Diva Febriani dan Kekerasan Terhadap Anak
Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-80. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai daerah mempersiapkan beragam kegiatan untuk menyemarakkan perayaan. Salah stau yang paling sakral, di antara semua kemeriahan itu, yakni upacara pengibaran bendera merah putih. Sebuah momen yang berbeda dari upacara pada umumnya.
Mengibarkan sang saka merah putih simbol persatuan, pengorbanan, dan doa yang terpatri dalam kibaran merah putih di langit negeri. Banyak siswa dan siswi yang bermimpi, untuk menjadi pasukan pengibar bendera merah putih, baik di tingkat sekolah, kecamatan, tingkat kabupaten maupun tingkat nasioanl.
Bagi para pelajar, berdiri tegak di lapangan dengan bendera merah putih di tangan adalah sebuah kehormatan meski hanya di lingkungan sekolah mereka. Seperti itupula yang dirasakan Diva Febriani.
Masih ingat dengan Diva Febriani?
Dia seorang siswi kelas X SMA Negeri 1 Natal, kabupaten Mandaling, Sumatera Utara. Pelajar berusia 15 tahun ini, terpilih sebagai salah satu anggita Paskibra yang akan mengibarkan bendera merah putih, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 80 di Lapangan Mandaling.
Ia begitu bersemangat mengikuti latihan, kebahagiaan pun terpancar dari wajahya saat ia menceritakan pada perempuan yang telah melahirkannya, tentang mimpinya mengibarkan bendera merah putih, di tanggal 17 Agustus 2025.
Tanggal 29 Juli 2025, siswi kelas X SMA Negeri Natal itu, pamit kepada orang tuanya. Dengan senyum penuh semangat, ia berangkat menuju Lapangan Merdeka, Natal, untuk mengikuti latihan Paskibraka. Namun siapa sangka, kepergian itu menjadi salam terakhir, Diva tak pernah kembali pulang.
Sebagai orang tua, tentu saja panik jangankan dua hari, sejam saja tanpa kabar dari anak akan membuat hati diliputi resah dan gelisah. Begitu pula yang dialami orang tua Diva. Setelah pencarian yang dilakukan keluarganya tak kunjung membuahkan hasil, mereka akhirnya menempuh jalan terakhir melaporkan kehilangan putri tercinta kepada pihak berwajib.
Motor dan sepasang sandal menjadi petunjuk penting di tengah pencarian yang sempat menemui jalan buntu. Malam itu, warga tak sengaja menemukan Honda Beat milik Diva tergeletak di kebun sawit Desa Sikara-kara I. Temuan tersebut sebagai titik terang awal dari pencarian.
Keesokan harinya, warga kembali menemukan sandal perempuan tak jauh dari lubang bekas galian alat berat. Dari arah lubang itu, warga mencium aroma tak sedap yang membuat bulu kuduk meremang. Rasa curiga pun kian menguat, dengan hati-hati, kepalanya ditutupi ember. Saat warga mengangkat ember tersebut, tubuh Diva terkubur tanpa busana.
Setelah dilakukan evakuasi, jenazah langsung di bawa ke RSUD Husni Thamrin di Natal untuk dilakukan Autopsi. Hasil autopsi terhadap jenazah Diva Febriani dilakukan di RS Bhayangkara Medan. Proses medis ini menjadi bagian penting dari penyidikan lanjutan. Bagi para penyidik, hasil autopsi adalah pijakan utama untuk mengungkap apa yang sebenarnya menimpa Diva.
Siapa Pelaku Pembunuhan Diva?
Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak berwajib, hasilnya mengerucut pada seorang pria berinisial YN (25), yang tak lain adalah tetangga korban. Usai peristiwa itu, YN sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah kerabatnya di Desa Bonda Kase. Namun pelarian itu tak berlangsung lama. Pada Jumat pagi, 1 Agustus 2025, Tim Gabungan TNI dan Polri berhasil meringkusnya tanpa perlawanan.
Berdasarkan penyelidikan awal, polisi menemukan fakta mencengangkan. Pelaku tak hanya menghabisi nyawa Diva, tetapi juga merampas motor milik korban. Dugaan kuat menyebutkan, sebelum mengubur jasadnya dengan cara yang sadis, pelaku sempat melakukan tindak pelecehan seksual. Meski demikian, seluruh dugaan tersebut masih menunggu pembuktian lebih lanjut melalui proses hukum dan keterangan resmi dari penyidik.
Ucapan Pilu Ibu Diva
Sebelum ditemukan, Ibu kandung Diva sempat viral di media sosial, dalam video tersebut dia mengenakan kerudung hitam, wajahnya terlihat sangat sedih. Ucapannya pun mengundang simpati banyak orang. Dengan suara bergetar, dia memanggil nama anaknya dan mengungkapkan perasaan rindunya. “Dimana kamu dek, Mama tunggu di rumah dek. Mama Kangen dek, kalau ada masalah dibicarakan dek,” katanya. Peristiwa tragis yang menimpa Diva Febriani bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga menyuarakan realita pahit.
