-anak, merambah remaja, dewasa hingga orang tua. Uniknya cara bermain, menghadirkan rasa penasaran pada sebagian anak di Indonesia. Mereka bahkan mengoleksi dengan membeli hingga tiga buah dengan berbagai varian warna. Suara khas yang ditimbulkan dua benda bulat terbuat dari bahan plastik polimer yang diikat dengan tali, juga menarik perhatian sejumlah publik figur bahkan pejabat pemerintahan. Cara bermain latto-latto pun mulai viral di sejumlah media sosial, bahkan di YouTube sudah ada video bermacam varian gaya memainkan permainan tersebut. Tidak heran, harga latto-latto pun meningkat yang tadinya hanya Rp5000 per pcs nya untuk yang ukuran biasa kemudian dijual dengan harga Rp10.000, hingga Rp15.000.

Viralnya latto-latto membuat para pengrajin berusaha menghadirkan latto-latto digital yang memiliki pegangan dari bahan plastik. Harganya lebih mahal Rp25.000 rupiah per pcs. Tetapi, untuk ketahanannya lebih menguntungkan yang model biasa. Selain digital, ada juga yang membuat dengan model lebih besar, harganya pun sama Rp25.000.
Meskipun harganya mahal, tidak mengurungkan niat anak-anak untuk memilikinya, bukan hanya di kalangan anak-anak permainan latto-latto pun digandrungi orang tua bahkan dijadikan selingan untuk menghibur usai bekerja seharian. Sejak ramai di media sosial, banyak masyarakat yang tertarik membuat pertandingan latto-latto.
Dalam perlombaan tersebut yang dinilai, yakni lama memainkan, variasi gaya saat bermain latto-latto hingga irama yang ditimbulkan saat memainkannya. Latto-latto juga menarik perhatian sejumlah selebriti, dan pejabat di lingkup pemerintahan. Jika dilihat sekilas memainkan benda tersebut terlihat sangat mudah, tapi saat mulai memainkan ternyata mampu menguras pikiran. Sebab jika salah dalam bermain akibatnya akan melukai diri sendiri.

Lalu, bagaimana awal munculnya Latto-latto?
Dihimpun dari berbagai cerita di sejumlah media. Latto-latto berasal dari bahasa Bugis, di pulau Jawa mainan itu disebut Etek-etek Sedangkan di kota Makassar, dikenal dengan nama Ketto-ketto. Lalu, Latto-latto berasal dari bahasa Bugis, bahasa inilah yang melekat. Konon kabarnya dulu sekira tahun 1970 an, latto-latto populer juga di Amerika hanya bahannya dari kaca. Seperti dilansir dari iNewspemalang.id, di Amerika permainan ini, disebut Clankers. Peredarannya tidak lama sebab sempat ditegur oleh sejumlah komunitas dan pihak sekolah. Sebab Clankers sempat menelan korban dari serpihan kacanya.
Di Indonesia, permainan Latto-latto masih terbilang aman. Kalau pun ada anak yang terluka hanya luka ringan saat bermain. Ketika mereka salah memainkan dan kedua benda memukul tangannya. Latto-latto sempat membuat luka lebam di tangan pada beberapa anak-anak, diawal bermain. Setelah mereka menguasai tidak akan terluka lagi.
