Ini Alasan Jemaah Harus Memakai Idcard Selama Berada di Tanah Suci

Jemaah umrah lupa jalan pulang ke hotel saat berada di Masjidil Haram, Makkah sudah sering terngiang di telinga.

Pada umrah sebelumnya, saya sering sekali menemui kejadian ada teman satu rombongan yang bingung jalan pulang.
Masjidil Haram yang sangat luas dan memiliki banyak pintu, terkadang membuat jemaah bingung.

Apalagi seringnya ada penutupan pintu oleh Askar (Petugas yang menjaga keamanan dan ketertiban di Masjidil Haram).
Kejadian serupa terjadi pada ibu saat kami berada di kota Makkah sedang melaksanakan ibadah umrah.

Tepat pukul 02.25, pada hari Rabu 6 Februari 2024. Kami menuju masjid berjalan kaki lumayan jauh namun tidak sampai membuat kaki pegal-pegal. Semuanya di bawah santai.

Kami masuk melalui pintu 3, agar bisa sampai ke pelataran Ka’ba. Tempat yang menyejukkan dan menenangkan ketika berdoa.
Bisa salat dua rakaat di pelataran Ka’ba mampu meluruskan jiwaku yang sedang kusut. Hatiku teduh dan terasa tenang.

Aku melirik ibu di sebelah kananku. Dia terlihat sedang khusyuk mengangkat kedua tangannya, menutup mata, bibirnya terlihat bergerak pelan.
Ibu sedemikian tenang dan rapihnya mendoakan anak dan cucunya. Aku juga yakin namaku terselip dalam doa ibu.

Tiba-tiba, sebuah teriakan menghentakkan kami. Aku membuyarkan doa ibu, memukul pelan pundaknya, meminta dia segera bangkit.

Hajja! sungguh, teriakan laki-laki tinggi berpakaian seragam lengkap, dengan sepatu berwarna coklat seketika membuat kami tersentak kaget.
Seorang askar Masjidil Haram, meminta kami untuk pindah dan mencari tempat di bagian belakang, kami pun menurut.

Lalu, berhenti ketika melihat tidak ada askar di sana. Baru saja kami meletakkan tas bawaan, teriakan lantang menegur kami kembali terdengar.
Ribuan jemaah mulai berdesak-desakan. Aku, ibu dan kakak Hasmira sesama jemaah dari kota Ambon.

Kami kembali berjalan di tengah ribuan jemaah. Berkumpul sampai pintu pembatas di tutup kembali. Kalau sudah seperti itu, tidak ada jemaah yang bisa lewat. Namun, akan dibuka saat azan mulai berkumandang.

Ketika ada celah, jemaah mulai menerobos pintu yang tertutup tadi. Kami pun mengikut saja hingga akhirnya aku dan ibu terpisah.

Hatiku bergetar hebat, mataku mulai mencari-cari disertai sedikit rasa takut. Tidak kutemukan ibu di tengah ribuan jemaah.

Sementara sudah masuk waktu subuh. Aku dan Kaka Hasmira pun memutuskan mencari ibu setelah salat subuh.

Pentingnya Idcard

Dulu aku pernah menjadi Tour Leader (TL) salah satu travel umrah di Makassar. Membawa jemaah dengan jumlah 400 san.
Saat itu, ada beberapa jemaah yang lupa pulang ke hotel. Saya keliling mencarinya tetapi, tidak menemukan. Hingga akhirnya ada orang yang menelepon kami untuk menjemput jemaah.

Kupikir ibu juga seperti itu, ditemukan orang baik lalu menelepon pembimbing. Tetapi, satu kesalahan fatal yang telah aku lakukan, melarang ibu membawa idcardnya.

Ibu pergi tanpa identitas, hal itulah yang membuatku panik. Untung saja ibu memakai tas, dan mukena yang bertuliskan nama travel kami.
Ada orang baik bersama ibu, dia meminta bantuan Mbah google untuk melacak nomor telepon travel yang namanya terukir indah di mukena yang dikenakan ibu. “Cobig Tour”

Kurang lebih 10 jam, aku dan ibu pun bertemu. Ternyata dari cerita ibu, saat terpisah dengan kami. Dia memutuskan untuk menunggu tetapi saya tak kunjung datang. Akhirnya dia berjalan sendiri rencananya kembali ke hotel namun salah jalan.

Dari kebingungan itulah, dia bertemu dengan jemaah asal kabupaten Pangkep yang membantunya menghubungi pihak travel.

Jadi, siapa saja yang akan melaksanakan ibadah umrah. Jangan pernah tanggalkan identitas dan atribut travel.

Entah itu ke masjid atau sedang belanja ke toko, ingat selalu membawa idcard. Sebab dalam id tersebut tertera nomor pembimbing yang bisa dihubungi ketika kita sedang dalam kebingungan atau tidak tahu arah ke hotel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *