Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan bertemu bulan suci Ramadan kali ini bersama anak-anak, suami dan ibu. Suasananya masih sama seperti tahun kemarin. Penuh kebahagian dan riang gembira. Kami menyambut bulan penuh ampunan dengan hati yang ikhlas, berkumpul bersama keluarga kecil di rumah almarhum bapak.
Aku mengajak anak-anakku setiap hari bukanya di rumah bapak sambil mengenang dia yang telah berpulang tujuh tahun yang lalu, mengingat saat-saat puasa ketika nenek masih hidup. Kami berkumpul di ruang keluarga, menu buka puasa tertata rapi di atas meja, aneka macam takjil, es buah dan makanan berat, tidak lupa kurma. Ya, almarhum bapak selalu saja membeli kurma untuk disantap saat buka dan sahur.
Kami bersaudara menyantap makanan sesuai selera masing-masing, ada yang bukanya makanan berat, ada kue dan ada juga yang memilih es buah, dan setelah tarawih baru makan makanan berat. Almarhum bapak sendiri senangnya kopi hitam dan kue tradisional, taripang. Dia baru menyentuh makanan berat setelah salat tarwih, kopi wajib sebagai menu pembuka juga sebagai pembatal puasa.
Selama puasa, bapaklah penentu menu berbuka. Kadang dia request untuk dimasakkan makanan sesuai seleranya, dan juga cocok dengan lidah kami. Masakan yang tidak pernah absen dan wajib ada di Ramadan, kari kambing dan martabak. Setiap tahun saat bulan puasa bapak pasti minta dibuatkan martabak oleh ibu dan kari kambingnya dibuat nenek. Biasanya menu tersebut hadir di meja makan kami pertengahan Ramadan atau akhir puasa karena itu saya jadi ikut-ikutan suka kari kambing.
Sejak bapak meninggal, tujuh tahun yang lalu. Artinya sudah tujuh kali puasa, kari kambing dan martabak tidak tersedia di meja makan. (Rindu sangat rindu). Mau buat sendiri, anak-anak dan suami tidak menyukai masakan yang bersantan ini.
Sementara Nenek, ibu dari orang yang telah melahirkan aku, memiliki peran penting dalam menyediakan buka puasa dan makan sahur. Dari tangannya yang mulai keriput, dia begitu mahir memasak masakan yang rasanya membuat kami selalu ketagihan padahal hanya menggunakan bumbu dapur seadanya. Masakan nenek selalu menjadi nomor satu di lidahku. Ikan Pallu Ma’ranya, sayur bening dan kue nagasarinya.
Masakan itulah yang membuatku selalu merindukan nenek selama Ramadan 2025. Nenek bahkan selalu terbangun di tengah malam memasak makanan sahur untuk kami anak cucunya. Kadang air mataku menetes saat berada di dapur dan mengingat semua kenangan bersama orang tercinta yang telah tiada.
Alfatiha untuk nenek dan bapakku tersayang.
