Merintis Usaha Butik, Berburu Pakaian di Tanah Abang

Akhir 2024 tahun lalu, kami rencana merintis sebuah toko baju muslimah. Segmennya menyediakan pakaian Haji dan umrah beserta oleh-olehnya. Kami pun menyusun dengan apik, memanfaatkan rumah ibu yang kosong. Di sebelahnya sudah ku buat toko bahan kue yang sudah berjalan selama tiga tahun. Ruang yang rencana kami jadikan sebagai tempat jualan pakaian pun kami rehab. Semuanya dari hasil tabungan dari teman tidurku yang juga ayah dari anak-anakku (hehehe). Dialah satu-satunya laki-laki yang memberikan dukungan penuh dari semua ide-ide cemerlang dari bisnisku. Dia bahkan tidak pernah mengeluh saat beberapa bisnis yang ku rintis sebelumnya sudah gulung tikar.

Singkat cerita, kami pun mulai menjalankan usaha awalnya membeli barang di Pasar Butung, pasar yang menjual grosiran. Tempat berbelanja para pedagang dari sejumlah daerah di Sulsel. Pakaiannya pun tidak kalah kualitasnya dengan yang ada di Tanah Abang Jakarta. Hanya saja harganya yang mungkin sedikit lebih mahal, sebab barang-barang yang dijual di sana sebagian didatangkan dari Tanah Abang.

Kami pun mulai melakukan riset sana-sini, mengumpulkan referensi dari para pengusaha fashion. Mencari ide-ide jualan pakaian baju muslimah. Akhirnya, kami pun bertanya ke para suhu, pengusaha-pengusaha yang telah sukses. Semua menyarankan agar aku hunting ke Tanah Abang dan Thamrin City, surganya pakaian grosir. Saran yang cemerlang ini pun ku sampaikan kepada lelaki yang menjadi tulang punggungku sejak belasan tahun lalu. Alhamdulillah, dia memberikan respon positif dan dukungan super maksimal, mulai dari menyiapkan modal merintis butik, modal perjalanan ke Tanah Abang hingga modal belanja.

Kami pun berangkat ke tanah Abang surganya pakaian grosir, lokasi Pusat Grosir Tanah Abang dan Thamrin City tidak terlalu jauh. Kami pun memilih menginap di tengah-tengah antara Thamrin dan Tanah Abang. Lumayan, sedikit menguras tenaga berjalan kaki dari penginapan ke PGMTA. Sebagai pengusaha pemula, banyak hal yang membuatku takjub ketika berada di Tanah Abang. Jika dulu pernah berkunjung ke pasar terbesar di kota Jakarta hanya sekadar jalan-jalan dan belanja oleh-oleh. Kali ini, aku datang belanja pakaian unyuk dijual kembali.

Harganya jauh lebih murah jika belanja di Butung, jelang Ramadan, pasar grosir Tanah Abang membludak, padat dan sangat ramai. Pedagang dari berbagai daerah berkumpul di sana, mereka datang membeli barang untuk stok lebaran.Sebagai orang baru,pedagang pemula saya mutar-mutar dulu, tanya-tanya harga. Sharing-sharing dengan para pedagang, terima masukan. Ternyata dapat banyak pengalaman baru.

Di Tanah Abang, kita bisa keliling dari toko satu ke toko yang satunya. Hari pertama kami membeli barang dengan jumlah yang banyak lalu membawanya ke hotel dengan susah payah. Lumayan menguras tenaga, karena kami masih belajar belum tahu apa-apa.

Hari ke dua di Jakarta, kami lanjut hunting pakaian. Menjelajahi padatnya tanah Abang, Metro Tanah Abang, kami kembali mengumpulkan barang belanjaan di satu titik. Saat belanja barang, si pemilik toko bertanya mau diambil atau dititip. Pertanyaan yang sempat membuat otakku lumpuh seketika memikirkan apa maksudnya. Karena bingung saya jawab saja, mau langsung ambil. Jadinya kami bertiga menenteng semua barang belanjaan. Saat mampir di toko berikutnya, sang pemilik toko melihat bagaimana saya, suami dan anak kelelahan membawa barang belanjaan kami.

Dia pun menghampiri dan bertanya, “Baru mau jualan ya? baru datang ke mari untuk belanja?” katanya dengan nada lembut. “Iya kak, saya baru merintis usaha fashion.” jawabku singkat.
“Pantas kakak bawa sendiri barangnya, disini itu sistemnya para pedagang yang datang belanja dia titip di satu toko kak, bisa menggunakan jasa porter nanti si porter yang mengangkut barang kakak ke ekspedisi. Kakaknya tinggal nunggu di rumah.” Setelah mendengar penjelasan saya pun mengangguk antara paham dan masih bingung. Kemudiam dia mempertemukan saya dengan salah satu porter di Tanah Abang namanya pak Imam.

Dialah yang menyatukan barang belanjaan saya dalam satu karung, kemudian membawanya ke ekspedisi jadi saya tinggal menunggu di Makassar. Biaya angkatnya juga lumayan murah. Di sekitar Tanah Abang, mulai dari Kebun Kacang 1, sampai VII berjejer puluhan ekspedisi yang siap mengangkut barang belanjaan pedagang dan mengirim ke berbagai daerah.

Oh, Iya. di hari ketiga di Jakarta, saya masih melanjutkan pencarian barang-barang untuk isian butik. Namun, kali ini, saya tidak menggunakan jasa porter yang ada di Tanah Abang. Barang-barang kami packing di Hotel Juno, hotel tempat kami menginap yang jarangnya hanya sekitar 100 meter dari PGMTA. Ternyata di hotel tersebut, kita bisa packing barang-barang belanjaan kita, bukan hanya saya banyak pedagang yang menginap di hotel tersebut juga melakukan hal yang sama. Kebetulan, pada hari itu juga kami akan kembali ke Makassar sehingga pihak hotel untuk menyewa porter yang stanby di sekitaran hotel. Porter itulah yang membawa barang kami ke ekspedisi. Aman dan nyaman, pokoknya belanja di Tanah Abang, banyak happy nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *