Serunya pertama kali mengajak anak bungsu kami, Naufal naik kapal laut. Perjalanan menggunakan transportasi laut, salah satu dari sejuta impiannya.
Sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), hampir setiap hari dia mengungkapkan keinginannya. “Ayah, bunda mauku naik kapal, naik kereta dan naik pesawat,” rengeknya kala itu.
Anak seusia Naufal, wajarlah jika banyak bermimpi hal serupa pernah kualami sejak masih seusia dirinya. Namun, tidak semua keinginan anak harus kita penuhi. Saya pun menampung semua keinginannya, kalau ada rezeki bolelah sesekali mewujudkannya.
Akhir Januari, awal tahun 2025, saat Naufal sudah lupa dengan keinginan terbesarnya itu, saat dia sudah tidak ingat dengan mimpi-mimpinya, saat itulah kami mengajaknya ikut ke Jakarta.
Tujuan kami untuk belanja ke Tanah Abang, membeli barang-barang untuk mengisi butik yang baru kami rintis. Awalnya kami rencana berangkat berdua naik pesawat agar cepat sampai dan cepat pulang juga.
Ketiga anak-anakku pun setuju, apalagi saat itu banyak hari libur. Anak-anak bisa tinggal di rumah neneknya, menunggu sampai kami pulang.Tiba-tiba teringat Naufal dan sejuta mimpinya ingin melihat Monas dari jarak yang sangat dekat.
Nah, setelah menghitung pengeluaran dan dana yang akan kami gunakan ke Jakarta, ternyata Cukup untuk mengajaknya, mengajak Safwa dan Nawaf jika kami menggunakan kapal laut.
Hanya saja waktu itu, Safwa dan Nawaf tidak tertarik untuk ikut, mereka lebih nyaman tinggal di Minasa Upa. Akhirnya kami pun berangkat bertiga, kami pesan tiket via aplikasi online. KM Dharma Kencana tujuan Makassar-Surabaya.
Kami sengaja memilih menggunakan kapal Dharma Kencana sebab masih segar ditelinga, kapal ferry milik PT Dharma Lautan Utama tersebut terkesan mewah, mirip kapal pesiar bersih dan suasana di atas kapal menyerupai hotel berbintang.Berangkatnya dari pelabuhan Makassar, Jumat dini hari pukul 24.00 wita. Tiba di Surabaya Ahad pukul 08.00 WIB.

Saat tiba di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, wajah Naufal berseri-seri. Sesekali dia merenung mengingat kakak-kakaknya di rumah. Dia pun meraih telepon genggamnya, segera mengabarkan ke Nawaf bahwa saat ini, dia sudah berada di pelabuhan menunggu kapal.
“Nawaf, adama di ruang tunggu kapalnya sudah datang tapi belum sandar,” katanya dengan nada teriak. Suara Nawaf pun tak kalah nyaringnya mendengar cerita Naufal. “Iya tawwa, Naufal. Vidiokan na, suasana di atas kapalnya kasih lengkap,” katanya lebih heboh.
Pesan Nawaf ini, selalu di ingat bahkan saat kami berjalan menuju kapal berdesak-desakan, Naufal tetap sibuk dengan hanphonenya. Beberapa kali saya menegurnya, takut hanphone nya terjatuh atau hilang. Namun, dia dengan santainya mengabadikan setiap momen untuk dikirim ke Nawaf.
Dari lantai dasar menuju ke loby kapal di lantai 2, kami menggunakan eskalator dengan membawa tiga koper, satu tas ransel dan satu tas jinjing yang isinya makanan.Naufal sendiri tidak menenteng tas, malam itu dia mendadak jadi kameramen. Merekam semua aktivitas di atas kapal.
Sesekali dia takjub dengan apa yang baru saja dilihatnya. Berkali-kali saya mendengar kata Wah, Waow, Addeh bangusnya, keluar dari bibirnya. Dia terlihat tenang-tenang saja. Tidak peduli banyak mata memandang ke arahnya.
Aku pun ikut senyum-senyum, sama seperti aku dulu ketika pertama kali diajak ibu naik kapal, banyak-banyak kagumnya dan sedikit norak.Dua malam kami habiskan waktu di kapal tanpa jaringan, sangat membosankan. Hanya bisa foto-foto tidak bisa berkirim kabar apalagi berbagi cerita pada anak-anak. Naufal terlihat sangat bosan,sesekali wajahnya cemberut.
Untuk mengobati rasa bosannya, kami mengajaknya ke atas. Duduk-duduk sambil makan pop mie, meskipun baru saja makan, dia sangat senang ketika kami menawarkan makan lagi, hehehe. Dia bahkan mengeluh, kenapa di kapal hanya tiga kali dapat jatah makan. Sementara kebiasaannya sampai empat kali. (hehehe)
Hampir setiap saat, setelah Salat kami nongkrong di Dek paling atas kapal, di sana kami bisa menyaksikan deburan ombak, memperhatikan laju kapal, menghirup udara laut dan menyaksikan matahari tenggelam. Naufal terlihat begitu bahagia, dia merekam semua aktivitas para penumpang kapal.
Sesekali Naufal teriak saat melihat kapal-kapal nelayan. Kencangnya angin membuatnya semakin tenang duduk berlama-lama.Setengah jam sebelum kapal sandar, Naufal begitu riang gembira. Dia bahkan teriak ketika melihat ada beberapa pulau yang kami lewati, tak kalah seru teriakannya ketika melihat sudah banyak kapal yang lewat. “Sudah hampir sampai Surabaya,” katanya.
Ketika sudah ada pengumuman sebentar lagi kapal akan sandar di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, anak kami yang masih duduk di kelas III SD ini, terlihat panik. Dia sudah tidak sabar ingin turun dan melihat kota pahlawan, Kota yang sangat jauh berbeda dari Makassar.
Oh, ya, bagi Anda yang juga akan melakukan perjalanan dan tiba di pelabuhan. Sebaiknya jika tidak ada jemputaan, dan tertarik menggunakan kendaraan online. Di area pelabuhan sudah ada perwakilan Grab. Biasanya dari pihak grab akan menawarkan kepada penumpang yang baru saja turun dari kapal. Lumayan harganya murah dan tidak ribet daripada kita yang order sendiri.
Setelah memesan kendaraan, petugas akan mengarahkan ke depan pintu pelabuhan, di sana ada tenda warna hijau atribut grab, dan tersedia kursi untuk menunggu kendaraan. Waktu itu, tujuan kami ke hotel dekat Staisun Pasar Turi karena kami tiba pukul 07.00 WIB, sementara kereta yang akan membawa kami ke Jakarta, berangkatnya pukul 22.00 WIB. Sehingga kami menyewa hotel untuk istirahat, sekedar meluruskan badan dan jalan-jalan di Dupak Grosir Surabaya.
