Langkah Pilu Amir, Berjalan 12 Km Ditembak setelah Terima Bantuan

Cerita Palestina 2

Sejak serangan Israel yang menghancurkan rumah dan gedung di wilayah Gaza, saat itu banyak yang kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal. Lebih memprihatinkan lagi, sejumlah bantuan dari berbagai negara ditahan. Akibatnya masyarakat Gaza kelaparan dan tidak sedikit yang meninggal akibat kelaparan.

Sungguh memilukan melihat kondisi anak-anak Gaza dari kiriman video yang tersebar di media sosial. Dengan tubuh kurus, mata cekung, dan langkah yang gontai, mereka berlari ke arah bantuan yang sesekali dijatuhkan dari udara.

Di antara suara ledakan dan ancaman peluru, anak-anak itu tetap maju, hanya untuk mendapatkan sekantong kecil tepung atau sebungkus roti.Ada yang berhasil pulang dengan senyum, meski lelah. Ada juga yang tak pernah kembali, karena peluru lebih cepat dari langkah kecil mereka.

Seperti yang dialami Amir, bocah berusia 10 tahun, tetapi perjuangan hidupnya sangat keras melebihi dari usianya. Untuk mendapatkan makanan, dia dengan penuh semangat berjalan kaki tanpa alas sejauh 12 KM, menuju titik distribusi bantuan yang disalurkan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

Setelah mendapatkan bantuan makanan, Amir tersenyum bahagia. Iya bahkan sempat mengucapkan terima kasih dan mencium telapak tangan orang yang telah memberinya sekantong makanan. Siapa sangka setelah mendapatkan tersebut, belum sempat ia memberikan untuk keluarganya. Tentara Israel menghentikan langkah Amir untuk selamanya. Bukan hanya Amir yang tewas tertembak, tetapi sejumlah penduduk yang juga sedang mencari makan syahid bersama Amir.

Kondisi yang dialami Amir bersama sejumlah penduduk Gaza, diceritakan oleh Anthony Aguilar, salah seorang pensiunan Angkatan Darat Amerika Serikat. Saat itu, dia bertugas sebagai keamanan untuk penyaluran bantuan Gaza Humanitorian Foundation. Dia mengatakan, Amir ditembak setelah mendapatkan bantuan.

Sebelumnya bocah tersebut berkeliling mencari bantuan, dia bahkan tidak peduli berjalan kaki sangat jauh demi mengumpulkan makanan. Setelah menerima paket justru tentara Israel menembaknya sebelum dia sempat menikmati bantuan tersebut.

‘Amir mengulurkan tangannya, saya pun memanggilnya. Saya katakan, kemarilah. Saya memberikan beberapa paket bantuan. Dia sangat senang, lalu mencium tangan Saya, sembari mengucapkan terima kasih, Om.” kata Aguilar, yang membagikan cerita tersebut pada jurnalis AS dan sejumlah anggota parlemen.

Bukan hanya Amir, bocah 12 tahun yang gugur setelah berjalan 12 kilometer demi bantuan. Fakta di lapangan menunjukkan, lebih dari 1.000 warga Palestina telah meninggal dunia saat berdesakan mencari bantuan makanan yang sesekali datang.

Mereka tidak bersenjata. Mereka bukan ancaman. Mereka hanya ingin membawa pulang roti, tepung, atau sekantong susu bubuk untuk keluarga yang kelaparan. Namun, setiap langkah yang seharusnya menuju harapan justru berakhir di ujung peluru.

Dunia tidak boleh diam, sebab setiap kali kita terdiam, akan ada lagi Amir-Amir lain yang gugur saat mencoba membawa pulang makanan.

Continue Reading

Kisah Heroik Abdul Rahman Agu Satu Jam Mengapung, Satu Nyawa Diselamatkan

Di balik tragedi selalu ada cerita yang pantas dikenang. Abdul Rahman Agu, salah seorang penumpang KM Bercelona V, yang terbakar di perairan Desa Talise, Kecamatan Likupang Barat, Minggu (20/7/2025) sekitar pukul 14.00 Wita.

Di antara kepulan asap, teriakan panik, dan ombak yang menggulung, seorang pria bernama Abdul Rahman Agu berdiri sebagai sosok yang menolak pergi tanpa menolong. Ia bukan petugas penyelamat, bukan pula seorang tentara hanya pria biasa yang hatinya terpanggil oleh jeritan seorang ibu.

Hari itu, kapal yang ditumpangi Abdul Rahman terbakar hebat. Ia yang berprofesi sebagai pekerja lepas di sebuah instansi pemerintah sedang dalam perjalanan biasa, hingga api dan kepanikan mengubah segalanya. Para penumpang mulai mengenakan pelampung, sebagian sudah melompat ke laut, sebagian lain masih terpaku oleh ketakutan.

“Panasnya luar biasa. Akhirnya saya putuskan untuk melompat.” Kenangnya pada sejumlah awak media yang menemuinya.

Kisah Agu pun viral di sejumlah media sosial, saat dia merekam semua yang terjadi di laut saat kapal terbakar. Video itu pun dia bagikan ke media sosial, dengan tujuan ada yang melihat dan menolongnya.

Saat ia berenang menjauh dari kapal yang terbakar, tiba-tiba terdengar suara memilukan—teriakan seorang ibu, meminta tolong. Ia menoleh dan melihat seorang wanita yang hampir tenggelam, memeluk erat anak balitanya yang masih sangat kecil.

Tanpa pikir panjang, Abdul Rahman berbalik arah. Ia berenang melawan arus, mendekati sang ibu dan anak itu. Dengan tenang, ia berkata, “Kita kasih tenang itu adik supaya tidak menangis.”

Ia mengambil balita itu dari pelukan sang ibu, berusaha menenangkan sambil menahan rasa lelah dan cemas. Mereka bertiga kemudian terapung selama satu jam, bersama dengan semua penumpang kapal di tengah laut.

Sama seperti penumpang lainnya, dia pun menanti pertolongan, harapannya sangat besar, bisa kembali berkumpul bersama keluarganya.

“Saya lihat ibu itu sudah lemas sekali. Tapi saya harus kuat. Kalau saya bisa bertahan, mereka juga harus,” ucapnya.

Akhirnya, pertolongan datang. Ibu dan anak itu selamat berkat keberanian seorang lelaki biasa yang memilih bertahan bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk jiwa lain yang begitu rapuh.

Continue Reading

Dari Tangan Kecil ke Toga Sarjana

Hari ini, dari jarak yang lumayan jauh, aku menyaksikan sebuah momen yang begitu berharga. Keponakanku, Mona Putri Yudifa, resmi menyandang gelar sarjana muda. Sebuah capaian yang tidak hanya membuatnya bangga, tapi juga kami yang membersamainya sejak ia masih kecil sangat bangga, bangga di atas segalanya.

Sejak kecil, membersamainya, menemani masa-masa tumbuhnya, mendengar celotehnya, melihat tingkah lakunya yang ceria, keras kepala kadang-kadang, tapi selalu punya semangat besar dalam hal belajar.

Aku masih ingat bagaimana dia dulu sering bertanya tentang hal-hal kecil dalam hidup, seakan ingin tahu semuanya sekaligus. Yang kutahu, dia sangat mandiri memilih sekolah sendiri sejak masuk SMP, SMA dan tentunya dengan meminta pendapat kami, dan ujung-ujungnya kami pun setuju dengan pilihannya.

Hari bahagiamu ini, mengingatkanku pada momen beberapa tahun lalu 2021, tepat setelah Mona tamat SMA. Di ruang tamu rumahku yang sederhana, kami duduk bersama membahas masa depannya. Mona, dengan sikapnya yang selalu menghormati orang tua, meminta pendapat kami, pendapat aku dan ibuku. Tentang ke mana ia harus melangkah setelah ini.

Perbincangan berlangsung lama. Sehari, dua hari berlalu tanpa keputusan. Kami ingin memilih yang terbaik untuknya, tapi bingung. Sementara itu, jadwal ujian masuk perguruan tinggi sudah makin dekat.

Di tengah kebuntuan, datanglah sosok yang tak terduga membawa angin segar. Suami dari sepupuku Namanya Bang Yadi. Orangnya santai, suka bercanda, tapi pikirannya tajam dan selalu memberi ide yang di luar dugaan. Dialah yang pertama kali menyarankan Mona untuk mencoba mendaftar ke Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung.

Kami pun mulai menimbang-nimbang saran itu, awalnya kami pikir di kampus itu, hanya untuk cowok, ternyata ada cewek juga. Sepertinya cocok dengan semangat Mona yang tangguh, dan kami setuju asal Mona lulus ujian.

Tak berhenti di situ, Bang Yadi juga menyampaikan ide itu kepada suami sepupuku yang lain, Kak Eko, dia alumni Poltek KP Bitung angkatan pertama yang kini sudah menjadi kapten kapal. Sosoknya tenang, bersahaja, tapi terlihat sangat serius.
Sosok Kak Eko juga sangat mendukung dan memberikan dorongan penuh. Dua abang sepupu kami ini bukan hanya bijaksana, tapi juga dikenal baik hati, penyuka musik, dan jarang marah kecuali saat lagunya dipotong pas karaoke (Hahahaha).

Siapa sangka, dari obrolan di ruang tamu sederhana itu, jalan Mona benar-benar mengarah ke dunia kelautan dan perikanan dan hari ini, perjalanan itu sampai pada titik terang, hari wisuda.

Wisuda bukan hanya tentang menerima ijazah atau memakai toga yang megah. Wisuda merupakan titik dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, tangis, tawa, dan pengorbanan. Mona bukan hanya menjalani kuliah seperti biasa.
Ia melaluinya dengan penuh kerja keras, berdiri di atas kaki sendiri, dan menjaga semangat meski rintangan datang silih berganti.

Melihatnya hari ini, lengkap dengan jubah hitam dan topi segi empat, rasanya seperti menyaksikan bunga yang mulai mekar. Meskipun tidak ada di sana, tidak melihatnya langsung, tetapi setelah dia mengenakan jubah wisuda, foto cantiknya terkirim di ponselku. Aku terharu. Mataku berkaca-kaca, dan doaku semoga ini menjadi awal dari keberhasilan yang lebih besar.

Mona, terima kasih sudah membuat keluarga bangga. Gelar sarjana itu bukan akhir. Ia adalah awal. Awal dari tanggung jawab baru, dari mimpi yang lebih besar, dari kerja keras yang lebih nyata.

Selamat, Mona.
Semoga ijazahmu segera menemukan tempat berlabuh terbaik. Jangan disimpan di laci. Biar dia bekerja.

Continue Reading

Ternyata Palestina Masih Terluka 1

Tulisan untuk Gaza I

Sore itu, Selasa 08 Juli 2025, hujan turun pelan-pelan, membawa dingin yang tak mudah kuurai. Di teras rumahku yang sederhana, aku duduk diam sambil memainkan ponsel dan minum secangkir teh hangat..

Rintik hujan jatuh seperti irama pelan dari langit yang murung, tiba-tiba di sela kesunyian itu, mataku menangkap beberapa postingan tentang Palestina di media sosial. Pikiranku melayang kemana-mana. Sudah lama ingin kudengar kabar itu.

Setelah tahun 2023 berlalu, aku kehilangan kabar terbaru tentang Gaza. Padahal aku selalu mencari, hampir setiap hari aku seperti terpanggil untuk mengetahui kabar terbaru dari Palestina.

Biasanya, saat kubuka media sosial khususnya Instagram, selalu update postingan tentang Palestina, tentang anak-anak yang kehilangan orang tua, warga yang bertahan hidup di tengah reruntuhan, dan potongan kabar terbaru dari tanah yang tak pernah benar-benar damai.

Saat itu, serangan udara yang dilakukan oleh Israel menewaskan ribuan warga, banyak wartawan dan bayi yang tewas. Rumah sakit dan masjid jadi sasaran. Kami yang menyaksikan dari jauh, ikut merasakan perih. Luka dan derita saudara-saudara di sana terasa begitu dekat, meski kami tak berada di tengah reruntuhan itu. Hati kami ikut terluka, tetapi kami bingung tak tahu harus berbuat apa selain mendoakan dan menangis dalam diam.

Setahun berikutnya, kabar itu tak pernah muncul lagi. Semua terasa hening, seolah tidak ada yang terjadi di sana. Padahal, serangan demi serangan brutal masih terus menghantam Gaza. Suara jerit dan tangis itu mungkin tak terdengar di sini, tapi di sana mereka tak pernah benar-benar berhenti.

Aku terus mencari searching di google dan mencari di instagram milik para aktivis Palestina, ada beberapa yang posting tetapi tidak sebanyak tahun 2023. Pada tahun 2024 hanya ada beberapa postingan yang cukup membuat kami tahu di sana luka masih terus menganga, ada beberapa postingan foto dan vidieo yang sungguh memilukan.

Waktu itu, aku ingin menulis tentang Palestina, tentang perasaan yang berkecamuk setiap kali mendengar kekejian pemerintah Israel terhadap rakyat Gaza, tapi aku tak tahu harus menuangkannya di mana. Sampai aku teringat, aku punya blog kecil ini. Mungkin tidak banyak yang membaca, tapi setidaknya di sinilah aku bisa menulis sedikit tentang luka Palestina dan suaraku yang ingin turut bersaksi.

Di blog yang ku ciptakan ini, aku ingin mengungkapkan isi hati tentang Palestina, tentang anak-anak yang tidak pernah mengenal ketenangan.

Tahun ini, 2025, ketika perang antara Iran dan Israel pecah, kabar tentang Palestina kembali memenuhi linimasa media sosial. Ada rasa lega meski getir melihatnya. Senang rasanya bisa kembali mengetahui kabar dari Gaza, tapi di balik itu, hati ini kembali sesak. Ternyata, penderitaan mereka belum juga berubah bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Salah satu kabar yang paling menghantam adalah syahidnya dr. Marwan Al Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ia wafat bersama istri dan lima anaknya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka. Kekejaman seperti ini bukan lagi hal baru. Dunia melihat, tapi banyak yang tetap memilih bungkam.

Aku selalu bangga melihat postingan tentang situasi di Gaza, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat, aku melihat keberanian mereka bahkan ketika suara tembakan begitu dekat dari tempatnya berpijak dia masih bisa tersenyum dengan ikhlas.

Mereka terlihat tabah padahal tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa suara ledakan. Anak yang luar biasa masih bisa tetap bermain tanpa rasa was-was.

Aku merasa sangat sedih, saat melihat postingan anak-anak Gaza makan di atas tanah yang retak dan di tengah bangunan yang runtuh. Sungguh memilukan melihatnya, apalagi saat melihat postingan ada yang meninggal karena kelaparan, kekurangan air bersih, Astagfirullah. Tanganku belum bisa membantu, tetapi aku ikut mendoakan. Aku berharap kelak tulisanku bisa menjadi jembatan dari hati ke hati.

Sungguh kejam pemerintah Israel yang menyerang tanpa titik, dokter Marwan Al Sultan satu-satunya dokter spesialis jantung yang masih bertahan di Gaza juga menjadi sasaran. Dia dan keluarganya tewas di ruang yang paling aman, sebagai bukti bahwa Israel tidak mengenal batas kemanusiaan.

Kepergian sang dokter menjadi catatan kelam dalam sejarah, dokter yang ke 70 yang tewas akibat serangan udara dalam dua bulan terakhir ini. Serangan yang tak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga harapan, dan nyawa mereka yang setiap hari berjuang menyelamatkan orang lain.

bersambung

Continue Reading

Bubur Asyura dan Suara Tawa di Rumah Nenek

Di sebuah rumah kayu yang catnya mulai pudar dimakan waktu, aroma santan dan gula aren perlahan menguar dari dapur. Rumah itu milik nenek kami, tempat di mana kenangan, rasa, dan cinta selalu disajikan dalam bentuk paling hangat yakni bubur Syura.

Setiap 10 Muharram, kami anak cucu dan keponakan berbondong-bondong ke rumahnya. Tak peduli seberapa jauh kaki melangkah atau seberapa lama tak berjumpa, bubur Syura selalu jadi alasan untuk bertemu (hahaha).

Kedatangan Saya, ibu dan sepupuku di sambut senyum dan tawa manis oleh tante-tante yang cantik. Anak dari nenekku, yang usianya jauh lebih muda dari aku dan sepupuku.

Entahlah, terkadang aku juga ingin berontak kenapa sih, kami yang lebih tua padahal mereka Tante kami. Sedikit lucu kedengarannya saat mereka memanggil kami kakak dan kami menyebutnya Tante.

Ini mungkin kesalahan nenek yang terlalu lama melahirkan anak-anaknya, atau salah ibu yang terlalu cepat melahirkan kami, Entahlah. Lupakan soal Tante yang usianya lebih muda. Kembali ke fokus utama bubur Asyura.

Di antara suara rebusan bubur dan tawa yang bersahutan, cerita demi cerita tumpah. Tangan kami sibuk menghias bubur dengan potongan labu kuning, aneka buah-buahan, kacang, bawang goreng dan telur warna-warni, tapi hati kami sibuk menata rindu yang selama ini disimpan diam-diam.

Rumah nenek memang sederhana, tapi di sanalah kami merasa paling kaya oleh kasih sayang, oleh tradisi, dan oleh suara tawa yang tak pernah usang.

Meski tangan ini tak langsung mencicipi bubur yang terhidang, karena kami sedang berpuasa sunnah 10 Muharram, tapi justru di sanalah letak kenikmatannya.

Kami menahan diri sambil menanti waktu berbuka, dengan menatap piring-piring bubur Asyura yang sudah tertata rapi.

Kami sungguh bahagia, tahun ini, di hari yang penuh keberkahan itu, kami masih diberi kesempatan melihat nenek tercinta, menyiapkan 100 piring bubur Asyura.

Lima puluh piring bubur putih, lima puluh piring bubur merah semuanya dibuat dengan tangannya sendiri, dibumbui cinta, dan disajikan dengan niat berbagi.

Padahal, usianya sudah menginjak kepala enam, tapi entah bagaimana, nenek tetap lebih kuat dari kami, para cucunya.

Ketangguhannya tak pernah lekang. Di balik tubuhnya yang mulai membungkuk, semangatnya tetap tegak dan dari tangannya, tradisi ini terus hidup, terus menghangatkan rumahnya setiap Muharram tiba.

Tradisi ini sudah berusia setengah abad

Konon kabarnya, nenek kami sudah memasak bubur ini selama lebih dari 50 tahun. Ternyata, ini bukan kebiasaan yang ia mulai sendiri. Neneknya dulu juga melakukannya, lalu mewariskannya kepada anak-anaknya. Kini, giliran kami generasi ketiga atau keempat yang ikut meramaikan. Bagi kami, tradisi ini bukan sekadar makanan, melainkan ikatan batin antar generasi.

Setelah bubur Asyura selesai dihias dan doa-doa dipanjatkan, rumah nenek belum juga sepi. Justru suasana makin riuh karena tibalah saatnya bagi-bagi bubur.

Sebagian kami antar ke tetangga nenek, sebagian lagi kami bungkus untuk dibawa pulang. Seperti biasa, nenek sudah menyiapkan semuanya dengan teliti, wadah-wadah plastik bersih, sendok-sendok kecil, bahkan plastik tambahan agar bubur tetap rapi dan tak tumpah.

Tapi, kami cucu-cucunya yang selalu tergesa-gesa tak sabar ingin segera membawa pulang rasa itu. Bubur kami tumpuk begitu saja dalam satu wadah, tak peduli hiasan buah yang sudah tertata manis sebelumnya.

Dan hasilnya? Bubur yang semula indah berubah jadi campuran warna-warni yang ajaib hiasannya kacau, bentuknya berantakan, tapi tawa kami pecah tak tertahankan.

Karena mungkin memang begitulah bubur Asyura di rumah nenek kami, bukan hanya soal rasa dan rupa, tapi tentang kenangan yang diciptakan di tengah kehebohan. Kami pulang dengan harapan tahun depan masih berkumpul di rumah nenek dengan jumlah yang sama belum berkurang atau berpindah alam.

Bagi Anda yang mempunyai cerita seru atau tradisi menyambut 10 Muharram bisa isi di kolom komentar.

Continue Reading

Makan Ayam Goreng Almaz, Ingat Albaik Saat Umrah

Alhamdulillah, akhirnya saya dan sahabat saya, Maryam bisa juga mampir ke outlet Almaz Fried Chicken yang berlokasi di Jl. Ratulangi, Makassar.

Sejak grand opening tanggal 28 Juni 2025, kami penasaran ingin datang langsung mencicipi menunya dan melihat sendiri suasana retoran yang sedang viral di medsos. Infonya selalu ramai pengunjung, Maa Saya Allah.

Dari promosi di medsos, ayamnya beda, kaya rempah dan rasanya seperti ayam goreng khas Timur Tengah. Awalnya aku pikir ini brand dari Saudi, ternyata Almaz brand lokal Indonesia yang baru saja hadir di Makassar, membuka dua outlet yakni cabang 118 dan 119 luar biasa.

Nah, kami pun datang ke sana. Saat tiba di parkiran, tiba-tiba timbul rasa takut (takut kehabisan ayamnya)sebab kelihatan sangat ramai, antrian panjang sampai ke depan pintu restoran.

Saat itu, saya ingin balik kanan cari tempat makan yang lain, tetapi teman saya ngotot maunya tetap makan di Almaz Fried Chicken. Akhirnya saya mengikut saja entah antrian yang ke berapa.

Maa saya Allah,kami disambut dengan pegawai berseragam orange, dia menjelaskan pada kami menu yang tersedia. Saat itu, kami memilih ayam rempah Saudi dan nasi khas Saudi, kami juga pesan kentang goreng dan nuget.

Oh, Ya! Bagi Anda yang kurang senang dengan rempah Saudi, tidak perlu khawatir Almaz Fried Chicken juga menyediakan nasi putih biasa, dan ayam bumbu Indonesia.

Setelah antri di kasir ternyata perjuangan kami belum selesai (Hahaha), kami harus bersabar menunggu meja kosong. Kata salah seorang karyawan, ada di lantai 2. Kami pun mengintip di tangga ternyata lebih ramai. Sehingga kami memutuskan untuk menunggu di lantai 1 saja.

Saat pesanan kami di letakkan di atas meja, aku terdiam sejenak. Sementara temanku langsung makan, dia memang sudah lapar dan ada asam lambung jadi tidak bisa menunda lapar.

Saya mencium ayam ada aroma rempah seperti kapulaga, kayu manis, dan lada hitam tipis, mengingatkanku pada aroma dapur hotel di Mekkah waktu umrah setahun lalu. Saya juga sempat mencicipi Albaik khas Saudi, rasanya memang mirip.

Kalau Anda bosan dengan ayam goreng yang itu-itu saja, Almaz layak dicoba. Selain karena rasanya unik, kita juga ikut mendukung brand lokal.

Almaz Fried Chicken merupakan restoran Indonesia yang didirikan oleh seorang pengusaha muda Okta Wirawan pada 14 Juni 2024 dan dari data yang saya himpun, AFC ini, satu group dengan Nasi Kebuli Abuya, PT Abuya Berkah Indonesia.

Almaz juga akan menyumbangkan 5% dari keuntungannya untuk membantu masyarakat di Palestina. Jadi, setiap kali kita membeli ayam di Almaz, bukan hanya lidah yang dimanjakan, tapi hati juga ikut merasa hangat karena ada kebaikan yang ikut mengalir dari setiap pembelian kita.

Nah, bagi Anda khususnya warga Makassar yang sudah datang ke Almaz Fried Chicken, mungkin bisa berbagi pendapatnya dengan menulis di kolom komentar.

Continue Reading

Soto Banjar, Semangkuk Kehangatan dari Tanah Borneo

Ilustrasi Soto Banjar

Ketika menyebut Kalimantan Selatan, salah satu hal yang langsung terlintas di benak banyak orang adalah kelezatan Soto Banjar. Makanan khas suku Banjar ini, telah menjadi ikon kuliner Banjarmasin dan sekitarnya. memiliki cita rasa tersendiri, kuahnya yang harum, serta rempah-rempahnya yang menenangkan membuat Soto Banjar bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya.

Soto Banjar salah satu kuliner yang selalu disajikan pada acara arisan, aqiqah atau pun acara syukuran kecil seperti wisuda. Meskipun bukan berasal dari Banjarmasin, bagiku Soto Banjar selalu menjadi menu andalan diberbagai acara keluarga. Tidak heran, beberapa kali Saya menghadiri acara Aqiqah, Arisan atau pun Sunatan, keluarga lebih memilih membuat Soto Banjar untuk disajikan dan dinikmati para undangan. Selain praktis, cara membuatnya tidak sulit. Soto Banjar, sifatnya yang fleksibel dan mudah disajikan dalam jumlah besar.

Salah satu rahasia kelezatan Soto Banjar terletak pada kekuatan rempah-rempahnya yang khas. Tak seperti soto dari daerah lain yang cenderung gurih berlemak, Soto Banjar memiliki kuah bening namun kaya rasa karena racikan rempah yang berpadu sempurna.
Di dalamnya, terdapat kayu manis, cengkeh, kapulaga, pala, lada putih, serta jahe yang direbus bersama ayam kampung hingga mengeluarkan aroma harum yang menenangkan. Perpaduan ini menciptakan rasa hangat, sedikit manis, dan sangat menggugah selera.

Tak hanya menambah cita rasa, rempah-rempah ini juga memberikan efek menenangkan dan menyegarkan tubuh menjadikan Soto Banjar bukan hanya enak disantap, tapi juga membuat nyaman dari dalam. Itulah sebabnya, soto ini sangat cocok disajikan di pagi hari, saat tubuh butuh kehangatan dan semangat.

Jadi jika Anda rencana membuat acara syukuran kecil di rumah, Soto Banjar bisa menjadi salah satu ide yang bisa dibuat dan disajikan pada tamu undangan. Selain rasanya nikmat, cara membuatnya mudah, bisa dibuat dengan porsi yang banyak.

Berikut Resep membuat Soto Banjar

🥣 Resep Soto Banjar Rumahan
Bahan utama:
• 1 ekor ayam kampung (boleh diganti ayam negeri), potong jadi 4
• 2 liter air untuk merebus
• 100 gram bihun, seduh air panas
• 3–4 butir telur rebus, kupas dan belah dua
• Ketupat atau lontong secukupnya, potong-potong
• Perkedel kentang (opsional)
Bumbu halus:
• 7 siung bawang merah
• 5 siung bawang putih
• 2 cm jahe
• 1 sdt merica butiran
• Garam secukupnya
Bumbu utuh (direbus bersama ayam):
• 2 batang kayu manis
• 4 butir kapulaga
• 4 butir cengkeh
• 1/4 sdt pala bubuk
Pelengkap:
• Daun bawang dan seledri, iris tipis
• Bawang goreng
• Sambal (cabai rebus diulek)
• Jeruk nipis

👨‍🍳 Cara Memasak:
1. Rebus ayam dalam air hingga setengah matang. Buang buihnya agar kuah jernih.
2. Masukkan bumbu utuh (kayu manis, kapulaga, cengkeh, pala). Rebus kembali hingga ayam empuk dan kaldu harum.
3. Sementara itu, tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan ke dalam rebusan ayam.
4. Setelah ayam matang, angkat dan suwir dagingnya. Sisihkan.
5. Koreksi rasa kuah: tambahkan garam dan merica jika perlu.
6. Siapkan mangkuk: tata ketupat/lontong, bihun, suwiran ayam, telur rebus, dan perkedel (jika pakai).
7. Siram dengan kuah panas, taburi bawang goreng, irisan daun bawang, dan seledri.
8. Sajikan dengan sambal dan perasan jeruk nipis.

✨ Tips Tambahan:
• Untuk rasa lebih gurih, tambahkan sedikit kaldu ayam bubuk atau rebus ayam kampung lebih lama dengan api kecil.
• Jangan terlalu banyak bumbu pala agar tidak pahit.
• Soto Banjar enak disantap hangat, cocok untuk sarapan atau hidangan acara keluarga.

Continue Reading

Anakku di Sunat, Aku yang Kesakitan

Pagi itu, udara rasanya berbeda. Sejak membuka mata, jantungku sudah berdebar lebih cepat dari biasanya bukan karena aku yang akan menjalani operasi, bukan pula karena mendengar kabar buruk, tapi karena hari itu adalah hari di mana kedua anak lelakiku akan di sunat.

Sebagian orang mungkin menganggap sunat itu biasa bahkan kadang dirayakan dengan penuh suka cita, tapi bagiku, ini lebih dari sekadar tradisi. Ini adalah langkah besar dalam perjalanan hidup anakku dan secara tak langsung, dalam perjalanan emosiku sebagai seorang ibu sebab mereka yang disunat, aku yang merasa sakit. Sakitnya bukan di tubuh, tapi di hati.

Perjalanan menuju hari ini, bukanlah sesuatu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun, diselingi diskusi panjang, rayuan, tangisan, bahkan perundingan keluarga yang berulang-ulang.

Kami sudah membicarakan soal sunat sejak Nawaf duduk di kelas tiga SD. Awalnya aku pikir, “Ah, nanti juga mau.” Tapi rupanya tidak semudah itu. Setiap kali kami mulai menyusun rencana, ia menolak takut, menangis bahkan dia menutup telinganya saat kami mulai membahasnya.

Tahun berikutnya pun begitu bahkan setelah teman-temannya satu per satu menjalani sunat, anakku tetap bergeming. Tak ada yang bisa memaksanya. Tak juga dengan bujukan, hadiah, atau cerita indah setelah sunat. Ia belum memang belum siap dan kami pun memutuskan untuk menunggu.

Daaaan, ketika diabmeminta di sunat usianya sudah 12 tahun, siap memasuki sekolah menengah pertama. “Ayah saya sudah siap di sunat”, katanya dengan nada senang.

Mendengarnya, gantian aku yang ketakutan, kubayangkan sakit yang dia rasakan, melebih rasa sakit gigi, atau mungkin tak kalah hebatnya dengan sakit hati.

Ku searching google, barangkali ada jalan lain selain sunat, tetapi keluarga malah menertawai.

Saya sangat panik mungkin karena tidak pernah piknik lagi (hehehe) karena sudah di suntik Nawaf terlihat mulai santai sambil memainkan handphone nya dan membiarkan dokter sunatnya bekerja dengan tenang.

Sementara Naufal, terlihat lebih tenang, kuat. Selama proses sunat berlangsung. Dia fokus berzikir, sesekali teriak mengucapkan kalimat “Lailaha Illallah,” suaranya sangat nyaring. Kami yang berada di luar ruangan kaget, dan berlari melihatnya. Dokter sunat senyum-senyum, dia bahkan terkagum-kagum.

Namun, setelah obat bius itu berpamitan pada Nawaf (hehehe). Dia mulai kesakitan, teriak sekencang-kencangnya. Nawaf bahkan berkali-kali berucap, “serasa mauma mati,”

Mengingatkan Ketika Mereka Bayi

Hari sunatnya anak-anak, hari libur kita berkegiatan. Tidak ada urusan kerjaan yang bisa menghalangi kita untuk tidak mendampingi mereka.

Kita seperti kembali ke masa-masa mereka bayi. Begadang. Mengompres, menyuapi, menenangkan.

Malam-malam panjang yang dulu kita lalui saat mereka demam di masa kecil, kini kita jalani lagi dengan ketabahan yang sama, tapi dengan rasa haru yang lebih besar.

Saat melihat mereka bisa tersenyum walau masih sedikit meringis, rasa sakitku tidak sia-sia. Aku tahu bahwa ini adalah bagian dari tumbuhnya mereka sebagai laki-laki dan bahagiaku sebagai seorang ibu.

Nah, buat para ibu yang sedang melalui masa sunat anak, entah anak pertama, kedua, atau kesekian, ku ucapkan peluk hangat. Kita memang bukan yang disunat, tapi sering kali kitalah yang lebih sakit.

Ketika semua telah selesai, saat anak kita tertawa kembali seperti biasa, saat ia bisa berlari-lari lagi tanpa takut, di sanalah kita tahu bahwa semua luka itu terbayar lunas oleh senyum kecilnya.

Continue Reading

Ketika Arisan Keluarga Jadi Ajang Tertawa, Terharu, Terseragam

Ada yang bilang, arisan itu cuma ajang kumpul-kumpul dan setor uang. Tapi bagi kami, arisan keluarga adalah tempat paling pas untuk menata rindu, memperbaiki sinyal silaturahmi, dan yang paling penting menguji kualitas pita suara.

Bulan ini, tepatnya Ahad 22 Juni 2025 arisan keluarga kami terasa beda. Bukan cuma karena tempatnya yang kece, tapi karena tawa yang tumpah ruah dan rindu yang akhirnya tersampaikan.

Bertempat di sebuah restoran bernama Bola Bale di Kabupaten Maros, sebuah lokasi arisan yang dipilih oleh sepupu kita tersayang Puang Tika. Acara yang luar biasa kerennya dan sangat berkesan mungkin sampai anak cucu kita lahir.

Di tempat itulah, kami para kakak, adik, dan sepupu kembali berkumpul. Duduk satu meja, menyantap makanan enak, dan membagikan cerita yang kadang receh tapi penuh makna.

Restorannya ternyata lengkap, bukan cuma menu makanan yang sedap, tapi juga disediakan sound system. Nah, ini dia momen paling ditunggu karaoke dadakan!

Meski suara kami lebih cocok untuk menakut-nakuti ayam tetangga (wkwk wkwk) tapi tetap saja mic berpindah tangan tanpa malu. Ada yang nyanyi lagu galau, ada yang semangat menyanyikan dangdut koplo, bahkan ada yang lupa lirik tapi tetap lanjut seperti pemenang The Voice.

Tertawa sampai perut sakit. Tersipu malu karena suara sendiri. Tapi itulah indahnya tidak ada yang menilai, semua hanya saling menghibur dan bahagia.

Beberapa sepupu memang ada sibuk kerja, ada sibuk di dapur, sibuk urus anak, bahkan ada yang sibuk dengan cuciannya menumpuk setinggi gunung Bawakaraeng. Pokoknya setiap hari kita sibuk dengan dunia masing-masing.

Tapi hari itu, Ahad, 22 Juni 2025, semua kesibukan ditinggal di rumah yang dibawa ke acara hanya hati yang rindu dan tubuh yang butuh liburan walau cuma sebentar.

Pokoknya arisan keluarga kita ini, tidak ada yang boleh absen atau menitip uang arisan saja tanpa memperlihatkan wajah. Apalagi dengan alasan ada kegiatan lain. Sebelum jarum infus terpasang di tangan tidak ada satu anggota arisan pun yang bikin alasan tidak bisa hadir sebab hukumnya wajib bukan Sunnah.(wkwkwkw).

Intinya jangan pernah ada yang memiliki jadwal di hari arisan yang telah kita sepakati bersama. Sebab ada ketua arisan yang kejamnya melebihi security kompleks yang jaga portal di subuh hari (hahahaha}.

Kembali ke suasana Arisan, setelah makan kenyang dan nyanyi puas, kami lanjut jalan-jalan ke sebuah tempat yang sangat indah. Di sana kita makan jagung, tempatnya sejuk dan menenangkan. Pemandangan alamnya luar biasa, pegunungan hijau, udara bersih, dan suasana sunyi yang nggak bisa dibeli di kota.

Kami duduk santai, foto-foto, nyemil lagi, dan menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi. Rasanya seperti di reset. Lelah hilang, hati tenang.

Bahkan ada momen haru yang diam-diam terasa. Saat semua sedang asyik ngobrol, sesekali kami saling menatap dan sadar, waktu terus berjalan. Anak-anak makin besar. Rambut orang tua mulai beruban. Tapi hubungan ini, semoga tetap awet.

Arisan keluarga kita bukan cuma urusan giliran, tapi urusan hati yang datang bukan hanya tubuh, tapi juga kenangan, rindu, dan doa-doa diam-diam.

Semoga arisan selanjutnya tetap seseru ini kalau perlu, mic disiapkan dua biar suara fals kami bisa duet.

Dresscode Arisan Jadi Hiburan

Oh ya, seperti biasa, menit-menit terakhir menjelang bubar selalu digunakan untuk satu hal yang krusial tapi nggak penting-penting amat membahas dresscode!

Iya, dresscode buat arisan bulan depan. Hahaha.

Entah kenapa, warna baju jadi hal yang tak bisa dilewatkan. Biar apa? Ya biar pas foto bareng, feeds Instagram kelihatan cakep dong!

Ada yang sampai beli baju dengan model dan bahan yang sama, ada juga yang cukup menyesuaikan warnanya saja. Tapi ada juga yang langsung pucat begitu mendengar keputusan warna katanya sih, bukan karena nggak cocok, tapi karena asam lambung naik gegara mikirin dresscode. Bahkan ada yang nyelutuk, dresscode bikin asam urat kumat!”

Pokoknya, dresscode adalah drama kecil yang paling dinanti.Bukan karena ribetnya, tapi karena di situlah tawa-tawa receh bermula. Sebenarnya bukan bajunya yang penting, tapi kebersamaan saat saling usil, saling goda, dan akhirnya tetap berusaha tampil kompak walau beda gaya.

Dan begitulah, arisan ini selalu jadi tempat kita jadi diri sendiri. Suara boleh fals, baju boleh beda model, tapi tawa dan cinta tetap seirama Asyik.

Continue Reading

Nawaf, Sekolah Cobig Jadi Saksi, Doa Kami Jadi Sayapmu

Untuk Anakku yang hari Ini tamat SDIT

Tak terasa, hari ini engkau resmi menamatkan pendidikan sekolah dasar mu di SDIT Cobig Islamic School. Rasanya baru kemarin Bunda menimangmu dalam balutan selimut bayi mungil, mengusap lembut rambutmu, dan mendekap tubuhmu. Kini, kau berdiri gagah berseragam rapi, menerima ijazah, disaksikan langit dan bumi yang ikut berbahagia atas perjuanganmu.

SDIT Cobig adalah saksi enam tahun perjalananmu meniti ilmu, dari hari-hari pertama belajar mengeja huruf hijaiyah, dari tangis saat hafalan pertama, hingga senyummu ketika bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Kau tak hanya belajar menulis dan berhitung, tapi juga belajar tentang sabar, tanggung jawab, dan cinta pada agama.

Ingat enam tahun yang lalu, pertama kali menginjakkan kaki di sekolah Cobig, kamu tidak tahu apa-apa bahkan belum bisa membaca jangankan membaca Alquran, mengenal Alfabet pun tidak. Berkat seorang ustazah, kala itu ustazah Nurhayati di kelas 1, kamu dijari sampai bisa membaca hingga mampu menyusun kalimat. Seteusnya berlanjut hingga akhirnya tahun ini, tamat.

Hari ini bukan hanya tentang kelulusan, tapi sebuah pertanda bahwa masa kecilmu perlahan mulai berpamitan. Masa remaja sedang mengetuk pintu hatimu, membawa banyak tantangan dan pilihan. Akan datang hari-hari yang menuntut lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dewasa. Tapi Ibu percaya, dengan iman yang tertanam, dan akhlak yang diajarkan di Cobig, engkau akan berjalan dalam cahaya.

Malaikat kecilku yang kini menginjak remaja teruslah belajar, tapi jangan hanya dari buku. Belajarlah dari kehidupan. Jangan hanya mengejar nilai, tapi kejar pula makna, jangan hanya ingin jadi pintar, tapi berusahalah menjadi pribadi yang bermanfaat.

Tamat dari Cobig bukan berarti tamat dari doa kami. Doa Ayah dan Bunda akan terus menjadi sayapmu, menuntunmu dalam langkah-langkah yang tak selalu mudah. Semoga ilmu yang kau pelajari menjadi cahaya yang tak pernah padam, dan menjadi amal jariyah bagi semua yang mengajarkanmu.

Terima kasih, Nak telah membuat kami bangga. Terima kasih telah menjadi anak yang penuh semangat dan kesungguhan, terima kasih karena telah melalui masa kecilmu di tempat yang penuh nilai dan iman.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu, memudahkan langkahmu, dan menjadikanmu anak shalih yang menyejukkan mata orang tuanya.Selamat atas penamatan Perjalanan masih panjang, dan kami akan selalu membersamaimu dalam doa.

Ustadz Terima Kasih Telah Menuntun

Anak-anak kami menamatkan pendidikan di SDIT Cobig Islamic School. Namun kami tahu, setiap langkah yang mereka ambil hari ini, tak lepas dari bimbingan sabar dan tulus kalian. Kalian bukan hanya pengajar, tapi penuntun bukan hanya membekali mereka dengan ilmu, tapi juga dengan iman.

Di tangan kalian, anak-anak kami belajar mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan memahami arti akhlak yang baik. Kalian tanamkan adab sebelum ilmu, kalian ajarkan sujud sebelum sukses. Itulah warisan para nabi, dan hari ini kalian menjalaninya dengan cinta dan keikhlasan.

Kalian bukan hanya menuntun pena mereka saat belajar menulis,tapi menuntun hati mereka agar dekat dengan Allah. Tak ada yang lebih indah daripada itu. Karena itu, kembali aku percayakan sekolah Cobig sebagai tempat anak kami melanjutkan pendidikan di tingkat menengah pertama, agar ilmu yang dia dapat di sekolah dasar bisa berlanjut di SMPIT.

Kami percaya, setiap huruf hijaiyah yang kalian ajarkan, setiap nasihat yang kalian ucapkan, dan setiap doa yang kalian panjatkan untuk mereka akan kembali padamu dalam bentuk pahala yang tak terputus.

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari kehidupan anak kami.
Menjadi cahaya di awal perjalanannya menjadi guru dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberkahi hidup kalian, menjaga setiap langkah kalian, dan membalas setiap lelah dengan surga yang tertinggi.

Barakallahu fiikum, ustadz dan ustazah, pendidik akhlak dan aqidah.
Terima kasih telah menuntun.

Continue Reading