Ketika Ustazah Kesayangan Ananda Resign

Tiba-tiba merasa rapuh saat mendengar wali kelas ananda sudah resign. Perempuan yang sangat berjasa, perempuan yang telah mengubah anak pertamaku menjadi lebih baik dan kembali normal dalam bersikap.

Namanya Ananda Reskita, seorang guru. Dia mengajar di SMP Cobig Islamic School, salah satu sekolah islam swasta di kota Makassar.

Saya mengenalnya sekira tahun 2023, ketiga anak kami mengenyam pendidikan di tingkat SD, SMP dan SMA. Kala itu, perempuan yang sehari-hari mengenakan pakaian syar’I dan bercadar mengajar di sekolah SD. Namun, namanya cukup familiar dikalangan orang tua siswa.

Dia terkenal baik, disiplin dan cukup tegas saat mengajar, dalam mendidik anak-anak dia bahkan dengan ikhlas memberikan semua ilmu dan pemahaman yang dimilikinya. Banyak ide cemerlang sang ustazah yang mungkin tidak dimiliki oleh teman se profesinya. Cara memberikan pelajaran pun tidak membuat anak-anak bosan apalagi seharian bersamanya.

Oh, ya mulai kenal dan akrab dengan ustazah kelahiran Majene ini, saat menjadi wali kelas X SMA Cobig. Waktu itu, dia ditarik dari SD untuk mengajar di SMA menggantikan wali kelas sebelumnya yang sedikit bermasalah.

Cerita tentang sepak terjang ustazah dalam mengajar, saya dengar langsung dari Ketua Yayasan sekolah Cobig, Ustadz Supirman. Kala itu, kami bertemu di kantor Cobig Jl. Baji Gau saat membayar iuran bulanan anak-anak tahun 2023.

Saya sempat menceritakan kepada pemilik sekolah bahwa ada keponakan yang satu rumah dengan kami juga bersekolah di SMA Cobig kelas X. Pada saat itu, ustadz Supirman pun menjelaskan bahwa wali kelas X akan diganti dengan ustazah yang dulu mengajar di SD Cobig karena banyaknya keluhan anak-anak dan orang tua siswa.

Saya hanya diam, hati kecilku berkata guru SD dipindahkan ke SMA. Apa tidak salah, sedangkan wali kelas sebelumnya diprotes anak-anak karena lebih banyak diamnya daripada mengajarnya.

Kemudian ustadz kembali menjelaskan, ustazah yang akan menggantikan ustazah Jesica adalah Ananda Reskita. “Ustazah andalan Cobig, ustazah terbaik, “katanya. Dia bahkan menjelaskan bahwa banyak orang tua siswa yang suka dan senang anaknya diajar oleh Ananda Reskita.

Mendengar ceritanya, saya jadi penasaran seperti apa sosoknya. Setidaknya ada sedikit gambaran bahwa anak kami akan diajar dan dibimbing oleh ustazah andalan (asyik).

Singkat cerita, Ananda Reskita pun sudah resmi menjadi wali kelas X, kami para orang tua siswa sudah berkenalan di group whatshap kelas.Sejak saat itu, saya dan ustazah Reskita sering berinteraksi, komunikasi di antara kami terjalin dengan baik. Tentu saja seputar perkembangan anak didiknya, dan saya sebagai wali orang tua sangat senang dengan caranya berkomunikasi. Jujur sangat jauh berbeda dengan ustazah sebelumnya yang sangat penyabar dan pendiam.

Tahun 2024, kebaikan dan ketulusan ustazah Reskita sangat kami rasakan ketika dia di rolling menjadi wali kelas 8 SMP Cobig, dia mengajar anak pertama kami. Nadia Safwana. Anak kami sedikit berbeda dengan teman-temannya, tidak suka bergaul dan cenderung pemalu. Bukan hanya itu, Safwa memiliki kelebihan yang lain yang tidak semua anak memilikinya.

Kondisi Safwa cukup unik, kami kedua orang tuanya bahkan nyaris kehilangan akal menghadapi sikapnya. Setiap hari kelakuannya seperti anak kecil sementara usianya sudah menginjak remaja. Dia merasa nyaman saat menghabiskan waktu di kamar seharian bermain boneka, handphone hingga mencampur campur bedak dengan minyak gosok dalam satu wadah.

Hal itulah yang kadang membuatnya malas ke sekolah, lebih sering berontak ketika kami paksa untuk sekolah.Karena kondisi Safwa seperti itu, kadang membuat kami merasa tidak nyaman pada guru atau pun wali kelasnya. Saya selalu menganggap sikap Safwa ini, membuat semua ustazah pusing.

Anak pertama kami ini, sempat kecanduan main game sehingga membuatnya malas ke sekolah. Awalnya kami pikir dengan mengambil handphonenya, Safwa akan bersikap normal sebaliknya dia tantrum. Setiap hari kami antar ke sekolah, tiba di gerbang dia mengamuk tidak mau turun. Dia berontak bahkan teriak dan berakhir menangis. Kalau sudah seperti itu, kami pun membawanya pulang.

Dua Minggu berjalan, kami berharap ada perubahan begitupula dengan Ustazah Reskita. Dia berusaha agar setiap hari Safwa masuk sekolah sekalipun harus menangis dulu. Ustazah Reskita sangat memahami karakternya, dia seperti sudah lama mengenal Safwa padahal baru kemarin menjadi wali kelasnya.

Hampir setiap hari, saat kendaraan kami parkir di depan SMP Cobig, selalu menjadi pusat perhatian para ustazah yang piket dan siswi SMP dan SMA, sebab saat itu Safwa tidak mau turun dari mobil. Cukup banyak alasannya yang menurut kami tidak masuk akal.

Ustazah pun berjalan menyapa kami dan membujuk Safwa untuk turun. Setiap hari seperti itu. Pernah suatu hari, Safwa sudah turun dari mobil. Saat itu, ustazah Reskita berbisik “Jika Safwa sudah turun dari mobil, ummi dan abinya sudah bisa langsung pulang.”

Kami pun mengikut saran ustazah, Safwa malah teriak menangis sambil berlari menghampiri kami. Namun, ustazah Reskita berusaha memegang tangannya dibantu oleh rekannya. Saat Safwa berlari ke pagar, ustazah yang piket saat itu, lebih dulu menutup dan menghalangi Safwa keluar. Ada rasa sedih melihatnya, meninggalkan dia dalam kondisi seperti itu. Setengah jam kemudian, ustazah mengirim pesan, “Ananda sudah aman umm, tidak menangis dan sudah belajar dengan teman-temannya.” Hatiku pun mulai tenang.

Membaca pesan dari ustazah, air mataku menetes sangat senang mendengarnya. Berkali-kali aku memuji perempuan itu, perempuan yang hebat. Dia belum menikah, tapi dia bisa memahami karakter anak didiknya. Dia sangat tahu apa yang harus dia lakukan saat menghadapi anak seperti Safwa.

Sikap Safwa kadang membuat kami tidak nyaman apalagi jika merepotkan ustazah.
Saat dia kembali mogok sekolah, awalnya hanya seminggu, lalu dua minggu dan sampai sebulan. Ustazah Reskita bahkan berkunjung ke rumah untuk membujuk Safwa ke sekolah, tapi anak kami tetap menolak ami pun memutuskan untuk memindahkan ke sekolah lain.

Niatku pun ku sampaikan kepada ustazah Reskita, namun perempuan kelahiran tahun 2002 itu, meminta kami untuk bersabar. Dia tidak setuju jika Safwa pindah sekolah. “Saya rasa ini, bukan jalan keluar, Umm.”

“Saran saya Safwa tetap sekolah di Cobig, sambil menjalani pengobatan,” katanya. Dia bahkan menyarankan agar kami konsultasi ke kepala sekolah, menyampaikan bahwa sudah sebulan anak kami tidak masuk sekolah. Langkah itu pun kami tempuh, kepala sekolah memberi izin Safwa untuk berobat.

Selama menjalani pengobatan, ustazah tidak pernah lupa bahwa ada siswinya bernama Safwa. Beberapa kali dia menanyakan kabar anak perempuan kami. Bukan hanya itu, dia juga menanyakan perkembangannya dan sudah sejauh mana pengobatannya.

Sikap istimewa dari ustazah, selalu membuat saya meneteskan air mata dan membuat hatiku bergetar hebat. Saya bahkan merasa tidak sendiri menghadapi Safwa, tidak sendiri membuat Safwa menjadi anak yang baik. Hadirnya ustazah Reskita, membuat saya merasa menemukan adik perempuan yang siap membantu mendengarkan keluhan terkait Safwa.

Sungguh sikap anak perempuan kami sempat membuat otak saya lumpuh, tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan agar dia bisa kembali ke sekolah. Menurut ustazah, jika dia sudah sampai ke sekolah, Safwa bahkan menurut semua yang dikatakan oleh ustazah. Lagi-lagi kalimat ustazah membuat saya bingung, benarkah itu?

“Safwa anak yang baik umm. Dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya.” Katanya saat penerimaan rapor. Kalimat yang diucapkan oleh ustazah Reskita selalu membuat saya terharu dan ingin menumpahkan air mata.

Sejak saat itu, Safwa sudah mulai rajin ke sekolah. Sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya. Dia bahkan tidak lagi merepotkan kami dan juga ustazah Reskita. Lagi-lagi saya sangat bangga padanya. Safwa bahkan beberapa kali memuji ustazahnya dan untuk pertama kali saya mendengar dia memuji seseorang.

Ananda Reskita berhasil merubah Safwa menjadi lebih baik, Safwa tetap bersekolah di Cobig atas saran dari ustazah. Tapi, hari ini, Kamis tanggal 06 Februari 2025, saya mendengar kabar bahwa ustazah akan pulang kampung dan tidak mengajar lagi di Cobig. Sedihnya sampai menusuk ke hati.

Seketika saya menjadi rapuh. Seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan anak-anak. Saya pun langsung menanyakan kabar itu pada ustazah, dan informasinya benar. Sejumlah pertanyaan pun kutanyakan, untuk mengobati rasa penasaranku. Jawaban ustazah cukup jelas, dia sedang sakit dan akan menjalani pengobatan di kampung.

Tapi, kenapa saya sangat sedih?

Sebab ustazah Reskita perempuan yang luar biasa. Dia sudah membuat Safwa berubah dan rajin ke sekolah. Dia bahkan mampu merubah Safwa yang tadinya keras kepala menjadi lebih baik.

Sikapnya telah membuat kami kagum, dia berhasil mengembalikan semangat belajar anak kami, dia layak menjadi panutan tidak hanya pada anak didiknya tetapi juga pada orang tua siswa. Ustazah sangat tegas tetapi, tidak membuat siswinya takut justru semua siswi yang pernah dia didik merasa sangat kehilangan.

Terima Kasih Ustazah, jasamu tentu tidak akan pernah bisa ku lupakan. Sedih sekali rasanya tidak bisa membersamai anak kami sampai tamat. Namun, ini yang terbaik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan untuk ustazah, sehingga kita bisa berjumpa lagi.

Terima kasih sudah meyakinkan saya bahwa Safwa bisa tetap lebih baik jika sekolah di Cobig.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *