Affan dan Dandi, Dua Nama, Dua Kota, Satu Takdir

Tragedi Aksi Akhir Agustus 2025

Di dua kota yang berbeda, dua nama terukir dalam duka yang sama. Rusdamdiansyah atau Dandi, seorang driver Ojol di Makassar, Affan Kurniawan di Jakarta. Mereka hanyalah pencari nafkah di jalanan, namun malam itu jalan justru menjadi saksi bisu kepergian mereka.

Affan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun, setiap hari meninggalkan rumah dengan satu tujuan mencari nafkah demi keluarganya. Hidup dalam keterbatasan tak membuatnya menyerah, justru menggerakkan hatinya untuk ikut membantu sang ayah yang juga bekerja sebagai driver. Di balik tubuh mudanya yang letih, tersimpan tekad sederhana agar keluarganya bisa bertahan.

Siapa sangka langkahnya begitu cepat terhenti, semangat juangnya pun terkubur bersama raganya. Affan menjadi korban ketidakadilan aparat kepolisian. Malam itu, Kamis 28 Agustus 2025, ia tak pernah berniat ikut berteriak dalam barisan demonstrasi. Ia hanya sedang menjalankan tugasnya, mengantarkan pesanan yang dipesan seorang pelanggan. Namun, takdir berkata lain ketika kendaraan taktis milik Brimob melintas, tubuh ringkihnya tak mampu menghindar. Roda besi itu menghentikan hidupnya.

Affan meninggal. Kepergiannya yang tragis tak hanya meninggalkan duka di rumah kecil tempat ia dibesarkan, tetapi juga menghadirkan luka mendalam di hati masyarakat Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Seorang anak muda yang seharusnya pulang dengan senyum dan hasil jerih payah, justru pulang dalam keheningan kafan.

Rakyat pun marah, rakyat murka. Dari Makassar hingga Jakarta, dari pelosok desa hingga jalanan kota, nama Affan disebut dengan getir. Ia bukan lagi sekadar driver ojek online berusia 21 tahun yang bekerja demi keluarga, melainkan simbol ketidakadilan yang merenggut masa depan seorang anak bangsa.

Bagi rakyat, Affan bukan hanya korban, ia adalah wajah perlawanan, suara yang dibungkam oleh kekerasan, dan jiwa yang harus diperjuangkan agar keadilan tak sekadar jadi kata tanpa makna.

Dimata Zulkifli, ayah kandung Affan, anak kedua dari empat bersaudara itu, memiliki sosok yang penyayang, dan perhatian terhadap keluarganya. Baik kepada semua orang dan tidak pernah berkata kasar, sekalipun sedang kesal. Affan tidak pernah mau terlibat dalam aksi kekerasan, hari itu tidak pernah dia mengatakan akan mengikuti demo, atau ikut menonton.

Bagi ayahnya, Affan bukan hanya seorang anak, ia adalah tulang punggung kecil bagi keluarganya. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ia selalu berusaha membantu keuangan rumah, bahkan tak jarang ia ikut membantu ayahnya mencicil kendaraan yang mereka gunakan bergantian untuk bekerja sebagai driver ojek online.

Di sejumlah wawancara, Zulkifli ayah Affan kerap merasa bangga sekaligus terharu, memiliki anak yang begitu peduli di usia yang masih belia. Baginya, Affan adalah anugerah, penopang semangat dan harapan di tengah hidup yang serba kekurangan.

Kabar duka yang datang malam itu, terasa mustahil dipercaya. Seolah bumi runtuh, sang ayah tak kuasa menerima kenyataan bahwa anak yang baru saja berangkat mencari nafkah, kini telah tiada. Affan pergi secara tragis, meregang nyawa di tengah aksi yang ricuh di depan gedung DPR RI, meninggalkan luka yang tak akan pernah terhapus dari hati keluarganya.

Rusdamdiansyah Tewas Dipukuli Dikira Intel

Di Makassar, ada seorang pemuda bernama Muhammad Rusdamdiansyah, akrab disapa Dandi. Sehari-hari ia mengais rezeki dari jalanan kota sebagai driver ojek online (Grab). Panas terik, hujan deras, hingga malam larut yang sepi sudah menjadi sahabatnya dalam mencari nafkah.

Karena itu, Dandi memilih diam di rumah. Kata Reza, adik iparnya, hari itu ia tidak keluar mencari orderan dan menghabiskan Waktu dengan tiduran, seolah ingin menghindar dari hiruk pikuk kota yang sudah dipenuhi kabar kerusuhan. Hingga menjelang senja, sekitar pukul 17.00, ia terbangun dari tidur siang.

Rumah tempat Dandi tinggal memang tak jauh dari titik aksi mahasiswa, hanya terpisah lorong sempit. Niatnya sederhana, mungkin sekadar ingin melihat-lihat situasi. Malam itu ia bahkan hanya berjalan kaki, tanpa rencana besar selain menonton aksi.

Namun siapa sangka, langkah singkat itu justru menyeretnya ke dalam tragedi. Menjelang malam, di tengah kericuhan yang makin panas, tiba-tiba teriakan pecah dari kerumunan, “Intel!” Suara itu menggema, memicu amarah yang sudah membara.

Dandi, pemuda 25 tahun itu, seketika menjadi sasaran. Massa yang kalap tak lagi peduli benar atau salah. Emosi yang menutup akal sehat menjelma menjadi kekerasan. Mereka menghajar Dandi tanpa ampun, memukul kepalanya dengan benda tumpul. Tubuh yang sebelumnya hanya berniat keluar untuk melihat aksi, menjadi korban salah sangka yang mematikan.

Tubuhnya terbujur kaku, saat itupula seseorang melarikannya ke rumah sakit terdekat. Namun,tidak tertolong. Menurut Reza, ada yang menghubungi menggunakan handphone Dandi. Dia mengabarkan bahwa saudaranya sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Tapi, keluarganya tidak percaya.

Dandi sempat menjalani perawatan medis, namun kondisinya terus menurun hingga dinyatakan meninggal Sabtu 30 Agustus 2025, dia menjadi korban setelah dituduh sebagai intel saat unjuk rasa di depan kampus UMI yang berujung ricuh.

Affan dan Dandi telah pergi dengan cara yang tak pernah kita bayangkan. Dua anak bangsa yang sederhana, pekerja keras, yang hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga. Namun, takdir menjemput mereka di tengah hiruk-pikuk bangsa yang sedang bergolak.

Kepergian mereka bukan sekadar duka bagi keluarga, tetapi juga cambuk bagi kita semua betapa mudahnya nyawa melayang saat amarah menguasai dan keadilan abai ditegakkan.

Ya Allah, ampunilah mereka, lapangkanlah kuburnya, jadikanlah setiap langkah mereka sebagai amal jariyah, dan tempatkanlah mereka di sisi-Mu. Semoga kita yang ditinggalkan, bisa belajar untuk lebih bijak menjaga persaudaraan, menahan amarah, dan menegakkan kebenaran dengan cara yang Engkau Ridhohi.

Continue Reading

Catatan Hati dari Tiga Hari yang Mengguncang

Pemimpin Lupa Amanah, Rakyat Lupa Akhlak

Agustus tahun 2025, bukan hanya bulan kemerdekaan ke-80 Indonesia, tetapi juga bulan ujian bagi bangsa. Di saat kita seharusnya mengenang darah dan air mata para pejuang, justru negeri ini diguncang oleh rentetan peristiwa yang menyayat hati.

Ada pembunuhan sadis terhadap rakyat kecil, ada penindasan, penjarahan, konflik, dan wajah wakil rakyat yang dipertanyakan keberpihakannya.

Tiga hari menjelang pergantian bulan, tepatnya 28 Agustus 2025, merupakan awal dari bergejolaknya amarah. Di tengah semangat merah putih yang berkibar, kita dipaksa menunduk, mengenang perjuangan mereka yang rela mengorbankan jiwa demi negeri, sekaligus menyadari betapa mudahnya rasa aman yang diwariskan itu bisa terusik oleh tragedi.

Awal demo dimulai sejak Senin 25 Agustus 2025, yang bertajuk Revolusi Rakyat Indonesia berlangsung di depan gedung DPR RI. Ribuan massa turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sorotan utama tertuju pada rencana kenaikan tunjangan wakil rakyat, di tengah kondisi ekonomi nasional yang justru sedang tidak baik-baik saja, dan pajak naik.

Aksi tersebut terus berlanjut hingga Kamis malam, 28 Agustus 2025, yang kemudian menjadi sebuah peristiwa memilukan. Di tengah keriuhan demonstrasi yang memanas, kerusuhan tak terelakkan. Saat itu, seorang driver ojek online tanpa sengaja terjebak di antara lautan massa. Ia hanya berniat menyeberang jalan untuk mengantarkan pesanan kepada pelanggan, namun takdir membawanya pada kejadian yang tak pernah ia bayangkan.

Namanya Affan Kurniawan, dia tewas terlindas kendaraan taktis milik Brimob. Semua hati rakyat di seluruh Indonesia ikut teriris. Aksi pun berlanjut di hari berikutnya, amarah rakyat semakin tak terbendung. Mahasiswa di sejumlah kota besar di Indonesia, turun ke jalan. Mereka menyuarakan keadilan atas meninggalnya Affan Kurniawan.

Aksi berlangsung tak mengenal waktu, dari pagi hingga sore hari mahasiswa berkumpul di jalan membakar Ban. Menghambat arus lalu lintas, banyak warga yang mengeluh, dari pagi meninggalkan rumah menuju kantor, pulang sore mereka terjebak macet hingga malam. Mereka berusaha mencari jalan lain, namun tetap saja macet tak terbendung. Banyak masyarakat yang memilih diam menunggu demo berakhir.

Namun, semakin malam, aksi semakin seru, dan mulai memanas. Bukan hanya itu, aksi yang tadinya damai, berujung rusuh. Tercatat dalam sejarah akhir Agustus pada hari Jumat, tanggal 29. Aksi itu keluar dari kendali, massa bertindak anarkis, mereka merusak fasilitas umum, mendatangi kantor wakil rakyat, membakar kendaraan di area parkir, hingga melalap kantor DPRD dengan api.

Kantor DPRD Makassar hancur, tidak ada satupun yang tersisa. Semua arsip, berkas penting hilang. Mereka tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Betapa susahnya para staf mengarsipkan berkas, surat-surat penting dari tahun ke tahun.

Massa melampiaskan kemarahan dengan membakar gedung DPRD Makassar, puluhan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Banyak yang mendukung mahasiswa perjuangkan keadilan, tetapi banyak juga yang menyesali terjadinya pengrusakan, pembakaran hingga mengakibatkan orang yang tak bersalah menjadi korban.

Di gedung megah itu, aksi sudah menjadi pemandangan yang tak asing. Masyarakat kerap datang mengadu, berteriak, bahkan tak jarang bertindak anarkis dengan memecahkan kaca atau merusak ruangan. Namun, belum pernah sekalipun gedung tempat wakil rakyat bekerja dilalap api, sebab biasanya aparat sigap menghadang, berusaha sekuat tenaga menenangkan massa agar tetap menyampaikan aspirasi tanpa kebablasan.

Tetapi, Jumat malam suasananya berbeda. Api benar-benar menyala, seolah ada pembiaran bahkan terkesan ada unsur kesengajaan, hingga akhirnya massa lain ikut terprovokasi dan semuanya menjadi abu.

Empat nyawa melayang sia-sia, mereka tidak bersalah. Mereka tidak bersalah, tidak ikut dalam anarkisme, hanya berusaha menyelamatkan diri. Namun kealpaan negara dan ulah segelintir oknum membuat mereka menjadi korban.

Di titik ini, pertanyaan yang mengusik hati, siapa yang pantas disalahkan? Siapa dalang dari pembakaran ini? Apakah murni ledakan amarah rakyat, atau ada tangan-tangan lain yang sengaja meniup bara hingga menjelma menjadi api?

Namun satu hal yang pasti, tak ada rahasia di hadapan Allah. Apa yang disembunyikan manusia, tetap tercatat di Lauhul Mahfuz. Mereka yang berbuat zalim, mereka yang menabur fitnah, dan mereka yang bermain di balik layar, kelak akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan-Nya. Dunia mungkin bisa menipu, tetapi akhirat adalah kepastian.

Continue Reading

Dari Gedung yang Hangus, Empat Ruh Terangkat ke Langit

Innalillahi waiinailaihi rojiun, 

Ya, Allah..

Makassar sedang rusuh, masyarakatnya sedang memperjuangkan keadilan. Gedung megah dibakar, tiga nyawa melayang. Sudah benarkah langkah mereka, ya Allah?

Malam itu, kota ini dipenuhi teriakan dan bara. Suara mahasiswa yang menuntut keadilan melakukan aksi hingga malam hari, perjuangannya cukup panjang. Menutup jalan, menimbulkan kemacetan di seluruh ruas jalan. Masyarakat yang sejak pagi pulang kerja terjebak macet.

Namun di tengah riuh itu, api menjalar, meruntuhkan dinding gedung DPRD yang siang tadi masih gagah berdiri. Peristiwa itu, terjadi Jumat (29/8/2025) saat para pejabat berkumpul di sana sedang mengikuti rapat Paripurna.

Sungguh menyedihkan. Ya Allah.

Ditemukan tiga orang  meninggal di dalamnya. Mereka bukanlah penguasa, bukan pula pembuat kebijakan. Mereka hanyalah pekerja biasa. Seorang staf, pegawai, dan penjaga yang setiap hari datang untuk mencari nafkah. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Sarina merupakan staf komisi yang berugas di kantor wakil rakyat, Akbar salah seorang staf fotografer dibagian Humas, sementara yang satunya lagi, Kepala Seksi Bidang Kesra kantor Camat Ujung Tanah, namanya Syaiful. Mereka orang-orang baik, mereka tidak bersalah, tetapi kini mereka telah pulang lebih dulu, di Tengah kobaran api. Mereka datang menghadap Mu.

Ya, Allah, merinding rasanya tubuh ini, gedung itu mungkin bisa dibangun kembali, tapi tiga nyawa itu tidak. Kepergian mereka meninggalkan duka yang dalam. Mereka dinantikan oleh keluarganya pulang dengan selamat. Orang tua mereka merindukan anaknya.

Ya Allah, apakah ini sebuah peringatan bagi kami. Bahwa dalam memperjuangkan sesuatu yang besar, jangan sampai kami kehilangan nurani. Dalam menuntut keadilan, jangan sampai ada yang tak bersalah justru menjadi korban.

Kami berdoa, semoga Engkau menerima mereka dengan husnul khatimah. Semoga Engkau lapangkan kuburnya, ampuni dosanya, dan jadikan setiap tetes air mata keluarga mereka sebagai penghapus dosa dan penambah pahala.

Ya Allah, Makassar boleh saja kembali tenang setelah ini. Api boleh padam, gedung boleh direnovasi. Tapi duka keluarga yang ditinggalkan, hanya Engkau yang bisa menyembuhkannya.

 

 

Continue Reading

Asap Hitam di Gedung DPRD, Tangis Putih di Rumah Duka

Aksi demonstasi mahasiswa dan sejumlah komunitas yang berlangsung di kota Makassar, sejak siang sungguh mencuri perhatianku. Teringat masa lalu, sering turun ke jalan meliput aksi mahasiswa. Kala itu, senang sekali rasanya, apalagi saat melihat para demonstran dibubarkan oleh aparat sementara mereka masih tetap bertahan.

Situasi seperti itu, membuat liputan saya menjadi sempurna, banyak bahan yang bisa disodorkan pada pembaca esok hari. Sebab zaman itu, belum ada media online, belum ada media sosial, belum ada konten kreator yang bisa menyiarkan langsung peristiwa. Sehingga masyarakat menunggu satu hari untuk tahu kejadian pada hari sebelumnya.

Jumat Malam, 29 Agustus 2025. Saya memantau sejumlah media sosial, tidak satu pun terlewatkan. Aksi mahasiswa berlanjut hingga malam dan berakhir ricuh pada tengah malam. Semakin malam, suasana semakin memanas. Hingga kabar itu datang, kantor DPRD Makassar terbakar. Api menjulang, membelah langit malam, Videonya ramaikan sejumlah media sosial.

Saya terdiam, sementara seluruh anggota keluarga sudah terlelap. Kemudian saya memilih membuka tablet, mencoba menuliskan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang bergemuruh, Saya salut pada mahasiswa yang terus menyuarakan keadilan, mengungkapkan keresahan rakyat dan ketidakpuasan terhadap keputusan pemerintah yang sangat membebani masyarakat.

Tetapi, ketika melihat kantor DPRD Makassar dan kantor DPRD Sulsel, dibakar. Hatiku tiba-tiba sedih, marah, sekaligus takut. Beginikah cara menyampaikan aspirasi? Sudah berkelaskah caranya? sejuta pertanyaan berkecamuk, membebani pikiranku.

Gedung itu, sudah habis terbakar dan nanti pemerintah akan menganggarkan lagi pembangunan gedung baru, uangnya tentu dari kita juga. Bukan hanya gedung, puluhan kendaraan roda empat dan roda dua milik kepala dinas dan para pejabat pemerintah juga habis terbakar.

YA, pada hari terjadinya insiden pembakaran, seluruh anggota dewan berkumpul, wali kota makassar dan wakilnya serta jajaran kepala dinas, kepala seksi hadir mengikuti Rapat Paripurna. Wali kota dan wakilnya, serta kepala dinas diselamatkan lewat pintu belakang menggunakan kendaraan roda dua. Sejumlah kepala dinas pun banyak yang meninggalkan mobilnya di parkiran kantor DPRD. Malam harinya kendaraan itu sudah terbakar, dan paginya menjadi abu.

Suasana Malam Semakin Mencekam

Gedung yang siang tadi masih terlihat megah, kini tinggal arang dan puing. Di antara sisa asap itu, ditemukan jasad seorang perempuan, staf komisi, yang setiap hari datang bekerja tanpa pernah menjadi sorotan. Ia bukan pengambil kebijakan, ia hanya menjalankan tugas.

Masih di gedung yang sama ditemukan staf Humas DPRD, orang yang sehari-hari hanya memegang kamera, mengabadikan kegiatan anggota dewan agar terlihat rapi di pemberitaan. Ada pula seorang staf kantor kecamatan, dan satu lagi anggota Satpol PP.

Ya Allah, merinding rasanya tubuh ini mendengar kabar itu. Mereka tidak bersalah, mereka bukan bagian dari janji-janji politik yang diingkari. Mereka bukan bagian dari kebijakan yang menyakiti rakyat. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang bekerja, yang barangkali pagi tadi sempat tersenyum pada keluarga sebelum berangkat, tanpa pernah tahu bahwa itu adalah hari terakhirnya.

Suasana Makassar Jumat malam, sungguh membuat hatiku pilu, demo memang hak rakyat, suara memang harus lantang. Tapi ketika amarah berubah menjadi bara, siapa yang bisa memastikan bahwa yang terbakar bukanlah orang-orang yang sama sekali tak bersalah?

Namun, dari semua itu, kematian tiga orang di dalam gedung sungguh menyisakan luka yang jauh lebih dalam daripada dinding hangus. Luka itu bernama kehilangan. Kehilangan itu akan dirasakan selamanya oleh keluarga yang ditinggalkan.

Gedung Hangus, Pemulung Berdatangan

Makassar mencatat sejarah di akhir Agustus 2025, gedung DPRD hangus terbakar, tidak ada yang tersisa, semua menjadi debu. Paginya di hari Sabtu, gedung yang apinya belum padam kembali dipadati manusia. Mereka datang membawa kepentingan yang berbeda, ada yang menyelamatkan barang-barang yang masih utuh, dan mengambil alat-alat pada kendaraan roda empat yang sudah menjadi debu.

Pemulung berdatangan, merebut besi-besi tua, bahkan Saya sempat melihat ada beberapa orang yang membawa alat untuk mengambil benda-benda yang masih terpajang di dinding. Kursi anggota dewan masih utuh pun jadi rebutan.

Continue Reading

RM Sidrap, Singgah Sejenak Pulang dengan Rasa Nyaman

Nikmat di Lidah, Hangat di Suasana

Bagi pencinta kuliner, khususnya penikmat Pallekko, masakan khas Sidrap, kini tak perlu bingung lagi mencari tempat makan yang pas. RM Sidrap hadir dengan aneka olahan bebek yang menggugah selera.

Saat mencari tempat makan, bukan hanya soal rasa yang jadi pertimbangan, tapi juga kebersihan dan kenyamanan yang membuat pengalaman bersantap jadi lebih istimewa.

RM Sidrap, salah satu rumah makan yang baru buka pertengahan tahun 2025 di kabupaten Gowa ini, memiliki lahan parkir yang sangat luas. Sehingga pengunjung tidak perlu khawatir mencari tempat parkir baik untuk kendaraan roda empat, maupun roda dua.

Saat masuk ke dalam, suasana terasa adem. Ruangannya bersih, meja-meja tertata rapi dan tidak terlalu ramai. Sangat cocok jika Anda datang untuk makan bersama keluarga, teman, acara arisan atau saat datang dari perjalanan jauh.

Berbicara soal makanan, RM Sidrap menawarkan aneka menu khas dengan cita rasa yang lezat. Mulai dari lauk pauk tradisional, olahan ayam, ikan segar, hingga sayur-sayuran, semuanya diolah dengan bumbu khas yang memanjakan lidah. Porsinya pas, harga pun terjangkau untuk semua kalangan.

Salah satu menu favorit yang banyak disukai pengunjung yakni bebek Pallekko. Masakan kabupaten Sidrap dan Pinrang ini, menonjolkan rasa pedas,gurih dan asem. Berbahan dasar daging bebek yang di potong kecil-kecil di masak dengan aneka rempah hingga teksturnya empuk.

Selain itu, RM Sidrap menyediakan masakan olahan ikan, seperti ikan bakar, ikan masak, dan ikan goreng. Aneka macam masakan olahan ayam, dan seafood. Dilengkapi aneka macam olahan sayuran segar dan minuman jus dari buah-buah yang segar.

Semua masakan disajikan dengan sambal pedas yang menggugah selera. Ditambah nasi hangat dan lalapan segar, pengalaman makan di sini terasa semakin lengkap.

Dengan kombinasi suasana nyaman, area parkir luas, dan hidangan lezat, tidak heran jika RM Sidrap menjadi tempat makan yang direkomendasikan. Baik untuk makan siang saat perjalanan jauh, acara keluarga, atau sekadar nongkrong santai, rumah makan ini selalu siap memberikan pengalaman bersantap yang menyenangkan.

Continue Reading

Sosok Affan Kurniawan, Pejuang Keluarga Pulang dengan Cara Pilu

Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Beberapa hari terakhir ini, setiap kali membuka ponsel, yang terdengar justru kabar buruk dari negeri kita tercinta. Berita pembunuhan, perampokan, korupsi, hingga tragedi Kamis (28/8/2025) malam.

Sebuah cerita dari kericuhan yang terjadi di depan kantor DPR RI, seorang driver ojek online Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis Brimob, di tengah kericuhan. Rasanya hati ini ikut teriris melihat videonya tersebar di media sosial.

Video itu, sontak membuatku tergerak untuk terus mencari kelanjutan kisahnya. Aku memilih tidur lebih lama untuk mengumpulkan informasi dan menulisnya di dunia ceritaku ini.

Ternyata Affan, seorang Lelaki berusia 21 tahun. Pada malam naas itu, dia sebenarnya tidak ikut dalam aksi, juga bukan bagian dari mahasiswa yang sedang demo. Affan hanyalah seorang driver ojek, yang sedang melaksanakan tugasnya. Seperti biasa hari-harinya penuh semangat untuk mencari nafkah, demi dua orang adik dan untuk membeli kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kedua orang tuanya masih lengkap, ayahnya bekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, kadang sebagai driver ojek online. Kondisi ayahnya yang bekerja keras untuk membiayai kebutuhan rumah, membangkitkan semangat Affan untuk membantu sang ayah.

Lelaki yang tidak sempat tamat SMP ini, memiliki mimpi besar untuk membangun rumahnya di kampung, namun mimpinya tidak menjadi kenyataan. Tubuhnya terlindas kendaraan Barracuda milik Brimob, saat dia sedang menyebrang jalan di tengah kerusuhan. Tujuannya ingin mengantar orderan milik pelanggannya namun takdir berkata lain, orderan tersebut tidak pernah benar-benar sampai ke tangan pemiliknya.

Malam itu, saat aksi mulai ricuh di Jl. Penjernihan I depan Bendungan Hilir, langkah Affan terhenti untuk selamanya. Kerumunan massa yang masih nonton pada malam itu, berusaha menghentikan. Mereka teriak, pengemudi Barracuda tidak menghiraukan. Laju kendaraan semakin kencang, meskipun banyak massa yang mengejar.

Affan yang tersungkur, kemudian dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawa kakak dua orang adik itu, sudah tidak tertolong. Innalillahi Wainnailaihi rojiun.

Kepergian Affan menorehkan duka yang dalam tidak hanya pada keluarga, tapi juga pada seluruh masyarakat Indonesia. Affan hanyalah satu dari jutaan pejuang nafkah yang menggantungkan hidup di jalanan. Namun, cara perginya yang tragis meninggalkan jejak luka yang tak mudah hilang.

Dari informasi yang dihimpun, Affan bekerja sambilan sebagai driver online, untuk membiayai sekolah dua orang adiknya yang masih SMP, dia juga membantu orang tuanya membayar rumah kontrakan yang mereka tempati. Kepergiannya sungguh menggores luka yang dalam bagi ayah dan ibunya.

Ayah kandung Affan, Zulkifli, menyebut Affan tumpuan keluarga, dia sangat perhatian pada adik dan kedua orang tuanya, tidak pelit dan suka membantu adik-adiknya. Meskipun ayahnya juga bekerja sebagai grab, Affan sering memberikan penghasilannya untuk membayar cicilan motor ayahnya. Affan, sekalipun pekerja keras, Affan selalu kembali ke rumah dan tidak menyukai ikut aksi yang bisa mencelakai dirinya.

Sejumlah Pejabat Melayat ke Rumah Affan

Isak tangis dari keluarga terdekat, sahabat dan kerabat terdengar riuh. Sang ibu kandung pun tak kuasa menahan rasa sakit kehilangan anak tercinta. Erlina, perempuan yang melahirkan Affan mengaku sangat terpukul atas kepergian anaknya. Dia bahkan tidak menyangka semuanya terjadi secepat itu, disaat anaknya sedang sehat-sehatnya, dan sangat bersemangat mencari nafkah, Allah memanggilnya pulang.

Di depan jenazah anaknya dia merintih, tangisnya pecah saat sejumlah pejabat pemerintah Jakarta berkunjung, Gubernur DKI Pramono Hanung dan mantan Gubernur DKI Anies Baswedan. Anies yang mengenakan kemeja hitam, berusaha menenangkan Erlina dan memintanya untuk tetap sabar dan ikhlas.

Kapolri RI, Lystio Sigit Prabowo juga datang berkunjung ke rumah ke rumah Affan. Dengan wajah penuh duka, dia memeluk erat tubuh ayah Affan. Saat yang sama tangisan dari keluar tambah riuh.

Ribuan Ojol Antar Jenazah Affan

Jumat siang, Jumat siang, matahari terasa hangat, cuaca bersahabat. Ribuan iring-iringan driver ojek online mengantar jenazah Affan ke pemakaman. Suasana haru menyelimuti jalanan, bendera komunitas ojol berkibar, dan suara doa mengiringi langkah perlahan menuju peristirahatan terakhir.

Air mata pun jatuh dari keluarga, sahabat, dan kerabat saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Isak tangis terdengar di antara doa yang dilantunkan. Affan, seorang anak bangsa yang mencari rezeki halal di jalanan, kini kembali kepada Sang Pencipta dengan cara yang begitu tragis.

Continue Reading

Aidil dan Syamsul, Potret Lapar di Hari Kemerdekaan

Pagi itu, saat membuka ponsel, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang sedang viral di media sosial. Dua bocah terekam sedang memungut kue dari kardus berisi sisa makanan para tamu undangan pada upacara peringatan 17 Agustus 2025. Video tersebut sungguh mengharukan sekaligus menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Dalam video tersebut, tampak dua orang anak berusia sekira tujuh tahun mengenakan kaos cokelat. Mereka terlihat jongkok di sela-sela kursi yang berjejer rapi. Kursi itu baru saja ditinggalkan para tamu undangan usai upacara di Lapangan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sabtu pagi tanggal 17 Agustus 2025.Dua bocah tersebut, membuka dos putih berisi snack, ada beberapa yang masih utuh. Mereka lalu, mengumpulkan nya dalam satu kantong plastik.

Saya pun mencoba mencari beberapa artikel yang membahas kisah anak tersebut. Sejumlah artikel menuliskan kisahnya, ternyata mereka bernama Aidil dan Syamsul. Kue-kue tersebut, tidak ingin di makan sendiri. Mereka mengumpulkan untuk di bawah pulang ke rumah, makan bersama kedua orang tuanya.

Sungguh, sebuah potret sederhana yang menyayat hati. Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, masih ada anak-anak yang harus berjuang dengan caranya sendiri demi sekadar mengisi perut.

Video Aidil pun viral, mengetuk hati banyak orang. Ada yang merasa iba, ada pula yang merenung dalam-dalam, betapa kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun belum sepenuhnya dirasakan oleh semua anak bangsa.

Kemerdekaan bukan hanya soal upacara dan bendera yang berkibar megah. Ia seharusnya juga berarti terbebas dari lapar, terbebas dari kesenjangan, dan menghadirkan kesempatan hidup layak bagi setiap warga, termasuk anak-anak seperti Aidil.

Kisah Aidil mengingatkan kita, bahwa tugas bangsa ini belum selesai. Di balik senyum polosnya, ada pesan yang tak boleh kita abaikan: kemerdekaan adalah janji yang harus diwujudkan, agar setiap anak Indonesia bisa merasakannya dengan utuh.

Aidil dan Syamsul adalah siswa SD Inpres Bertingkat di Kabupaten Gowa. Mereka tinggal di Jalan Beringin Kompleks Agus Salim. Kedatangan mereka ke Lapangan Sultan Hasanuddin pada Sabtu, 17 Agustus 2025, semata-mata hanya untuk menonton suasana peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bukan hanya Aidil dan Syamsul, banyak pula anak-anak lain yang datang dengan antusias. Bagi mereka, momen 17 Agustus adalah sesuatu yang luar biasa, momen yang hanya bisa mereka saksikan sekali dalam setahun. Sebuah perayaan yang tidak hanya menghadirkan upacara, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kagum di hati anak-anak kecil yang menyaksikannya.

Siapa sangka, aksinya mengumpulkan makanan viral dan mengetuk hati Kapolres Gowa AKBP Muh. Aldy Sulaiman, ia langsung mengunjungi rumah keluarga keduanya. Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian sekaligus dukungan moral dari jajaran kepolisian kepada Aidil, Syamsul, dan keluarga mereka.

Masya Allah! Tak hanya datang bersilaturahmi, AKBP Aldy juga berencana mengundang kedua anak itu ke Mapolres Gowa. Dalam kesempatan tersebut, ia akan memberikan hadiah berupa sepeda baru sebagai bentuk kepedulian sekaligus motivasi bagi Aidil dan Syamsul.

Continue Reading

Kisah Pilu Diva Febriani, Anggota Paskibra yang Tak Sempat Kibarkan Bendera

Diva Febriani dan Kekerasan Terhadap Anak

Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-80. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai daerah mempersiapkan beragam kegiatan untuk menyemarakkan perayaan. Salah stau yang paling sakral, di antara semua kemeriahan itu, yakni upacara pengibaran bendera merah putih. Sebuah momen yang berbeda dari upacara pada umumnya.

Mengibarkan sang saka merah putih simbol persatuan, pengorbanan, dan doa yang terpatri dalam kibaran merah putih di langit negeri. Banyak siswa dan siswi yang bermimpi, untuk menjadi pasukan pengibar bendera merah putih, baik di tingkat sekolah, kecamatan, tingkat kabupaten maupun tingkat nasioanl.

Bagi para pelajar, berdiri tegak di lapangan dengan bendera merah putih di tangan adalah sebuah kehormatan meski hanya di lingkungan sekolah mereka. Seperti itupula yang dirasakan Diva Febriani.

Masih ingat dengan Diva Febriani?

Dia seorang siswi kelas X SMA Negeri 1 Natal, kabupaten Mandaling, Sumatera Utara. Pelajar berusia 15 tahun ini, terpilih sebagai salah satu anggita Paskibra yang akan mengibarkan bendera merah putih, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 80 di Lapangan Mandaling.

Ia begitu bersemangat mengikuti latihan, kebahagiaan pun terpancar dari wajahya saat ia menceritakan pada perempuan yang telah melahirkannya, tentang mimpinya mengibarkan bendera merah putih, di tanggal 17 Agustus 2025.

Tanggal 29 Juli 2025, siswi kelas X SMA Negeri Natal itu, pamit kepada orang tuanya. Dengan senyum penuh semangat, ia berangkat menuju Lapangan Merdeka, Natal, untuk mengikuti latihan Paskibraka. Namun siapa sangka, kepergian itu menjadi salam terakhir, Diva tak pernah kembali pulang.

Sebagai orang tua, tentu saja panik jangankan dua hari, sejam saja tanpa kabar dari anak akan membuat hati diliputi resah dan gelisah. Begitu pula yang dialami orang tua Diva. Setelah pencarian yang dilakukan keluarganya tak kunjung membuahkan hasil, mereka akhirnya menempuh jalan terakhir melaporkan kehilangan putri tercinta kepada pihak berwajib.

Motor dan sepasang sandal menjadi petunjuk penting di tengah pencarian yang sempat menemui jalan buntu. Malam itu, warga tak sengaja menemukan Honda Beat milik Diva tergeletak di kebun sawit Desa Sikara-kara I. Temuan tersebut sebagai titik terang awal dari pencarian.

Keesokan harinya, warga kembali menemukan sandal perempuan tak jauh dari lubang bekas galian alat berat. Dari arah lubang itu, warga mencium aroma tak sedap yang membuat bulu kuduk meremang. Rasa curiga pun kian menguat, dengan hati-hati, kepalanya ditutupi ember. Saat warga mengangkat ember tersebut, tubuh Diva terkubur tanpa busana.

Setelah dilakukan evakuasi, jenazah langsung di bawa ke RSUD Husni Thamrin di Natal untuk dilakukan Autopsi. Hasil autopsi terhadap jenazah Diva Febriani dilakukan di RS Bhayangkara Medan. Proses medis ini menjadi bagian penting dari penyidikan lanjutan. Bagi para penyidik, hasil autopsi adalah pijakan utama untuk mengungkap apa yang sebenarnya menimpa Diva.

Siapa Pelaku Pembunuhan Diva?

Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak berwajib, hasilnya mengerucut pada seorang pria berinisial YN (25), yang tak lain adalah tetangga korban. Usai peristiwa itu, YN sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah kerabatnya di Desa Bonda Kase. Namun pelarian itu tak berlangsung lama. Pada Jumat pagi, 1 Agustus 2025, Tim Gabungan TNI dan Polri berhasil meringkusnya tanpa perlawanan.

Berdasarkan penyelidikan awal, polisi menemukan fakta mencengangkan. Pelaku tak hanya menghabisi nyawa Diva, tetapi juga merampas motor milik korban. Dugaan kuat menyebutkan, sebelum mengubur jasadnya dengan cara yang sadis, pelaku sempat melakukan tindak pelecehan seksual. Meski demikian, seluruh dugaan tersebut masih menunggu pembuktian lebih lanjut melalui proses hukum dan keterangan resmi dari penyidik.

Ucapan Pilu Ibu Diva

Sebelum ditemukan, Ibu kandung Diva sempat viral di media sosial, dalam video tersebut dia mengenakan kerudung hitam, wajahnya terlihat sangat sedih. Ucapannya pun mengundang simpati banyak orang. Dengan suara bergetar, dia memanggil nama anaknya dan mengungkapkan perasaan rindunya. “Dimana kamu dek, Mama tunggu di rumah dek. Mama Kangen dek, kalau ada masalah dibicarakan dek,” katanya. Peristiwa tragis yang menimpa Diva Febriani bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga menyuarakan realita pahit.

Continue Reading

Delapan Dekade Indonesia Merdeka, Apa Kabar Keluarga Pejuang?

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, bukanlah waktu yang singkat, cerita dalam sejarah diwarnai dengan perjuangan yang tak sederhana. Dari masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, pergulatan politik, pembangunan ekonomi, hingga era reformasi, semuanya membentuk wajah Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di sejumlah kantor pemerintah, sekolah, hingga perusahaan swasta, peringatan Hari Kemerdekaan dirayakan dengan upacara bendera. Sang Saka Merah Putih dikibarkan dengan penuh khidmat, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama-sama. Momen ini bukan sekadar formalitas, tetapi simbol tekad untuk menjaga persatuan dan meneguhkan rasa cinta tanah air.

Bukan hanya di kota, semarak kemerdekaan pun ramai dilaksankan di sejumlah pelosok desa. Kemeriahan diwarnai dengan lomba makan kerupuk semua tingkatan, dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Aneka lomba panjat pinang, balap karung, hingga pawai budaya, semuanya menjadi wajah keceriaan rakyat. Di balik tawa, ada makna mendalam bahwa kemerdekaan adalah milik semua masyarakat Indonesia.

Apa Kabar Keluarga Pejuang ?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir di semua daerah, seusai upacara peringatan Hari Kemerdekaan, para pejabat pemerintah melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Doa dipanjatkan, bunga ditaburkan, mereka menundukkan kepada dengan khidmat di hadapan makam para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi merah putih.

Sehari sebelum upacara, biasanya digelar Renungan Suci pada malam tanggal 16 Agustus, suasana hening menyelimuti area pemakaman. Hanya suara lantunan doa yang terdengar, mengingatkan kita betapa besar jasa para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan.

Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi wujud rasa hormat dan syukur bahwa kemerdekaan yang kini kita rayakan dengan keceriaan, sejatinya berakar dari pengorbanan dan darah para pendahulu bangsa.

Bukan hanya itu, biasanya sejumlah komunitas, kantor swasta, bahkan instansi pemerintah mengagendakan berkunjung ke rumah keluarga para pejuang kemerdekaan. Sekadar bersilaturahmi, menyampaikan terima kasih, dan membawa bingkisan sederhana sebagai bentuk kepedulian.

Kegiatan seperti ini biasanya pada bulan Agustus, saat peringatan Hari Kemerdekaan, Akhir September dan pada 10 November ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan.

Meski tampak sederhana, silaturahmi ini sarat makna. Ia menjadi pengingat bahwa keluarga para pejuang tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri dalam kehidupan. Mereka adalah bagian dari sejarah bangsa, penjaga cerita tentang pengorbanan, dan pewaris nilai-nilai perjuangan. Dengan hadir langsung ke rumah mereka, kita tidak hanya menghormati jasa pahlawan, tetapi juga menebarkan semangat bahwa bangsa ini tidak pernah melupakan.

Hari kemerdekaan menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa para pahlawan, dan memastikan keluarga pahlawan mendapat perhatian yang layak.

Continue Reading

Daun Cafe, Tempat Nongkrong Nyaman, Suasana Adem di Siang Hari

Jika anda mencari tempat tenang untuk mengerjakan tugas, atau sekadar nongkrong menenangkan pikiran, bisa berkunjung ke Daun Cafe.

Cafe yang terletak tengah kota Makassar ini, bisa membuat Anda lupa sejenak dengan hiruk pikuk.Tempatnya sangat strategis, terletak di sudut jalan yang rindang. Suasananya teduh, adem, dan nyaman. Cocok untuk siapa saja yang ingin sekadar melepas penat atau mengerjakan tugas dengan tenang.

Saat melangkah masuk ke dalam, ada ruangan ber AC, interiornya memadukan nuansa kayu dan dedaunan hijau yang membuat mata dan hati terasa segar. Meski sering dipenuhi mahasiswa, pekerja kantoran, hingga pebisnis yang sedang berdiskusi, suasana di sini tetap terasa tenang.

Ruang ini dekat dengan bartender, sehingga sangat mudah jika Anda ingin memesan atau menambah menu. Di ruang ini juga, aroma kopi yang baru saja di seduh terasa menyejukkan.

Namun, jika Anda kurang menyukai ruangan ber-AC, di bagian belakang tersedia ruang terbuka dengan suasana yang tak kalah nyaman. Meski hanya dihiasi beberapa meja dan kursi sederhana, nuansanya tetap menarik dan membuat betah berlama-lama.

Ada ruang terbuka yang tetap adem berkat tata letak yang dikelilingi tanaman dan sirkulasi udara yang baik. Di ruang terbuka ini, juga ada live musik, biasanya mulai malam hari.

Fasilitas Mendukung

Tidak perlu khawatir di Cafe ini, memiliki koneksi Wi-Fi yang kencang, colokan listrik di hampir setiap meja, dan kursi yang ergonomis menjadikan Daun Cafe favorit bagi mereka yang ingin bekerja atau belajar.

Oh, iya di lantai 2 ada selain ada Musalah, juga tersedia meja biliar. Nah, bagi Anda yang hobi bermain biliar bisa sesekali berkunjung ke cafe ini. Sekadar seru seruan bersama teman.

Menu yang Disediakan

Ada banyak menu yang tersedia di Cafe ini, selain kopi daun, kopi gula aren dan teh panasnya, juga tersedia aneka juss, dan minuman kekinian. Makanan andalan ada pizza, roti bakar, pisang goreng Anek toping, pisang goreng original dan kentang goreng.

Bagi Anda yang datang untuk makan siang, Daun Cafe juga menyediakan beragam makanan berat, seperti nasi ayam penyet, ayam lalapan, nasi goreng siput, nasi goreng merah, aneka macam Indomie, dan masih banyak lagi. Harganya bersahabat standar kafe, namun rasanya mampu bersaing dengan makanan di resto favorit di kota Makassar.

Daun Cafe adalah perpaduan sempurna antara tempat nongkrong, ruang kerja, dan spot healing. Baik untuk mengerjakan deadline, bertemu teman, atau sekadar menyeruput kopi sambil merenung, kafe ini selalu punya ruang untuk Anda.

Continue Reading