Penuh Haru, Richard Eliezer Divonis 1,6 Tahun Penjara

Siapa yang tak kenal Richard Eliezer Pudihang Lumiu. Namanya cukup populer sejak delapan bulan yang lalu. Tepatnya sejak dia menembak rekan sesama ajudan Brigadir Novriansah Joshua Hutabarat, hingga tewas sekira tanggal 8 Juli 2022.

Peristiwa hebat tersebut menarik perhatian masyarakat di seluruh dunia. Bukan hanya kalangan orang dewasa, tewasnya salah seorang ajudan jendral itu, juga menarik perhatian kalangan anak-anak.

Lalu siapakah penembak jitu itu?

Pemuda kelahiran Manado tahun 1998, seorang anggota Brimob Indonesia bergelar Bharada, berpangkat Tamtama. Memulai kariernya di Akademi Polisi (Akpol) Watukosek, Jawa Timur. Lulus pendidikan tahun 2019 dan diangkat menjadi ajudan, Kadivpropam Polri.

Saya ikut menyimak kisahnya, foto dan videonya tersebar dimana-mana. Di layar kaca dia terlihat sangat lugu, tenang dan sabar. Tidak tersirat kejahatan di wajahnya, sebaliknya yang selalu nampak hanyalah ketakutan dan rasa bersalah.

Sejak tayangan rekonstruksi, hingga tiga bulan persidangan, sikap Eliezer semakin menggemaskan. Tidak ada tanda-tanda laki-laki berusia 24 tahun inj, sebagai orang jahat. Sebaliknya banyak yang simpati pada putra pasangan Rynecke dan Dia bukan seorang penjahat. Begitulah penilaian banyak orang.

Ibu Eliezer, Rynecke Alma Pudihang, ketika di wawancarai di salah satu stasiun televisi, dia dengan tegas mengatakan Richard anak yang baik. Menjadi anggota polisi adalah mimpi terbesarnya, juga salah satu kebanggaan dari kedua orang tua. Maka sangatlah tidak mungkin dia mengitori tangannya. Mama dan Papa nya terang-terangan mengakui depan publik bahwa anaknya putra terbaik yang jujur dan patuh pada kedua orang tua.

Mama dan Papa Eliezer tidak percaya anaknya akan setegah itu, membunuh rekannya. Begitupun dengan calon tunangannya. Dia selalu memberikan semangat pada sang kekasih. Kedua orang tua Eliezer, terus mendorong anaknya untuk berkata jujur.

Bukan hanya dilingkup keluarga, rekan-rekannya di Brimob dan teman kerjanya pun banyak memuji Eliezer sebagai orang yang sangat baik.

Selama kurang lebih dua bulan, Eliezer mengikuti skenario yang di buat oleh Ferdy Sambo mantan Kadiv propam Polri. Selama itu, dia mengaku dihantui rasa bersalah. Apalagi skenario kebohongan yang dibuat jendral berbintang dua itu, sangat tidak masuk akal. Akhirnya pada awal September, lelaki yang akrab disapa Bharada E ini, pun membongkar semua kebusukan atasannya⁴.

Richard Eliezer, mungkin dari keluarga yang kehidupan ekonominya serba berkecukupan, rakyat kecil. Kedua orang tuanya tidak memiliki kemampuan untuk melawan orang sehebat Ferdy Sambo.
Membongkar kejahatan seorang jendral, bagi seorang ajudan tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang ditakutkan Eliezer, dia memikirkan keamanan keluarganya.

Pangkat Eliezer pun pangkat paling rendah di kepolisian. Tetapi, dengan modal kejujuran dan keberaniannya, Eliezer menuai banyak pujian, tak sedikit orang yang akan membantunya.

Saya sendiri tidak mengenal Eliezer, tak pernah bertatap muka apalagi berjabat tangan. Kami pun tidak satu kampung, tetapi hati ini selalu tergerak untuk memberikan dukungan, mensupportnya. Meskipun hanya di dunia maya. Setidaknya percaya bahwa dia tidak sepenuhnya bersalah.

Tanggal 30 November 2022, kami meluangkan waktu nonton persidangan sampai selesai. Saat itu, dia memberikan kesaksian atas kejahatan seorang jendral. Suasana pengadilan negeri Jakarta Selatan yang disiarkan live di layar kaca, seakan membawa kami hadir di sana. Ikut teriak untuk Eliezer, ikut bertepuk tangan.

Dihadapan Hakim Ketua Wahyu Imam Santoso, di depan Jaksa Penuntut Umum, di depan Ferdy Sambo, Putri Candrawati, ada juga Kuat Ma’ruf dan Ricky Richard. Eliezer yang kala itu, mengenakan kemeja hitam, dipadukan celana panjang coklat dengan gagah berani menceritakan kronologis penembakan terhadap Joshua.

Eliezer dengan fasih tanpa terbata-bata menceritakan, bagaimana Sambo memanggilnya ke lantai III rumah Saguling, saat itu dia baru tiba dari Magelang. Kata Richard, Sambo dan Putri duduk di sofa. Kemudian dia di persilahkan duduk di depannya.

Saat itu, menurut keterangan Eliezer, Sambo tanyakan peristiwa di Magelang. Sebagai ajudan yang tidak tahu masalah hanya menjawab tidak tahu, pak. “Ibu dilecehkan Joshua, berani kamu tembak Joshua?” tanya Sambo.

Kalimat sang jendral seketika membuatnya kaget, dia menggeleng tapi tak berdaya. Sehingga dia menurut ketika Sambo meminta untuk menambah amunisinya. “Nanti eksekusinya di duren tiga”. Lalu, mereka pun peegi ke Duren III, rumah jabatan sang jendral.

Dia juga dengan jujur berkata, saat bang Jos masuk, bapak teriak “kurang ajar kamu” Saat itu yang mulia, bang jos berkata ada apa pak. Namun, bapak lamgsung teriak memerintahkan saya untuk menembak.

“Tembak woi, kau tembak, cepat tembak” kata Eliezer sambil menangis. Ya, dia menangis mengingat peristiwa tersebut. Apalagi sebelum menembak, dia sempat berdoa, meminta kepada Tuhan, agar mengubah niat Ferdy Sambo untuk membunuh Joshua.

Saat itu, Sambo yang duduk di samping penasehat hukumnya, mendengarkan cerita Eliezer sambil geleng-geleng kepala. Sambo bahkan menyangkal semua yang dikatakan Eliezer. Dia tidak terima, bahkan sempat menuduh ada yang

Dari kejujuran itulah, berdatangan pendukung Eliezer, mereka berharap keadilan untuk Eliezer bahkan kedua orang tua dan keluarga besar almarhum Brigadir Joshua, pun berharap keadilan untuk Bharada E. Mereka memaafkan orang yang telah menembak anaknya.

Atas kejujuran itulah, dan atas maaf dari keluarga Joshua, Eliezer mendapat keringanan. Hakim pun menilai dia bersikap sopan selama persidangan berlangsung.

Hari ini, Eliezer menangis di depan hakim. Saat hakim ketua membacakan vonis 1,5 tahun penjara. Dia tak kuasa menahan air mata, para pendukung Eliezer yang memakai kaos hitam memadati ruang sidang serentak teriak bahagia. Ada yang menangis sambil berpelukan.

Eliezer menorehkan sejarah baru yang tentu akan tercatat rapi, dibenak masyarakat Indonesia. Keberanian dan kejujurannya patut dicontoh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *