Ada yang bilang, arisan itu cuma ajang kumpul-kumpul dan setor uang. Tapi bagi kami, arisan keluarga adalah tempat paling pas untuk menata rindu, memperbaiki sinyal silaturahmi, dan yang paling penting menguji kualitas pita suara.
Bulan ini, tepatnya Ahad 22 Juni 2025 arisan keluarga kami terasa beda. Bukan cuma karena tempatnya yang kece, tapi karena tawa yang tumpah ruah dan rindu yang akhirnya tersampaikan.
Bertempat di sebuah restoran bernama Bola Bale di Kabupaten Maros, sebuah lokasi arisan yang dipilih oleh sepupu kita tersayang Puang Tika. Acara yang luar biasa kerennya dan sangat berkesan mungkin sampai anak cucu kita lahir.
Di tempat itulah, kami para kakak, adik, dan sepupu kembali berkumpul. Duduk satu meja, menyantap makanan enak, dan membagikan cerita yang kadang receh tapi penuh makna.
Restorannya ternyata lengkap, bukan cuma menu makanan yang sedap, tapi juga disediakan sound system. Nah, ini dia momen paling ditunggu karaoke dadakan!
Meski suara kami lebih cocok untuk menakut-nakuti ayam tetangga (wkwk wkwk) tapi tetap saja mic berpindah tangan tanpa malu. Ada yang nyanyi lagu galau, ada yang semangat menyanyikan dangdut koplo, bahkan ada yang lupa lirik tapi tetap lanjut seperti pemenang The Voice.
Tertawa sampai perut sakit. Tersipu malu karena suara sendiri. Tapi itulah indahnya tidak ada yang menilai, semua hanya saling menghibur dan bahagia.
Beberapa sepupu memang ada sibuk kerja, ada sibuk di dapur, sibuk urus anak, bahkan ada yang sibuk dengan cuciannya menumpuk setinggi gunung Bawakaraeng. Pokoknya setiap hari kita sibuk dengan dunia masing-masing.
Tapi hari itu, Ahad, 22 Juni 2025, semua kesibukan ditinggal di rumah yang dibawa ke acara hanya hati yang rindu dan tubuh yang butuh liburan walau cuma sebentar.
Pokoknya arisan keluarga kita ini, tidak ada yang boleh absen atau menitip uang arisan saja tanpa memperlihatkan wajah. Apalagi dengan alasan ada kegiatan lain. Sebelum jarum infus terpasang di tangan tidak ada satu anggota arisan pun yang bikin alasan tidak bisa hadir sebab hukumnya wajib bukan Sunnah.(wkwkwkw).
Intinya jangan pernah ada yang memiliki jadwal di hari arisan yang telah kita sepakati bersama. Sebab ada ketua arisan yang kejamnya melebihi security kompleks yang jaga portal di subuh hari (hahahaha}.

Kembali ke suasana Arisan, setelah makan kenyang dan nyanyi puas, kami lanjut jalan-jalan ke sebuah tempat yang sangat indah. Di sana kita makan jagung, tempatnya sejuk dan menenangkan. Pemandangan alamnya luar biasa, pegunungan hijau, udara bersih, dan suasana sunyi yang nggak bisa dibeli di kota.
Kami duduk santai, foto-foto, nyemil lagi, dan menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi. Rasanya seperti di reset. Lelah hilang, hati tenang.
Bahkan ada momen haru yang diam-diam terasa. Saat semua sedang asyik ngobrol, sesekali kami saling menatap dan sadar, waktu terus berjalan. Anak-anak makin besar. Rambut orang tua mulai beruban. Tapi hubungan ini, semoga tetap awet.
Arisan keluarga kita bukan cuma urusan giliran, tapi urusan hati yang datang bukan hanya tubuh, tapi juga kenangan, rindu, dan doa-doa diam-diam.
Semoga arisan selanjutnya tetap seseru ini kalau perlu, mic disiapkan dua biar suara fals kami bisa duet.

Dresscode Arisan Jadi Hiburan
Oh ya, seperti biasa, menit-menit terakhir menjelang bubar selalu digunakan untuk satu hal yang krusial tapi nggak penting-penting amat membahas dresscode!
Iya, dresscode buat arisan bulan depan. Hahaha.
Entah kenapa, warna baju jadi hal yang tak bisa dilewatkan. Biar apa? Ya biar pas foto bareng, feeds Instagram kelihatan cakep dong!
Ada yang sampai beli baju dengan model dan bahan yang sama, ada juga yang cukup menyesuaikan warnanya saja. Tapi ada juga yang langsung pucat begitu mendengar keputusan warna katanya sih, bukan karena nggak cocok, tapi karena asam lambung naik gegara mikirin dresscode. Bahkan ada yang nyelutuk, dresscode bikin asam urat kumat!”
Pokoknya, dresscode adalah drama kecil yang paling dinanti.Bukan karena ribetnya, tapi karena di situlah tawa-tawa receh bermula. Sebenarnya bukan bajunya yang penting, tapi kebersamaan saat saling usil, saling goda, dan akhirnya tetap berusaha tampil kompak walau beda gaya.
Dan begitulah, arisan ini selalu jadi tempat kita jadi diri sendiri. Suara boleh fals, baju boleh beda model, tapi tawa dan cinta tetap seirama Asyik.
