Tentang Kehilangan, Rasanya Sesakit Itu!

Bercerita tentang kehilangan, selalu ada sedih menyertainya. Perasaan tidak menyenangkan tiba-tiba berkecamuk dalam diri. Mengobok-obok jiwa hingga menimbulkan rasa sakit.

Lalu, aku berhadapan dengan rasa sakit di pertengahan tahun 2018. Rasa sakit yang menimbulkan pedih dan perih. Untuk pertama kalinya, air mata mengalir sederas air sungai disertai perasaan tidak nyaman. Kepala sakit, seluruh tubuh menggigil. Aku teriak di ruang ICU, salah satu rumah sakit swasta ternama di kotaku. Rumah sakit yang akhirnya membuatku trauma menginjakkan kaki di sana.

Teriakan tidak tega dan tidak rela dari mulutku sontak membuat para perawat kaget, aku masih bisa melihat mereka yang saat itu mengenakan seragam biru serentak berdiri menghampiri tempat tidur. Tempat tidur yang di atasnya terbaring lelaki idamanku. Dia tidak sadarkan diri setelah menjalani operasi pengangkatan tumor.

Lelaki yang biasanya banyak bicara, cerewet dan hobi makan konro diam seribu kata. Aku melihat Tali impus di tangan kirinya, oksigen di hidungnya, alat pendeteksi jantung dan masih banyak tali-tali lain yang terpasang di tubuhnya yang aku tidak paham.

Saat itu, aku hanya mau semua alat yang terpasang di tubuh yang kekar bisa membangunkannya dan menyuruhku membuat kopi hitam, minuman favorit yang sangat sulit dia hindari bahkan menjelang kepergiannya.

Dia seorang ayah yang peduli terhadap keenam anaknya.  Selama 38 tahun hidup se rumah, dia mengikuti perjalanan hidupku dari kecil hingga menikah. Seorang ayah yang begitu bahagia saat ku perkenalkan calon menantu padanya, responnya sangat baik dan memberikan dukungan penuh. Sehingga aku merasa nyaman dan aman menjalani kehidupan rumah tangga.

Juni 2018, tiba-tiba dia meninggalkanku untuk selamanya. Tepat di tanggal tanggal 26 Juni pukul 01.00 dini hari. Dia menghembuskan nafas terakhir, setelah menjalani operasi kedua.

Operasi kedua yang selalu membuat mataku berair mengingatnya. Ya, tidak ada operasi kedua, jika saya tidak menandatangani kertas putih yang berisi persetujuan keluarga. Saya menolak, tanganku berat membubuhkan tandatangan di kertas itu. Namun, semua keluarga yang ada di sana memintaku dan membesarkan hatiku. Mereka ingin, laki-laki yang selalu menjadi pelindungku itu, bisa sembuh dan kembali berkumpul bersama kami.

Karena tandatanganku, dia menjalani operasi kedua dan meninggalkan kami untuk selamanya. Ada penyesalan yang kurasakan jika mengingat itu.

Saya tidak percaya bahkan waktu itu, saya merasa ayah yang super baik ini hanya pingsan dan sebentar akan sadar lagi. Lalu memanggil Naufal, bocah berusia dua tahun yang selalu dia bawa jalan, dan setia menemaninya bermain. Ternyata hanya hayalanku saja.

Dia pergi lama bahkan tidak akan pernah kembali, sempat ada rasa tidak ikhlas yang berubah menjadi rasa rindu setiap kali mengingatnya. Ternyata kehilangan orang tersayang rasanya sesakit itu ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *