Suasana pilu menggemparkan jagat raya, empat orang balita menjadi korban kebakaran, mereka terbakar di dalam rumahnya saat sang ibu kandung Siska Amalia sedang keluar mencari makan untuk anak-anaknya bersama dengan kekasihnya. Dua balita ditemukan terbakar dalam rumah dalam kondisi berpelukan di dalam lemarai.
Empat malaikan kecil yang tidak bisa menyelamatkan diri saat kobaran api membakar rumahnya, yakni ZI (1 tahun) dan NA (2 tahun) yang jasadnya ditemukan usai kebakaran. Adik kakak ini, pun dimakamkan di hari kematiannya. Sementara dua kakaknya yang lain masih menjalani perawatan di Rumah Sakit yakni inisial SN 94 tahun) dan NW (2 tahun). Namun, pada hari Rabu 7 Mei 2025 kondisi NW yang tubuhnya terbakar 70% tidak mampu bertahan dia pun menyusul kedua adiknya.
Peristiwa naas tersebut terjadi pada hari Selasa 6 Mei 2025 6 Mei 2025, di Jalan Suprapto, Kelurahan Punggolaka, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari. Seketika suasana tenang berubah menjadi duka mendalam, tidak hanya warga Kendari. Tewasnya balita dalam kebakaran sempat mengundang emosi masyarakat apalagi saat videonya viral di media sosial.
Empat jam bukan waktu yang sangat singkat untuk meninggalkan anak-anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Tidak ada firasat dari sang ibu bahwa setelah kembali ke rumah, dia tidak lagi bisa memeluk anak-anaknya. Tidak pernah terpikirkan dampak dari meninggalkan anak-anak yang masih kecil di rumah.
Sejumlah netizen di media sosial protes atas tindakan sang ibu yang tidak waspada dan seakan tidak peduli dengan bahaya yang akan menyebabkan anak-anaknya terluka. Apalagi telah beredar informasi bahwa sang ibu pergi bersama kekasihnya. Pantas saja jika banyak masyarakat yang menyalahkan tindakannya.
Setelah banyak orang yang menghujat dan menyalahkan sikapnya, ibu dari empat anak yang terbakar itu pun muncul di media sosial menjelaskan bahwa dia keluar membeli makan untuk anak-anaknya sebab dia sudah janji jika sudah gajian akan membelikan ayam MCD. Janji itu pun dipenuhi, dia keluar bersama pacarnya untuk memnuhi janji buat anak-anaknya yang selama ini, katanya hanya makan telur. Sementara sang kakek juga ke tempat kerja bersama cucunya yang berusia 6 tahun, kakak dari empat bocah yang terbakar itu.
Bagaimana perasaan ibu setelah kehilangan ketiga buah hatinya dalam kondisi yang mengenaskan dan itu pun disebabkan karena kelalaiannya meninggalkan anaknya di rumah?
Dia akan merasakan trauma, duka dan menyesal yang akan menyatu dalam kesunyiannya belum lagi hari-harinya akan dipenuhi rasa bersalah.
Kasus terbakarnya empat balita itu, bukan sekadar kabar duka. Merekaadalah alarm bagi kita semua, betapa pentingnya keselamatan anak-anak di rumah. Ada tentang tanggung jawab orang tua untuk anak-anaknya yang masih kecil. Dari sini kita bisa pahami betapa kecilnya jarak antara kelalaian dan kehilangan.
Ada pelajaran besar yang harus kita petik dari peristiwa pulangnya tiga malaikat kecil dalam kondisi terbakar. Betapa pentingnya menanamkan rasa tanggungjawab terhafdap keluarga selain rasa cinta. Karena itu, jika kita hendak keluar rumah dan meninggalkan anak-anak. Sebaiknya memeriksa instalasi listrik di rumah, tanamkan kewaspadaan dalam keluarga dan yang paling penting, jangan meninggalkan anak-anak di rumah sendirian.
Sebagai orang dewasa, dengan adanya peristiwa tersebut kita belajar untuk lebih waspada agar tidak ada lagi anak-anak yang meninggal karena kelalaian kita sebagai orang tua.
