Namanya Noni Dwi Masari, tahun ini usianya genap 20 tahun. Dia seorang Taruni Perdana di Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung. Selama dua tahun lebih menempuh pendidikan dengan tinggal asrama bersama kawan-kawannya dari berbagai daerah.
Dalam proses belajar dia lalui penuh suka dan duka. Konon katanya, cukup banyak prestasi yang dia torehkan, dia aktif diberbagai kegiatan kampus. Di Bitung Noni terkenal sebagai seorang pesilat, dia sangat aktif mengikuti berbagai lomba.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini, memiliki banyak teman dan mudah bergaul dengan siapa saja, menurut teman-temannya Noni selalu ceria. Tidak pernah mengeluh susah apalagi sakit, semangatnya untuk selesai dan bisa bekerja terus dikobarkan dan kerap kali menyemangati rekan-rekannya. Utamanya mereka yang anak rantau.
Dia sendiri, tinggal di Bitung rumahnya tidak jauh dari kampus. Karena kebaikan hatinya, Noni sering mengajak kawannya untuk berkunjung ke rumahnya saat libur akhir pekan atau istilahnya Pesiar.
Aku mengenal Noni, dari Mona keponakan yang kuliah satu angkatan dengan Noni di PKPB. Mereka teman akrab, tidak sedikit cerita baik tentang perempuan itu. Dari ceritanya aku tahu Noni punya saudara kembar’ bernama Nona, namun saudaranya sudah meninggal dua tahun lalu sebelum tamat SMA.
Akhir tahun 2023, Noni liburan ke Makassar. Dia dan beberapa orang temannya sedang mengikuti turnamen silat. Dari situ, aku banyak tahu tentang dia dan keluarganya. Noni, asyik diajak ngobrol. Dia juga rajin dan senang memasak. Kami akrab seperti saudara. Saat kembali ke Manado, komunikasi antara aku dan Noni tetap terjalin. Sesekali aku menanyakan kabar Mona melalui dia.
Awal Oktober aku tahu Noni sedang sakit, tetapi kulihat dia seperti tidak ada beban padahal sakitnya cukup parah. Sempat beberapa kali telponan Vidio Call, Noni masih ceria masih tetap tersenyum. Senang sekali melihatnya saat itu, Nasal Kanul sudah terpasang di hidung tetapi masih sempat menyapa dengan senyuman. Tidak pernah kusangka, itulah terakhir kali melihat Noni.
Kabar berikutnya sungguh membuatku kaget. Kata Mona, si Noni sudah tidak bisa bicara, tidak bisa merespon. Sontak yang terlintas di pikiranku, bagaimana perasaan kedua orang tuanya, mereka pasti sangat rapuh. Sebentar lagi anaknya akan wisuda, “Semoga penyakitnya segera membaik,”kataku pada Mona waktu itu.
Sejak saat itu, kabar tentang Noni selalu menjadi bagian terpenting yang aku tanyakan setiap kali Mona menelepon. Jawabannya tidak pernah berubah, Noni belum sadar seperti itu katanya. Aku terus meyakinkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin, Insya Allah Noni sembuh.
Namun, takdir berkata lain. Noni mungkin terus berusaha untuk melawan penyakitnya, berusaha bertahan agar bisa sembuh dan keluarga yang menunggu di rumah sakit bisa tersenyum bahagia, dan memeluknya.
Namun, Allah memiliki rencana terbaik untuk hamba-hambanya. Sabtu 19 Oktober 2024, kabar buruk tentang Noni pun terdengar. Perasaan sangat sedih, ternyata langkahnya sudah terhenti. Perjuangannya di dunia sudah berakhir. Air mataku pun ikut tumpah, segitu dekatnya dengan Noni, padahal kenalannya juga hanya sebentar. Tetapi, kenangan yang dia tinggalkan sungguh luar biasa, hingga melekat di ingatanku.
Selamat Jalan Noni, semoga amal ibadahmu di dunia diterima disisi-Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.
