Sakit gigi salah satu penyakit yang tidak bisa dianggap sepele, apalagi pada anak-anak. Menyebabkan anak tidak bisa makan dan akan timbul penyakit lain, seperti sakit perut.
Anak-anak lebih cenderung tidak mampu menahan ketika dia sedang sakit gigi serta sangat sulit untuk diajak ke dokter. Mereka akan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Seperti akan mengalami rasa sakit, dokter akan menyuntik dan segala macam rasa takut menari-nari di pikirannya.
Anak kedua kami Nawaf, sudah hampir sebulan mengeluhkan rasa sakit pada giginya. Sebagai orang tua, setiapkali dia merasa kesakitan pada saat itu juga mengajak periksa ke dokter. Ada rasa tidak tega melihatnya menangis karena sakit.
Namun, rasa takutnya ternyata lebih besar dari rasa sakitnya. Saat dia sedang sakit gigi, tangisannya tak kalah besar dari suara petir. Disertai marah-marah hingga mengamuk-ngamuk. Hampir sebulan seperti itu. Tetapi, saat kami mengajak ke dokter penolakannya lebih besar lagi. Sampai berontak-berontak tidak mau. Jika seperti itu, hanya obat penahan rasa sakit yang bisa kami berikan.
Akibat sakit gigi, sudah berkali-kali Nawaf izin tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Tinggal di rumah merintih dan menangis, dan berharap saat minum obat anti nyeri, rasa sakitnya akan hilang selamanya.

Hingga akhirnya tadi malam Sabtu, 18 November 2023. Puncak rasa sakit gigi dirasakan Nawaf. Rasa sakit yang tidak biasa. Sampai teriak-teriak pun tidak bisa lagi. Ingin mengajaknya ke dokter sudah kuduga dia akan menolak sambil berontak-berontak seperti hari- hari sebelumnya.
Rasa sakit yang dirasakan Nawaf tadi malam, mungkin sudah melebihi tingkat internasional atau sudah masuk stadium tingkat dewa (hehehe). Sehingga dia sendiri yang mengajak kami ke dokter. Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama berteman rasa sakit dia pun mau ke dokter.
Dari kakak dokter yang periksa Nawaf, dapat informasi kalau sudah sangat terlambat memeriksakan giginya. Gusi bernanah dan saraf sudah mat, dan berbagai istilah lain yang disebutkan dokter dan saya hanya mengangguk-angguk, sesekali menggeleng-geleng.
Kata kakak dokter, gigi bawah berlubang menyebabkan rasa sakit. Ada gigi baru keropos yang butuh beberapa kali perawatan.

Pemeriksaan gigi Nawaf, butuh waktu satu jam. Dokter gigi yang dibantu perawat dengan teliti mulai bekerja dengan lembut. Dia diarahkan naik ke kursi canggih yang dilengkapi perkakas dokter gigi. Sebelum diperiksa, sang perawat memutar film Upin dan Ipin, tujuannya untuk menghibur anak kami yang berusia 10 tahun ini.
Dokter juga meminta tidak boleh ada gerakan tambahan saat dokternya bekerja. Nawaf diminta menaikkan tangan kanan jika merasa sakit.
Selama dokter bekerja tidak pernah sedikitpun saya mendengar Nawaf merintih kesakitan. Padahal, jarum-jarum kecil berkali-kali di masukkan ke dalam giginya yang lubang untuk mengangkat tiga sarafnya. Detik-detik terakhir Nawaf mengeluh, dokter pun langsung melakukan tindakan dengan memberi obat bius agar si anak tidak merasa sakit.
Untuk mengobati gigi yang sakit biayanya tidak murah. Di klinik tempat Nawaf periksa, untuk cabut gigi satu bagian depan biayanya.Rp200.000, gigi bagian belakang sedikit lebih mahal.
Nawaf hanya datang untuk merawat gigi yang sering sakit, karena dadakan kami tidak menggunakan BPJS. Butuh waktu yang panjang jika harus pakai BPJS sementara anak kami sudah tidak bisa menahan rasa sakit waktu itu. Ternyata merawat gigi biayanya jauh lebih mahal lagi, menghabiskan biaya hingga Rp750.000. Intinya ketika anak mengeluh sakit gigi, segera bawa ke dokter gigi. Kalau pun dia menolak harus menggunakan jurus pemaksaan. (Hehehe).
