Tuhan, Aku Gelisah

Entah kepada siapa lagi aku mengadu selain kepada-Mu ya Rabb. Saat ini, hanya engkau satu-satunya yang tahu kegelisahan hatiku.

Aku telah mendapatkan kesempatan menjadi seorang ibu dari tiga orang anak. Aku menganggapnya sebagai sebuah kesempatan emas, tentu saja semua perempuan akan merasakan hal yang sama ketika mereka menyandang gelar ibu.

Kebahagiaan yang tiada duanya bagi sebuah keluarga ketika buah hati hadir sebagai pelengkap keindahan dalam rumah tangga. Aku bisa merasakan rasa senang mengalir di sekujur tubuhku saat bisa menimang anak yang terlahir dari rahimku.

Ternyata tidak sampai disitu, banyak ujian yang harus kita jalani hingga menggapai satu keberhasilan dalam menjalankan tugas sebagai ibu. Ujian yang datang beda-beda, dari hal kecil hingga besar, seakan mengajak aku untuk berfikir dan bertindak.

Tiga orang anak tidak seberapa jika mengingat ibuku melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain. Kami enam orang dengan jarak yang berdekatan.

Jika kembali mengingat masa kecil bisa kubayangkan bagaimana stress nya ibuku mengurus enam orang anak. Aku hanya tiga, tetapi kenapa tidak bisa setegar ibu.

Anak pertamaku perempuan, harusnya menjadi contoh dan panutan kedua adik lelakinya. Aku pun berharap demikian, dia bisa berpikir jernih dari adiknya sebab usia mereka berjarak tiga tahun.

Anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah SWT kepada manusia, karenanya harus dijaga, diperhatikan dan dididik dengan baik. Sehingga sebagai orang tua, akan melakukan berbagai cara untuk kebahagiaan anak-anaknya.

Sebagai ibu, aku juga sama dengan ibu-ibu yang lain dalam memberikan perhatian pada anak, berharap sempurna. Sehingga bisa menjadi panutan orang-orang sekitar.
Namun, kenyataan yang terjadi tidak sesuai impian. Bidadari kecilku tumbuh menjadi anak yang begitu menggembirakan keluarga kecilku.

Dia tidak seperti anak-anak pada umumnya, banyak diam, dan cenderung tertutup bukan hanya itu, di masa kecil anak perempuan satu-satunya itu, lebih senang bermain sendiri.

Masih tidak seperti anak pada umumnya, anak-anak yang masa kecilnya pemalu ketika mereka memasuki usia sekolah, tingkat TK, SD atau SMP sudah ada perubahan. Bergaul dengan teman sekolah, atau punya sahabat yang se frekuensi.

Bidadari kecilku itu, diusia SD hingga memasuki masa remaja di usia 14 tahun belum ada tanda-tanda perubahan pada dirinya, belum bersikap dewasa.

Dia masih saja seperti saat masih TK, tidak berbaur dengan teman-teman sekolah, malu bergaul dengan sebayanya dan masih tertutup pada orang tua.

Tuhan sebagai orang tua, aku bahkan berpikir itu adalah hal yang biasa. Sebab dia tidak pernah sedikitpun mengeluh, hanya senang membantah ketika dia mulai demam bermain gadget. Saat kecanduan benda canggih yang bentuknya pipih itu, kami pun panik. Resah dan gelisah mulai menghantui, namun mungkin sudah terlambat. Berbagai cara telah dilakukan hasilnya tidak bisa menjadikan anak Perempuanku kembali normal.

Dia bahkan lebih banyak bermain daripada belajar. Sebuah ke khawatiran tingkat tinggi, yang membuat tidur malam kami tidak pernah nyenyak. Bayangan rasa bersalah seakan menjadi cambuk yang siap menghantam ku setiap saat.

Ada sikap tidak biasa yang dia perlihatkan pada kami setiap hari. Mulai dari membantah, tidak mau mendengar nasehat hingga enggan untuk ke sekolah. Situasi itu, kadang membuat kami sebagai orang tua emosi dan kesal.

Dan puncak keresahan serta kegelisahan kami terjadi, dua pekan terakhir ini tepatnya dua pekan di bulan Agustus. Aku sungguh dibuat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba mogok sekolah.

Satu, dua hari kami masih bisa memaklumi, tapi sudah dua pekan sudah hampir masuk sebulan. Memaksanya pun tidak ada gunanya. Hingga kami mendapat satu petunjuk, membawanya periksa ke psikolog.

Bukan hal yang mudah, awalnya dia berontak, marah bahkan sempat ada kata benci keluar dari bibirnya. Namun, akhirnya usaha kami berbuah manis. Bidadari kecilku pun bersedia untuk periksa ke psikolog, dan lanjut ke psikiater.

Mungkin di luaran sana juga ada yang mengalami hal yang sama seperti kami mungkin ada juga orang tua yang anaknya sama seperti kondisi anak kami. Intinya hanya satu senantiasa sabar dan ikhlas, serta harus berusaha memberikan perhatian penuh pada anak agar dia merasa tidak tersisihkan.

Sebab jika hanya bersikap cuek akan berdampak buruk bagi masa depan anak. Pentingnya mengenal karakter anak sejak usia dini. Sesibuk apa pun kita sebagai orang tua, anak tetap harus mendapatkan perhatian utama.

Terima kasih Tuhan atas solusi dari kegelisahan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *