Tersirat Kebahagiaan di Wajah Anak-Anak Saat Bermain Tepuk Stik Es Krim

Permainan menepuk stik es krim sungguh membuat anak-anak di zaman sekarang ini, begitu bahagia saat memainkannya. Ada kepuasan tersendiri yang mereka perlihatkan apalagi ketika menang, dan berhasil mengumpulkan stik dari lawannya.

Menepuk stik mungkin sudah sering di jumpai beberapa tahun terakhir ini, bahkan sebelum latto-latto viral. Anak-anak banyak yang mengumpulkan stik dan memodifikasi bentuknya. Ada yang berbentuk seperti ikan, pedang, kuda bahkan ada yang menghiasnya dengan aneka macam warna. Sehingga stik tersebut terlihat indah.

Permainan kekinian ini, tidak hanya dimainkan oleh anak-anak usia SD, bahkan usia remaja pun banyak yang ikut bermain.

Di hari libur, anak-anak sering berkumpul di rumah anak saya dan beberapa sepupunya. Ya, kalau lagi ngumpul main game di handphone dihentikan. Dia mengambil plastik berwarna ungu yang berisi banyak stik. Mereka keluarkan lalu bermain bersama.

Tepukan tangan di lantai terdengar bergema sampai stik berpindah ke arah stik yang satunya. Saat kayu tipis itu lompat ke atas kayu lainnya, ada teriakan bahagia disertai tepuk tangan. Tandanya si anak yang mendapat giliran bermain itu, menang dan bisa mengambil stik milik lawannya. Itu cerita dari anak saya entah permainan yang sesungguhnya seperti apa saya tidak tahu persis.

Karena menurut saya unik maka menonton anak bermain tepuk stik es krim cukup membuat saya sedikit terhibur, apalagi di tengah cuaca yang panas.
Hampir seluruh daerah di Indonesia anak-anak usia 8 tahun dan usia remaja memainkan permainan ini, bahkan disebut sebagai permainan tradisional. Namun, belum ada artikel yang menyebut tahun berapa permainan ini ada dan siapa yang pertama mencetuskannya.

Permainan murah dan sederhana ini, sungguh mendorong anak untuk berkreasi dan kreatif dalam memainkan benda yang berbahan dasar kayu.

Begini cara memainkannya..

Dari hasil pantau-pantau anak bermain stik es krim, dua anak atau empat orang duduk berhadapan membentuk lingkaran. Stik es krim diletakkan di depan masing-masing anak yang bermain.

Untuk memulainya, biasanya mereka menyepakati bersama siapa yang lebih dulu bermain. Anak yang mendapat giliran pertama main, meletakkan kedua telapak tangannya tepat di dekat stik. Kemudian menepuknya dengan sedikit keras hingga stik tersebut bergeser ke arah stik yang dia tuju.

Jika dalam sekali menepuk, stiknya bisa bergeser ke atas stik lawan, maka anak tersebut berhasil memenangkan permainan dan stik milik lawannya.

Sangat cocok dimainkan saat anak-anak libur, atau di waktu senggang. Bermain setengah hingga satu jam sampai mereka puas. Namun, biasanya anak-anak hanya bermain sampai 10 atau 20 menit saja, lalu beralih ke permainan lain.

Continue Reading

Latto-latto, Mainan Tradisional Primadona Anak-anak

Latto-latto mainan yang pernah ada di era 1960 an, namun tidak se populer saat ini. Pada zaman itu, mungkin latto-latto juga sempat membuat masyarakat khususnya anak-anak ketagihan. Tetapi, tidak mempengaruhi harga di pasaran. Sebab pada saat itu masyarakat belum tersentuh teknologi. Sehingga latto-latto terdengar biasa-biasa saja.

Akhir tahun 2022, permainan tradisional ini, kembali booming dikalangan anak-anak, merambah remaja, dewasa hingga orang tua. Uniknya cara bermain, menghadirkan rasa penasaran pada sebagian anak di Indonesia. Mereka bahkan mengoleksi dengan membeli hingga tiga buah dengan berbagai varian warna. Suara khas yang ditimbulkan dua benda bulat terbuat dari bahan plastik polimer yang diikat dengan tali, juga menarik perhatian sejumlah publik figur bahkan pejabat pemerintahan. Cara bermain latto-latto pun mulai viral di sejumlah media sosial, bahkan di YouTube sudah ada video bermacam varian gaya memainkan permainan tersebut. Tidak heran, harga latto-latto pun meningkat yang tadinya hanya Rp5000 per pcs nya untuk yang ukuran biasa kemudian dijual dengan harga Rp10.000, hingga Rp15.000.

Viralnya latto-latto membuat para pengrajin berusaha menghadirkan latto-latto digital yang memiliki pegangan dari bahan plastik. Harganya lebih mahal Rp25.000 rupiah per pcs. Tetapi, untuk ketahanannya lebih menguntungkan yang model biasa. Selain digital, ada juga yang membuat dengan model lebih besar, harganya pun sama Rp25.000.

Meskipun harganya mahal, tidak mengurungkan niat anak-anak untuk memilikinya, bukan hanya di kalangan anak-anak permainan latto-latto pun digandrungi orang tua bahkan dijadikan selingan untuk menghibur usai bekerja seharian. Sejak ramai di media sosial, banyak masyarakat yang tertarik membuat pertandingan latto-latto.

Dalam perlombaan tersebut yang dinilai, yakni lama memainkan, variasi gaya saat bermain latto-latto hingga irama yang ditimbulkan saat memainkannya. Latto-latto juga menarik perhatian sejumlah selebriti, dan pejabat di lingkup pemerintahan.  Jika dilihat sekilas memainkan benda tersebut terlihat sangat mudah, tapi saat mulai memainkan ternyata mampu menguras pikiran. Sebab jika salah dalam bermain akibatnya akan melukai diri sendiri.

 

 

Lalu, bagaimana awal munculnya Latto-latto? 

Dihimpun dari berbagai cerita di sejumlah media. Latto-latto berasal dari bahasa Bugis, di pulau Jawa mainan itu disebut Etek-etek Sedangkan di kota Makassar, dikenal dengan nama Ketto-ketto. Lalu, Latto-latto berasal dari bahasa Bugis, bahasa inilah yang melekat. Konon kabarnya dulu sekira tahun 1970 an, latto-latto populer juga di Amerika hanya bahannya dari kaca. Seperti dilansir dari iNewspemalang.id, di Amerika permainan ini, disebut Clankers. Peredarannya tidak lama sebab sempat ditegur oleh sejumlah komunitas dan pihak sekolah. Sebab Clankers sempat menelan korban dari serpihan kacanya.

Di Indonesia, permainan Latto-latto masih terbilang aman. Kalau pun ada anak yang terluka hanya luka ringan saat bermain. Ketika mereka salah memainkan dan kedua benda memukul tangannya. Latto-latto sempat membuat luka lebam di tangan pada beberapa anak-anak, diawal bermain. Setelah mereka menguasai tidak akan terluka lagi.

Continue Reading