Kumpul bersama keluarga salah satu ajang untuk mempererat tali silaturahmi agar kita tetap bisa melanjutkan hubungan keakraban yang telah dibina oleh orang tua kita sebelum mereka berpulang.
Kedua orang tua kita tentu akan merasa bangga dan senang melihat anak dan cucunya tetap bisa berkumpul bersama dan mengenang masa-masa ketika mereka masih hidup.
Salah satu kegiatan yang kita lakukan untuk berkumpul yakni dengan membentuk arisan. Bukan sekadar arisan biasa, bukan pertemuan biasa tetapi, sebagai ajang seru-seruan, kocak-kocakan yang tentunya sedikit membuat kita terhibur.
Seperti Saya, dan para sepupu dari keluarga ibu. Kami baru saja tertarik untuk kumpul-kumpul setelah usia kami sudah tidak muda lagi. Ketika kami masing-masing sudah memiliki anak dan ada yang sebentar lagi memiliki cucu (hehehe). Acara kumpul-kumpul sangat memberikan nilai positif agar anak-anak kami juga bisa saling mengenal dengan sepupu-sepupunya.
Singkat cerita, pekan lalu entah tanggal berapa tiba-tiba saya mendapat telepon dari kakak sepupu yang paling tua namanya Andi Amrah biasa kami panggil Puang Nannu. Dia menyampaikan rencana membentuk arisan agar kita tetap bisa saling mengenal (hehehe). Saya sih, oke-oke saja lagian kita memang tidak pernah kumpul-kumpul lagi.
Belum selesai telepon, Saya sudah masuk dalam group bertajuk Arisan Konglomerat. Sejenak membuat hatiku bergetar, jantungku seakan berhenti berdetak. Nama gropnya nyaris membuatku sesak nafas. Sempat protes juga soalnya saya masih jauh dari kata konglomerat tapi, semoga saja ini adalah doa dan kita semua memang akan jadi konglomerat (berharap).
Grop Whatshap Arisan Konglomerat, salah satu grop terkocak dari sekian banyak grop yang aku punya. Hampir 24 jam aktif anggotanya ada sekitar 12 orang dan semuanya bicara secara bergantian. Ada-ada saja yang kami bahas, sekadar lucu-lucuan, pembahasan kami tidak hanya seputar arisan, makanan, minuman bahkan sampai membahas air galon.
Kami juga membahas pakaian yang akan kami gunakan di acara arisan, alat yang kami pakai untuk lot arisan yang masih sangat tradisional, seperti berada di zaman jahiliyah menggunakan kertas buku tulis, nama peserta arisan ditulis tangan, setelah itu kertasnya digulung lalu dimasukkan ke dalam toples. Seharusnya di zaman moderen seperti saat ini, di era digital kita sudah menggunakan aplikasi (hehehe) karena kita konglomerat.
Bukan hanya itu, ada yang mengusulkan nama kita ditulis lengkap mulai dari gelar haji, titel sampai nama padaengang kata orang Makassar. Lebih kocaknya lagi, peserta arisan hanya 12 orang tetapi, alat yang di pakai untuk lot menggunakan toples Jar ukuran 1000 Ml (dasar konglomerat)
Tiba Saatnya Arisan
Tiba di hari H, masih terlalu pagi. Azan subuh baru saja bergema di telinga, grop Arisan sudah ramai, ada yang sudah datang sejak pagi padahal arisan dimulai pukul 14.30 WITA, ada yang was-was takut uang konsumsi tidak mencukupi, dan ada yang melarang membawa anggota keluarga selain peserta arisan. Ada juga yang melarang suaminya untuk ikut dengan alasan takut makannya banyak Uppss, katanya arisan konglomerat tapi kok kita tegang (hehehe).
Heboh di dunia Maya, heboh di grop whatshap nyaring bunyinya lebih nyaring lagi ketika kita berkumpul di Warung Ma’daeng. Sebuah tempat yang dipilih oleh ibu sebagai tempat arisan kita ini, terletak di Jl. Sultan Alauddin.
Saat rombongan arisan konglomerat tiba, sejumlah pramusaji terlihat tegang. Dari parkiran kehebohan sudah mulai terdengar menandingi suara alat-alat dapur warung Ma’daeng. Kami memilih ruang yang tertutup, hanya ada dua meja yang kosong selebihnya ada orang yang sedang asyik menikmati makan siangnya. Sebagai konglomerat yang baik kita menunggu mereka menghabiskan makanannya terus kita satukan kursinya.
Sepertinya kedatangan kami, seakan membuat orang itu tidak konsentrasi untuk makan mungkin dia kaget ada konglomerat antri di Ma”daeng. Kami yang hanya 12 orang bercerita seperti mahasiswa yang sedang orasi. Teriak-teriak padahal kita duduknya berhadap-hadapan.
Ku Perhatikan beberapa pramusaji memperhatikan kami sangat seksama sesekali mereka tertawa. Mereka mungkin bertanya-tanya kami ini datang dari kutub mana, kenapa bicara bersamaan tanpa ada jedahnya (hahaha). Kedua orang tua yang kami banggakan yang pada saat itu juga mungkin terpaksa memakai kostum warna hijau, ikut tersipu-sipu, mereka sudah maklum bahkan sudah terbiasa dengan kegilaan kami.
Kehebohan semakin menggema saat arisan sudah mulai di lot, ada yang deg-degan ada juga yang terlihat santai. Arisan pertama diterima oleh yang kami agungkan ibunda Nursiah Rahman uang arisan 1,2 miliar katanya. Diterima dengan utuh, tanpa ada potongan sedikitpun. Konon kabarnya uang arisan sebesar 1,2 miliar itu akan dibelikan satu unit mobil, rumah dan dua hektar tanah (Alhamdulillah).
Kemudian kami lot arisan untuk berikutnya dan yang naik, seorang sepupu yang aslinya konglomerat, Puang Prof yang kami banggakan kakak sepupu nan jauh di Bogor tetapi, hati dan semangat kekeluargaannya masih tertinggal di Makassar. Puang Prof yang begitu mendukung dan mensupport arisan keluarga meskipun kehadirannya hanya lewat dunia Maya saja dan hanya bisa melihat kekocakan kami lewat video yang dikirim di grop.
Semoga bulan berikutnya bisa berkumpul, bisa hadir ditengah-tengah para peserta arisan agar suasana semakin seru dan bisa menyaksikan kami saudara-saudaranya yang saat berkumpul sangat kacau padahal balon hijau tidak pernah meletus.
Oh, iya.. saat arisan kami juga merayakan hari ulang tahun adik sepupu kami yang paling kecil Andi Mutmainnah, Barakallahu FII Umrik Adiks, sehat selalu, cepat dipertemukan dengan belahan jiwanya pokoknya doa para peserta arisan konglomerat untukta segera dikabulkan Amiin.
