Dari SMAIT Cobig untuk Mimpi yang Jauh
Di saat banyak pelajar berlomba menembus gerbang perguruan tinggi negeri ternama, Khumaerah justru melangkah ke arah yang berbeda. Bukan karena ia tak mampu bersaing, tetapi karena hatinya telah lama tertambat pada satu mimpi yang sederhana namun penuh makna, ingin mendalami pendidikan Bahasa Arab.
Kami baru benar-benar memahami arah langkahnya justru di waktu yang tak kami duga. Sekitar sebulan sebelum ujian akhir sekolah, tepat di penghujung Ramadan, ia menyampaikan rencananya untuk mendaftar Ma’had di Al-Birr.
Padahal sebelumnya, kami sekeluarga hampir yakin sepenuhnya remaja yang akrab kami panggil Cime, akan memilih salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Makassar. Keyakinan itu bukan tanpa alasan.
Sejak duduk di bangku kelas XII, perempuan kelahiran Juni 2008 ini. begitu tekun mempersiapkan diri. Tiga kali dalam seminggu, sepulang sekolah, tanpa banyak keluh, ia melangkah ke tempat bimbingan belajar. Lelah seakan tak pernah menjadi alasan. Semangatnya terlihat jelas, seolah ia sedang mengejar satu tujuan besar yang sudah pasti arahnya.
Saat itu, saya bahkan sempat menyarankan agar ia mendaftar di Universitas Hasanuddin, kampus merah tempat saya dulu menimba ilmu. Melihat kesungguhannya mengikuti bimbingan, saya berpikir pilihannya tak akan jauh jika bukan Unhas, mungkin Universitas Negeri Makassar, atau bahkan perguruan tinggi negeri lain di luar kota.
Namun, seminggu sebelum ujian sekolah, remaja yang kehilangan ayahnya sejak berusia tiga bulan ini, menyampaikan keputusan yang tak kami sangka. Dengan tenang, ia mengatakan tidak akan mengikuti seleksi PTN mana pun.
Alasannya sederhana, tapi dalam ia ingin mendalami Bahasa Arab. Saya sempat menimpali, bahwa di perguruan tinggi negeri juga tersedia jurusan Bahasa Arab. Tapi ia menjawab dengan keyakinan yang sulit dibantah,
“Saya ingin yang seratus persen fokus pada Bahasa Arab di kampus yang Islamnya terasa kuat.” katanya.
Saat itu, kami terdiam. Bukan karena tak setuju, tapi karena baru menyadari ia telah melangkah lebih jauh dalam keyakinannya bahkan sebelum kami benar-benar memahaminya.
Tidak banyak pertimbangan yang ia tunjukkan kepada kami, tidak juga daftar panjang universitas impian, ia hanya memilih satu tempat, satu jalan, dan satu tujuan.
Ia ingin kuliah di sekolah Islam, ingin mendalami bahasa Arab, dan lebih dari itu, ia ingin suatu hari bisa melanjutkan pendidikannya ke tanah Arab.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu besar. Sebab tidak semua anak seusianya memiliki arah hidup yang jelas. Tidak semua berani memilih jalan yang dianggap biasa oleh orang lain, tetapi justru bermakna besar bagi dirinya sendiri.
Pendidikan yang Luar Biasa di SMAIT Cobig Islamic School
Sebelum melangkah ke bangku kuliah, Khumaerah Dwi Putri Yudifa, menempuh pendidikan di SMAIT Cobig Islamic School. Salah satu sekolah Islam di kota Makassar, yang sangat kuat menanamkan nilai-nilai agama kepada siswanya.
Di sekolah itu, siswa dan siswi tidak hanya belajar Bahasa Arab, tetapi juga dibimbing untuk memahami fiqih, adab dan akhlak, Tahfiz Alqur’an, dan pendidikan Islam yang membentuk karakter.
Dari lingkungan sekolah Cobig, mungkin tumbuh kecintaannya terhadap Bahasa Arab, bahasa yang bukan hanya sekadar pelajaran, tetapi juga pintu untuk lebih dekat dalam memahami Al-Qur’an dan ilmu agama.
Di saat banyak pelajar yang memilih jurusan karena ikut teman, atau sekadar mengejar tren, Khumaerah justru memilih sesuatu yang sangat ia cintai. Ia ingin fasih berbahasa Arab, bahasa para ulama, bahasa Alqur’an, bahasa yang selama ini ia impikan untuk dipelajari.
Hari ini, langkah kecil itu, akhirnya dimulai. Khumaerah Dwi Putri Yudifa, resmi lolos di Al-Birr, universitas Unismuh, jurusan Bahasa Arab.
Semoga langkah Khumaerah dimudahkan, ilmunya berkah dan semoga suatu saat nanti Allah mengabulkan doanya menuntut ilmu hingga ke tanah Arab.
Selamat untuk Khumaerah
Dan terima kasih untuk SMAIT Cobig yang banyak membantu dan memberikan pendidikan kepada anak kami selama tiga tahun.
Terima kasih tak terhingga kepada ustazah yang dengan ikhlas berbagi ilmu pada anak kami, terima kasih banyak buat ustazah Haslinda, ustazah Faniah dan ustazah Ananda Realita.
