Pertemuan Ibu dan Ummi Sanga, Ada Tangis yang Tak Pernah Usai

Ibuku tidak memiliki saudara kandung tetapi, dia selalu kaya dengan saudara sepupu. Ikatan persaudaraan dengan para sepupunya itu, sangat dekat dan unik. Ibu memang memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, dia tidak hanya sabar tetapi selalu menghargai adik dan juga kakak sepupunya. Ibu tidak memiliki sifat yang egois mungkin karena itulah dia selalu akur dengan para sepupunya. Seperti Ibu dan Ummi Sanga.

Ummi Sanga adalah sepupu ibu lebih tepatnya adik sepupu. Jika dilihat dari garis keturunan sepertinya sudah sepupu dua kali. Sebab tercatat dalam silsilah keluarga, nenek Saya orang yang melahirkan ibuku sepupu satu kali dengan perempuan yang telah melahirkan ummi Sanga. Tetapi, suami Ummi Sanga almarhum Puang Tutu, sepupu sekali dengan ibuku. Meskipun sepupu satu kali, tetapi ibu selalu menyebut Puang Tutu adiknya dan ummi Sanga adalah adik iparnya.

Dulu saat ibu masih aktif mengajar, dia sering cerita ke teman-temannya bahwa dia memiliki adik laki-laki bahkan ibu kerap kali mengajak teman mengajarnya berkunjung ke rumah Puang Tutu. Karena itu, hampir semua teman-teman mengajar ibu kenal dengan Puang Tutu dan juga istrinya. Tidak heran, ummi Sanga juga sering menanyakan kabar teman ibu yang pernah berkunjung ke rumahnya, seperti Ibu Sompa, Ibu Huriah dan Ibu Tari. “Di manami itu ibu Tari dan ibu Sompa,” katanya pada ibu kala itu.

Oh, Iya. Sepeninggal Puang Tutu, aku selalu melihat kesedihan di mata Ummi Sanga. Apalagi ketika dia bertemu dengan ibuku. Air dari pelupuk matanya mengalir begitu saja. Sebulan sekali kami berkumpul di arisan keluarga. Saat itu juga saya selalu memperhatikan Ummi Sanga selalu menangis saat memeluk ibu. Kadang aku bertanya dalam hati kenapa dia menangis, kadangpula Saya sendiri yang menyimpulkan bahwa Ummi Sanga mengingat Puang Tutu saat melihat Ibu.

Setiap kali mereka bertemu, tak pernah ada basa-basi panjang. Hanya pelukan yang erat, air mata yang tumpah, dan satu nama yang tak pernah mereka lupakan yakni suaminya. Dulu, mereka bertiga begitu dekat. Dalam setiap pertemuan mereka selalu tertawa dan berbagi cerita. Ibu dan Puang Tutu selalu saling menjaga, sepereti itu yang aku amati sejak aku menginjak dewasa dan melihat keakraban ibu dan puang Tutu.

Sehingga saat dia pergi untuk selamanya, aku melihat ibu benar-benar menangis. Baru dua kali aku melihat ibu meneteskan air mata dihadapan orang yang telah meninggal. Di depan jenazah bapak dan di depan jenazah Puang Tutu. Ketika nenek meninggal orang yang melahirkan ibu, tidak kulihat air mengalir dari matanya. Dia hanya diam seperti patung.

Ibu selalu saja menyimpan kenangan indah bersama saudara laki-lakinya itu (Puang Tutu). Di setiap waktu, saat kami duduk-duduk di ruang tamu dan minum teh panas tanpa gula, ibu selalu cerita masa kanak-kanaknya bersama Puang Tutu. Dia dibesarkan di rumah yang sama katanya. Kata ibu, almarhum Puang Tutu orang yang sangat sabar dan baik mungkin karena sifat itulah mereka sangat dekat.

Beberapa bulan lalu, Ummi Sanga dan Ibu kehilangan orang yang mereka sayangi dengan cara yang berbeda, namun sama-sama dalam. Setiap kali bertemu, luka itu menganga lagi, mereka biarkan tangis mengalir, sebab di sanalah letak kekuatan mereka—dalam merelakan, mengingat, dan saling menguatkan bukan karena mereka lemah, tapi karena kasih sayang memang tak pernah benar-benar pergi walau orangnya telah tiada.

Aku selalu senang melihat Ibu dan ummi Sanga, kedekatan keduanya sungguh membuatku iri. Sangat jarang ada sepupu yang seperti itu, saling mencari jika ada pertemuan keluarga dan saling menanyakan kabar. Saling berpelukan saat mereka bertemu.

“Sehat Selalu Kedua Orang Tua kami, di panjangkan usianya agar bisa bertemu lagi di arisan berikutnya,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *