Tiba-tiba ibu sakit, hatiku galau, pikiranku melayang, entahlah apa yang aku pikirkan. Seketika aku ikut lemas melihat kondisi ibu yang menurutku tidak biasa.
Selama ini, diusianya yang renta ibu seorang nenek yang paling aktif. Hobi jalan dan keluyuran, kalau tidak ke Mal, arisan dan sekadar jalan-jalan.
Aku anaknya yang paling sering mengajaknya liburan ke pantai, ke tempat yang sejuk seperti Malino, atau sekadar menginap di hotel. Ibu selalu terlihat bahagia saat keluar rumah.
Kini, usianya sudah 74 tahun, rambutnya memutih, langkahnya masih tegap, cahaya wajahnya tetap sama,penuh kasih, seperti sejak pertama kali aku mengenalnya sebagai seorang Ibu.
Hari ini, Ibu terbaring di rumah sakit. Katanya cuma lelah, tapi aku tahu lelah itu bukan sekadar fisik. Ada lelah yang terkumpul dari puluhan tahun mencintai tanpa jeda, melayani tanpa pamrih, dan mendoakan tanpa pernah putus.
Melihat Ibu dalam kondisi seperti itu, membuatku berpikir sudah cukupkah aku membalas semua pengorbanannya? Sudah cukupkah pelukanku? Sudah cukupkah doa-doaku untuknya?
Sakit Ibu membuatku ingin menulis bukan untuk mendramatisasi penderitaan, tapi untuk mengabadikan cinta agar dunia tahu, aku punya sosok luar biasa yang tak pernah meminta apa-apa, tapi selalu memberi segalanya.Ibu penyemangat keluarga, ketika beliau mendadak sakit dan harus terbaring, rasanya seperti dunia ikut melambat.
Hari ini, Ibu justru harus beristirahat di rumah sakit. Tubuhnya kelelahan, tapi bukan karena sakit biasa. Seperti ada energi yang terkuras diam-diam dari seorang perempuan yang terlalu lama mengutamakan semua orang, kecuali dirinya sendiri.
Di balik selimut rumah sakit, Ibu tampak berbeda. Tidak sibuk seperti biasanya, tidak berseliweran ke dapur atau teras. Tapi saat kami menjenguk, matanya tetap hidup. Tetap ada cahaya yang sama, cinta yang tak berubah meski tubuhnya lemah.
Aku duduk di sisinya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa kehilangan arah karena selama ini, Ibulah yang menjadi arah itu.
Ibu selalu bangun paling pagi di rumahku. Saat langit masih gelap dan udara masih dingin menusuk tulang, beliau sudah duduk di atas sajadahnya. Salat tahajud, lalu duduk tenang mendengarkan ceramah dari handphone nya. Matanya mungkin mulai rabun, tubuhnya tak lagi sekuat dulu, tapi semangat ruhiyahnya tak pernah surut.
Biasanya selepas subuh, Ibu hanya tidur sebentar. Waktu paginya diisi dengan bersih-bersih, terutama kamarnya sendiri. Tak ada yang boleh menyentuh kamar itu selain dirinya. Baginya, menyapu dan merapikan bukanlah beban, tapi cara menunjukkan cinta pada hidup yang masih Allah izinkan ia jalani.
Ibu memang tidak memasak. Itu tugasku, tapi bukan berarti beliau santai-santai. Saat aku sibuk di dapur, dia sibuk melipat pakaianku, walau aku melarangnya berkali-kali, ibu tetap ngotot mau melipat.
Hari-hari di rumah sakit terasa seperti berhenti dalam waktu. Detik berjalan lambat, tapi hati berdegup cepat. Setiap suara napas Ibu, setiap gerak tubuhnya di ranjang, menjadi perhatian utama kami, anak-anaknya dan cucu-cucunya bergantian menjaga.
Kadang satu orang, kadang berdua. Tapi rasanya, tak ada satu pun dari kami yang benar-benar ingin pulang. Seolah di situlah tempat kami seharusnya berada—di sisi perempuan yang dulu tak pernah jauh dari kami.
Aku duduk di samping ibu, saat dia terlelap. Ku pandangi wajahnya, ku perhatikan dahinya yang mulai keriput, rambutnya yang memutih, dan nafasnya pelan naik turun secara berlahan.
Menjaga ibu, adalah momen yang memberiku arti sebuah kesabaran, arti berserah dan arti berbakti yang tak sekadar memberi, tetapi hadir dengan ketulusan yang utuh.
Sebab menemani orang tua yang sakit bukan tentang berapa lama kita duduk di sampingnya, tapi tentang seberapa dalam hati kita hadir untuknya.
Anak-anak mu selalu menengadah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar Ibu selalu sehat dan diberi usia yang lebih panjang.
Ibu jangan menyerah, ya. Aku masih butuh ibu.
