Tentang enam hari yang kami kira akan berakhir dengan kepulangan
15 Desember 2025,
Pagi itu terasa begitu indah. Indah yang bahkan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seingatku saat itu, aku sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk anak-anak.
Ada aroma pagi, ada tawa kecil, ada rencana sederhana yang membuat hati terasa penuh.Sebab setelahnya, kami berencana berangkat menuju rumah kakak pertama di Kabupaten Gowa, jaraknya lumayan jauh dari kota Makassar, tempat tinggal ku.
Perjalanan yang tak sebentar, jaraknya lumayan jauh, namun entah mengapa pagi itu terasa sangat ringan. Seolah hari sedang mengantar kami dengan doa-doa yang tenang.
Berkunjung ke sana sebenarnya sudah lama ku rencanakan. Seminggu sebelumnya, niat itu telah kusimpan rapi di hati. Kebetulan, anak pertamanya akan menikah di pertengahan Januari.
Aku ingin berkunjung, sekadar melihat persiapan, berbagi cerita, dan menjenguk kakak pertamaku yang telah lama sakit.
Tiba-tiba telepon genggam ku berdering. Dia yang akan ku kunjungi rumahnya meneleponku. “Kamu di mana?” Katanya singkat.
“Di Aroepala, jawabku lebih singkat.
“Kalau ibu?” Tanyanya lagi.
“Lagi mandi,” jawabku semakin singkat.
“Saya mau ke rumah sakit, rencana mau operasi, mau singgah di rumahmu pamit sama ibu.” Terdengar cukup jelas kalimatnya.
Pamit? Tanyaku dalam hati, kata itu sungguh membuatku heran. Seperti tidak biasa mendengarnya.
Satu kata itu bergema lama di kepalaku. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup di dada. Entah mengapa terdengar berbeda.Terasa sangat berat di pikiranku, seperti mengandung sesuatu yang tak terucap.

Selama ini, ia selalu menelepon setelah tiba di rumah sakit. Tak pernah sebelumnya ia berpamitan terlebih dahulu, tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata pamit seolah sedang menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang lebih jauh dari sekadar ruang operasi.
Lima menit setelah menelepon, dia pun datang bersama istrinya. Tanpa menunggu di ruang tamu, aku melihat dia langsung masuk ke kamar menemui Ibu yang sedang memakai pakaian, baru saja selesai mandi.
Dia meraih tangan ibu dan menciumnya. “Doakan ibu, saya mau di operasi.” Katanya, lalu beranjak meninggalkan rumah sebab pukul 10.00 Wita, katanya dia sudah harus berada di rumah sakit.
Dan aku berdiri di ambang pintu, menyaksikan punggungnya menjauh, dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan antara cemas, harap, dan firasat yang samar namun menggetarkan.
Di ruang tamu aku duduk diam, ibu berdiri di dekatku. Aku mulai bicara, kukatakan pada ibu bahwa ini bukan hal yang biasa dia lakukan. Sikapnya sungguh aneh, ibu pun heran. Ternyata dia ingin menyampaikan hal yang sama, cukup lama kami berbincang di ruang tamu, suamiku pun merasa heran.
Tanpa pikir panjang, aku dan ibu menyusulnya ke rumah sakit, menuju ruang IGD.
Di sana aku melihatnya terbaring, namun bukan seperti seseorang yang sedang berada di ambang kepergian.
Wajahnya tampak biasa saja, dia tenang. Hampir tanpa tanda-tanda bahwa waktu sedang bersiap menutup pintunya bahkan ketika memasuki waktu Salat Duhur,
ia bangkit perlahan dari pembaringan, melangkah menuju Musolah.
Setelah menunaikan salat duhur, ia menoleh kepadaku dan berkata pelan,
“Belikan saya bubur ayam. Sudah sangat lapar.”
Aku terdiam. Kalimat itu seperti membuka satu pintu lama di kepalaku.Tiba-tiba ingatanku melayang jauh ke tiga tahun sebelumnya.
Saat itu, istri pertamanya juga terbaring di rumah sakit. Ruang yang berbeda, bau obat yang sama,dan rasa cemas yang serupa. Ia pernah berkata kalimat yang hampir sama waktu itu, tentang lapar. Tentang ingin makan bubur ayam.

Tak lama kemudian, suaminya meneleponku. Ia memintaku kembali ke rumah sakit membawa bubur ayam. “Dua porsi ya. Untuk saya dan istriku.” katanya.
Aku menurut, namun ketika bubur itu tiba, justru semuanya dimakan oleh kakak iparku.Ia makan dengan sangat lahap, aku tidak pernah melihatnya makan sebanyak itu, bahkan berkali-kali bertanya,
“Kamu beli di mana bubur ini?”
Aku hanya tersenyum kecil, tanpa tahu bahwa aku sedang menyaksikan satu kenangan terakhir yang kelak akan kupeluk seumur hidup. Lima hari kemudian, kakak iparku pergi untuk selamanya.
Kondisi kakakku saat itu. sungguh mengingatkan pada kondisi istri pertamanya. Dia juga banyak makan menjelang kepergiannya.
Di ruang IGD, kami yang mengantarnya mulai gelisah memikirkan dokter yang tak kunjung datang. Waktu terus berjalan, sore mulai merambat ke malam, namun kakakku terlihat biasa-biasa saja.
Ia bahkan sempat bercanda kecil seolah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Justru kami yang mondar-mandir saling bertukar pandang, merasa ada sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya.
Malam mulai menyapa, kebahagiaan mulai terasa saat perawat menyampaikan bahwa kamar sudah tersedia. Kami yang sudah sejak tadi menunggu pun langsung menuju ruang perawatan.
Ruang di mana kakak pertamaku menjalani perawatan selama enam hari, ruang yang cukup luas terdiri atas dua ranjang. Di atas ranjang itulah, dia gelisah hingga menghembuskan nafas terakhir.
Selama enam hari di rumah sakit, hampir setiap hari aku dan ibu menemuinya, sekadar datang menanyakan kabarnya dan melihat kondisi terahir. Setiap kami datang, dia tampak baik-baik saja. Dia aktif bicara seperti orang sehat, sesekali ceritanya membuat kami tertawa sesekali pula kami dibuat sedih.
Hari kelima dia berada di rumah sakit, kami kembali menanyakan jadwal operasinya. Namun, jawabannya singkat tapi sungguh membuatku merasa tidak nyaman mulai merasa khawatir. ” Katanya operasi belum dilakukan karena kondisinya belum stabil.” Sejak saat itu perasaanku mulai tidak nyaman.
Hari Jumat 19 Desember 2025, di teras ruang perawatan,ia duduk di kursi mengenakan celana panjang hitam dan kaos abu-abu.
Suamiku duduk di sampingnya. Ibu dan sepupuku duduk berhadapan dengannya.
Sementara aku berdiri dekat pintu, memandanginya diam-diam.
Ia sedang menyantap jalangkote, dengan lahapnya. Penganan khas Makassar kesukaannya. Ia terlihat sangat menikmati setiap suapannya.
Dan saat itulah, dari posisiku berdiri tepat di hadapannya, aku benar-benar memperhatikan wajahnya, wajah yang menurutku sangat berbeda.
Kulitnya pucat, tubuhnya tampak semakin kurus, meskipun perutnya terlihat membuncit. Sementara giginya terlihat lebih menonjol.
Cara pandangnya pun tak lagi sama ada sesuatu yang asing, jauh, dan sulit ku jelaskan. Sesekali, aku melihat wajah Ayah di sana.
Sore harinya, aku berpamitan pulang. Dia memandang kami dengan senyum yang lagi-lagi menurutku berbeda. Di atas mobil, ada aku di depan sedang menyetir. Ibu duduk di samping kiriku.
Di belakang ada sepupuku, Puang Nannu dan Mamak Cawang, perempuan hebat yang telah membersamai kami sejak kecil. Lebih tepatnya dialah yang menjaga kakakku.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami tak henti-hentinya membahas tentang dia, perubahannya dan sikapnya. Paling aneh karena dia makan jalangkote sebanyak 10 biji. Saya pun ikut memberikan pendapat bahwa wajahnya tak lagi sama, bahkan saya sempat mengatakan pada ibu bahwa mirip temanku yang meninggal karena lever.
Kulihat ibu terdiam, ada kesedihan di wajah perempuan berusia 75 tahun itu. Meski ibu tidak berkata-kata, tapi aku tahu kalau ibu sedang sedih. Lalu aku diam, tidak melanjutkan kalimatku.
Malamnya, kami tidak bisa tidur. Aku menyimpan handphone ku di dalam tas. Lalu mengetik cerita di Tabletku. Aku tidak mendengar telepon dari rumah sakit, yang mengabarkan bahwa kondisi kakakku drop.
Aku melihat penggilan tak terjawab cukup banyak dari saudaraku,saat ingin melaksanakan Salat Subuh. Berkali-kali keponakanku dan sepupuku menelepon. Tubuhku seketika lemas, pikiranku mulai melayang kemana-mana.
Aku tak mendengar satu pun panggilan dari rumah sakit. Tak tahu bahwa kondisi kakakku sedang drop. Hingga akhirnya aku membuka ponsel itu.
Di layar, terdapat begitu banyak panggilan tak terjawab dari saudara-saudaraku,
dari keponakanku,dan dari sepupuku.
Tubuhku seketika terasa lemas, tanganku dingin, dadaku kosong. Pikiranku melayang ke mana-mana,tak mampu menangkap satu pun arah dengan jelas.
Dan di antara detik yang terhenti itu, aku mengerti satu hal, ada kabar yang sedang menunggu namun hatiku belum siap menerimanya.
Saat tiba di rumah sakit, aku masuk bersama ibu, dan kakak sepupu. Di dalam ruangan ada istri dan dua adikku.
Kondisinya berubah drastis dari hari-hari sebelumnya. Dia memanggil ibu, meraih tangannya lalu menciumnya. Berkali-kali dia mengucapkan kata maaf. “Maaafkan saya ibu, banyak dosaku, banyak utangku dan sepertinya saya mendahului.”
Katanya dengan kalimat yang sangat jelas. Dia bahkan meminta agar anaknya diperhatikan, itu kalimat yang aku tangkap.
Mendengar itu, aku yang berada di belakang ibu, tidak mampu menahan tangis. Kubiarkan air mataku tumpah, aku terisak sangat keras. Lalu, ibu ke belakang. Ibu yang selama ini, selalu kuat. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis bahkan waktu ibunya meninggal (nenek saya) aku tak pernah melihat air menetes dari mata ibu.
Sabtu pagi, 20 Desember 2025. Aku melihat Ibu benar-benar rapuh, dari balik kacamatanya, aku melihat air mata mengalir tanpa suara.
Tak ada isak, tak ada keluhan hanya diam yang penuh luka. Itulah perpisahan antara seorang ibu dan anak pertamanya.
Mereka berpelukan cukup lama,seakan dunia sedang memberi mereka satu waktu terakhir untuk saling menggenggam dan setelah pelukan itu terlepas, Ibu tak akan pernah lagi bisa melihat anak pertamanya di dunia ini.
Setelah ibu mundur ke belakang, duduk di ranjang tepat di samping kakakku. Aku melangkah mendekat, dia menyodorkan tangannya, mengucapkan kata maaf. Aku terisak, suaraku agak keras hingga tetangga sebelah melihat ke arahku. Mereka mungkin mengira kakakku sudah tidak ada.
Satu jam kemudian, perawat datang dan menyampaikan akan mengeluarkan cairan dari perutnya melalui mulut tentu menggunakan alat. Ku pandangi satu-satu keluargaku, mereka semua setuju termasuk anak-anaknya. Hanya aku sendiri yang menolak dan merasa sangat berat jika alat tersebut di pasang.
Saat itu, aku merasa semuanya akan berakhir, sebab sudah banyak orang yang dibantu alat untuk mengeluarkan cairan, namun dia menutup mata untuk selamanya.
Saat itulah, aku semakin yakin bahwa usianya sudah tidak lama lagi. Apalagi saat berada di samping nya, kakakku mengatakan sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan yang dia rasakan.
Saat itu, aku pun berinisiatif untuk menelepon anaknya di Bandung, harapanku agar mereka masih bisa bertemu Kaengnya. Setidaknya bisa mencium tangan dan memeluknya erat sebelum dia benar-benar pergi. Malamnya, aku pamit, aku mengajak ibu agar dia bisa istirahat di rumah.
Hanya dua jam di rumah. Aku kembali lagi ke rumah sakit, bertemu kakak yang sedang tak baik-baik saja. Di rumah sakit sudah tidak banyak orang, hanya ada keponakanku dan beberapa orang yang ikut menjaga.
Cukup lama kami berada di sana. Aku memperhatikan kakakku yang semakin gelisah.
Ia sangat gelisah di atas ranjang. Sesekali menanyakan waktu, sesekali menatap kami dengan pandangan tajam.
Lalu menoleh kepadaku dan bertanya, “Pesimisko?” dengan dialek Makassar yang masih kental. Pada saat itu, Aku memang pesimis melihat kondisinya, perasaanku sudah tak karuan, hatiku bergetar tanpa bisa ku tenangkan. Tapi, dihadapannya aku mengaku tidak pernah pesimis.
Ketika ia memintaku menambah volume oksigen, katanya napasnya sangat pendek, pertahananku runtuh.
Malam itu, anak pertamanya sedang keluar ruangan, istrinya sedang Salat dan aku berdiri di sana, sendirian menahan ketakutan, merasa tak sanggup, tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa selain menatapnya dan memohon dalam hati agar Tuhan tidak mengambilnya malam itu.
Setelah itu, masih banyak lagi yang ia minta. Katanya tenggorokannya sangat kering. Ia haus,dan minta yang manis-manis. Aku menjadi serba salah.
Pihak rumah sakit melarang kami memberi terlalu banyak minum dan makanan manis. Aku berdiri di hadapannya,tak tahu harus menuruti hatinya atau menaati peraturan yang terasa begitu kejam di saat seperti ini.
Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan sedih, sangat sedih karena di hadapanku bukan sekadar pasien,melainkan kakakku yang sedang berjuang menarik napas dan memohon sesuatu yang begitu sederhana.
Tidak ada satu pun pelajaran hidup yang mengajarkan bagaimana caranya
menghadapi permintaan terakhir. Sudah banyak yang aku lihat seperti itu, sebelum kakak iparku meninggal tiga tahun yang lalu.
Aku juga berada di sampingnya, dia meminta agar aku memberinya air. Dia hangus, tenggorokannya kering. Aku memberinya sedikit sebab perawat tidak mengizinkannya minum.

Pukul 01.00 dini hari, aku pamit pulang. Kami meninggalkan rumah sakit dengan langkah yang terasa berat, penuh kecemasan, dengan hati yang terus berdebar tanpa henti.
Namun aku harus pulang sebab pukul 05.00 pagi, aku akan berangkat ke Bandara, menjemput kedua anak gadisnya yang akan tiba dari Bandung.
Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menoleh ke belakang dalam hati seolah ada sesuatu yang belum selesai kutinggalkan di ruangan itu.
Dan di dalam mobil yang melaju menembus gelap, aku memeluk rasa takut yang tak sanggup ku ucapkan pada siapa pun, sambil terus berdoa agar subuh nanti masih sempat membawa kabar baik.
Kami hanya sempat beristirahat satu jam di rumah. Tubuh terlelap sebentar,
namun hati tak pernah benar-benar tidur. Telepon genggamku berdering.
Di layar tertera nama keponakanku, anak kedua dari kakakku sekitar pukul 03.30 subuh.
Suaranya gemetar saat memberi kabar bahwa Kaengnya (ayahnya) drop. Saat itu, pertahananku seakan roboh. Dadaku terasa sesak, napas menjadi berat. Ada rasa malas untuk bergerak,seolah tubuhku menolak menerima kenyataan yang sedang mengetuk begitu keras.
Namun aku memaksa diriku bangun. Ku bangunkan suamiku dan ku ceritakan kabar yang baru saja kuterima dan di antara kantuk, gelap, dan kecemasan yang menyesakkan, aku tahu kami sedang berlari menuju sesuatu yang tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun.
Kami tidak mandi, tidak sempat berpamitan pada anak-anak, sebab mereka masih tidur. Dalam perjalanan aku berharap masih bisa melihat kakakku bernafas, setidaknya mengucapkan perpisahan jika memang dia akan pergi.
Tetapi, semuanya hanya harapan. Ketika menuju rumah ibu, aku mendapat kabar buruk dia sudah meninggal.
Innalillahi Wa inalilahi rojiun. Kakakku meninggal Ahad 21.Desember 2025. Meninggalkan enam orang anak, tiga masih kecil, satu remaja dan dua usia yang sebentar lagi akan menikah.
