Naufal, si Bungsu yang Tumbuh Bersama Doa dan Harapan

16 Maret 2016 – 16 Maret 2026. Tanggal yang sama, bulan yang sama 10 tahun yang lalu, saat itu, saya di antar Ibu, bapak ke rumah sakit untuk menjalani operasi Caesar.

Bapak dan Ibu menemaniku di ruang Instalasi Gawat Darirat (IGD) hingga masuk ke ruang operasi Rumah Sakit Siti Halijah, Jl. kartini Makassar. Rumah sakit yang sama saat ibu melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain.

Saat itu, saya tengah menanti dengan perasaan yang bercampur antara harap dan cemas. Dokter mengatakan bayi yang akan lahir diperkirakan memiliki berat sekitar 3,8 kilogram.

Bayi itu, bernama Naufal Said Al Fatih. Anak ketiga kami, sekaligus si bungsu yang melengkapi cerita kecil dalam rumah kami.

Sejak hari pertama hadir di dunia, Naufal sudah membawa warna tersendiri. Sebagai anak bungsu, tentu saja ia tumbuh dengan sedikit manja.

Ia sering ingin dipeluk lebih lama, ingin ditemani lebih dekat, dan selalu mencari kehangatan dari orang-orang yang ia cintai.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Manjanya Naufal bukan sekadar ingin dimanja, tetapi juga tanda betapa hangatnya hatinya.

Hari demi hari berlalu, Naufal tumbuh bersama waktu. Tawa kecilnya sering memenuhi rumah, langkah-langkah kecilnya menjadi bagian dari cerita yang tak tergantikan. Kadang ia membuat kami tersenyum, kadang juga membuat kami terharu dengan kepolosannya.

Memasuki usia sekolah, kami mulai mempercayakan pendidikannya pada sekolah yang juga mengajarkan nilai-nilai agama.

Naufal pertama kali bersekolah di TK Islam Al Ikhlas. Di sanalah ia mulai mengenal huruf-huruf, belajar bersosialisasi, dan perlahan memahami arti disiplin serta tanggung jawab.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SDIT Cobig Islamic School. Di sekolah inilah Naufal semakin banyak menimba ilmu agama.

Ia belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang bagaimana menjadi anak yang baik, menghormati orang tua, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kami sering merasa terharu terhadap sikapnya terhadap apa yang diajarkan oleh para ustadz di sekolah.

Naufal termasuk anak yang sangat patuh pada nasihat guru. Apa yang disampaikan oleh ustadznya seolah tertanam kuat di hatinya.

Setelah pulang sekolah, Naufal sering mengulang kembali pelajaran yang ia dapatkan dengan caranya sendiri, ia mencoba mengingat dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan.

Hal-hal sederhana seperti itu membuat kami diam-diam merasa bangga dan bersyukur.

Di balik sifat manjanya, ternyata Naufal memiliki hati yang lembut dan keinginan untuk belajar menjadi lebih baik.

Kami sadar, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Namun melihat langkah kecilnya hari ini sudah cukup membuat hati kami penuh harapan.

Setiap kali kami bertemu tanggal 16 Maret, tanggal ananda, seakan kami diajak untuk mengenang perjalanan hidupnya.

Dari bayi mungil yang selalu kami gendong dengan penuh kehati- hatian, hingga Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, manja, tetapi memiliki hati yang sangat baik.

Selamat bertemu tanggal lahir kesayangan, doa kami selalu sama. Semoga kamu selalu dijaga Allah SWT.

Semoga hatimu senatiasa dekat kebaikan.
Dan semoga kelak, ketika kamu tumbuh besar, kamu tetap menjadi anak yang sederhana, patuh, dan penuh kasih seperti hari ini.

Continue Reading

Buka Puasa Bersama Keluarga, Momen Sederhana Penuh Makna

Ramadan selalu membawa suasana berbeda, bulan yang spesial, penuh berkah dan memiliki makna yang dalam.

Kita tidak hanya menahan lapar, tapi juga menahan dahaga. Selain itu, ada momen yang indah yang sering dinanti banyak orang yakni saat berbuka puasa bareng keluarga.

Berkumpul bersama dan menikmati makanan yang sederhana, tapi semuanya terasa sangat istimewa.

Menjelang magrib, dapur sudah mulai ramai, aroma masakan memenuhi ruangan dalam rumah. Setiap hari kegiatan selama sebulan seperti itu.

Namun, hari ini. Kita memilih suasana baru, berbuka puasa bersama keluarga dalam suasana yang berbeda. Seperti halnya keluarga yang lain, kita mencari restoran kecil yang cukup menampung keluarga besar kita (hehehe).

Sekadar menciptakan kenangan, agar kelak di Ramadan berikutnya kita bisa tersenyum mengingat bahwa kita pernah duduk bersama, menikmati hangatnya kebersamaan sambil mencicipi Ayam Kremes Haji Slamet.

Momen seperti ini sering kali menjadi waktu terbaik untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing, Ramadan seakan mengingatkan bahwa kebersamaan adalah hal yang sangat berharga.

Duduk bersama, berbagi makanan, dan mendengarkan cerita satu sama lain menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Bagi sebagian orang, momen buka puasa bersama keluarga juga menghadirkan rasa haru. Terlebih jika mengingat bahwa tidak semua kebersamaan bisa berlangsung selamanya.

Ada saatnya seseorang harus menjalani Ramadan tanpa sosok yang dulu selalu ada di meja makan. Karena itulah, setiap momen kebersamaan yang masih bisa dirasakan seharusnya disyukuri sepenuh hati.

Seperti tahun lalu, kami kembali menikmati momen buka puasa bersama dengan kehadiran anggota baru. Seorang teman bernama Fitri, yang turut berjalan bersama dalam usaha yang kami rintis.

Fitri bukan sekadar teman. Kehadirannya perlahan terasa seperti keluarga, ia membawa warna baru, kehangatan, dan cerita yang melengkapi kebersamaan kami.

Ramadan tahun ini terasa sedikit berbeda. Kami kedatangan tamu dari Bitung, seorang mahasiswi Politeknik Kelautan dan Perikanan kota Bitung, namanya Marsya.

Ia tengah menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kota Makassar, selama enam bulan, dan untuk sementara waktu, rumah kami menjadi tempatnya pulang, ia bukan lagi sekadar tamu, melainkan menjadi bagian dari keluarga. Hari-hari di Makassar kami lalui bersama, penuh cerita, ada tawa, ada lelah, ada juga momen-momen sederhana yang terasa hangat.

Meski kami berbeda keyakinan, hal itu tak pernah menjadi jarak. Justru sebaliknya, kami belajar saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Marsya pun sering ikut membantu menyiapkan menu berbuka, menghadirkan kebersamaan yang terasa tulus dan apa adanya.

Dari Ramadan ini, kami belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tetapi tentang siapa yang hadir, bertahan, dan ikut mengisi hari-hari dengan ketulusan.

Pada akhirnya, buka puasa bersama keluarga bukan hanya menjadi rutinitas selama Ramadan, tetapi juga menjadi kenangan indah yang akan selalu tersimpan dalam hati.

Kenangan tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang membuat Ramadan terasa begitu istimewa.

Sampai jumpa di Ramadan berikutnya, semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali.

Continue Reading

Pernikahan Bahagia tapi Menangis

Selamat Berbahagia Husain Fadhullah, Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Husain Fadhullah Al Makassary, nama yang indah titipan penuh makna yang diberikan oleh almarhum kedua orang tuanya. Dari rangkaian namanya kita bisa meraba jejak asal usulnya, darah Makassar mengalir dari sang ayah dan Sunda dari ibunya. Dua budaya yang berpadu dalam satu identitas.

Pada tanggal 25 Januari 2026 , lelaki kelahiran Bandung 30 Maret 2001 ini, telah mengucapkan kalimat yang sakral dengan suara yang lantang, “Saya terima nikahnya Rahmawati Kahar Binti Haji Kahar Daeng Nippi dengan Mahar tersebut tunai karena Allah,”  dan setelah itu, dalam isak tangis, semua keluarga teriak SAH. Seisi gedung turut berbahagia.

Pernikahan anak pertama dari Almarhum Andi Amran Mansyur dan Mely Kristalina ini, merupakan sebuah pernikahan yang tidak biasa, bukan karena kemeriahannya tetapi, ada perjalanan emosional yang mengiringinya.

Semua rangkaian acara dikemas sangat luar biasa penuh makna dan kekhidmatan, namun dibalik senyum dan doa-doa, ada air mata yang setia menemani setiap langkahnya.

Sejak prosesi siraman atau Mappasili (adat Makassar) kami merasakan suasana sangat berbeda. Air yang mengalir tidak hanya membersihkan raga, seolah membawa serta kenangan, rindu dan harap yang lama disimpan.

Tangis tertahan, bukan sebagai tanda kesedihan semata, tetapi sebuah bahasa hati yang sedang belajar untuk ikhlas sebab dia melangkah ke pelaminan di hari ke-35 ayahnya meninggal. Hari yang seharusnya masih diselimuti duka, justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru dan disitulah air mata menemukan jalannya sendiri.

Malam Mapacci berlangsung sederhana, tetapi syarat makna. Daun pacci ditempatkan dengan penuh penghormatan, menjadi saksi bahwa perjalanan menuju pelaminan tidak selalu dilalui dengan tawa.

Kami menangis, sebab kedua orang tua pengantin lelaki ini, tidak sempat melihat anaknya menikah. Ibunya meninggal tiga tahun yang lalu, sedangkan sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga menyusul istrinya 35 hari sebelum pernikahan anaknya.

Malam Pacci adalah malam berkumpulnya keluarga, malam ketika ikatan darah dan kenangan bertemu dalam satu ruangan yang sama. Pada malam itu, saudara almarhumah ibunya dari Bandung menyempatkan diri untuk hadir, menempuh jarak dan waktu demi membersamai langkah Husain menuju hari besarnya.

Tidak hanya itu, Attaenek yang merupakan nenek sang pengantin yang sudah berusia 74 tahun berusaha menguatkan diri untuk bisa memeluk cucu pertamanya di hari pernikahannya padahal lukanya belum benar-benar sembuh, dia baru saja kehilangan anak pertamanya karena itu, sesekali air matanya tidak bisa dibendung.

Kehadiran Wa Mami (Hajja Evi)  dan Wa Papi (Haji UUS) dari Bandung, bagi kami bukan sekadar melengkapi acara tetapi sebagai pengikat rindu yang lama terjaga. Di tengah kesederhanaan prosesi, ada pelukan, ada doa dan tatapan yang menyimpan banyak cerita. Tentang kehilangan, tentang cerita dan tentang restu yang disampaikan lewat kebersamaan.

Hari pernikahan pun tiba, kami keluarga besar ikut mengantar Ananda ke gedung untuk menyampaikan ijab kabul dan bertemu dengan sang istri. Jodoh yang hanya Allah yang tahu mungkin sebelumnya mereka tidak saling mengetahui kisahnya akan berakhir di pelaminan.

Dengan menggunakan pakaian pengantin adat Makassar warna burgundy, Husain turun dari Alpard hitam. Ia terlihat sangat gagah, melangkah mantap masuk ke gedung tempat akad nikah akan dilangsungkan. Bahagia terlihat sangat jelas, namun air mata kembali mengalir bukan  untuk meratapi tetapi untuk mensyukuri.

Sebab tidak semua kebahagiaan datang tanpa luka dan tidak semua air mata lahir dari duka. Pernikahan Husain mengajarkan kita tentang  satu kesederhanaan tetapi sangat mendalam.

Bahagia dan menangis bukan dua hal yang harus dipisahkan, keduanya bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan dan saling melengkapi.

Saya menulisnya Bahagia tetapi Menangis, sebab cinta, doa dan perjalanan hidup tidak selamanya hadir dalam bentuk yang utuh. Namun, selalu cukup untuk disyukuri.  

Happy Wedding Husain dan Rahma, SAMAWA Rumah tangganya. Aku-akur sampai maut memisahkan. Jika ingin bertengkar, bertengkarlah agar kamu bisa merasakan indahnya berumah tangga, tetapi bertengkarnya jangan lama-lama Ya.  (Hehehehe)

Continue Reading

Tanda Perpisahan yang Menyayat

Tentang enam hari yang kami kira akan berakhir dengan kepulangan

15 Desember 2025,

Pagi itu terasa begitu indah. Indah yang bahkan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seingatku saat itu, aku sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk anak-anak.

Ada aroma pagi, ada tawa kecil, ada rencana sederhana yang membuat hati terasa penuh.Sebab setelahnya, kami berencana berangkat menuju rumah kakak pertama di Kabupaten Gowa, jaraknya lumayan jauh dari kota Makassar, tempat tinggal ku.

Perjalanan yang tak sebentar, jaraknya lumayan jauh, namun entah mengapa pagi itu terasa sangat ringan. Seolah hari sedang mengantar kami dengan doa-doa yang tenang.

Berkunjung ke sana sebenarnya sudah lama ku rencanakan. Seminggu sebelumnya, niat itu telah kusimpan rapi di hati. Kebetulan, anak pertamanya akan menikah di pertengahan Januari.

Aku ingin berkunjung, sekadar melihat persiapan, berbagi cerita, dan menjenguk kakak pertamaku yang telah lama sakit.

Tiba-tiba telepon genggam ku berdering. Dia yang akan ku kunjungi rumahnya meneleponku. “Kamu di mana?” Katanya singkat.

“Di Aroepala, jawabku lebih singkat.

“Kalau ibu?” Tanyanya lagi.

“Lagi mandi,” jawabku semakin singkat.

“Saya mau ke rumah sakit, rencana mau operasi, mau singgah di rumahmu pamit sama ibu.” Terdengar cukup jelas kalimatnya.

Pamit? Tanyaku dalam hati, kata itu sungguh membuatku heran. Seperti tidak biasa mendengarnya.

Satu kata itu bergema lama di kepalaku. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup di dada. Entah mengapa terdengar berbeda.Terasa sangat berat di pikiranku, seperti mengandung sesuatu yang tak terucap.

Selama ini, ia selalu menelepon setelah tiba di rumah sakit. Tak pernah sebelumnya ia berpamitan terlebih dahulu, tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata pamit seolah sedang menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang lebih jauh dari sekadar ruang operasi.

Lima menit setelah menelepon, dia pun datang bersama istrinya. Tanpa menunggu di ruang tamu, aku melihat dia langsung masuk ke kamar menemui Ibu yang sedang memakai pakaian, baru saja selesai mandi.

Dia meraih tangan ibu dan menciumnya. “Doakan ibu, saya mau di operasi.” Katanya, lalu beranjak meninggalkan rumah sebab pukul 10.00 Wita, katanya dia sudah harus berada di rumah sakit.

Dan aku berdiri di ambang pintu, menyaksikan punggungnya menjauh, dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan antara cemas, harap, dan firasat yang samar namun menggetarkan.

Di ruang tamu aku duduk diam, ibu berdiri di dekatku. Aku mulai bicara, kukatakan pada ibu bahwa ini bukan hal yang biasa dia lakukan. Sikapnya sungguh aneh, ibu pun heran. Ternyata dia ingin menyampaikan hal yang sama, cukup lama kami berbincang di ruang tamu, suamiku pun merasa heran.

Tanpa pikir panjang, aku dan ibu menyusulnya ke rumah sakit, menuju ruang IGD.
Di sana aku melihatnya terbaring, namun bukan seperti seseorang yang sedang berada di ambang kepergian.

Wajahnya tampak biasa saja, dia tenang. Hampir tanpa tanda-tanda bahwa waktu sedang bersiap menutup pintunya bahkan ketika memasuki waktu Salat Duhur,
ia bangkit perlahan dari pembaringan, melangkah menuju Musolah.

Setelah menunaikan salat duhur, ia menoleh kepadaku dan berkata pelan,
“Belikan saya bubur ayam. Sudah sangat lapar.”

Aku terdiam. Kalimat itu seperti membuka satu pintu lama di kepalaku.Tiba-tiba ingatanku melayang jauh ke tiga tahun sebelumnya.

Saat itu, istri pertamanya juga terbaring di rumah sakit. Ruang yang berbeda, bau obat yang sama,dan rasa cemas yang serupa. Ia pernah berkata kalimat yang hampir sama waktu itu, tentang lapar. Tentang ingin makan bubur ayam.

Tak lama kemudian, suaminya meneleponku. Ia memintaku kembali ke rumah sakit membawa bubur ayam. “Dua porsi ya. Untuk saya dan istriku.” katanya.

Aku menurut, namun ketika bubur itu tiba, justru semuanya dimakan oleh kakak iparku.Ia makan dengan sangat lahap, aku tidak pernah melihatnya makan sebanyak itu, bahkan berkali-kali bertanya,

“Kamu beli di mana bubur ini?”

Aku hanya tersenyum kecil, tanpa tahu bahwa aku sedang menyaksikan satu kenangan terakhir yang kelak akan kupeluk seumur hidup. Lima hari kemudian, kakak iparku pergi untuk selamanya.

Kondisi kakakku saat itu. sungguh mengingatkan pada kondisi istri pertamanya. Dia juga banyak makan menjelang kepergiannya.

Di ruang IGD, kami yang mengantarnya mulai gelisah memikirkan dokter yang tak kunjung datang. Waktu terus berjalan, sore mulai merambat ke malam, namun kakakku terlihat biasa-biasa saja.

Ia bahkan sempat bercanda kecil seolah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Justru kami yang mondar-mandir saling bertukar pandang, merasa ada sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya.

Malam mulai menyapa, kebahagiaan mulai terasa saat perawat menyampaikan bahwa kamar sudah tersedia. Kami yang sudah sejak tadi menunggu pun langsung menuju ruang perawatan.

Ruang di mana kakak pertamaku menjalani perawatan selama enam hari, ruang yang cukup luas terdiri atas dua ranjang. Di atas ranjang itulah, dia gelisah hingga menghembuskan nafas terakhir.

Selama enam hari di rumah sakit, hampir setiap hari aku dan ibu menemuinya, sekadar datang menanyakan kabarnya dan melihat kondisi terahir. Setiap kami datang, dia tampak baik-baik saja. Dia aktif bicara seperti orang sehat, sesekali ceritanya membuat kami tertawa sesekali pula kami dibuat sedih.

Hari kelima dia berada di rumah sakit, kami kembali menanyakan jadwal operasinya. Namun, jawabannya singkat tapi sungguh membuatku merasa tidak nyaman mulai merasa khawatir. ” Katanya operasi belum dilakukan karena kondisinya belum stabil.” Sejak saat itu perasaanku mulai tidak nyaman.

Hari Jumat 19 Desember 2025, di teras ruang perawatan,ia duduk di kursi mengenakan celana panjang hitam dan kaos abu-abu.

Suamiku duduk di sampingnya. Ibu dan sepupuku duduk berhadapan dengannya.
Sementara aku berdiri dekat pintu, memandanginya diam-diam.

Ia sedang menyantap jalangkote, dengan lahapnya. Penganan khas Makassar kesukaannya. Ia terlihat sangat menikmati setiap suapannya.

Dan saat itulah, dari posisiku berdiri tepat di hadapannya, aku benar-benar memperhatikan wajahnya, wajah yang menurutku sangat berbeda.

Kulitnya pucat, tubuhnya tampak semakin kurus, meskipun perutnya terlihat membuncit. Sementara giginya terlihat lebih menonjol.

Cara pandangnya pun tak lagi sama ada sesuatu yang asing, jauh, dan sulit ku jelaskan. Sesekali, aku melihat wajah Ayah di sana.

Sore harinya, aku berpamitan pulang. Dia memandang kami dengan senyum yang lagi-lagi menurutku berbeda. Di atas mobil, ada aku di depan sedang menyetir. Ibu duduk di samping kiriku.

Di belakang ada sepupuku, Puang Nannu dan Mamak Cawang, perempuan hebat yang telah membersamai kami sejak kecil. Lebih tepatnya dialah yang menjaga kakakku.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami tak henti-hentinya membahas tentang dia, perubahannya dan sikapnya. Paling aneh karena dia makan jalangkote sebanyak 10 biji. Saya pun ikut memberikan pendapat bahwa wajahnya tak lagi sama, bahkan saya sempat mengatakan pada ibu bahwa mirip temanku yang meninggal karena lever.

Kulihat ibu terdiam, ada kesedihan di wajah perempuan berusia 75 tahun itu. Meski ibu tidak berkata-kata, tapi aku tahu kalau ibu sedang sedih. Lalu aku diam, tidak melanjutkan kalimatku.

Malamnya, kami tidak bisa tidur. Aku menyimpan handphone ku di dalam tas. Lalu mengetik cerita di Tabletku. Aku tidak mendengar telepon dari rumah sakit, yang mengabarkan bahwa kondisi kakakku drop.

Aku melihat penggilan tak terjawab cukup banyak dari saudaraku,saat ingin melaksanakan Salat Subuh. Berkali-kali keponakanku dan sepupuku menelepon. Tubuhku seketika lemas, pikiranku mulai melayang kemana-mana.

Aku tak mendengar satu pun panggilan dari rumah sakit. Tak tahu bahwa kondisi kakakku sedang drop. Hingga akhirnya aku membuka ponsel itu.

Di layar, terdapat begitu banyak panggilan tak terjawab dari saudara-saudaraku,
dari keponakanku,dan dari sepupuku.

Tubuhku seketika terasa lemas, tanganku dingin, dadaku kosong. Pikiranku melayang ke mana-mana,tak mampu menangkap satu pun arah dengan jelas.

Dan di antara detik yang terhenti itu, aku mengerti satu hal, ada kabar yang sedang menunggu namun hatiku belum siap menerimanya.

Saat tiba di rumah sakit, aku masuk bersama ibu, dan kakak sepupu. Di dalam ruangan ada istri dan dua adikku.

Kondisinya berubah drastis dari hari-hari sebelumnya. Dia memanggil ibu, meraih tangannya lalu menciumnya. Berkali-kali dia mengucapkan kata maaf. “Maaafkan saya ibu, banyak dosaku, banyak utangku dan sepertinya saya mendahului.”

Katanya dengan kalimat yang sangat jelas. Dia bahkan meminta agar anaknya diperhatikan, itu kalimat yang aku tangkap.

Mendengar itu, aku yang berada di belakang ibu, tidak mampu menahan tangis. Kubiarkan air mataku tumpah, aku terisak sangat keras. Lalu, ibu ke belakang. Ibu yang selama ini, selalu kuat. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis bahkan waktu ibunya meninggal (nenek saya) aku tak pernah melihat air menetes dari mata ibu.

Sabtu pagi, 20 Desember 2025. Aku melihat Ibu benar-benar rapuh, dari balik kacamatanya, aku melihat air mata mengalir tanpa suara.

Tak ada isak, tak ada keluhan hanya diam yang penuh luka. Itulah perpisahan antara seorang ibu dan anak pertamanya.

Mereka berpelukan cukup lama,seakan dunia sedang memberi mereka satu waktu terakhir untuk saling menggenggam dan setelah pelukan itu terlepas, Ibu tak akan pernah lagi bisa melihat anak pertamanya di dunia ini.

Setelah ibu mundur ke belakang, duduk di ranjang tepat di samping kakakku. Aku melangkah mendekat, dia menyodorkan tangannya, mengucapkan kata maaf. Aku terisak, suaraku agak keras hingga tetangga sebelah melihat ke arahku. Mereka mungkin mengira kakakku sudah tidak ada.

Satu jam kemudian, perawat datang dan menyampaikan akan mengeluarkan cairan dari perutnya melalui mulut tentu menggunakan alat. Ku pandangi satu-satu keluargaku, mereka semua setuju termasuk anak-anaknya. Hanya aku sendiri yang menolak dan merasa sangat berat jika alat tersebut di pasang.

Saat itu, aku merasa semuanya akan berakhir, sebab sudah banyak orang yang dibantu alat untuk mengeluarkan cairan, namun dia menutup mata untuk selamanya.

Saat itulah, aku semakin yakin bahwa usianya sudah tidak lama lagi. Apalagi saat berada di samping nya, kakakku mengatakan sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan yang dia rasakan.

Saat itu, aku pun berinisiatif untuk menelepon anaknya di Bandung, harapanku agar mereka masih bisa bertemu Kaengnya. Setidaknya bisa mencium tangan dan memeluknya erat sebelum dia benar-benar pergi. Malamnya, aku pamit, aku mengajak ibu agar dia bisa istirahat di rumah.

Hanya dua jam di rumah. Aku kembali lagi ke rumah sakit, bertemu kakak yang sedang tak baik-baik saja. Di rumah sakit sudah tidak banyak orang, hanya ada keponakanku dan beberapa orang yang ikut menjaga.

Cukup lama kami berada di sana. Aku memperhatikan kakakku yang semakin gelisah.

Ia sangat gelisah di atas ranjang. Sesekali menanyakan waktu, sesekali menatap kami dengan pandangan tajam.

Lalu menoleh kepadaku dan bertanya, “Pesimisko?” dengan dialek Makassar yang masih kental. Pada saat itu, Aku memang pesimis melihat kondisinya, perasaanku sudah tak karuan, hatiku bergetar tanpa bisa ku tenangkan. Tapi, dihadapannya aku mengaku tidak pernah pesimis.

Ketika ia memintaku menambah volume oksigen, katanya napasnya sangat pendek, pertahananku runtuh.

Malam itu, anak pertamanya sedang keluar ruangan, istrinya sedang Salat dan aku berdiri di sana, sendirian menahan ketakutan, merasa tak sanggup, tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa selain menatapnya dan memohon dalam hati agar Tuhan tidak mengambilnya malam itu.

Setelah itu, masih banyak lagi yang ia minta. Katanya tenggorokannya sangat kering. Ia haus,dan minta yang manis-manis. Aku menjadi serba salah.

Pihak rumah sakit melarang kami memberi terlalu banyak minum dan makanan manis. Aku berdiri di hadapannya,tak tahu harus menuruti hatinya atau menaati peraturan yang terasa begitu kejam di saat seperti ini.

Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan sedih, sangat sedih karena di hadapanku bukan sekadar pasien,melainkan kakakku yang sedang berjuang menarik napas dan memohon sesuatu yang begitu sederhana.

Tidak ada satu pun pelajaran hidup yang mengajarkan bagaimana caranya
menghadapi permintaan terakhir. Sudah banyak yang aku lihat seperti itu, sebelum kakak iparku meninggal tiga tahun yang lalu.

Aku juga berada di sampingnya, dia meminta agar aku memberinya air. Dia hangus, tenggorokannya kering. Aku memberinya sedikit sebab perawat tidak mengizinkannya minum.


Pukul 01.00 dini hari, aku pamit pulang. Kami meninggalkan rumah sakit dengan langkah yang terasa berat, penuh kecemasan, dengan hati yang terus berdebar tanpa henti.

Namun aku harus pulang sebab pukul 05.00 pagi, aku akan berangkat ke Bandara, menjemput kedua anak gadisnya yang akan tiba dari Bandung.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menoleh ke belakang dalam hati seolah ada sesuatu yang belum selesai kutinggalkan di ruangan itu.

Dan di dalam mobil yang melaju menembus gelap, aku memeluk rasa takut yang tak sanggup ku ucapkan pada siapa pun, sambil terus berdoa agar subuh nanti masih sempat membawa kabar baik.

Kami hanya sempat beristirahat satu jam di rumah. Tubuh terlelap sebentar,
namun hati tak pernah benar-benar tidur. Telepon genggamku berdering.
Di layar tertera nama keponakanku, anak kedua dari kakakku sekitar pukul 03.30 subuh.

Suaranya gemetar saat memberi kabar bahwa Kaengnya (ayahnya) drop. Saat itu, pertahananku seakan roboh. Dadaku terasa sesak, napas menjadi berat. Ada rasa malas untuk bergerak,seolah tubuhku menolak menerima kenyataan yang sedang mengetuk begitu keras.

Namun aku memaksa diriku bangun. Ku bangunkan suamiku dan ku ceritakan kabar yang baru saja kuterima dan di antara kantuk, gelap, dan kecemasan yang menyesakkan, aku tahu kami sedang berlari menuju sesuatu yang tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun.

Kami tidak mandi, tidak sempat berpamitan pada anak-anak, sebab mereka masih tidur. Dalam perjalanan aku berharap masih bisa melihat kakakku bernafas, setidaknya mengucapkan perpisahan jika memang dia akan pergi.

Tetapi, semuanya hanya harapan. Ketika menuju rumah ibu, aku mendapat kabar buruk dia sudah meninggal.

Innalillahi Wa inalilahi rojiun. Kakakku meninggal Ahad 21.Desember 2025. Meninggalkan enam orang anak, tiga masih kecil, satu remaja dan dua usia yang sebentar lagi akan menikah.

Continue Reading

16 Tahun Perjalanan Kita, dari Ruang Redaksi ke Ruang Hati

Kisah kita dimulai bukan dengan kalimat puitis, tapi dengan suara ketikan komputer dan deadline yang selalu minta perhatian lebih dari kita.

Kala itu, aku dan kamu adalah dua orang jurnalis yang bekerja pada sebuah media cetak populer. Dunia kerja kita diwarnai kopi dingin, berita hangat dan editor yang hobi marah-marah. Perkenalan yang singkat di sebuah kantor yang berlokasi di Jl. H.Bau Makassar, tempat aku dan kamu mengais rezeki.

Tidak ada yang bisa menduga, dua orang yang sehari-hari meliput suka duka orang lain, akhirnya menulis bab-bab baru dalam kehidupannya sendiri. Tanggal 21 November 2009, tiga bulan setelah kita kenalan kita lanjutkan ke pelaminan.

Perjalanan rumah tangga yang kita bangun kini sudah 16 tahun, ada tiga orang anak yang dititipkan untuk kita jaga, dan besarkan serta kita didik sesuai kemampuan yang kita miliki. (Jangan didik mereka jadi wartawan, berat. Cukup kita saja).

Selama 16 tahun, kami belajar satu hal bahagia itu tidak selalu datang dari waktu luang, tapi dari niat untuk saling menjaga.

Pekerjaan kami sering kali menyita hampir seluruh tenaga dan waktu, nyaris tak memberi ruang untuk benar-benar beristirahat.

Namun entah bagaimana, kami selalu menemukan cara untuk menyisakan waktu untuk tertawa, untuk berbagi, dan untuk menciptakan kebahagiaan bersama anak-anak.

Dari pekerjaan yang gajinya mungkin terlihat receh di mata dunia, Allah justru menghadirkan keberkahan. 

Dari situlah kita bisa menyekolahkan tiga buah hati kami di sekolah Islam, menanamkan nilai, adab, dan harapan untuk masa depan mereka.

Terima kasih ya Allah atas 16 tahun pernikahan kami. Kami bisa bertahan sejauh ini karena Engkau selalu ada dalam setiap langkah. 

Aku akui, ini bukan waktu yang singkat, dan jalan yang kami lalui pun tidak mudah.
Namun sampai di titik ini, kami masih berdiribersama, saling menguatkan, dan terus belajar bersyukur.

Continue Reading

Kisah dan Kesetiaan yang Teruji dari Pengantin Viral, Rusli, Warni dan Kasma

Cinta Segitiga Bagian 1

Awal Oktober 2025, media sosial heboh dengan berita pernikahan seorang pelaut asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mendadak viral. Rusli, lelaki berusia sekitar 32 tahun, menjadi perbincangan hangat setelah melangsungkan dua pernikahan dalam waktu dua hari berturut-turut di kampung halamannya. Keputusan kontroversial ini mengejutkan banyak pihak, menyisakan tanda tanya besar tentang cinta, kesetiaan, dan pilihan yang diambil oleh Rusli, serta perempuan-perempuan yang terlibat dalam kisah ini.

Kisah ini, menjadi heboh bermula ketika Rusli kembali ke kampung dan melamar Kasma, perempuan yang dipacarinya tiga tahun terakhir ini. Kabar lamaran seorang lelaki yang baru saja tiba dari berlayar dengan mahar 90 juta pun menyebar di kampung dan sampai ke telinga keluarga Warni.

Warni, seorang guru agama. Perempuan yang menjadi kekasih Rusli sejak duduk di bangku sekolah. Selama Rusli berlayar warni dengan setia menunggu bahkan telah menolak tiga orang laki-laki yang datang melamar, hanya karena janjinya pada Rusli.

Saat Rusli berangkat berlayar untuk bekerja di kapal, menjelajahi samudra luas, Warni perempuan pertama yang diberitahunya. Dia bahkan memberikan dukungan penuh dan terus memberi semangat kepada lelaki pujaannya. Dia tidak pernah berpikir kepergian Rusli sebuah perpisahan yang menyakitkan. Mereka berdua tahu, ini bukanlah akhir, tetapi sebuah ujian bagi cinta mereka.

Dengan penuh harapan, Rusli berangkat meninggalkan kota kelahirannya, dan Warni pun tetap tinggal, menjaga janji mereka. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, dan Warni terus menunggu. Tidak ada keraguan di hatinya, meskipun godaan datang silih berganti. Tiga lelaki datang melamarnya, dengan segala alasan dan perhatian mereka, namun hati Warni hanya untuk Rusli. Setiap kali, dengan tegas, ia menolak mereka.

Suatu hari, kabar tentang lamaran itu sampai ke telinga Rusli. Komunikasi antara Rusli dan Warni terjalin baik dan lancar. Saat Warni memberitahu ada yang datang melamarnya, Rusli dengan tegas meminta untuk menolak sebab setelah kembali ke kampung dia yang akan melamarnya. Pernyataan dari Rusli membuat Warni semakin yakin dan percaya pada Rusli, dia pun terus menunggu dengan sabar.

Waktu terus berlalu, dan Rusli semakin lama semakin jarang mengirimkan kabar. Tetapi, Warni tetap setia menunggu. Hari-harinya dipenuhi dengan doa dan harapan, percaya bahwa cinta mereka akan diuji dan akhirnya berbuah manis. Meskipun godaan dan cobaan datang, ia tetap tidak tergoyahkan.

Setelah bertahun-tahun menunggu, tidak terasa kisah cinta mereka sudah berjalan selama 13 tahun. Warni masih setia dengan kesendiriannya demi janjinya pada seorang pria bernama Rusli. Namun, saat kembali ke Bantaeng, Kapten kapal yang ditunggu-tunggu itu, tidak memberitahu Warni. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru agama justru mendapat kabar bahwa Rusli sudah datang dan sudah melamar perempuan bernama Kasma. Persiapannya sudah 90 persen, undangan sudah beredar.

Hati dan perasaan Warni hancur, penantiannya selama 13 tahun berakhir dengan penghianatan. Keluarganya tentu saja tidak tinggal diam melihat Warni di sakiti. Mereka pun mendatangi rumah Rusli dan meminta pertanggungjawaban sebab sudah meyakinkan Warni untuk melamarnya.

Tidak bisa disangkal, hati Rusli memang terbelah antara Kasma, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun dan Warni yang selalu setia menunggu. Terkadang, perasaan memang bisa berubah seiring waktu, meskipun Rusli masih menyayangi Warni, ia juga merasa terikat dengan Kasma yang selama ini telah menemani perjalanan hidupnya, mereka bertiga tinggal di kampung yang sama.

Tekanan keluarga Warni akhirnya membuat Rusli tersadar. Apa yang ia lakukan ini memang tidak bisa dibenarkan. Warni telah memberikan segalanya—kesetiaan, cinta, dan waktu yang berharga dan kini ia harus menerima konsekuensi dari tindakannya.

Akhirnya Rusli pun melamar Warni dengan memberikan mahar yang sama seperti Kasma, uang panaiks sebesar Rp90 juta. Meskipun dia melamar Kasma lebih dulu, tetapi yang pertama dia nikahi adalah Warni. RUsli dan Warni menikah tanggal 5 Oktober 2025, sementara Kasma dinikahi dua hari setelahnya yakni tanggal 7 Oktober 2025.

Pernikahan pun dilangsungkan, dengan Warni menjadi istri pertama dan Kasma sebagai istri kedua. Pernikahan Warni dilangsungkan di rumahnya, dengan keluarga besar yang datang memberi restu meskipun ada rasa kecewa yang dalam. Dua hari setelah pernikahan Warni, pesta kembali diadakan di rumah Kasma, dengan suasana yang lebih ceria, meskipun ada keraguan yang tersirat di hati banyak orang.

Kabar pernikahan yang tak biasa ini langsung menyebar luas di media sosial. Tidak sedikit yang mengkritik keputusan Warni dan Rusli. Banyak yang menyalahkan Warni karena tetap menerima Rusli yang telah mengkhianati kepercayaannya. Mereka menganggap Warni terlalu mengalah dan tidak menghargai dirinya sendiri. Di sisi lain, banyak yang juga menyalahkan Rusli, menganggapnya sebagai lelaki yang tidak setia dan tidak tahu bagaimana cara menjaga cintanya.

Namun, di balik semua kritik dan kecaman itu, Warni dan Rusli tetap menjalani hidup mereka. Warni merasa bahwa pernikahannya dengan Rusli adalah pilihan yang harus ia jalani, meskipun luka itu takkan pernah hilang. Rusli, meskipun telah mendapat dua wanita yang ia cintai, juga harus menerima bahwa keputusannya membuat banyak hati terluka, termasuk hatinya sendiri.

Meskipun banyak yang menganggap kisah ini sebagai kisah cinta yang penuh pengkhianatan, bagi Warni, ini adalah pelajaran tentang cinta yang rumit dan penuh pengorbanan. Ia belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia, dan terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi pilihan yang ada dan tetap berjalan meskipun jalannya penuh liku.

Continue Reading

Kisah Haru Wanda Hamidah Berlayar ke Gaza, Kapal Bocor dan BBM Jatuh

Wanda Hamidah, aktris sekaligus politisi asal Indonesia, menempuh perjalanan panjang bersama aktivis dari berbagai negara untuk menembus blokade Gaza, sebuah misi penuh rintangan dan ujian keteguhan.

Sejak meninggalkan pelabuhan Tunisia, dalam satu misi kemanusiaan Clobal Sumud Flotilla. Sebagai satu-satunya delegasi Indonesia, Wanda Hamidah ikut berlayar menuju Gaza. Namun perjalanan panjang itu penuh ujian. Kapal Kaiseer yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar, sementara cadangan BBM jatuh ke laut. Akhirnya, kapal harus menepi dan berlabuh darurat di Kelibia, Tunisia.

Tak butuh waktu lama setelah masalah BBM teratasi, pelayaran kembali dilanjutkan. Namun di tengah perjalanan, ujian lain datang kapal kembali bermasalah, air laut merembes masuk ke dalam lambung kapal. Sesaat suasana panik, namun akhirnya semua berusaha tenang dan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Akhirnya, kapal berlabuh di Pelabuhan Portopala, Sisilia, Italia pada Sabtu (20/9/2025). Menurut Wanda Hamidah, karena hari itu bertepatan dengan hari libur, para aktivis penumpang kapal Kaiseer terpaksa bermalam sambil menunggu perbaikan dilakukan. Kondisi tersebut tidak mengurungkan semangatnya untuk tetap berlayar ke Gaza, para relawan bertekad bisa menyampaikan misi kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza.

Melalui media sosial instagramnya @wandahamidahbsa, ibu dari empat orang anak ini, mengatakan sehari di Portopala, mekanik yang memperbaiki kapal Kaisser, disarankan untuk diperbaiki di atas laut. Sehingga para penumpang tinggal di Itali. Katanya bukan hanya kapal yang ditumpanginya, masih ada kapal lain seperti kapal Yaman, kapal Nusantara, dan Aladin yang baru mendarat karena kerusakan maupun untuk pengisian BBM.

‘Dengan kondisi ini, kami belum tahu nasib kami, apakah harus berlayar ke Gaza atau perjuangan kami berhenti disini,” katanya.

Diketahui bersama Wanda Hamidah meninggalkan Indonesia, bersama 33 delegasi menuju Tunisia akhir Agustus 2025 kemarin. Di sana mereka bergabung dengan sejumlah aktivis kemanusiaan dari 44 negara, untuk berlayar me

Continue Reading

Alhamdulillah! PBB Akui Palestina Merdeka, Suara 142 Negara Bergema

Melihat asap membumbung di langit Gaza, gedung-gedung roboh, rumah penduduk hancur rata dengan tanah. Anak-anak banyak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anaknya. Pemandangan memilukan tentu saja mengiris hati kita semua yang menyaksikannya. Peristiwa kejam yang menimpa warga Palestina seolah mengetuk mata hati kita, mengingatkan agar terus menumbuhkan empati.

Di Gaza, kehidupan berjalan dalam kepingan-kepingan luka. Genosida 2023 meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus ribuan nyawa melayang, rumah-rumah menjadi puing, dan suara tawa anak-anak berganti tangis pilu. Blokade panjang mencekik setiap pintu masuk kehidupan. Obat-obatan tertahan di perbatasan, pangan langka, dan air bersih menjadi kemewahan yang tak semua bisa nikmati. Kelaparan mengintai, membuat para ibu lebih sering menahan lapar demi memberi sesuap roti kepada anak-anaknya.

Namun, harapan mereka rakyat Gaza dan Palestina tidak pernah padam. Mereka terus yakin dan percaya bahwa dunia akan membantu dan meringankan bebannya. Mereka tidak pernah merasa sendiri, meskipun hidupnya tidak pernah tenang. Setiap jam dihantui Bom dan peluru yang setiap saat bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Pada hari Jumat 12 September 2025, Majelis Umum PBB akhirnya resmi menyebut nama Palestina sebagai negara merdeka, hal itu disampaikan pada Deklarasi New York. Pernyataan itu pun, tentu saja menghadirkan Kebahagiaan pada warga warga Gaza dan seluruh negara yang berharap Palestina segera pulih.

Sebanyak 142 negara, berdiri dan mengakui Palsetina sebagai bangsa merdeka dan sebagai bangsa yang sah. Dalam pemungutan suara tersebut, tercatat 10 negaradan 12 negara di antaranya memilih abstain. Deklarasi New York hadir bukan sekadar teks diplomatik. Ia menjadi payung harapan bagi bangsa yang terlalu lama dipaksa hidup dalam reruntuhan.

Deklarasi New York ibarat jembatan yang dirajut dari serpihan luka Palestina menuju harapan baru. Dari ruang-ruang yang pernah dipenuhi isak tangis Gaza, kini dunia mencoba menghadirkan solusi bagi dua negara sebagai janji dalam damai. Meski luka genosida masih menganga, dokumen ini menjadi penanda bahwa dunia tidak tinggal diam, suara-suara kecil dari reruntuhan akhirnya menggema hingga ke podium tertinggi umat manusia.

Dukungan 142 negara seolah membuat Palestina terlahir kembali bukan dengan pesta melainkan dari air mata yang dipeluk dunia, disitulah kemerdekaan menemukan maknanya. Sebuah bangsa yang berdiri di reruntuhan tetapi, tidak pernah runtuh dari harapan.

Sudah saatnya Palestina hidup merdeka, dari reruntuhan Gaza dari kelaparan dan blokade yang tak pernah berhenti. Harapan tak pernah bisa dibom, dan mimpi tentang negeri yang bebas tak pernah bisa ditembak. Palestina mungkin tak lahir dari pesta meriah, tapi dari air mata yang dipeluk dunia. Sebanyak 142 negara menjadi saksi, bahwa di balik luka panjang, sebuah bangsa tetap bisa berdiri dan “Merdeka.”

10 Negara yang Menolak

1. Amerika Serikat                                                    6.  Paraguay
2. Israel                                                                       7.  Mikronesia
3. Hungaria                                                                8.  Palau
4. Nauru                                                                      9.  Papua Nugini
5. Argentina                                                               10. Nauru

12 Negara yang Abstain

1. Albania                                                                   7. Guatemala
2. Kamerun                                                                8. Moldova
3. Ekuador                                                                  9. Makedonia Utara
4. Kongo                                                                     10. Samoa
5. Ethiopia                                                                  11. Sudan Selatan
6. Fiji                                                                            12. Republik Ceko

Continue Reading

Dari Indonesia ke Gaza, Langkah Nyata Wanda Hamidah Menembus Blokade

Penuh haru, aktris yang juga aktivis asal Indonesia Wanda Hamidah berlayar ke Gaza, dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Dia bersama 33 aktivis meninggalkan tanah air, menuju Tunisia akhir Agustus 2025.

Di negara yang terkenal dengan pasar bukunya, Wanda Hamidah bergabung bersama para aktivis kemanusiaan dari 44 negara. Mereka mengikuti pelatihan intensif selama dua pekan, mempersiapkan diri menghadapi tantangan berat di lautan lepas.

Namun, kabar terbaru menyebutkan bahwa relawan Indonesia pada akhirnya tidak ikut berlayar langsung karena berbagai kendala dan tantangan teknis. Sebagai bentuk kontribusi nyata, mereka menyerahkan lima kapal untuk digunakan para aktivis yang telah berpengalaman dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Keputusan ini menunjukkan bahwa dukungan untuk Palestina tidak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik, tetapi juga dalam kontribusi logistik yang sangat vital. Dengan adanya kapal tambahan, peluang bantuan sampai ke Gaza semakin terbuka.

Tak mudah, namun Wanda Hamidah memilih bertahan. Dua pekan penuh penantian di Tunisia, akhirnya terbayar saat namanya tercatat sebagai penumpang Kapal Kaiser Selasa (16/9), ia berlayar menuju Gaza bersama aktivis dari Tunisia hingga Turki. Dalam perjalanan penuh risiko itu, Wanda menjadi satu-satunya perempuan yang mengibarkan semangat kemanusiaan di atas kapal. Air matanya pun tumpah saat dipeluk rekan-rekannya,

Hari itu, pelabuhan menjadi saksi bisu sebuah perpisahan yang penuh makna. Rekan-rekan sesama aktivis mengiringi langkah Wanda Hamidah menuju kapal yang akan membawanya dalam misi kemanusiaan. Mereka saling berpelukan erat, menetaskan air mata, dan mengucapkan doa-doa penuh harap.

Tangisan yang pecah bukanlah tanda kelemahan, melainkan ungkapan cinta dan kepedulian. Semua berharap agar perjalanan berbahaya itu berjalan lancar agar bantuan bisa sampai ke tangan rakyat Gaza, Wanda bersama rombongan relawan dapat kembali pulang ke tanah air dengan selamat.

Kabar Wanda Hamidah ikut berlayar ke Gaza segera disambut luas oleh masyarakat Indonesia. Dukungan mengalir deras, baik di media sosial maupun lewat doa yang dipanjatkan. Banyak yang bangga karena ada perwakilan dari Indonesia yang hadir langsung menunjukkan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Global Sumud Flotilla merupakan gerakan relawan internasional, yang bertujuan mematahkan blokade di Gaza dan meminta agar genosida di Palestina segera dihentikan. Aktivis kemanusiaan dari berbagai negara mengikuti pelatihan di Tunisia termasuk aktivis dari Indonesia.

Kenapa Wanda Hamidah yang Ikut Berlayar?

Dari 33 delegasi Indonesia yang berada di Tunisia, hanya Wanda Hamidah satu-satunya yang terpilih ikut berlayar menembus blokade Gaza. Kenapa?
Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Muhammad Husain menjelaskan, harusnya 30 delegasi yang ikut berlayar. Namun, hanya Wanda yang ikut berlayar. Sebab dari kesepakatan awal melihat kondisi tidak efektif. Banyak kapal yang rusak di Tunisia akibat cuaca, kapal yang bergerak dari Spanyol melalui badai dan cuaca buruk mengakibatkan kapal rusak.

Sehingga ketika sampai di Tunisia, para delegasi tersebut harus mencari kapal baru.Sementara peserta dari berbagai negara membludak. “Indonesia menarik delegasinya dan menyerahkan kapal, sebab itu dianggap langkah strategis.” katanya.

Menurut Husain, aksi kemanusiaan itu komposisinya 47 negara. Delegasi Indonesia memprioritaskan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk politik begaining, sebagai bentuk tekanan politik.

“Ini bukan perkara kita naik kapal atau tidak, tetapi bagaiaman bisa mensukseskan misi besar yang dilakukan secara bersama-sama. Wanda Hamidah, ikut berlayar sebab dia memiliki politik bergainning, dia mantan anggota DPR dan menurut steering comitte, yang diutamakan ikut berlayar mereka yang memiliki strong figure.” katanya.

Continue Reading

50 Kapal, Seribu Doa untuk Gaza

Ada sesuatu yang menggetarkan hati saat mendengar kabar ini, Saya sering memantau perkembangan rakyat palestina, masyarakat Gaza melalui media sosial. Seringkali teriris saat melihat kondisi saudara-saudara kita di sana.

Mereka kehilangan rumah, kehilangan keluarga hanya dalam hitungan jam. Bayangan senyum berubah menjadi jerit. Atap tempat berlindung, luluh lantak menjadi debu.

Sungguh terluka hati ini, mendengarnya Ya Allah. Mereka yang masih hidup seakan dipaksa untuk menyerah, bukan oleh tembakan peluru, tetapi karena kelaparan berkepanjangan.

Anak-anak tetap semangat menunggu roti yang tak pernah tiba, sementara para orang tua hanya bisa menatap kosong dan terus berdoa agar besok masih bisa tetap bertahan hidup.

Sebenarnya bantuan dari berbagai negara selalu ada, tetapi blokade membuat Gaza tetap kosong. Dunia seakan ingin memberi, namun dinding besi seolah menghalanginya. Kondisi ini, sungguh menyakitkan dan melukai hati bukan hanya warga Gaza, tetapi semua umat Islam di dunia.

Ketika program kemanusiaan Global Sumud Flotilla di gencarkan, dunia seolah diingatkan bahwa kemanusiaan tidak boleh mati. Harus terus diperjuangkan.Para relawan dan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara, mulai menggencarkan program ini.

Dari 44 negara, aktivis dan para relawan bersatu. Mereka tida peduli perbedaan, tujuannya hanya satu mengantarkan harapan ke Gaza. Awal September, awal dimulainya gerakan. Sejumlah aktivis berkumpul di Tunisia, mereka mengikuti training, persiapan berlayar ke Gaza.

Kita semua tahu, resikonya sangat besar. Namun, bagi mereka yang memiliki tekad besar, menyala dan membara, tentu saja akan menjadikannya kuat. Sebab yang mereka bawa bukan sekadar bantuan, melainkan sebuah pesan untuk dunia bahwa blokade tidak bisa membungkam solidaritas.

Sebanyak 50 kapal siap berlayar menembus blokade Gaza, pada Ahad 7 September 2025. Bukan kapal perang, bukan pula kapal dagang, melainkan armada kemanusiaan yang dipenuhi doa dari berbagai penjuru dunia.

Dari Indonesia ada sekitar lima buah kapal, yang masing-masing kapal diberi nama pejuang nasional. Sungguh luar biasa semangat mereka. Kita yang tidak ikut ke sana, bisa terus memberikan dukungan dan doa.

Melihat persiapan kapal-kapal tersebut di dunia maya, saya membayangkan ada seribu doa mengiringi. Doa para ibu yang kehilangan anak-anaknya, doa anak yang ingin bermain tanpa dentuman Bom. Ada doa orang di luar sana, yang tidak bisa hadir secara fisik, namun hatinya tertambat di Palestina.

Laut akan menjadi saksi,kemanusiaan tidak pernah mati.Lima puluh kapal berlayar sebagai saksi bahwa Gaza tidak sendiri.

Bukan sekadar kapal, dia armada harapan. Sebanyak 50 layar dibentangkan menantang ombak dan dinding blokade demi Gaza yang merintih.

Armada itu, bukan sekadar deretan kapal, tetapi simbol perlawanan. Mereka berlayar mengusung keberanian, mereka akan mengukur cerita bahwa kemanusiaan tidak boleh di blokade.

Continue Reading