Tak Lagi Sekadar Tamu, Marsya Sudah Menjadi Keluarga
Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan. Enam bulan yang lalu, seorang mahasiswi
Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung, Sulawesi Utara, datang ke rumah kami.
Namanya Marsya, kadang kami memanggilnya Acaa. Dia datang ke Makassar, untuk menjalani Praktek Kerja Lapangan, di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang produksi perikanan. Kami menyambutnya hangat dan penuh kasih.
Awalnya kami mengira kehadirannya hanya akan menjadi singgah sementara, sebatas tamu yang datang dan pergi setelah tugasnya selesai.
Namun, hari demi hari berjalan dan tanpa disadari, Marsya bukan lagi mahasiswi PKL yang menumpang tinggal, dia sudah menjadi bagian dari rumah ini.
Dia sudah menjadi seseorang yang kehadirannya terasa sangat dekat, seperti saudara sendiri.
Marsya, sosok yang sederhana, pemalu dan murah senyum. Saya senang mengajaknya jalan, kemana saja saya mau pergi, dan dia juga senang ikut tanpa mengeluh.
Banyak cerita tentang kehidupan bersama keluarganya yang aku tangkap dari ceritanya ketika kami jalan berdua.

Hari ini, aktivitasnya d Makassar telah selesai. Perempuan berusia 21 tahun ini, akan kembali ke kampusnya di Bitung, dan tinggal d Asrama.
Rumah kami ini, tentu saja sama seperti dulu, tapi rasanya akan berbeda, lebih sunyi dari biasanya.
Ada banyak kebiasaan kecil yang pasti akan kami rindukan, dari teriakan memanggil namanya, hingga ketuk-ketuk pintu kamarnya untuk mengajaknya makan.
Meski kami teriak Marsya tetap menjawab dengan suara yang lembut, dan senyum yang selalu terlihat manis. Semua itu akan menjadi kenangan yang diam-diam menitikkan air mata saat mengingatnya.
Marsya di Antara Alea dan Eldar
Sejak kabar kepulangan Marsya terdengar di rumah kami, suasana perlahan berubah yang paling merasa sedih kedua bocah kami Alea dan Eldar.
Mereka yang selama ini sangat dekat dengan Marsya, sepertinya belum siap menerima perpisahan itu.
Ada kesedihan kecil yang mereka simpan diwajahnya, ketika mereka sadar bahwa sosok yang setiap hari menemaninya bermain, bercanda dan mendengar cerita mereka sebentar lagi akan pulang.
Eldar bahkan seringkali ingin ikut ke Bitung. Kalimat sederhana yang begitu polos tapi sangat menyentuh hati. Salah satu tanda berapa besar kasih sayangnya terhadap Marsya.
Sementara Alea sering diam ketika nama Marsya disebut akan pulang. Seolah dia memahami kenapa seseorang yang sudah seperti keluarga haruss pergi.

Enam bulan bagi sebagian orang adalah waktu yang sangat singkat, tetapi bagi anak-anak, kedekatan tidak pernah dihitung dari lamanya waktu.
Mereka mengingat siapa yang membuat mereka merasa disayang, dan Marsya sudah menjadi bagian dari masa kecil yang akan mereka kenang nanti.
Perpisahan selalu menyisahkan haru, tetapi setiap pertemuan yang tulus tidak akan pernah benar-benar berakhir sebab orang yang baik akan meninggalkan jejak bagi orang yang mengenalnya.
Terima kasih Marsya untuk enam bulan yang penuh cerita. Terima kasih sebab pernah menjadi bagian dari keluarga kecil ini.
Doaku, semoga dimudahkan cita-citamu tercapai dan semua kebaikan akan mengiringi perjalanan hidupmu.
Pulanglah ke kampungmu dengan bangga sebab di tempat kami ini, kamu bukan hanya pernah tinggal tapi pernah kami anggap rumah.
