Naik Kereta Api Tut Tut Tut, Surabaya-Jakarta

Pagi mulai menyapa, udaranya terasa sangat sejuk saat kami tiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.  Naufal anak bungsu kami sudah terlihat sangat senang riang dan gembira. Ketika kami melangkah menuju lantai dasar KM Dharma Kencana VII. Sejak pukul 06.00 WIB dia sudah rapi, sudah mandi, dan dua kali sarapan.

Terlihat sangat segar saat berjalan meninggalkan dermaga menuju terminal pelabuhan. Berkali-kali matanya menatap sekeliling, seperti ada yang dia cari  tetapi, tidak. Dia hanya mengamati dan menyimpan dalam ingatannya, aku tahu Naufal menyimpan cerita untuk diceritakan kepada saudaranya di Makassar, saat pulang nanti.

Kereta Surabaya-Jakarta berangkat pukul 22.00 wita, sementara kami tiba di kota pahlawan di subuh hari. Cukup lama kami menunggu, pastinya Naufal sudah dua kali mengeluh bosan. Akhirnya kami pesankan makanan, begitulah dia. Saat dilanda rasa bosan, makanan sebagai obat mujarab yang bisa membuatnya tenang.

Nasi goreng Surabaya, soto ayam Surabaya dan ayam lalapan bukan hanya itu, dia bahkan meminta kami pesan ayam krispi katanya buat bekal di kereta selama perjalanan. Selain makanan dia pun request  Roti O. Semua bekal untuknya sudah siap dia terlihat sangat senang sekali.

Singkat cerita malam sudah mengingatkan kami agar siap-siap ke stasiun. Jarak antara stasiun Pasar Turi dan tempat kami istirahat tidak begitu jauh, sekira 10 menit sudah sampai. Tiba di stasiun lebih awal bagiku lebih baik daripada telat, di sana kami duduk di ruang tunggu menunggu kereta. Sembari membayangkan pertama kali aku naik kereta, saat itu aku sudah berstatus mahasiswa, sudah dewasa. Ketika takjub dengan sesuatu aku hanya bisa memendamnya, nanti dibilang norak atau kampungan dan semacamnya.

Naufal bebas mengungkapkan apa yang dia lihat, bahkan dengan nada yang keras. Saat ditegur pun dia makin melonjak. “Waow naik kereta guys, bagus sekali keretanya.”Katanya.

Ketika kereta mulai berjalan, “Ayah jalanmi kereta,” teriaknya. Saat itu, ayahnya duduk di belakang, aku dan Naufal duduknya di depan. Beberapa orang menoleh ke arah Naufal, mereka melemparkan senyum. Si bungsu dengan senang hati membalasnya.

Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, dia hanya tidur memang sih sudah waktunya tidur. Namun, ketika kami yang tidur sebaliknya dia terbangun dan mencari makanan. Ayam krispi, Roti O untung kami sempat membelinya sebelum naik kereta jika tidak wajahnya yang tadi bahagia bisa berubah jadi cemberut.

Naik kereta katanya, perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Tetapi, dia begitu senang sebab dalam perjalanan selalu sedia makanan. Anak yang lucu dan polos bicara sesuka hatinya.

“Enaknya naik kereta,sukaku ji. Nanti kalau sudah sampai di Jakarta saya mau naik Bajai na, Ayah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *