Serunya Bekerja Sambil Ibadah ke Tanah Suci

Semua umat Islam tentu saja memiliki impian untuk melaksanakan ibadah di dua kota suci Makkah dan Madinah. Sudah terbayangkan bagaimana suasana hati saat mimpi itu terwujud.

Namun, untuk sampai ke sana tentu saja membutuhkan uang yang tidak sedikit, kesehatan dan semangat tinggi. Tetapi, yang paling penting menurutku adalah niat.

Dulu, saya tidak pernah yakin pada diri sendiri bisa menginjakkan kaki di masjid Nabawi dan Masjidil Haram, jika hanya mengandalkan gaji yang sehari-hari bekerja sebagai kuli tinta. Nilainya hanya cukup untuk beli bensin dan kebutuhan makan sehari-hari. Kalau menabung entah sampai kapan menunggu sampai uangnya cukup.

Ketika mendengar ceramah saat mengantar ibu manasik umrah. Kata ustadznya, umrah itu bukan untuk orang yang mampu, katanya lagi Allah tidak memanggil orang yang mampu tetapi, memampukan orang yang Dia panggil.

Lagi-lagi sulit ku pahami. Lalu sang ustadz memberikan contoh, dia bercerita bahwa banyak kejadian, ada orang yang memiliki banyak uang terkenal kaya, namun ketika mereka mendaftar untuk ibadah umrah. Ada-ada saja halangan yang menyebabkan dia tidak jadi berangkat. Semangatku mulai berkobar, ada rasa yakin yang begitu kuat. Niat untuk pergi ke tanah suci melaksanakan ibadah umrah menjadi bagian dari doa-doaku setiap hari.

Saat Allah mendengar dan mengabulkan serta mewujudkan mimpiku, seketika aku merasa manusia yang paling beruntung. Sebab aku tidak memiliki uang puluhan juta untuk sampai ke depan Baitullah. Namun, semuanya adalah nyata tahun 2017 aku bisa meneteskan air mata di depan Ka’bah. Bukan air mata biasa, ada rasa bahagiaku di dalamnya, ada doa-doaku yang terkabulkan dan ada mimpi yang telah terwujud.

Semuanya berawal dari Travel Umrah dan Haji tempatku bekerja. Saat itu, dia meminta semua karyawan untuk menyetor paspor. Karena milikku sudah expired, aku pun segera ke imigrasi untuk memperpanjang. Saat itu, semua serba mudah yang biasanya jadi seminggu hanya dua hari.

Jadi Tour Leader

Oh, ya. Travel tempatku bekerja merupakan salah satu travel terbesar di kotaku dan juga terkenal dibeberapa kota-kota besar di Indonesia kala itu. Setiap bulannya memberangkatkan ribuan jamaah dengan paket harga sangat murah tetapi, fasilitas lumayan mewah.

Saya bekerja di salah satu anak perusahaan travel yang bergerak di bidang media berbasis islam. Sehari-hari bertugas mengisi artikel di tabloid Islami dan koran Islam, serta artikel untuk majalah Al-haram.

Mendapat kesempatan membawa jamaah dan bertugas sebagai Tour Leader merupakan tanggung jawab besar yang harus aku jaga dengan baik.

Bulan Maret 2017 saya dan tiga orang teman menjadi Tour Leader dengan jumlah jamaah 435 orang dari berbagai daerah.

Saat itu, saya kebagian membawa jamaah asal Kendari, Palu, dan Makassar, belum memiliki banyak pengalaman. Hanya bermodal keberanian dan kemauan yang tinggi. Apalagi sebelum berangkat kami di training terlebih dahulu, sehingga sudah ada bekal ketika sampai di Arab.

Mengurus jamaah yang kebanyakan lansia menjadi tantangan tersendiri bagi kami para Tour Leader. Seminggu sebelum berangkat, tugas kami menelpon jamaah mengingatkan untuk menyetor koper, kartu vaksin di kantor. Kami membuat dan menyusun id card jamaah dari pagi hingga pukul 23.00 wita.

Sehari sebelum berangkat bahkan kami ke kantor Garuda memastikan tiket dan mengambil paspor para jamaah umrah. Jadwal jamaah berangkat pukul 10.00, kami Tour Leader sudah diharuskan BERADA di Bandara pukul 24.00 malam, mengecek paspor dan ransum yang akan kami bagikan ke para jamaah.

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap jamaah selama umrah, kami para Tour Leader dibekali obat-obat generik, minyak angin, minyak gosok, balsem dan sejumlah vitamin. Sehingga ketika ada jamaah yang sakit, kami bisa segera membantu.

Madinah Kota Mewah dan Indah

Perjalanan panjang dari kota Makassar ke Madinah, tidak membuat kami lelah. Padahal sejak dalam pesawat kami yang para Tour Leader sibuk melayani jamaah, menemani ke kamar kecil dan membantu jamaah yang sakit.Pelayanan yang tidak biasa tapi membuat kami bahagia melakukannya.

Setiap perjalanan memiliki cerita tersendiri, yang akan menjadi kenangan terindah.sama seperti saya, saat tiba di hotel tempat kami menginap. Kami kembali bertugas membagikan kunci kamar pada 435 jamaah. Lumayan, pembagian kunci dari pukul 03.00 sampai selesai salat subuh. Sebuah pengalaman yang tidak bisa terlupakan.

Setelah urusan jamaah selesai, aku dan teman-teman leader menuju masjid Nabawi. Rasanya seperti mimpi bisa berfoto di pelataran masjid. Aku benar-benar takjub. Sampai tidak mampu menggambarkan suasana hatiku saat itu. Aku hanya merasakan pipiku basah seketika mataku berair, sembari berkata semewah inikah rasanya bahagia.

Bisa menginjakkan kaki di masjid Nabawi tanpa mengeluarkan uang, sebuah kesempatan istimewa yang tidak semua orang bisa merasakannya. Kami bekerja melayani jamaah sambil beribadah.

Ketika tiba di kota Makkah, dan bersiap untuk melaksanakan ibadah umrah. Tiba di depan ka’ba, aku kembali menangis bersama para jamaah. “Ternyata kesempatan untukku sungguh luar biasa jalannya begitu mudah,” gerutuku dalam hati.

Kesempatan Kedua

Bukan hanya sekali, Allah memberiku kesempatan di tahun 2017 untuk berkunjung ke kota Makkah sebanyak dua kali. Dua bulan kemudian, setelah berangkat bulan Maret. Aku kembali diminta untuk membawa jamaah lagi di bulan Mei 2017.

Awalnya aku ragu mendapat izin dari suami sebab ada memiliki anak balita yang sudah dua kali kutinggal dalam waktu yang lumayan lama. Ternyata kesempatan dua kali masih berjodoh denganku, doaku di depan ka’ba untuk datang lagi dan lagi, terkabulkan.

Aku kembali lagi mendampingi 339 jamaah, lebih sedikit dari sebelumnya. Namun, lumayan membuat pikiranku terkuras. Penuh rintangan dan ujian, sehingga membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Pada keberangkatan ku membawa jamaah yang kedua ini, ada salah satu koper jamaah yang tertinggal di Jeddah, Bandara King Abdul Aziz.

Alhasil sebagai Tour Leader, siap menerima resiko tiap hari jadi sasaran kemarahan jamaah. Apalagi ketika dia ingin berganti pakaian. Hampir tiap malam kamarku digedor-gedor sehingga tidur malamku tidak nyenyak. Terkadang ingin marah saat dimarahi jamaah, kadang ingin berontak ketika dibentak-bentak jamaah sebab sudah menyampaikan bahwa koper akan segera datang bersama rombongan jamaah berikutnya, namun dia tetap saja marah. Kopernya tiba di Madinah saat persiapan berangkat ke Makkah.

Tiba di kota Makkah, setelah melaksanakan ibadah umrah kembali dihadapkan dengan peristiwa yang memilukan. Salah satu jamaah kami meninggal. Pastinya saya sangat bingung.

Bersama para mutawif saya pun ikut mengurus jenazah,menghubungi keluarganya dan membereskan barang-barangnya hingga mengurus asuransinya.

Sebelum menghembuskan nafasnya di kamar hotel tempat kami menginap, jamaah tersebut sempat sesak. Saking paniknya, aku berlari ke rumah sakit yang kebetulan di sebelah hotel untuk minta tabung oksigen.

Saking paniknya, sampai lupa memberitahu mutawif, padahal saat itu jumlah mutawif mendampingi kami ada 10 orang. Karena tidak paham bahasa Arab, saya kembali ke hotel tanpa membawa tabung oksigen. Aku mendatangi mutawif yang kamarnya tidak jauh dari kamarku.

Artikel ini, adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI http://BRI.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *