Kumpul-kumpul setelah Lebaran, Makan Coto dan Pisang Peppe

Ilustrasi

Alhamdulillah, setelah sekian juta purnama akhirnya para sepupu dari pihak ibu kumpul di rumah tepat di hari ke lima setelah lebaran Idul Fitri 2025. Hanya sekadar kumpul biasa tidak ada yang istimewa tetapi, rasanya itu seperti sedang merayakan pesta besar padahal kami hanya membuat bakwan dan pisang goreng.

Jadi ceritanya itu, kakak sepupu saya yang tertua keponakan dari Ibu saya, menelepon. Katanya dia ada daging untuk buat coto dan konro kelebihan dari yang dia masak saat lebaran. Rencananya mau masak di rumah ibu, di Minasa Upa tetapi, jadinya masak-masak di rumahku.

Saya menawarkan agar acara kumpul-kumpulnya di rumahku saja di Aroepala agar tetangga-tetangga melihat bahwa rumah berwarna abu-abu blok U127 yang penghuninya setiap hari pergi pagi dan pulang malam ini, juga punya keluarga (hehehe). Akhirnya acara kumpul-kumpulnya pun terlaksana dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, eits seperti teks proklamasi saja.

Kami pun mengolah perdaginan menjadi Coto,sebenarnya sih bukan Coto sebab aku tidak melihat ada daging sapi, tidak ada usus, hati, daging pipih dan paru, pokoknya tidak ada pernak-pernik isian Coto selain babat sapi. Tetapi, bukan soal menu coto nya, kumpul-kumpulnya dan silaturahminya yang penting dan sulit terulang lagi. Satu lagi, yang penting bumbunya sudah menggunakan bumbu Coto. Rasanya tak kalah enak dari Coto Paraikatte, Coto Maros Jl. Urip Sumohardjo dan Coto Abdesir (hehehe, sedikit sombong).

Oh, iya pada hari Jumat tanggal 5 April masih dalam suasana lebaran, kami pun berkumpul. Hari itu, juga suami dan anak-anak saya sudah pulang dari kampung. Wah, yang datang bukan hanya satu atau dua keluarga, bukan cuma satu atau dua kendaraan roda empat yang terparkir. Ada banyak sepupu, sepupunya sepupu dan ada sepupu dari ibuku juga dari Rappocini, yang bikin ramai dan tak kalah serunya, banyak bocah-bocah.

Pokoknya acara kumpul-kumpulnya berjalan lancar dan sukses, hati senang walaupun tak punya uang. Kendaraan terparkir tidak hanya di depan rumahku tetapi, juga di depan rumah beberapa tetangga, Oh tetanggaku maafkan saya acara kumpul-kumpulnya hanya sekali setahun. Selain coto dan konro, ada satu menu yang selalu ada saat kita kumpul-kumpul Pisang peppe dan sambal terasi.

Pisang peppe merupakan pisang kepo yang masih muda, di goreng setengah masak kemudian diangkat lalu, dipipihkan sampai tipis. Setelah itu, di goreng kembali sampai garing, sebelum di goreng ada baiknya di rendam air garam, kalau mau tambahkan sedikit masako. Setelah semua pisang matang, kita buat sambel terasinya. Cemilan ini, sangat cocok di makan selagi masih panas dan saat ramai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *